LOADING

Type to search

BURUNG KAFIR – MEDITASI KETIGA (Untuk “Almarhum” Goenawan Mohamad)

MEDITASI KETIGA
(Untuk “Almarhum” Goenawan Mohammad)

I.

Datanglah ia ke seorang remaja
di muka jendela dan gugur cemara
mengenalkan sepi yang mengembus bumi
bumi yang senantiasa hancur terbantun

Lantas ia–remaja itu, pun bertanya
bagaimana wujud bahagia
seraya diucapkannya, ke ruang jauh: “Datanglah…”

Seraya gumam memanggil seseorang
yang dibayangkannya terputus angin dan menggigil

II.

Remaja itu pun suatu hari pergi ke kota
ke kerak bangunan-bangunan tua
mendengar gema-gema yang terpendam
di dalam kuburan masa
pada detak-detak senyap yang panjang dan renggang

Ia membaca, membaca, dan membaca, menulis
yang roboh dilihatnya di mana-mana

Ia pergi ke siang dan malam
ke lembar-lembar kertas yang basah dan tak abadi
membaca kembali, hingga awan gelap kembali pagi
dan pagi kembali bubuh

Seperti ketika ia termenung di depan
sebuah makam orang tua dan seorang anak bangkit
dari buaiannya: “Bisikkan sajak ke paru-paruku.”

Semuanya terjadilah, dan maka semuanya terjadi
dalam hitungan almanak

Ia akhirnya hanya menunggu–yang tanggal
di depan pintu
dengan cemas dan harap yang terkepul satu persatu

II.b

Ia menulis tentang lagu pekerja malam
tentang Adam dan expatriate

“Majulah jalan, majulah setapak …
hingga esok terbuka gapura
hingga tumbuh pagi,”

Hingga kira-kira sawah menjadi sepi
tanah kelahiran menjadi sunyi

Tetapi begitulah juga kira-kira ia
sepanjang jalanan ia merungguh sengsara
”Apabila engkaulah cinta, lepaskanlah kota
apabila engkaulah setia, tenangkanlah kota.”

Sehingga ia pun akhirnya menulis sebuah surat cinta
yang ditulis ke arah siapa saja
untuk berjaga bagi kekasihnya–meskipun ia juga ragu
tegak seperti sepasang gedung yang tiba-tiba hilang
pada lampu-lampu

Menjelang kiamat?–di luar bulan
yang memutih di danau dan arus kali (?)

II.d.

“Di luar hujan memahat jendela,” tuturnya
”di luar hujan membisikkan talkin purba,” tambahnya
di luar, “Bagi seorang Pemimpin, di hari kemarin
disalibkan dunia.”

Namun ia mencatat
seorang pangeran mesti terjaga di atas menara
dari lenguh maut, dari arus kali yang tak dapat ditampik
dari takdir yang bangkit ke udara itu

II.e.

Tentang revolusi orang-orang Negro
ia berseru, “Lihatlah…”

Tentang lagu nina bobok ia bernyanyi: “Tidurlah.”

Sampai konon engkau–atau sebenarnya kita semua
perlu bangkit dan seluruh pulau mendengarkan
atau seekor burung kedasih terpesona
dalam pertemuan memandang kita lama-lama
seperti seekor lebah dititahkan: turun
dari sorga

Tetapi begitulah juga kira-kira ia
sepanjang jalanan ia lagi merungguh

Sebab antara perpustakaan dan jalan-jalan
terkesiap cermin dan kaca jendela

“Lihatlah… perjuangan
diperjuangkan oleh seorang anak yang
menggantung mati kelaparan.”

Sejarah pun seolah akhirnya rusak
seperti mana ia menulis
tentang seorang penyair yang akhirnya mati
di siang bertiup angin, sambil hanya menghitung sisa pohon
satu persatu

II.f.

Ia akhirnya menjadi seorang penyair yang murung
dan benar murung dalam nyanyi kedua–nyanyi sunyi kedua
dan sesekali melukis wajah dirinya–benar benar melukis
atau mungkin lebih tepatnya ores-oresan
sebuah sketsa di atas kertas, atau pada sebuah kartu pos
bertanda: ”Setelah bangun, pilihannya cuma dua:
tetap terjaga, atau tidur kembali.”

Seolah puncak dari seluruh kelaparan dan penderitaan
adalah kematian. Atau bukan,

terkubur dalam kesunyian; di ruang tanpa cuaca

III.

Remaja itu pun suatu hari pergi ke kota
menarik sauh, mengayuh perahu dari bahasa asalnya
ke bahasa asing yang kemudian ikut mengutuknya
–bagai langit gaib mengutuk hujan reda
seakan ditelan badai: kabinnya limbung
dari satu ketidakpastian ke ketidakpastian lainnya

Mencatat tentang seorang yang terbunuh
di sekitar suara Tuhan dan hari pemilihan umum
mencatat kisah seorang yang tak mendapatkan amnesti
: takdir hanya berarti semangkuk nasi basi
tak ada eksekusi, bahkan tak ada izin untuk menanti

Mencatat anak-anak yang mati,
sinterklas yang terbunuh oleh peluru
kisah sebuah negara yang hancur sejak mimpinya sendiri
yang nampaknya hanya bisa membangkitkan bau busuk
kakus umum
mencatat revolusi yang tak ada lagi, orang berkhianat
hari terakhir seorang penyair

Jejak-jejak hujan yang panjang, terlipat lumpur
dan bangkai seekor anjing mencium bau busuknya
serta seekor burung yang bertengger di atasnya
serta ulat-ulat kecil yang mungkin telah juga
ikut masuk memutar jarum arloji

Mencatat sebuah negeri, yang dihuni oleh 10 juta
manusia, yang tak kebagian kuburan pada suatu hari
sebab para penggali tengah diterbangkan
untuk berlibur–ziarah, ke luar negeri

Mencatat sebuah negeri, tempat para petualang
rempah-rempah singgah dan menghisap garam
dari keringat rakyatnya

Mencatat sebuah ibu kota yang konon kadang-kadang
lebih nampak seperti sebuah kota dalam komik Batman
yang memalsukan sungainya sendiri–dengan
mengundang Tuhan

[Interlude]: Semua ini hanya terjadi dalam
sebuah sajak yang sentimentil. Yakni ketika pasang
berakhir, dan aku (ikut–pen) menggerutu.

III.b

Remaja itu pun suatu hari pergi ke kota
ke kerak bangunan-bangunan tua
dari sudut-sudut luar tempat lonceng bergenta
hingga, senandung berujung
di pusara Faraoh dan Mosa
dan semua montase panjang
yang tak pernah selesai

Dari sungai Tigris, pemberian bumi
Hammurabi dan seorang nabi
hingga kemenangan pada Iblis melalui diutusnya
burung-burung sungai dan perang sabil
Jubah para Mullah–yang dicuci dengan darah
yang berujung di tragedi Karbala

Atau dalam nyanyinya soal Yerusalem
yang melihat kekalahan kota ini–oleh
dendam-dendam yang terus berseteru dengan bengis
di lambung dinding bait Allah–yang nampaknya lapar
kepada damai suci

Tubuh yang terbit dari birahi–terbit kembali
hingga menampung gerimis-gerimis yang reda
gerimis cahaya matahari pagi–yang gaib
7.000.000. sistem matahari
juga kolong dan kakerlak pada kitab

Hingga kumandang sempat hilang dalam dirinya
dalam malam yang susut dan kelabu
dalam gemuruh laut malam hari: ia bergumam lirih
”Bersamakah kita, Kesepian? Bayangmu berbisik
tak kedengaran.” Seakan ia suara yang telah memantul
dari bayangnya sendiri

Bahwa benar, “Sepi itu satu satu saja, satu suara
tak menyebut nama-nama.” Terdengar romantis memang
tetapi sebenarnya memang Itu adalah perasaan akan kesia-siaan
ibarat pohon hitam di lebat hutan tanpa cuaca

Remaja itu pun suatu hari pergi ke kota
ke kerak bangunan-bangunan tua
mendengar suara yang konon bisa jadi datang
dari sebuah dosa: “Pergilah dari jendelaku
pergilah kau dari tidurku.”

Lantas tiba-tiba ia memperkenalkan, seorang gadis
yang datang dari masa kecil, yang pernah pergi
ke Belanda; namun ternyata ia adalah sebuah merek
dari sebungus permen Amerika

Begitulah Tuhan, ternyata hanya tempat
di mana kegelisahan hilang mendadak tiada

III.c.

Dan ketika ia membayangkan masa tuanya
ia pun sadar bahwa suaranya telah berat
seperti darah terbaring dalam tenggorok yang kering

Kata-kata lirisnya menjadi begitu buruk
bahkan untuk sekedar mengiringi
kicau seekor burung pagi

Sampai ia pergi ke hutan dan hujan
dan yang ditemukan adalah pertanyaan
yang hanya dapat dijawab dengan hayal

Lalu kesekian kalinya ia seakan menengok ke belakang
dirinya yang telah yakin, batas kepedihan
sejarah. Adalah cukup dibayangkan, ketika
ia coba membangunkan rumah, membangunkan bumi
membangunkan bahagia dalam kata-kata

Hingga sepi itu pun lepas, laut
dan daun-daun pun ikut lepas
di tengah perjalanan pucat bumi dan tetes surga

Konon ia melihat seorang malaikat
berdiri di atas loko, di atas kereta api malam
dan berjalan pelan seperti orang tersesat
seolah tak mendengar sederet kesedihan pula
yang terngiang dari sepasang rel

Ia begitu menikmati kesepiannya, sampai sejumput suara
datang menegunnya: “Bahkan, dosa kita tak akan diterima.”
bisik seorang pelacur

Semuanya lewat begitu saja. Tak tercatat oleh yang fana

III.d.

Sepeti di Nara, ketika ia menyaksikan seorang biku
membungkam pasir dan lumut
di sebuah bukit. Menyembunyikan rahasia
dan membiarkan sepasang kekasih berjalan
dalam hubungan berat yang begitu panjang

Membiarkan kijang-kijang berlari dalam kabut
keindahan malam yang lebum
dalam pagi yang rabun

Dalam sebuah tafsir

IV.

Parikesit pun gugur; di bawah menaramu
doa-doa dan orang-orang pun gugur

Namun kini, kita–bersama, tetap menulisnya
di satu zaman di mana kita tak lagi bisa,
dengan abjad-abjad baru terlebih yang lama
menjelaskan semua yang kembali datang dan ke muka

Dan pula sekali lagi begitulah Tuhan ternyata
hanya tempat di mana kegelisahan mengecil berganti bahagia
Seperti kata puisi yang terus menalbis kita
di antara ngilu kata-kata dan habis usia

Maret 2018

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds