LOADING

Type to search

Asal-usul Istilah Avant Garde [Jilid I] dan Eksistensi Seniman Salon

Oleh Shiny.ane el’poesya*

Bagi mereka yang benar-benar bergumul di dunia seni, tentu tak asing lagi dengan istilah Avant Garde. Istilah yang menandai sebuah kepeloporan (baca: ngotot) akan adanya penyegaran bentuk atau metode dalam berkesenian yang pada akhirnya begitu semarak dan mulai mendunia di paruh awal abad-20; abad modern bagi seni. Akan tetapi, tak semua orang tahu dari mana asalnya istilah ini. Para pelaku seni masih banyak yang menyangka bahwa istilah ini adalah istilah yang khas dan memang berasal-usul dari rahim kesenian. Padahal, pendapat yang demikian tidak tepat.

Bukan lahir dari rahim kesenian itu sendiri, istilah Avant Garde yang menandai adanya sejumlah usaha untuk merevolusi pandangan dalam berkesenian dari pandangan-pandangan yang dipegang oleh masyarakat seni pada umumnya, justru jauh sudah digunakan sebagai istilah di bidang Militer di Prancis, untuk menandai pasukan terdepan, yang dalam istilah Inggris diidiomkan sebagai pasukan yang maju ke depan di antara pasukan yang “in the rest” atau dalam mode istirahat (baca: diam).




Istilah Avant Garde pertama kali masuk ke dalam nomenklatur kesenian oleh Saint Simont, melalui esainya “Opinions Litteraires Philosophiques et Industrielles” yang terbit pada tahun 1825. Istilah ini masuk ke dalam seni dengan pengertian yang agak berbeda dari apa yang biasa dipahami dalam dunia militer. Jika dalam dunia militer istilah ini digunakan untuk menyebut sekelompok pasukan yang maju ke depan sebelum pasukan inti (baca: elit) masuk, justru, dalam dunia seni mereka adalah sekaligus pasukan elit tersebut. Pada tulisannya Saint Simon mengatakan:

“Kami para seniman lah yang akan melayani Anda sebagai kelompok Avant-Garde. Kekuatan seni memang cepat dan paling cepat. Kami memiliki berbagai senjata. Ketika kami ingin menyebarkan ide-ide di antara manusia, kami menuliskannya di atas marmer atau di atas kanvas, kami menuliskannya di dalam puisi dan lagu, cerita dan novel. Panggung drama tergelar di depan kita, dan di sana lah kita mengerahkan pengaruh yang menggembleng dan penuh kemenangan. Kita mengarahkan diri kita pada imajinasi manusia dan perasaan-perasaannya. Karena itu kita harus selalu megerahkan tindakan yang paling hidup dan tegas. Dan sementara hari ini peran kita tampaknya tidak ada atau setidaknya cukup sekunder, itu karena seni kehilangan apa yang penting untuk energi mereka dan kesuksesan mereka … Betapa indahnya takdir kesenian yang menjalankan kekuatan positif atas masyarakat, fungsi kepemimpinan sejati, dengan berbaris kuat di barisan terdepan dari semua kemungkinan intelektual!”

Saint Simont adalah seorang sosiolog yangmana ia juga merupakan salah satu tokoh utama gerakan sosialisme generasi awal di Prancis. Perannya dalam gerakan sosialis adalah sebagai intelektual yang menekankan pentingnya kelompok Kelas Pekerja, yang di dalamnya termasuk juga para ilmuan, pebisnis, bankir, menajer, dan tentu masyarakat pekerja umumnya dalam perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Begitu pula dalam bidang kesenian, ia berperan sebagai bagian dari kelompok seniman yang mendorong seni agar bisa melayani kemajuan sosial sebuah masyarakat.

Munculnya istilah Avan Garde dalam dunia kesenian tak bisa dilepaskan dari konteks sejarah Eropa paruh awal abad 19. Yangmana, banyak negara di Eropa saat itu sedang mengalami pergolakan; yang memuncak pada terjadinya Revolusi Prancis pada 1848. Sebuah pergolakan yang disebabkan oleh kelaparan, kemiskinan, ketimpangan sosial yang semakin meluas yang sekaligus dilengkapi dengan gaya pemerintahan yang makin membatasi ruang gerak masyarakat. Seni pada kondisi yang demikian kemudian terus didorong oleh para pelopornya sebagai bagian vital dari gerakan masyarakat yang demokratis dan egaliter; Liberte (kebebasan), Egalite (kesetaraan), dan Freternite (Persaudaraan), adalah merupakan 3 slogan revolusi Prancis yang juga didukung oleh kelompok seniman.

Gabriel Desire seorang kritikus dalam tulisannya “On the Mission of Art and The Role of Artists: Salon 1845,” mengatakan bahwa, “Kesenian, ekspresi masyarakat, memanifestasikan dirinya dalam luapan tertingginya sebagai kecenderungan sosial yang paling maju: ia adalah cikal bakal dan pengungkap. Oleh karenanya, untuk mengetahui apakah seni layak memenuhi misinya yang tepat sebagai inisiator, sebagai benar-benar Avant Garde, seseorang harus tahu ke mana arah nasib umat manusia,kemana arah kemanusiaan harus pergi.”



Sebagai sebuah gerakan yang tengah meluas, Avant Garde di masa ini diwakilkan oleh gerakan Realisme Sosialis Gustave Coubert dan rekan-rekannya–seperti Honore Daumier dan Jean Francois Millet. Gustave Coubert adalah seorang pelukis yang banyak dikatakan sebagai contoh seniman yang memiliki implikasi ganda. Yangmana, melalui karya-karyanya selain mencerminkan semangat emansipatoris di bidang sosial, ia juga sekaligus mencerminkan semangat progresif di bidang gerakan seni.

Semangat emoansipatoris dan progresif di bidang seni tersebut ditunjukkan dari sikap mereka terhadap pameran tahunan yang disponsori oleh pemerintah Prancis sejak 1648. Kira-kira mereka mengatakan, bahwa pameran tersebut, pameran yang diadakan di sebuah aula yang luas (baca: Salon, Salone, Large Hall), sudah ketinggalan zaman sebab tak lagi dapat membaca semangat zaman yang sedang mengalami perubahan; mereka buta terhadap gelombang artistik yang sedang terjadi. Hal ini konon ditandai dengan ditolaknya hampir 2/3 karya-karya yang bersemangat dalam gelombang ini ditolak oleh pameran Salon ini.

Linda Nicholin seorang sejarahwan seni mengatakan dengan begitu indah mengenai hubungan antara revolusi Prancis dan Seni sebagai berikut, “Fajar baru bagi seni didasarkan pada cita-cita progresif pemberontakan Februari. Pada saat itu, jurnal seni terpenting di Prancis, L’Artiste, dalam edisinya 12 Maret 1848, memuji ‘jenius kebebasan’ yang telah menghidupakan kembali ‘api abadi seni’ … dan minggu berikutnya, Clement de Ris, menulis di majalah yang sama… seni, seperti moral, pemikiran sosial dan politik, yangmana membuat penghalang-penghalang runtuh dan cakrawala semakin meluas.’”

Salah satu gerakan Avant-Garde yang turut lahir menyusul Realisme di masa ini, adalah gerakan Impresionis yang dipelopori oleh Claude Monet dan kawan-kawannya. Gerakan ini pula memiliki sikap yang sama dalam menentang kebekuan estetik yang masih diusung oleh Seniman Salon. []

 

 

*Penulis buku puisi Kotak Cinta (2017), Sains Puisi (2019), Bidadari Masehi (2020), Sayap Patah (2020), Bid(a)dari (2021), Anggur Kekasih: Setengah Tanka (2021), buku Proses Kreatif & 404 Eror Pikir Pemuisi Pemula (2021).



Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds