LOADING

Type to search

Estetika Renaisans: Florence, Sains dan Humanisme

Oleh Bangkit I.D. 

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari diskusi Estetika di grup Lab. Sains Puisi (yang telah lama terjeda. Hehe …)

Estetika Renaisans menjadi titik balik bagi dunia kesenian. Apabila pada era sebelumnya, yaitu Abad Pertengahan yang terjadi antara abad ke-5 dan ke-14, kesenian lebih berfungsi untuk melayani sistem kepercayaan, sebagai upaya merepresentasikan suatu kekuatan adikodrati, maka pada era Renaisans pemahaman seperti itu mulai ditinggalkan. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai estetika Renaisans, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu asal-usul Renaisans.

Istilah Renaisans atau Renaissance berasal dari bahasa Latin, yakni renaitre, berarti kembali lahir. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang sejarawan, Jules Michelet, dalam karyanya Historie de France. Ia menggunakan istilah ini untuk menyebut perubahan kebudayaan masyarakat yang cenderung memiliki semangat untuk kembali mempelajari warisan Yunani dan Romawi Kuno yang lebih rasional.



Kecenderungan tersebut muncul sebagai respon masyarakat terhadap krisis yang terjadi di Abad Pertengahan. Abad Pertengahan sendiri terjadi setelah Kekaisaran Romawi di abad ke-5 runtuh. Pada masa ini berkembang anggapan bahwa ilmu pengetahuan harus berlandaskan ajaran agama yang menyebabkan institusi agama mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya.

Salah satu contoh dominasi agama pada abad pertengahan adalah pemberian hukuman kepada Nicolas Copernicus yang menyebutkan fakta bahwa matahari sebagai pusat tata surya. Pernyataan tersebut tentu dianggap sebagai heresi/bid’ah, menentang ajaran agama yang beranggapan bahwa bumi adalah pusat tata surya. Alhasil, Copernicus dijatuhi hukuman mati. Melihat doktrin dan dominasi gereja yang dianggap merugikan masyarakat, akhirnya muncul gerakan yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan agar terbebas dari belenggu kekuasaan gereja. Gerakan inilah yang disebut dengan Renaisans.

Pertama kali muncul Italia, lahirnya Renaisans juga didukung oleh transmisi keilmuan yang dibawa oleh pedagang-pedagang Mediterania. Ketika peradaban Barat mengalami kemunduran pada Abad Pertengahan, Mediterania justru tengah menikmati cahaya peradaban yang tinggi, tepatnya di bawah Dinasti Abassyiah yang berkuasa sekitar abad ke-8 hingga abad ke-15. Capaian yang diraih Dinasti Abbasyiah di bidang sains, teknologi, dan filsafat tidak lepas dari upayanya dalam mendirikan Baitul Hikmah sebagai pusat ilmu pengetahuan, melalui pengumpulan dan penerjemahan ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia. Sementara itu, beberapa kota-kota di Italia, seperti Florence, Venice, Naples, Genoa dan Pisa didominasi oleh pedagang-pedagang dari Dinasti Abassyiah itu. Dalam proses perdagangan tersebut, bukan hanya terjadi pertukaran komoditas, melainkan juga pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, terjadilah transmisi keilmuan di Italia.



Kota Florence, Italia, diyakini sebagai kota yang paling awal melahirkan Renaisans. Selain karena lemahnya cengkeraman kerajaan, kota Florence menjadi tempat awal lahirnya Renaisans juga karena peran dari keluarga Medici. Keluarga Medici merupakan sebuah keluarga terpandang di kota tersebut, bahkan secara de facto menjadi pemimpin bagi kota Florence. Pada mulanya, keluarga Medici adalah mantan anggota dari sebuah gilda (serikat dagang) Arte della Lana yang bergerak di bidang perdagangan tekstil. Selepas meraih kekayaan bersama Arte della Lana, keluarga Medici lantas mengembangkan bisnisnya sendiri dengan mendirikan Bank Medici. Selain itu, mereka juga mengembangkan diri melalui investasinya terhadap reka cipta piano, opera, pembiayaan arsitektur Basilika Santo Petrus dan Santa Maria del Fiore, serta menjadi patron bagi banyak seniman dan cendekiawan seperti Leonardo da Vinci, Michelangelo, Machiavelli, Galileo, dan sebagainya. Dapat disimpulkan bahwa peran keluarga Medici itulah yang kemudian turut serta melancarkan gerakan Renaisans di Italia, termasuk hingga ke bidang seni.

Demikianlah lantas tokoh-tokoh penting di era Renaisans dapat dikenali. Di bidang seni rupa, terdapat Leornado da Vinci dan Michelangelo. Leonardo da Vinci memberikan sumbangsih dalam gerakan Renaisans dengan meletakkan dasar-dasar yang sebelumnya tidak ada di masa Abad Pertengahan, yakni mengenai penerapan ilmu pengetahuan di bidang seni rupa. Pada seni lukis, misalnya, da Vinci memberikan penggambaran yang begitu detail, begitu proporsional dan karenanya rumit. Akan tetapi, penggambaran tersebut kemudian bermanfaat juga untuk keperluan pengembangan ilmu anatomi tubuh manusia di bidang kedokteran. Penjelasan-penjelasannya tentang hal ini tertuang dalam sebuah manuskrip yang ia buat, misalnya, dalam Vitruve Luc Viatour.

Manuskrip ini ditulisnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan mengenai arsitektur, ia menerapkan ilmu pengetahuan tersebut untuk membuat skala-skala pengukuran pada suatu objek penampakan. Di situ tampak da Vinci berusaha menunjukkan mengenai proporsi yang sesuai untuk menggambar tubuh manusia. Penyertaan skala garis, gambar lingkaran dan persegi dimaksudkan sebagai alat ukur bagi objek yang sedang ia gambar.
Penyelidikan terhadap proporsi ini berlaku secara luas, lebih detail dan lebih ketat, yakni terhadap segala proporsi yang berkaitan dengan perspektif seniman. Sebuah objek dilukiskan lebih besar atau lebih kecil dari objek lainnya, tergantung pada perspektif seniman—apakah melihat dari jauh atau dekat—ketika mengamati suatu objek. Hal ini berbeda dengan estetika Abad Pertengahan, di mana persoalan proporsi biasanya lebih berkaitan dengan makna religius ketimbang perspektif seniman.

Untuk memberikan contoh lebih konkrit mengenai penyertaan perspektif seniman dalam seni lukis, dapat diamati dalam lukisan da Vinci, The Last Supper.





Terlihat bahwa latar belakang pada lukisan tersebut memanfaatkan penerapan perspektif 1 titik, di mana proporsi garis-garis akan bertumpu pada satu titik tertentu, lalu melebar/membesar seiring mendekatnya objek dari mata pengamat. Teknik lukis semacam ini tentu menambah kesan realistis pada lukisan yang dibuat.

Sementara itu, Michelangelo menjadi tokoh Renaisans karena tingkat ketelitiannya dalam menggarap karya patung-patung, terutama soal anatomi tubuh manusia. Ia mendorong representasi akurat dari tubuh manusia dengan pose elegan yang rumit. Salah satu contoh karyanya yang terkenal adalah patung David.

David by Michelangelo Florence Galleria dell’Accademia

Dengan tingkat kedetailan yang begitu akurat, Michelangelo menampilkan sosok tubuh manusia lengkap dengan volume tubuh, urat-urat, otot-otot serta proporsi keseluruhan dari tubuh manusia. Seakan Michelangelo membuatnya setelah mempelajari anatomi tubuh manusia hingga bagian dalamnya. Sekali lagi, seni rupa Renaisans memasukan ilmu pengetahuan hingga membentuk karya seni yang begitu realistis. Hal tersebut tentunya senada dengan semangat Renaisans untuk kembali pada kehidupan yang berlandaskan atas ilmu pengetahuan.

Sementara di bidang sastra, terdapat Dante Alighieri. Ia disebut sebagai bapak bahasa Italia lantaran dukungannya terhadap bahasa penduduk setempat. Pada masa hidup Dante, bahasa yang mendominasi Itali adalah bahasa Latin, yang sekaligus sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan-pendidikan Abad Pertengahan. Karenanya, hanya kalangan berpendidikan saja yang memahami bahasa tersebut. Akan tetapi melalui karyanya, Dante lebih sering menggunakan bahasa penduduk setempat.

Selain itu, karya-karya Dante juga bersifat kritis terhadap moral Kepausan yang dinilai tidak adil dan tidak bermoral. Puncaknya ia tuliskan dalam De Monarchia yang berisi tentang kedudukan dan keabsahan Paus sebagai pemimpin spiritual tertinggi Gereja Katolik, dan penjelasannya tentang mengapa Paus sekaligus jadi raja dunia (Kerajaan Kepausan) yang otoriter. Karya Dante lainnya adalah La Vita Nuova, berisi tentang gambaran pertumbuhan cinta manusia. Comedia, yang ditulis ketika dalam pengasingan panjang di Revenna, berisi tentang perjalanan jiwa manusia yang penuh kepedihan dalam perjalanan dari dunia ke alam gaib. Tokoh utamanya adalah Virgilius (sastrawan dari zaman Romawi Kuno) yang ketika mati harus melewati tiga fase; inferno (neraka), purgatoria (pembersih jiwa), dan paradiso (surga).



Tokoh lain di bidang sastra adalah Geovanni Boccacio. Boccacio, dalam salah satu karyanya yang berjudul Decameron, bertolak dari sisa-sisa pandangan Abad Pertengahan mengenai kematian. Abad Pertengahan mengajarkan bahwa kematian merupakan transisi dari kehidupan dunia menuju kehidupan yang lebih abadi, karenanya terdapat semacam pemujaan terhadap kematian. Akan tetapi, dalam Decameron, Boccacio berusaha menolak anggapan tersebut. Baginya, kematian hanyalah jurang yang terisolir, dan ia lebih memilih untuk mengalihkan fokus perhatiannya pada penghargaan atas kehidupan dan alam dunia. Ia menjadi lawan dari kematian, dan lebih menyuguhkan burung-burung, bukit-bukit hijau, dan ladang jagung yang seperti laut. Singkatnya, keindahan alam dunia yang dapat diamati.

Hal tersebut senada dengan sebuah ungkapan yang kembali bergema di era Renaisans setelah sebelumnya diungkapkan oleh pujangga Kekaisaran Romawi, Horatius, yaitu carpe diem (petiklah hari). Ungkapan ini setara dengan size the day, yang bermakna bahwa manusia seharusnya memaksimalkan apa yang ada hari ini. Ungkapan tersebut juga mewakili semangat humanisme yang berkembang selama masa Renaisans, yaitu semangat akan kehidupan manusia, dan bukannya kematian manusia.

Sementara itu, di bidang politik terdapat Machiavelli. Ia dapat digolongkan sebagai salah satu tokoh politik Renaisans yang menggaungkan pemisahan sistem kepercayaan dari politik (sekularisasi). Ia juga menyiratkan bahwa bentuk pemerintahan yang baik adalah Republik. Menurutnya, penguasa haruslah lebih memikirkan bagaimana caranya menciptakan stabilitas politik yang nyata ketimbang tenggelam dalam ajaran-ajaran moral pada masa itu. Karenanya, ajaran Machiavelli ini sering juga diidentikkan dengan “menghalalkan segala cara untuk menciptakan kepentingan politik”. Akan tetapi, terlepas dari kontroversi ini, pemikirannya di bidang politik dapat dikatakan lebih maju daripada politik Abad Pertengahan.

Tak dapat dilupakan juga di bidang ilmu alam, Copernicus. Ia memiliki peran di bidang sains alam, terutama melalui statementnya yang bertolak belakang dengan ajaran sistem kepercayaan yang berlaku pada masa itu. Copernicus mengungkapkan bahwa bumi tempat manusia hidup bukanlah pusat dari semesta, di mana benda-benda langit mengelilinginya (geosentris) melainkan bumi sendiri mengelilingi matahari (heliosentris). Hal ini lantas menjadi titik awal bagi berkembangnya metode ilmiah.

Semua itu telah menunjukkan bagaimana semangat zaman yang melingkupi era Renaisans. Di hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat, era Renaisans membawa semangat baru berupa humanisme dan naturalisme. Sehingga demikianlah dapat dipahami pula, seni pada era Renaisans mulai berbicara tentang realitas dunia itu sendiri. Michael Hauskeller (2008), dalam bukunya Seni—Apa Itu? Posisi Estetika dari Platon sampai Danto, mengungkapkan bahwa sebuah lukisan di era Renaisans bermaksud untuk menggambarkan realitas sebagaimana yang ditangkap oleh mata.

Lebih lanjut ia menambahkan, realitas yang ditangkap oleh mata itu bukan sekadar penampakan yang sekenanya saja, melainkan penampakan yang mesti diamati dengan cermat. Dari pengamatan yang cermat inilah kemudian, seorang seniman dapat mengungkap hukum-hukum yang bekerja secara harmonis pada tiap penampakan yang diamati seniman. Leonardo da Vinci kerap menekankan hal yang sama, bahwa guru utama kesenian tidak lain ialah pengalaman. Sebab, melalui pengalaman, seorang seniman akan belajar untuk mengerti hukum-hukum yang mendasari suatu penampakan.



Apa yang dimaksud hukum-hukum suatu penampakan tidak lain ialah keselarasan proporsi suatu objek yang diamati. Untuk menggambarkan tubuh manusia misalnya, maka dibutuhkan pengetahuan mengenai anatomi tubuh manusia. Demikianlah dapat dipahami mengapa Vitruve Luc Viatour karya Leonardo da Vinci menjadi ikon bagi seni era Renaisans.

Melihat bagaimana penampilan karya-karya era Renaisans, dengan segera akan didapati bahwa karya-karya tersebut nampak lebih natural dibandingkan karya-karya Abad Pertengahan. Pada lukisan, misalnya, akan ditampilkan sebuah gambar—umumnya—manusia lengkap dengan dunia tempat mereka tinggal dan atau aktivitasnya sehari-hari, seperti bercengkrama dengan sesamanya, menempati lanskap alam dunia, memiliki detail-detail mengenai ekspresi, postur tubuh, pencahayaan, posisi bayangan-bayangannya, bahkan hingga arah dan kuat kibaran pakaian atau rambut yang terkena angin.

Semua itu menunjukkan bahwa seni era Renaisans dilandasi oleh semangat naturalisme, sebuah upaya untuk memahami alam dunia beserta hukum-hukum yang bekerja padanya. Kendati demikian, seniman-seniman era Renaisans bukan berarti hanya meniru alam saja, mereka lebih menekankan pada pengetahuan mengenai hukum-hukum yang melatarbelakangi suatu penampakan atau fenomena. Pengetahuan mengenai hukum-hukum alam itulah yang kemudian akan diterapkan oleh seniman dalam karyanya, meski dalam pembuatan karya tersebut, penampakan atau fenomena tidak diamati secara langsung atau secara empiris oleh seniman.

Sementara di bidang kesustraan, semangat naturalisme dan humanisme dapat ditemukan dalam beberapa karya sastra era Renaisans. Karya-karya sastra di era ini lebih banyak membicarakan tentang manusia beserta kehidupannya, dan tak ketinggalan juga semangat pemberontakannya terhadap dogma-dogma sistem kepercayaan yang berlaku sejak Abad Pertengahan. Di bidang drama, pertunjukan-pertunjukan yang digelar sering mengetengahkan konflik-konflik tragis. Akan tetapi, solusi dari konflik-konflik tragis tersebut bukanlah sekadar doa-doa, melainkan kemampuan manusia berdasarkan kecerdasannya sendiri untuk memperbaiki keadaan.

Demikianlah secara keseluruhan, era Renaisans akhirnya sering dirangkum dalam nilai-nilai humanisme dan naturalisme. Humanisme muncul sebagai lawan dari kultus religius dari kalangan teokrasi, dan sebagai gantinya adalah penghargaan untuk semua kalangan manusia. Naturalisme muncul sebagai lawan dari dogma-dogma sistem kepercayaan, dan sebagai gantinya adalah metode yang lebih ilmiah dalam mengungkap kebenaran dunia. []





Referensi:

Hauskeller, Michael. 2015. Seni—Apa Itu? Posisi Estetika dari Platon sampai Danto. Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius.

Muhammad, Goenawan. 2020. “Decameron”, https://kolom.tempo.co/amp/1351308/decameron, diakses pada 26 November 2021.

Prabowo, Gama. 2020. “Zaman Renaissance di Eropa: Perkembangan dan Tokohnya”, https://www.kompas.com/skola/read/2020/11/12/132129369/zaman-renaissance-di-eropa-perkembangan-dan-tokohnya, diakses pada 26 November 2021.

Sudrajat, Ajat. Peradaban Renaisans di Italia. Yogyakarta: Modul Prodi Ilmu Sejarah FISE UNY.




Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds