LOADING

Type to search

Oleh Shiny.ane el’poesya*

Futurisme adalah sebuah padangan kesenian yang dicetuskan oleh seorang sastrawan Itali bernama Filippo Tommaso Marinetti. Dicetuskan dalam bentuk manifesto yang dikirimkan ke surat kabar Le Figaro dan dimuat di halaman depan pada 20 Februari tahun 1909.

Futurisme lahir dalam semangat yang optimistik akan masa depan–dan tentunya modernisme dengan segala ambisi akan inovasinya. Dalam kerangka sejarah Modernisme, Futurisme boleh dikatakan telah lebih jauh melangkah dari sekadar semangat Pencerahan yang menjadi titik awal dari modernisme.

Dalam manifesto yang ditulisnya, Marinetti mengatakan bahwa, “Bangsa Italia telah memasuki babak modern laksana mobil berkecepatan tinggi.” Dan untuk konteks seni ia mengungkapkan, “… seni dapat melupakan (beban) masa lampau dan menyongsong kecepatan dan energi mekanik; keindahan baru menambah semaraknya dunia.”



Mobil, pesawat terbang, sinyal radio, telegraf, gramofon, jalan-jalan yang diterangi oleh lampu-lampu listrik, zaman yang semakin menyusut dan makin identik dengan gerak dan kecepatan oleh sebab segala teknologi itu, adalah tanda material dari semangat zaman yang didukung oleh Marinetti yang dianggapnya sebagai representasi dari kekinian yang akan terus progress ke masa depan.

Kehebatan mesin, perkembangan industri yang kesemuanya secara umum bisa kita tangkap dari optimisme atas capaian manusia terhadap sains dan teknologi serta masa depan yang diabaikan oleh para seniman klasik sebelumnya diimani oleh Marinetti. Marinetti bahkan mengungkapkan pernyataan yang cukup kontroversial terkait itu, “… menyerang masa lalu dan menjunjung tinggi kehidupan masa kini yang telah diubah secara nyata oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern.”

Lebih jauh. Dari apa yang ditulis dalam Manifestonya, Marinetti juga mengusung sikap kepeloporan dalam menghadapi hidup. Sebuah sikap yang datang dari pengaruh Nietzsche akan Sang Ubermensch, manusia super, manusia unggul, yang selain memiliki sikap menerima kenyataan hidup sebagai sebuah perayaan (Amor Fati) juga memiliki kehendak untuk berkuasa (will to power) setidaknya atas hidupnya sendiri.

Dalam menifestonya, Marinetti begitu menekankan bahwa menjalani hidup berarti sedang menari dalam hidup sebagaimana Nietzsche. Sikap yang demikian yang kemudian muncul sebagai ciri khas dari gerakan seni awal abad 20; sikap AvantGarde (garda depan) dalam mengolah hidup yang penuh gairah estetik; dalam Nietzsche, hidup yang realistik yang senantiasa ekstasis dan penuh keindahan.



Sikap AvantGarde yang demikian (penggabungan antara kegandrungan pada sains serta teknologi modern dan gairah pembaharuan dalam berkesenian) menjadi begitu jelas lewat Futurisme, yang pada masa sebelumnya, sikap AvantGarde dalam seni masih diidentikkan dengan gerakan (sosial-politik) Realisme; Futurisme Itali berideologi Fasis.

Futurisme pertama kali lahir sebagai sebuah gerakan sastra. Pada tahun yang sama ketika Marinetti mengeluarkan Manifestonya, ia menerbitkan sebuah novel yang berjudul “Mafarka Le Futuriste (Mafarka Sang Futurist).” Sebuah novel yang di dalamnya menggambarkan jenis manusia penuh gairah namun begitu membenci wanita, fascis, bahkan mengamini kebrutalan. Novel ini menawarkan fantasi Marinetti tentang manusia-mesin. Sejumlah orang mungkin akan mengatakan bahwa novel ini adalah novel yang buruk dan “rusak” jika ia membawa moral dan kefanatikan ketika membacanya.

Gagasan Futurisme ini kemudian menyebar ke berbagai bidang seni lainnya: lukis, patung, disain, arsitektur, drama, fotografi, film, busana dan seterusnya. Dari Futurisme inilah pula kemudian muncul sejumlah gerakan kesenian lain (baca: dengan manifestasi ideo-politis lain) yang di antaranya Dadaisme, De Stijl hingga Surealisme. []

 

 

*Penulis buku puisi Kotak Cinta (2017), Sains Puisi (2019), Bidadari Masehi (2020), Sayap Patah (2020), Bid(a)dari (2021), Anggur Kekasih: Setengah Tanka (2021), buku Proses Kreatif & 404 Eror Pikir Pemuisi Pemula (2021).



Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds