LOADING

Type to search

5 Tahap dan Tips Metafora ala Shiny.ane el’poesya

 

“Karya Puisi terbaik–yangmana metafora ada di dalamnya–tidak diciptakan lewat mimpi atau imajinasi orang sakit. Sebagaimana alam semesta tidak diciptakan oleh kekuatan yang tertidur dan yang gila. Oleh karenanya, sains dan fisika atasnya jadi mungkin. Dan, itu semua kita sebut sebagai penciptaan yang jenius.” Shiny.ane el’poesya

 

Metafora adalah salah satu dari gaya ungkap kias dalam berbahasa. Dalam derajat komposisi tertentu, ia bisa membuat tulisan kita menjadi lebih berbunga-bunga. Meskipun, tulisan yang kuat tidak harus selalu dibangun dengan cara berbunga-bunga, dengan menempatkan metafora sebagai hanya perkara teknis kiasan; sebagaimana konsep klasiknya.

Nah, berikut tahap dan tips teknis membuat metafora ala Shiny.ane el’poesya yang bisa Anda terapkan.

1. Mengerti apa yang hendak disampaikan

Karena Metafora–sebagai teknik–adalah sebuah perangkat puitik untuk membuat sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang memiliki gambaran konkrit, atau dari sesuatu yang sudah konkrit namun masih perlu tujuan agar ada efek lain dalam tangkapan pembaca, maka hal pertama yang harus dimiliki adalah mengerti lebih dulu apa yang hendak disampaikan. Mengerti dengan jelas baik pesan abstrak maupun pesan konkrit yang hendak disampaikan itu. Fungsinya, agar kita mengetahui dengan jelas esensi serta sifat-sifat aksidental apa yang hendak kita analogikan ke dalam ungkapan yang dipilih. Lebih dari itu, juga mood serta suasana yang melingkupinya.

Pada tahap pertama ini, tipsnya adalah, sebisa mungkin kita merenung dengan mendalam untuk menghindari hal-hal yang tak esensial dari apa yang hendak disampaikan. Misal, kita ingin mengungkapkan perasaan cinta, maka yang perlu kita lakukan pada tahap ini adalah mendalami akan apa itu perasaan cinta sedalam-dalamnya. Sehingga, kita tidak terjebak pada sifat-sifat picisan yang akan mengerdilkan bobot ungkapannya sejak awal sehingga jadi hanya sekadar hal remeh temeh. Setiap orang mungkin bisa melihat langit yang sama di pagi dan malam hari, akan tetapi, hanya ia yang bisa berfikir mendalam yang dapat mengerti lebih banyak apa langit sebenarnya, dan bagian-bagian mana yang sebenarnya bukan meskipun sering disebut langit.




2. Tahu apa yang hendak dilakukan

Setelah memahami apa yang sebenarnya hendak diungkapkan, langkah selanjutnya adalah tahu apa yang hendak dilakukan. Dalam persoalan metafora sendiri, masih banyak yang hanya mengetahui sebagian dari sebagiannya saja tentang metafora. Bahkan, masih lebih banyak lagi yang mengetahui permukaannya saja soal metafora, seperti sebatas pengertian kilasan belaka (metafora adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain) tanpa tahu lebih lanjut dan lebih jauh lagi. Misal, apa bedanya metafora dengan Simile, Metonimi, Sinekdoke dan lainnya? Bagaimana kaitannya dengan Analogi, Sintesia, dan Sinestesia? Ada berapa jenis dan bentuk metafora? Bagaimana syarat-syarat metafora yang baik sehingga ia bisa bekerja dengan maksimal baik dari segi reseptif (efek penerimaannya) maupun dari segi strukturalnya (efek lingustik) dan seterusnya dan seterusnya? Tanpa yang demikian tersebut, maka apa yang hendak dilakukan tak bisa jadi maksimal serta tak akan menemukan subtansi dan arah pengembangan kreatifnya.

Cth. Terkait bagaimana metafora bekerja, ada beberapa yang setidaknya harus diketahui sejak awal, misalnya, a) metafora itu membuat yang masih abstrak menjadi gambaran yang mudah dipahami oleh orang yang tak biasa berfikir dengan konsep-konsep abstrak-filosofis, b) dengan gambaran tersebut bisa mengilustrasikan dengan singkat apa yang bisa jadi dalam discourse sebenarnya cukup panjang, c) gambaran ilustratifnya bisa menimbulkan efek emotif lain di benak pembaca, d) meskipun sudah dalam gambaran konkrit, dalam kaca mata message hunting justru membuat terbukanya pintu kemungkinan tafsir sebab ia bukan merupakan ungkapan langsung (latin: prose), e) bisa membuat percakapan biasa menjadi lebih puitik sebab lebih berwarna dan berbunga, dan percakapan puitik menjadi lebih bermekaran, f) menarik pembacaan karya menjadi lebih dalam lagi dan, g) seterusnya dan seterunya.




3. Mengumpulkan/membuat sejumlah opsi ungkapan

Sebagaimana gaya figuratif perbandingan lainnya, tujuan dari metafora adalah menggantikan satu ungkapan dengan ungkapan lain yang menjadi alternatif konkritnya. Dengan demikian, maka langkah kedua yang harus dilakukan adalah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin ungkapan konkrit untuk menggantikan apa yang hendak diungkapkan. Kita bisa mengumpulkan dari dua hingga lima ungkapan konkrit dari satu hal yang hendak kita ungkapkan. Semakin banyak alternatif, tentu semakin baik.

Tipsnya, kita bisa mulai mengumpulkan ungkapan tersebut dari kesamaan-kesamaan sifat (baca: similaritas bukan sinonimitas) esensial dari apa yang kita ungkapkan dengan peristiwa alam yang dekat dengan kehidupan sehari-hari audiens yang dituju. Semisal, ingin mengungkapkan perasaan cinta pada audiens yang menjalani kehidupan pedesaan, maka kita bisa mengungkapkannya dengan nuansa alamiah yang kental. Itu akan lebih mengena, daripada ketika mengungkapkannya dengan ungkapan yang bernuansa lingkungan perkotaan. Begitu pula sebaliknya. Ungkapan terbaik metafora adalah ungkapan yang paling mudah untuk segera dipahami gambaran konkritnya oleh audiens yang dituju.

Mengapa pada bagian ini saya mengatakan mengumpulkan dan bukan membuat? Karena, pada dasarnya ungkapan-ungkapan metaforis khususnya untuk ungkapan dengan kata tunggal, itu sudah tersedia di sekitar kita. cth. Kata “matahari” untuk mengungkapkan sifat penerang dan pemberi energi, kata “mawar” untuk mengungkapkan cinta romantis yang berduri. Kira-kira seperti itu.

Tips lain pada tahap ini di antaranya berkaitan dengan bagaimana cara membuat gambaran metaforis yang segar. Caranya, selain dengan mencari ungkapan tunggal, kita bisa melakukannya dengan cara menggabungkan dua atau beberapa hal yang tidak biasa dalam satu ungkapan. cth. Rambut + Emas + Sungai, menjadi “Rambut emas yang seperti sungai.” Wajah + Bolpoin, menjadi “Wajah bolpoinmu yang menulis takdir.” Akan tetapi, hati-hati pada cara ini, sebab alih-alih kita bisa mendapatkan gambaran metaforis kita yang segar, justru kita telah mendapatkan gambaran metaforis yang eror pikir hingga berkecenderungan “mental illnes” sebab gemar sembarangan dalam berfantasi.

Cth. Pada, “Rambut emas yang seperti sungai,” ungkapan tersebut lebih gampang untuk diterima akal asosiasi imajinalnya, sebab kita akan bisa segera menangkap hubungan imej-imejnya dengan mudah. “Rambut emas,” asosiasinya jelas pada warnanya yang kuning yang juga mungkin berkilau. “Yang seperti sungai,” ini bisa menggantikan sifat panjang dan bergelombang. Berbeda efek ketika kita membaca ungkapan, “Wajah bolpoinmu yang menulis takdir,” yangmana, jembatan asosiatif antara wajah dan bolpoin terlalu jauh jikalaupun ada. Lain halnya jika kita mengatakan dalam konteks gambaran lain berikut, “Kaki bolpoinmu yang menulis takdir.” Pada kasus kaki, kita masih bisa mendapati kedekatan imej dengan bolpoin, sebab dengannya kehidupan bergerak melangkah dan menimbulkan efek pada takdir. Meskipun, kedekatan sifat antara kaki dan bolpoin cukup berjarak.




Tips turunan dari penggabungan dua hal yang tak biasa ke dalam satu tarikan ungkapan di antaranya, dengan menggabungkan dua hal yang benar-benar bertentangan secara sengaja sehingga memunculkan efek gambaran dramatis sebab nuansa paradoksalnya. Loh, bukankah baru saja dikatakan agar jangan membuat gabungan yang tidak masuk akal? Benar. Akan tetapi, untuk menciptakan nuansa metaforis yang dramatis, paradoks, atau penuh ironi, membuat yang demikian bisa digunakan. Syaratnya, tetap dalam perhitungan yang matang. Ketika kita menempatkan satu anomali pada sebuah bagian puisi, maka pada bagian lainnya kita harus bisa memberi clue-clue puitik lainnya sehingga bisa memberi signal pada pembaca, bahwa apa yang dilakukan barusan saja adalah satu kesengajaan dengan tujuan yang khusus dan kuat. Dan sekali lagi, bagian itu ada di sana bukan disebabkan eror pikir atau simptom mental illnes.

cth.

“Wajahmu yang bolpoin menulis takdirku yang merana. Aku ingin setia mendampingimu seperti kertas yang lusuh dalam mozaik ceritamu yang penuh perjuangan mendayung perahu kehidupan.” (Cenderung eror)

“Wajahmu yang bolpoin dan air matamu yang tinta, membuatku memahami betapa pedihnya jalan hidupmu, sebagai seorang wanita penghibur dan sekaligus sebagai ibu yang mencintai anak-anaknya di kota yang rusak ini.” (Apa bisa melihat perbedaan rasionalitas kreatifnya dari yang pertama?)

Tips lain pada tahap ini adalah menghindari klise. Atau, ungkapan yang pernah digunakan oleh orang lain, yang sudah umum beredar, meskipun bagus. Sebab metafora adalah pekerjaan kreatif, bukan pekerjaan mencontek. Dan ketahuilah, tujuan kita membuat metafora salah satunya yaitu untuk menciptakan efek kejut imajinatif (yang profesional, berdaya goda, hingga powerfull genius, bukan yang sakit) sehingga menarik impresi hingga menyingkap Asthenesos (perasaan tergugah dan terinspirasi) audiens, akan tetapi, yang klise justru membuat warna biru pada telur asin; membuat itu gagal sejak awal.

Kemudian, pada tahap ini pula perlu ditegaskan bahwa metafora berbeda dengan idiom, meskipun perbedaannya setipis perbedaan metafora dan simile. Jika anda masih berpikiran ungkapan “itu seperti menggarami laut” adalah sebagai ungkapan metaforis–atau sebagai simile, maka itu tanda harus bersedia membaca lebih baik lagi.




4. Memilih yang paling tepat

Setelah mengumpulkan dan mencoba membuat sebanyak-banyaknya ungkapan metaforis, yang tak kalah penting dan menentukan pula adalah tahap memilih.Yangmana, dari sekian apa yang coba kita kumpulkan dan buat itu, akan dipilih satu saja ungkapan yang paling tepat. Pada tahap ini, kita dituntut untuk merenungkan ulang untuk apa kita membuat metafora? Sebagai peranti hiburan? Sebagai piranti iseng sendiri? Sebagai pelepas eror pikir atau imajinasi yang mental ilness seperti yang dialami oleh orang-orang depresi, compulsif, factitious, pengidap skizofrenia dan lainnta hingga simptom psikopat? Atau, kita membuat metafora memang untuk tujuan yang tak demikian dan lebih serius?

Jika tahap kedua kita berada pada tahap keterampilan, maka pada tahap ini pada dasarnya tak jauh berbeda dengan tahap pertama yang merupakan tahap permenungan. Untuk apa kita melakukan semua itu? Sehingga kita bisa mengevaluasi dan meluruskan kembali apa yang sudah kita buat: coret, coret, coret, dan buat ulang dengan sikap seorang pemuisi yang lebih benar.

Karya Puisi terbaik–yangmana metafora ada di dalamnya–tidak diciptakan lewat mimpi atau imajinasi orang sakit. Sebagaimana alam semesta tidak diciptakan oleh kekuatan yang tertidur dan yang gila. Oleh karenanya, sains dan fisika atasnya jadi mungkin. Dan, itu semua kita sebut sebagai penciptaan yang jenius.




5. Hidupkan metafora

Ketika negara kita kembali diramaikan oleh demam Ikan Cupang, seorang teman bertanya, “apa yang membuat Ikan Cupang begitu berharga bagimu?” Saya coba menjawab, “sebab ekornya.” Lalu, ia kembali bertanya, “apa yang menjadikan ekornya berharga?” Saya coba kembali menjawab, “sebab ikannya hidup.”

Ya, tahap akhir dari rangkaian proses penggarapan metafora, tak lain adalah membuatnya hidup. Bagaimana caranya? Perhatikanlah bagaimana kehidupan itu sendiri bisa menjadi hidup dan menghidupi yang lain. Begitulah pula metafora mesti ditaruhkan. Bukan pada peti kata-kata yang telah mati. []




 

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds