LOADING

Type to search

Sinestesia: Antara Figurative Style atau Eror Pikir (Baca: Penyakit Mental)?

 

Oleh Shiny.ane el’poesya*

Untuk kesekian kalinya, tak sedikit di antara pegiat puisi menerima begitu saja pengertian-pengertian simplistis (terlalu sederhana) terkait tata teknis dalam penggarapan sebuah karya. Yangmana, dengannya alih-alih pegiat puisi bisa menghadirkan satu produk puisi yang cemerlang, justru sebaliknya, memancarkan cacat personal melaluinya. Salah satu kasusnya adalah pada penggunaan yang serampangan atas Sinestesia.

Ya, Sinestesia adalah satu Figurative Style yang seringkali digunakan secara serampangan. Hanya dengan mendapati definisi yang terlalu sederhana seperti, “Penggunaan gaya ungkap yang mengaitkan secara tak semestinya antara citra indrawi tertentu dengan fungsi indra lainnya,” banyak di antara pegiat puisi baik pemula ataupun yang merasa sudah tidak pemula lagi, terjebak pada eror pikir.




Kita demonstrasikan dari 3 contoh berikut.

1. Suaranya merah hingga aku ketakutan
2. Aku menghidu kata-katanya dalam kehidupan ini
3. Tatapanmu memekakkan seluruh tubuhku

Bandingkan dengan berikut

1. Suaranya mengejarku hingga aku ketakutan
2. Aku melihat kata-katanya dalam kehidupan ini
3. Tatapanmu menelan seluruh tubuhku

Apakah kita bisa memeriksa perbedaan di antara masing-masingnya? Jika diperhatikan dengan saksama, maka akan dengan mudah kita menemukan bahwa 3 contoh pertama adalah contoh Sinestesia dengan indikasi eror pikir. Sedangkan, 3 contoh berikutnya, adalah bentuk Sinestesia yang komposisinya telah dipertimbangkan dengan baik sehingga secara implisit menunjukkan bahwa penggubahnya telah terlepas diri dari eror pikir.

Pada 3 contoh pertama, kita tidak menemukan asosiasi logis yang bisa dicerap dengan lekas antara “suara dan warna merah”, “menghidu dan kata kata”, serta antara “tatapan dan memekakkan”. Berbeda jika kita memperhatikan komposisi silang fungsi indrawi pada 3 bagian kedua yang citra asosiasi logisnya bisa langsung kita tangkap; perlu diingat bahwa yang sedang dibicarakan adalah komposisi citra indrawi bukan maksud maknawinya.




Sebuah “suara yang mengejar”, meskipun ini adalah bentuk gabungan silang antara citra audio dengan fungsi indra peraba, akan tetapi, kita langsung mendapatkan asosiasi logisnya, sebab memang salah satu sifat dari suara, yaitu, ia merambat dari satu tempat ke tempat lain, sehingga memang sangat bisa lekas terilustrasikan sebagai yang mengejar.  Tidak sebagaimana “suara yang merah”, yang kalaupun ada hubungannya, pasti lebih kepada “akal-akalan ribet” ketimbang konstruksi citra imaji yang apik.

Sebuah “kata-kata yang terlihat dalam kehidupan”, meskipun kita tahu sifat dasar dari kata-kata adalah auditif dan bukan bersifat visual, namun, dalam komposisi kalimat tersebut kita langsung memahami bahwa kata-kata yang dimaksud telah mewujud dalam kenyataan baik sebagai perilaku maupun sebagai karya bendawi. Sebab, begitulah memang salah satu sifat dari kata-kata setelah diucapkan, yaitu memiliki potensi untuk menjadi kenyataan. Tidak seperti pada “kata-kata yang terhidu”. Jikalaupun ada, dan bisa kemudian menjadi lebih masuk akal, maka tentunya dalam kasus-kasus tertentu, yang harus pula dimunculkan konteksnya dengan terang pada rangkaian kalimat-kalimatnya.

Begitu pula pada contoh ketiga pada “tatapan yang menelan seluruh tubuh”, ketimbang “tatapan yang memekakkan seluruh tubuh”. Kita akan bisa menilai yang pertama memiliki bobot rasionalitas, sedangkan yang kedua cenderung dilandasi pada eror asosiasi.

Sinestesia berasal dari bahasa Yunani, “Syn”, yang artinya penggabungan, dan “Aesthesia”, yang artinya persepsi–atau lebih tepatnya ketergugahan tubuh yang melibatkan proses persepsi. Dengan kata lain, Sinestesia berarti kondisi tergugah sebab terjadinya penggabungan sejumlah proses persepsional.

Dalam fenomena klasiknya di Yunani, ketergugahan yang demikian boleh dikatakan tercermin pada ke dalam dua tipe. Pertama, penggabungan (Sintesia) yang didasarkan pada proses yang terkontrol dan melibatkan kesadaran–logis. Dan kedua, penggabungan (Sintesia) yang terjadi secara acak dan tak terkontrol oleh kesadaran; fenomena ini umumnya terjadi setelah aktivitas mabuk, atau setelah akivitas spiritual, hingga yang berakar pada simptom gangguan mental dalam diri.

Kita tahu, dalam sejarah pemikiran filosofis, tipe serta kemampuan Sintesia manusia yang berpijak pada kekuatan logis telah berhasil menggugah hati para jenius di zamannya. Aristoteles, Hegel, atau para saintis lainnya, memegang teguh tipe ini.  Berkebalikan dari itu, yang mungkin pula tak diketahui oleh banyak pegiat puisi, ilmu medis modern justru telah memberi label potensial atas tipe yang kedua (artinya Sintesia yang tak terkontrol, Sinestesia yang tak melibatkan logika) sebagai bagian dari simptom penyakit mental. Lebih jauh, dalam perbincangan laporan penelitian di bidang ilmu medis terbaru menggunakan kata Sinestesia itu sendiri sebagai nama bagi penyakit mental yang dimaksud.




Dalam bahasa neurosains, Sinestesia berarti kegagalan seseorang dalam mengendalikan bagian otak yang berfungsi dalam mengontrol jalur persepsi dan bahasa. Adapun gejala dari Sinestesia yang umumnya dicontohkan dalam konteks ini di antaranya yaitu, adanya seseorang yang kerap melihat warna tertentu ketika mendengar suara tertentu, adanya seseorang yang merasakan aroma tertentu ketika melihat gambar tertentu yang sebenarnya tak mengandung aroma, hingga selalu melihat warna tertentu ketika melihat huruf atau kata tertentu. Masih banyak contoh lainnya.

Pertanyaannya, sudah sebanyak apa pegiat puisi yang melamun ingin menjadi jenius, ingin melahirkan karya yang jenius, akan tetapi justru yang dilakukannya adalah kebiasaan dan jalan dari seorang yang bermasalah secara mental? []




 

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds