LOADING

Type to search

Shiny.ane elpoeysa: Sintesia, Sintesis dan Seni Puisi

Oleh Shiny.ane el’poesya

Sintesia berasal dari bahasa Yunani, syn- (gabung) dan -thesia/thesis menaruh dalam pengaturan. Sintesis berarti menggabungkan beberapa hal ke dalam sebuah pengaturan atau dalam sebuah komposisi. Sintesia berbeda dengan Sinestesia (syn + aesthesia) yang sudah disampaikan pada kesempatan sebelumnya.

Kata ini merupakan kata yang sejak awal digunakan secara umum dalam berbagai bidang dan bukan khusus sebagai peristilahan seni. Digunakan dalam bidang pengobatan, filsafat, logika, retorika, dan Poiesis (penciptaan seni). Dalam bidang-bidang keilmuan modern pun digunakan secara luas seperti pada bidang kimia, fashion, biologi eksperimental, dan sebagainya.

Produk-produk penggabungan sesuatu, khususnya yang melewati proses penggabungan antara yang natural dan yang rekayasa, khususnya lagi produk rekayasa kimia dan biologi, seringkali disebut secara eksplisit sebagai produk sintetik. Selain yang melibatkan kedua bidang itu, umumnya tak disebut demikian.




Dalam Kamus Filsafat tentang Argumen (philosophy-science-humanities-controversies.com), dipetikkan bahwa Aristoteles pernah menyampaikan bahwa Sintesis adalah sebuah komposisi akan entitas yang di dalamnya bisa berupa penggabungan objek, subtansi benda, kata-kata, kalimat, atau unsur karya seni ke dalam sebuah struktur. Artinya, Sintesis terjadi baik dalam skala metafisika hingga pada skala fisika yang kecil.

Pada skala makro, Aristoteles pernah mengatakan tentang berbagai gambaran visual para dewa yang bersifat melampaui wujud manusia pada umumnya, yang oleh Plato (gurunya) dikatakan sebagai wujud adikodrati yang ada/berasal dari alam idea(l). olehnya, itu semua tidak lain hanyalah gambaran imajinatif dari proses Sintesia acak yang terjadi pada benak; tidak menggambarkan akan eksistensi kebenaran.

Sebagai contoh, ketika orang Yunani kuno memberi gambaran tentang Unicorn (seekor kuda putih bersinar yang bertanduk juga bersayap) sebagai wujud ideal dari seluruh kuda yang ada di bumi yang tak sempurna wujudnya, menurut Aristoteles, gambaran tersebut tak lain dari proses Sintesia acak saja antara seekor kuda, seekor lembu liar bertanduk serta seekor burung dara putih bersayap, yang pernah dilihat oleh orang zaman Yunani kuno tersebut, bukan dari inspirasi langit. Begitu pula gambaran Malaikat/Dewa yang begitu mirip dengan gabungan antara imej manusia, cahaya, dan burung dara. Dengan kata lain, sekali lagi, segala gambaran-gambaran aneh mengenai berbagai makhluk di dunia ini–tak terkecuali gambaran mengenai makhluk adikodrati, bagi Aristoteles, itu semua belum tentu kebenaran eksistensialnya. Alih-alih, bisa jadi itu hanya berasal dari imajinasi acak, liar, hingga neurotik belaka ketimbang merupakan benar-benar sebagai representasi dari sebuah kenyataan hakiki.

Pada makalah Logika dan Retorika milik Aristoteles, Sintesis merupakan bagian tak terlepaskan dari setiap proses Analisis. Bahkan, bisa dikatakan Analisis tak akan pernah berjalan tanpa adanya kerja sintesia berbagai unsur-unsur kalimat di dalamnya. Analisa tanpa adanya kerja Sintesia, ya, kita bisa membayangkannya bahwa itu hanya akan jadi pekerjaan membuat segala halnya terfragmentasi; terpecah-pecah, tanpa penyelesaian preposisional dan penarikan kesimpulan.




Adapun soal produk Sintesis, ia kerap dicirikan lewat hasil penggabungannya. Yangmana, dalam entitas hasilnya, menampilkan satu kualitas baru yang bahkan bisa jadi berbeda dari sebatas hanya gabungan sifat dari yang ada dalam bagian-bagian penyusunnya.

Pandangan yang demikian sejalan dengan konsep Sintesis yang diusung oleh para Ilmuan Alam yang membasiskan Sains Alamnya pada gerak dialektis: thesis-antithesis-synthesis/thesis baru. Yangmana, pada tahap Sintesis, sebuah entitas akan memiliki dalam dirinya satu lompatan kualitas. Alan Woods dalam Reason in Revolt pernah menjelaskan bahwa sebuah tornado muncul bukan hanya sebab gabungan dari sekumpulan angin, akan tetapi sebab munculnya lompatan kualitas ketika mereka bersatu.

Lalu, apa hubungan Sintesia/Sintesis dengan Seni Puisi (baca: Poiesis)?

Secara makro, banyak bentuk-bentuk puisi merupakan sebuah eksperimentasi yang melibatkan aktivitas sintesia/sintesis yang menonjol. Sebagai contoh, pada Calligram yang mengabungkan antara unsur teks dan bentuk-bentuk visual dari berbagai benda. Atau, pada karya-karya Sci-fi yang banyak menggabungkan antara wawasan Saintifik dengan daya eksplorasi Fiksi. Bahkan, terjadi pula pada karya-karya Surealis yang memang berkecenderungan Neurotik.

Dalam skala mikro–dalam konteks ini pada Poiesis Writting, proses Sintesia/Sintesis berhubungan erat dengan penyusunan setiap preposisi-preposisi dalam pembangunan kalimat. Dengan kata lain, Sintesia/Sintesis ini adalah pekerjaan yang dilakukan di dalam payung pembentukan logika (penalaran) kalimat yang benar, sebelum kemudian dinaik-kontruksikan sampai nampak kadar keindahannya.




Contoh.

1.Skala konsep: Dewa : Manusia + Cahaya + Sayap Burung
2.Skala Frase: Dewa Thor : Malaikat + Kilat Hujan
3. Skala Klausa: Dewa Thor yang Membawa Palu : Dewa Thor + Pandai Besi
4.Skala Kalimat: Dewa Thor menghantam Minotaur : Imej lengkap Dewa Thor + Imej lengkap Minotaur

Pertanyaan selanjutnya adalah,

1.Bagaimana cara kita menilai sebuah Sintesia?
2.Bagaimana sebuah Sintesia/Sintesis bisa bermakna benar?
3.Bagaimana sebuah Sintesia/Sintesis bermakna indah? Dan terakhir,
4.Bagaimana sebuah Sintesia/Sintesis bermakna indah sekaligus memilikidi dalamnya nilai kebenaran?

Jawabannya,

1.Dengan cara memeriksa setiap bagian-bagian penggabungannya apakah berjalan dengan perhitungan logis atau hanya sebatas menjadi aktivitas imajinasi kosong dan acak belaka sehingga tidak memiliki nilai renung, alih-alih hanya menjadi bagian dari gejala tak terkontrolnya arus kesadaran di dalam kepala seseorang (baca: neurotik).

2.Sebuah Sintesia/Sintesis menjadi memiliki nilai kebenaran jika ia pada hasil Sintesianya bisa masuk akal, seperti ketika kita mengatakan, “Sepasang segitiga, sama bentuk, kaki kanan kaki kiri saling menempel, sebuah layang-layang.”

3.Sebuah Sintesia/Sintesis menjadi memiliki nilai keindahan jika ia dilakukan berbarengan dengan pengaplikasian teknik puitik. Misal, seperti kita melakukan Sintesia berbarengan dengan Personifikasi, “Sebuah layang-layang menari di antara bumi dan langit.” Juga misalnya pada Sintesia yang berbarengan dengan Sinestesia berikut, “Sebuah layang-layang yang sunyi antara bumi dan langit.”




4.Sebuah Sintesia/Sintesis menjadi memiliki nilai keindahan sekaligus memiliki nilai kebenaran eksistensial jika, ia memang digubah selain dengan tujuan menghadirkan representasi indrawi yang menggugah, tetapi juga berhasil dalam mempertahankan kebenaran logis atau kebenaran empiriknya. Mari perhatikan contoh kalimat berikut, “Sebuah layang-layang menari sunyi di antara bumi dan langit. Kaki-kaki kita yang segitiga dan saling menempel di waktu kecil.”

Pertanyaan penutup. 5. Apakah sah menggunakan Sintesia hanya untuk membangun sesuatu yang bersifat imajinatif (baca: fiksi) belaka?

Jawabannya, sah-sah saja. Asalkan, jangan lupa untuk segera kembali ke jalan berfikir yang rasional, ilmiah, serta mampu kritis terhadap karya-karya fiksi buatan sendiri, sehingga, kita tetap bisa senantiasa bersikap kritis atas hayalan-hayalan kosong (baca: halusinasi yang terjadi di kepala) kita sendiri.

Apakah di sini kita semua pernahkan mendengar bahwa di luar sana banyak orang menjadi terpuruk dalam hidup sebab termakan oleh hayalan-hayalan kosongnya sendiri? Bagaimana jika ternyata itu terjadi pada diri kita–sebagai simptom neurotik?

 

04 April 2022




Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds