LOADING

Type to search

KILAS 5 METODE HERMENEUTIK: DARI SCHLEIERMACHER HINGGA RICOUER

Shiny.ane elpoesya

Persoalan paham memahami, tafsir menafsirkan, adalah persoalan yang tidak bisa diabaikan oleh setiap pegiat puisi. Bahkan, bisa dikatakan persoalan tersebut melekat inheren dalam setiap pelaksanaan puisi itu sendiri. Tidak bisa kita bayangkan, seorang penulis puisi yang baik, ia tidak memiliki kecakapan dalam persoalan memahami dan menafsirkan sesuatu. Sebaliknya, banyak sekali orang gagal membuat puisi yang kuat disebabkan mereka tidak memiliki kecakapan dalam urusan paham memahami dan tafsir menafsirkan tersebut.

Oke, bukan waktunya berpanjang lebar di sini. Karena ini toh kilasan saja. Check it yuk!

 

1. Schleiermacher (1768-1834)





Schleiermacher adalah seorang Protestan yang secara intelektual memiliki motivasi kuat untuk memahami kitab sucinya. Sebagai seorang pemikir, ia kurang suka terhadap kecenderungan Protestan yang tekstualis dalam membaca Bible.

Ia merasa bahwa untuk mencapai iman yang mendalam, haruslah dengan menemukan pengalaman beragama yang juga dalam. Oleh karenanya, di dalam memahami kitab sucinya, ia menekankan bahwa penggalian terhadap unsur sejarah peristiwa khususnya suasana psikologis penutur kitab harus dilakukan. Tujuannya adalah, agar apa yang sudah beku di dalam teks literal kitb suci, bisa dibangkitkan kembali dan dihayati.

Bagi Schleiermacher, yang demikian itu adalah pembacaan yang tepat; dengan melakukan rekonstruksi pengahayatan psikologis–yang objektif. Dan, untuk mencapai penghayatan yang tepat, Schleiermacher mengatakan bahwa seorang pembaca teks harus lebih dulu mengosongkan dirinya dari berbagai kepentingan, perasaan pribadi, atau sentimen yang sedang dialaminya, kemudian mulai memasuki sejarah hidup (suasana psikologis) si penutur teks dengan total.

 2. Dilthey (1833-1911)

Dilthey, awalnya ia adalah seorang yang taat dalam beragama. Sebagai anak dari seorang ayah yang Protestan, ia justru nampak begitu rajin ke gereja dan belajar teologi. Namun, pada akhirnya ia tertarik dengan sejarah kemudian filsafat. Pada titik ini, ia menjadi murid dari Schleiermacher.

Berbeda dari gurunya, Dilthey mengatakan bahwa proses pemahaman bukan diperoleh dari penghayatan objektif memori-psikologis akan sebuah teks. Akan tetapi, justru dari bagaimana memahami ekspresi psikologis si penutur teks dalam kerangka kesejarahan yang lebih luas. Sehingga, proses memahami bukan hanya melulu persoalan memahami suasana kejiwaan si penutur teks. Melainkan, proses pemahaman berartin usaha dalam mencoba memahami konteks sejarah yang membentuk dan memungkinkan kondisi mental itu tercipta.

Dengan kata lain, Dilthey coba membuat ruang penelitian hermeneutik ke arah yang lebih luas.




3. Gadamer (1900-2002)

Gadamer adalah seorang pemikir yang sejak awal karir intelektualnya memang lahir dari rahim filsafat. Tak tanggung, ia pun menyelesaikan studi doktoralnya di bidang yang sama.  Semasa kuliah, ia menjadi mahasiswa dari filsuf eksistensialis paling tersohor di masanya, Heidegger. Dan dalam pilihan tradisi pemikiran, ia jadi penerus dosennya itu.

Berbeda dari dua tokoh yang dikilas sebelumnya, Gadamer berpendapat bahwa proses pemahaman bukanlah proses yang bersifat objektif atau mencari objektivitas; baik itu pada lingkup psikologis maupun historis teks. Justru, proses pemahaman baginya adalah proses yang akan selalu bersifat subjektif. Sebab, seorang penafsir pastilah tidak lahir dari ruang kesejarahan yang kosong.

Menurunkan konsep pra-pemahaman ala Heidegger, Gadamer mengatakan bahwa seorang penafsir sebelum melakukan kerja pemahaman atas teks, ia sudah memiliki pemahaman awal akan realitas yang dibawa di kepalanya. Khususnya, yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan tradisinya yang disebut sebagai horizon. Sehingga, bagi Gadamer, proses pemahaman dan penafsiran harus dipandang secara realistis justru sebagai kegiatan yang akan menjadi bermakna ketika ia bersifat kreatif dengan sadar dan sengaja mendialogkan horizon yang dimilikinya atas horizon yang ada di dalam teks.

Bagi Gadamer, proses pemahaman dan proses penafsiran adalah sebuah proses yang pada akhirnya selalu bersifat sintesis (fusi) dari minimal dua horizon, yang fungsinya untuk menciptakan hasil pemahaman hingga produk penafsiran yang segar berupa kreativitas wacana.




4. Habermas (1929- )

Habermas adalah salah seorang yang tergabung dalam kelompok intelektual (madzhab) Frankfurt. Kelompok intelektual yang dikenal berada di dalam pengaruh tradisi filsafat kritis sosial-Marxis yang juga sekaligus berada di dalam pengaruh perkembangan ilmu psikologi kritis dari Freud.

Dengan pengaruh filsafat kritis yang diambilnya, Habermas mengatakan, bahwa proses pemahaman atau penafsiran atas sebuah teks pada dasarnya bukanlah hanya melulu soal objektivitas atau subjektivitas. Soal objektivitas sendiri, jelas bagi Habermas itu adalah hal yang tidak ada. Dan, mengenai subjektivitas, dalam ruang Hermeneutik, baginya bukanlah hanya persoalan yang mencakup dimensi pemahaman serta penafsiran. Akan tetapi, juga di dalamnya selalu ada dimensi kepentingan. Bagi Habermas, ketika seorang pembaca coba memahami dan menafsir sebuah teks, maka di situ tidaklah soal untuk mendapatkan pemahaman ansih, tetapi juga di dalamnya turut serta melekat kepentingan politisnya, kehendak untuk mendominasi audiens, juga sentimen lainnya. Sehingga, bagi Habermas, setiap bentuk penafsiran bagaimanapun harus diwaspadai dengan kesadaran yang kritis.




5. Ricouer (1913 – 2005)

Paul Ricouer, boleh dikatakan ia adalah seorang pemikir sekaligus akademisi yang tekun. Hidupnya sebagian besar dihabiskan untuk filsafat dan mengajar kuliah; sebagai guru besar di universitas ternama seperti di Universitas Paris dan Universitas Chicago.

Jika posisi Habermas sebagai seorang pemikir teori Hermeneutika adalah sebagai komentator kritis–baik atas kecenderungan megejar objektivisme (Schleiermacher, Dilthey) maupun subjektivisme (Gadamer) –serta menempatkan posisi atensi audiens dalam anjuran kewaspadaan, posisi Ricouer adalah sebagai seorang bridge builtder (pebangun jembatan) antara tarikan objektivisme dan subjektivisme secara diplomatis.

Ricouer tak menampik, bahwa baik objektivisme maupun subjektivisme memang diperlukan dalam setiap proses pemahaman. Oleh karenanya, ia tetap berpijak pada dua proses tersebut. Ricouer bahkan memerincikan, bahwa untuk mendapatkan ketepatan pemahaman, seorang pembaca atau penafsir harus mengejar objektivitas teks, sedangkan untuk mendapatkan horizon pemaknaan, maka subjektivitas diperlukan. Sehingga, ia menggambarkan bahwa proses pemahaman dan penafsiran haruslah melewati setidaknya tiga tahap berikut:

1) Proses awal yaitu dengan menggali makna objektif dari teks. 2) Penafsir harus mulai bisa berjarak secara kritis terhadap makna-makna tersebut sehingga memungkinkan diucap atasnya komentar kritis, dan kemudian, 3) memasukkan hasil pemahaman objektif dan kritisnya ke dalam diri si penafsir sebagai proses memahami diri sendiri secara eksistensial. Atau, boleh dikatakan dengan gampang, tujuan akhir dari proses pemahaman bukanlah pada hasil penafsiran objektif atau kreativitas hasil penafsiran yang ada di luar diri (sebagai wacana publik), akan tetapi, utamanya adalah sebagai yang melekat di dalam pengembangan realisasi eksistensial diri.

… [] Sekian




Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds