LOADING

Type to search

Tags:

Mencari Melayu Klasik; Terima Kasih Prof Faruk, Bang Saut Situmorang, dan Bundo Free

 

Salah satu contoh kemalangan yang seringkali menimpa saya–dan juga satu dua kawan–sebagai generasi yang masih mau berjalan di atas jalur sepi pengetahuan, yaitu, sulitnya mendapatkan sejumlah literatur rujukan terkait topik tertentu yang hendak diperdalam. Penyebabnya macam-macam. Bisa jadi karena kelangkaan literatur untuk subjek yang ingin diperdalam itu sendiri karena termasuk subjek kajian yang bersifat lawasan, bisa jadi juga, itu disebabkan oleh keterbatasan ekonomi untuk memilikinya. Beruntung, terkadang masih bisa seperti Chairil muda dulu kala, mendapatkan kesempatan meminjam dari seorang senior baik hati yang kebetulan memiliki stok bahan bacaan yang dimaksud, atau, dengan cara agak mbandel, nakal, nekat, dengan mencuri dari rak berdebu milik orang pelit yang sebenarnya tak memiliki kecintaan betul terhadap ilmu, akan tetapi, hanya gemar memuaskan hasrat fetishnya dalam mengoleksi benda bernama buku. Jika tidak, ya jelas, saya hanya bisa gigit jari menahan keinginan sambil tetap memelihara kecintaan terhadap khazanah ilmu melalui buku yang dinginkan itu, sampai ada kesempatan mendapatkannya.

Tahun 2021 boleh dibilang adalah tahun yangmana saya tiba-tiba tertuntut kebutuhan untuk mempelajari lebih jauh terkait kesusasteraan negara serumpun–Melayu, khususnya khazanah Sastra Melayu Klasik; sejarah. Pemicunya, adalah keingintahuan akan asal-usul Gurindam dan Pantun, yang jujur saja, tidak akan pernah bisa kita temukan jika kita mengandalkan buku-buku pengantar sejarah sastra yang ditulis oleh penulis Indonesia umumnya; pada HB Jassin, Ajib Rasjidi, STA, bahkan A. Teeuw, apalagi penulis pengantar sejarah sastra selain mereka yang kerap hanya mengulang-ngulang informasi yang sudah klise hingga memasukkan banyak unsur yang tak penting dan tak jelas.

Bertanya ke sana dan ke sini untuk mendapatkan informasi yang akurat, akhirnya diberi petunjuk oleh Prof. Faruk untuk mencari tahu terkait topik tersebut lewat tulisan-tulisan Winstedt serta Liaw Yock Fang, juga muncul nama lain ketika coba bertanya pada Bang Saut Situmorang, yaitu Wilkinson–selain nama Winstedt yang sama. Bermodal tiga nama tersebut, saya langsung melakukan pencarian (surfing) kembali. Singkat cerita, akhirnya saya menemukan tulisan-tulisan (papers) milik Wilkinson, Winstedt dan Liaw Yock Fang. Seperti baru saja mendapatkan harta karun, begitulah rasanya.




Tak sampai di situ. Kabar baiknya, dalam pencarian tersebut saya mendapati bahwa salah satu papers milik Liaw Yock Fang ternyata sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia, dengan judul, “Sejarah Kesusasteraan Melayu Klasik.” Tentu, ini satu kabar gembira yang artinya, sumber ini sebenarnya bisa diakses lebih luas oleh banyak kalangan yang hendak juga menelusuri subjek ini namun memiliki keterbatasan dalam bahasa Inggris. Akan tetapi, di sisi lain, pun saya kembali menghela nafas karena buku tebal milik Liaw Yock Fang tersebut dibandrol dengan harga yang lumayan. Meskipun, jika dilihat dari isinya, boleh dibilang memanglah pantas dibandrol dengan harga sebagaimana yang tertera. “Its oke. Bagaimanapun tetap harus punya buku ini, nanti,” gumamku dalam hati.

Membaca nama Yayasan Obor, beberapa menit kemudian saya teringat kepada Bundo Free. Yangmana, saya pernah turut hadir dalam sebuah acara yang diadakan oleh Bundo Free dan Yayasan Obor di Jl. Plaju, Tanah Abang, Jakarta pusat. Tidak mau membuang waktu, akhirnya saya mengirimkan pesan singkat kepada beliau untuk bertanya apakah beliau memiliki buku tersebut? Sekadar memastikan, jika kelak ketika sudah memiliki rizki lebih dan berniat membelinya namun ternyata sudah kehabisan stok (karena juga sering terjadi yang demikian!), saya bisa meminjamnya dari beliau. Beruntung, beliau membalas demikian, “kalau tidak salah, ada, Dear,” jawabnya khas, membuat hati tenang.

Waktu terus berjalan. Sudah sekian bulan lewat saya tak juga kunjung bisa memiliki buku tersebut. Malang? Ya! Rasanya seperti selalu ada awan gelap mengambang di atas kepala dan terus mengikuti jika keinginan membeli sebuah buku belum juga terlaksana. Namun, lagi-lagi mungkin demikian, sebab hidup itu sendiri adalah sebuah keberuntungan, maka hidup adalah keberuntungannya masing-masing. Dan, saya kembali mendapatkan keberuntungan itu, pekan lalu.

Seiring mendapat panggilan kerja setidaknya selama sepekan di Jakarta–kembali, Bundo Free memberi pengumuman di beranda Facebooknya yang mengatakan kira-kira, “bagi siapapun yang hendak mencari referensi buku sastra khususnya untuk penelitian atau pengembangan pengetahuan, berkunjunglah saja ke rumah. Jika memang apa yang dicari ada, boleh dibawa pulang sebagai hadiah.”

“Wah!” gumam saya spontan. Tak mau kehilangan kesempatan, saya langsung memberi komentar bahwa kebetulan saya sedang di Jakarta dan dalam beberapa hari nanti setelah rampung urusan pekerjaan, akan berkunjung kembali ke rumah Bundo. Yangmana, selain soal buku, tentu terpenting untuk tujuan yang lebih mendasar: menyambung kembali silaturrahmi, bertengok kabar, menimba nasehat, berbincang ringan dan sebagainya, sebab sudah tak lama jumpa.




Hari tersebut pun tiba. Lepas jam 1 siang, saya meluncur ke arah Cempaka Putih Tengah. Meskipun hanya pertemuan singkat yang kurang lebih hanya satu jam, saya cukup bahagia karena bisa melihat Bundo Free dalam keadaan sehat wal-afiat; khususnya lepas dua tahun negara kita dilanda Pandemi Covid-19. Saya pula begitu bahagia ketika Bundo Free menyebut buku Liaw Yock Fang yang pernah ditanyakan, di saat saya sendiri masih bingung mencari ungkapan terbaik untuk menanyakan buku yang dimaksud. Lebih dari itu, Bundo Free langsung mengambilkannya dari almari besertra sebuah buku tebal lainnya yang mengingatkan saya pada buku A. Teeuw, “Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan.” Buku tersebut berjudul, “Pucuk Gunung Es: Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Kebudayaan Melayu-Indonesia,” karya Amin Sweeney.  Melihat buku tersebut, saya kembali tertegun mengira-ngira apa isinya.

Setelah mengambilkan dua buku tersebut, sambil kembali duduk di kursi kerja depan meja panjang, Bundo Free menunjuk ke arah belakang gigir saya, dan berkata, “tengok tiga buku seri PSBNS yang ada di belakang itu. Sudah punya?”

Ketika menengok, saya dapat melihat judulnya meskipun agak samar, (1) Cerita Etnis 5 Negara Serumpun, (2) Prosa-Puisi 5 Negara Serumpun, dan (3) Apresiasi Sastra dan Perbincangan Karya Negara Serumpun. Kecuali yang terakhir, dua buku pertama belum pernah saya tahu dan baca sebelumnya. Buku yang paling akhir saya tahu, sebab saya sendiri pernah terlibat membuat sebuah ulasan novel di dalamnya; ulasan atas novel “Langit Dam Square,” karya Mbak Shinta Miranda.

“Ambilah,” ungkap Bundo. Dengan senang hati, saya pun mengambilnya.

“Kalau kuku-buku karya Bundo sudah punya semua?” tambahnya.

“Sudah, Bund. Ketika membantu kawan mengerjakan skripsi atas novel Bundo dua tahun lalu itu. Terkhusus untuk buku Desertasi Bundo tentang Feminisme Islam perspektif Keadilan Jender, yang menarik itu. Yang sepatutnya buku itu bisa mengisi kebolongan wacana Feminisme di kita yang cenderung melulu hanya membentangkan spektrum Liberal atau Kiri; meskipun dipromosikan oleh kelompok Islam,” jawabku sambil sedikit mengenang.

Ya, demikian memang sepatutnya. Sebab, jikalaupun ada kelompok yang mengusung spirit islami-sis dalam persoalan relasi perempuan-lekaki, cenderung menolak secara keras ide-ide apapun bahkan jika baru sedikit saja mengusung perjuangan hak hidup wanita. Alih-alih, sebaliknya sekaligus memberi pemakluman atas budaya patriarkhi yang telah diketahui banyak menindas.

“Penari dari Kuraitaji: Kumpulan Cerpen. Sepertinya kalau yang ini belum, Bund,” tambahku sambil mengecek ulang larik rak berisi buku-buku karya Bundo Free.

“Ambil saja beberapa. Siapa tahu nanti ada kawan yang berminat juga,” tawarnya, sambil tetap duduk santai di kursi kerja.

“Saya ambil dua saja, Bund. Satu buat saya, dan satu lagi nanti saya berikan kepada adik perempuan. Kawan yang lain, biar nanti berkunjung langsung saja ke rumah Bundo.” Bukannya menolak, akan tetapi, berkunjung ke kediaman pemilik, terlebih sekaligus penulisnya, untuk mendapatkan sebuah buku adalah cara terbaik dari yang terbaik. Akan tetapi, meskipun demikian saya tetap berjanji akan membuatkan penguman untuk keterbukaan Bundo Free melepas buku-bukunya kepada kawan-kawan lain lebih luas.




“Ya, Shiny. Coba beri tahu yang lain. Bagi siapa yang membutuhkan buku berkunjung saja ke rumah Bundo. Sebenarnya,  di sini tidak hanya khusus buku-buku sastra. Buku-buku pengetahuan budaya, politik,biografi tokoh besar, agama juga ada, di rak terpisah. Kasih tahu seluas-luasnya saja. Beri pengumuman di beranda,” tekannya dengan perasaan yang begitu terbuka.

“Siap, Bund, nanti saya akan coba buat pengumumannya,” jawabku.

Bundo Free sendiri mengatakan bahwa untuk saat ini sudah tidak begitu ada keperluan untuk memiliki berbagai buku-buku yang kini masih berada di lemarinya (dituturkan pula bahwa ada sejumlah judul memang sudah dimasukkan ke PDS HB Jassin), dan anak-anak serta cucu nampak memiliki ketertarikan yang berbeda di luar buku-buku. Daripada ke depannya mubadzir dan tidak jelas larinya akan kemana, lebih baik diteruskan kepada orang-orang yang membutuhkannya dan tepat.

Selain soal buku, kami sempat berkilas bincang soal isu-isu yang sedang melanda dunia kesusasteraan kita belakangan. Misalnya, masih soal kasak-kusuk Denny JA di Satu Pena. Konon, menurut Bundo Free ada sejumlah pegiat sastra yang sebelumnya menolak agenda skandal sastra, kini justru turut menunggang project Satu Pena Denny JA. Bundo juga menjawab, bahwa di negara serumpun banyak pegiat sastra tahu dan menolak skandal sastra Denny JA meski mereka umumnya diam dan memilih jalan tidak peduli akan sepak terjang Denny JA.

Namun, selagi saya membereskan buku-buku tadi ke dalam tas, tiba-tiba Bundo bertanya, “Masih ada lagi?” Maksudnya, masihkah ada buku yang hendak dicari?

Namun, tiba-tiba pula saya hanya bisa menjawab, “sudah cukup, Bund,” ungkap saya. Meskipun, mungkin kawan-kawan di sini juga tentu tahu bahwa jawaban yang demikian itu adalah jawaban yang tidak sebenarnya. Ya, adakah pecinta baca yang pernah merasa cukup dengan buku? Jawabannya, tidak ada. Jawaban tersebut tidak lain hanyalah ungkapan rasa malu belaka; untuk menginginkan lebih dari apa yang sudah diberikan.

Bundo Free memanglah orang yang baik. Itu saya sadari setidaknya sejak Bundo Free memberi saya kesempatan untuk menjadi pembicara dalam pertemuan rutin komunitas PSBNS (Persatuan Sastrawan dan Budayawan Negara Serumpun) yang beliau motori, meskipun saat itu saya bukanlah siapa-siapa; bukan pula berarti saya mendaku saat ini adalah siapa-siapa. Bukan. Lepas itu, saya pun diberi kesempatan untuk ikut menjadi peserta pertemuan PSBNS di Jogja (termasuk satu seminar umum diselenggarakan di UGM) yang dihadiri tak kurang dari perwakian negara-negara di ASEAN. Acara lainnya adalah, seperti sejumlah acara PSBNS di PDS HB Jassin, juga yang diadakan di kantor Yayasan Obor yang sudah disinggung itu. Dan sampai saat ini, pendapat saya mengenai siapa Bundo Free tidaklah berubah.




Dalam ungkapan yang cukup jelas, boleh dikatakan ini kali kedua saya berkunjung ke rumah Bundo dan pulang dengan membawa setumpuk buku. Di antara yang dua itu, kunjungan ke rumah Bundo Free, digembirakan dengan jamuan makanan yang sangat enak bersama pegiat sastra yang lain. Meskipun tetap, seenak-enaknya makanan, hidangan buku adalah segala-galanya bagi saya. Apakah akan ada kesempatan itu lagi, dan apakah ke depan masih memiliki keberuntungan yang serupa, saya tak tahu.

Terakhir, dalam tulisan yang remeh-temeh ini, dengan perasan yang sangat tulus saya hendak mengatakan terima kasih sebesar-besarnya kepada Prof Faruk, Bang Saut Situmorang dan Bundo Free. Dan izinkan saya coba sedikit berpantun.

Nelayan berlayar di atas perahu
Menyapa ikan-ikan lewat dendang dan lagu

Kini diri terlihat membuka-buka kembali Melayu
Mencari mutiara di laut-laut dahulu

Sambil berdendang melihat paus dan hiu
Hujan dan badai, ombak seribu
Berputar balik tak mungkin waktu
Berpeluk buku adalah harapan satu

Cirebon, 01 May 2022. Shiny.ane el’poesya




Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds