LOADING

Type to search

Tanya Jawab Proses Kreatif POIESIS dengan YS Sunaryo

Baca: Biografi YS Sunaryo.

SAE: Apa makna Puisi bagi Om YS Sunaryo?

YSS: Bagi saya puisi soal pergulatan batin atas realitas diri dan realitas sosial, ditulis selain estetik juga imajinatif. Tetapi tidak sampai di sini, puisi sebagai juga sebagai medium untuk menyampaikan pesan yang baik bagi perubahan. Agar pesan memikiki kualitas makna yang tinggi maka diperlukan kekuatan filosofis dan ilmu pengetahuan (pemikiran) seperti antropologi, sejarah, sosiologi dan ilmu sosial lainnya. Tanpa kekuatan ilmu pengetahuan maka pesan akan dangkal dan tidak mengesankan sebagai lanskap perubahan.

SAE: Apakah itu berarti membuat puisi bukanlah hal yang mudah?

YSS: Sebagai sekadar memenuhi struktur fisik, membuat puisi mudah: mengenal larik, bait, rima, irama yg kesemuanya tampak indah. Namun dalam hal puisi sebagai struktur batin yakni menyangkut kedalaman makna dan pesan yang mendalam sebagai “rahasia” puisi menjadi awet, itulah yg perlu sungguh-sunggguh. Dalam arti, pemuisi perlu terus belajar memperluas wawasan dan memperdalam ilmu pengetahuan. Sehingga pesan (berikut diksi dan majas tidak berlebihan) dapat menjadi penambah kekayaan batin dan penambah pengetahuaj bagi pembacanya. Seringkali puisi lewat begitu saja (bagai asap) krn soal kedalamannya tidak ada sehingga menguap dengan sia-sia.




SAE: Apakah setiap proses kreatif Om YS Sunaryo melalui proses yang demikian itu semua? Bagaimana dengan puisi-puisi eksperimental yang justru memberi penekanan pada eksplorasi bentuk?

YSS: Saya berupaya menghindari puisi hanya sebatas susunan kata2 kegelisahaj dan kegembiraan tanpa meninggalkan pesan yg kuat bagi kekayaan batin dan penambahan ilmu pengetahuan. Tentang puisi eksprimental saya menolak jika itu soal pembaharuan bentuk, tetapi harus disertai dengan pembaharuan isi di mana suara hati dan suara pemikiran (pembaharuan) berada dalam satu puisi. Eksperimental pada bentuk saja hanya akan melahirkan puisi sebagai kemajuan wajah, tetapi mesti dibarengi kemajuan isi (pesan dan makna).

SAE: Kapan pertamakali menulis puisi? Apakah langsung menemukan keyakinan tentang puisi yang demikian?

YSS: Semula (1990 sd 2006) saya penulis esai di berbagai media (koran dan majalah), lalu berhenti berbarengan saya berhenti mengajar di beberapa Perguruan Tinggi) disebabkan jiwa aktivis saya sehingga aktif di relawan politik dan partai politik sampai tahuj 2016. Pada tahun ini saya juga berhenti di kegiatan politik dg memilih hidup di pedesaan menggarap pertanian dan membantu masyarakat desa. Namun kegiatan ini (biasa ingar bingar di kegiatan politik) membuat saya “kesepian”. Situasi ini yang mendorong memulai jalan puisi. Lebih dari sekadar kesepian juga puisi puisi menjadi medium “pemberontakan” saya dari hal-hal ganjil dari politik praktis. Puisi menjadi ajang curat sekaligus melanjutkan tradisi pemikiran (berpikir) yg dipandang lebih cocok krn kepuasaan batin satu sisi bertemu dengaj kepuasaan intleketual. Dengan demikian, berpuisi adalah pemenuhan kebutuhan batin dan pemenuhan aktualisasi intelektualitas.




SAE: Dulu menulis esai-esai tentang apa, Om?

YSS: Waktu menulis esai (terutama banyak dimuat koran Republika, Pikiran Rakyat, Gala Media, dan Bandung Pos) tentang sosial-politik dan sosial-keagamaan.

SAE: Bagaimana langkah menulis puisi yang bagus dan tips2 di setiap langkahnya?

YSS: Jaga jarak antara realitas subjektif (kegelisahan dan kegembiraan) dengan realitas objektif (penilaian nurani dan ilmu pengetahuan). Hal ini penting agar puisi kita tidak jatuh pada curhat atau melulu situasi kegelisaan dan kegembiraaan dari sudut pribadi. Melainkan apa yang terjadi apabila diendapkan akan muncul penyertaan suasana batin dan pemikiran yang jernih dan memiliki dimensi teoririk. Jangan selesaikan puisi dalam keadaan emosi terlalu meluap krn aspek-aspek kepuisian yg paling penting yakni keindahan dan majas yang tepat akan terabaikab. Menulis puisilah dalam keadaan sadar, karena (tidak dalam keadaan mabuk berlebihan (cinta, kekuasaan, dan mabuk lainnya) akan memungkinkan puisi kita jauh dari spiritualitas dan terjebak pada irasionalitas.

**

Suriar Amazi: Pak YS Sunaryo, larik puisinya sering diungkapkan dengan suku kata pendek saja. Apa alasannya, Pak? Beda dengan pemuisi lain. Boleh tahu kiat-kiat proses kreatif penciptaan puisinya.? YS ini akronim dari apa?🙏🙏

YSS: tak ada alasan khusus sahabatku, cuma suja saja dan membedakan dg yg lainnya namun tidak menyalahi kaidah kepuisian. Jadi cuma untuk khas dan karakter penulisan saja. Nama sya lengkapnya Yoyo Sunaryo, YS Sunaryo untuk pantas-pantasan saja berdasar selera pribadi.




Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds