LOADING

Type to search

Representasi Islam Cirebon dalam Kumpulan Cerpen Ijazah Pelet karya Ubay Baequni

Oleh Shiny.ane el’poesya

Cirebon adalah Kota Wali. Begitu julukan yang hingga saat ini masih kita dengar dan patut terus untuk kita banggakan–khususnya sebagai warga asli Cirebon, sebagaimana misalnya orang-orang Tasik membanggakan kotanya yang dijuluki dengan sebutan Kota Santri. Banyak alasan mengapa Cirebon dijuluki demikian. Satu alasan paling dasar dan utama adalah tentu sebab Kota Cirebon sejak pertama dibentuk dan dikembangkan sebagai kota yang mandiri dari kebudayaan tradisionalnya, tidak lain di bawah binaan dan sentuhan tangan seorang Wali, yaitu, Syeikh Nurdjati, Pangeran Cakrabuana dan kemudian oleh Sunan Gunung Djati yang menandai masa keemasannya. Namun, seiring arus perkembangan zaman, jika kita berkeliling di pusat-pusat keramaian Kota Cirebon, terasa seperti ada pemudaran identitas kehidupan, khususnya di kalangan generasi muda yang belakangan seakan lebih mengenal, memahami, hingga menghayati tagline Cirebon sebagai Kota Udang, Kota Usaha dan Dagang. Mereka lebih akrab dengan tempat nongkrong, jajan, belanja, bicara bisnis, hingga project-project politik basah sebagaimana generasi di atasnya, ketimbang sebagai generasi yang hidup dinafasi dengan mentalitas keberagamaan. Kota Cirebon, tak seperti Kota Madani yang benar-benar dinafasi oleh spirit kewalian.

Kenyataan demikian–anggaplah setidaknya itu yang dijumpai penulis–bisa jadi hanyalah sebuah sampel kecil saja yang keliru dari sebuah gambaran besar yang sesungguhnya terpecah-pecah dan perlu penelitian lebih serius atasnya. Mungkin pembaca juga bisa membantah dengan mudah semisal dengan mengatakan, ini loh pesantren-pesantren di Cirebon terus bertambah, ini loh gelaran pengajian-pengajian di Cirebon semakin semarak, ini loh majelis-majelis keagamaan terus berkembang jaringannya, ini loh, itu loh, hingga misal bisa diungkapkan bahwa di Cirebon, keberadaan Partai Islam adalah salah satu partai terkuat dan pemenang di hampir setiap adanya pemilu, dan seterusnya dan seterusnya. Begitu pula kerika membaca lembar ke lembar kumpulan cerpen Ijazah Pelet (Aksara Satu, 2021) karya Ubay Baequni–yang berdasar pada penggalian berbagai peristiwa nyata, menurut penulis, bisa menjadi sebuah sarana pembuktian bahwa masyarakat Cirebon ternyata memang masih begitu kental mentalitas keberagamaannya. Sebagai contoh, dalam cerpen Gagal Ledak dan Wasiat Terakhir Dulmatin yang merupakan dua buah cerpen dengan subjek penutur pelaku Bom di Cirebon (baca: teroris),  kita justru bisa melihat betapa Cirebon masih begitu kental mentalitas keberagamaannya, meskipun, di sana dicitrakan sebagai keberagamaan yang sesat oleh si penutur.

Cerpen Gagal Ledak berkisah tentang dua orang yang bertugas untuk melakukan tindakan pengeboman di Cirebon. Tentu, ada nama-nama yang juga terlibat namun tak turun langsung di lapangan; hanya berperan dalam penyusunan rencana peledakan. Dalam perbincangan yang dilakukan oleh mereka, Cirebon digambarkan sebagai Kota yang berpenduduk Islami namun masih banyak melakukan berbagai tahayul, ritual bida’h dan khurafat, sehingga dianggap layak untuk dijadikan sasaran, dengan dengan titik Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Ketika dua pelaku sampai di lokasi peletakan bom, Masjid Agung Sang Cipta Rasa digambarkan cukup ramai pengunjung tengah melakukan ibadah.  Ketika salah seorang pelaku persis meletakkan peledak yang disimpannya di dalam ransel, bahkan digambarkan orang-orang di sekitarnya nampak tak memperhatikan, sebab tengah tenggelam dengan ibadahnya masing-masing. Ini tentu satu suasana khas yang terpotret dengan manis betapa masyarakat Cirebon memang begitu serius dalam beragama–islam.  Bahkan, menariknya, sebab suasana yang begitu khusuk tersebut, rencana peledakan bom pun jadi batal.

Dalam cerpen Ijazah Pelet dan Bola Mata Gagak, kita seakan menemukan satu pembenaran dari adanya bentuk representasi Islam yang penuh tahayul, ritual bida’h dan khurafat tersebut. Namun, sekali lagi, bukan di situ poinnya. Terlebih, Ubay Baequni nampak berhasil melatakkan yang demikian itu berada dalam arus konteks keberagamaan yang tak sesat. Meminjam nomenklatur Gertz, keislaman pada dua cerpen tersebut terepresentasikan dalam bentuknya yang agak Abangan (baca: sinkretik). Islam diamalkan oleh tokoh-tokoh utamanya bukan sebagai identitas keberagamaan yang simbolik, namun sebagai sebuah kekuatan spiritual yang mampu mendatangkan aura-aura kegaiban. Dalam Ijazah Pelet, Fahrul berhasil membuat seorang perempuan menjadi pacarnya dengan mengamalkan bacaan-bacaan ayat Quran tertentu dan puasa beberapa hari. Dalam Bola Mata Gagak tokoh utama yang anonim coba membaca surat Jin, berbagai macam ayat Quran, hingga melakukan ritual khusus di tengah malam untuk dapat melihat makhluk gaib. Dalam cerpen Yang Hilang, Ubay Baequni bahkan mengisahkan seorang yang memiliki kelebihan bisa mengubah benda-benda yang dipegangnya–seperti ranting pohon–kemudian dibacakan bacaan tertentu menjadi emas. Tokoh ini ditemui di setengah bagian kedua cerita tengah berada bersama para peziarah di makam Sunan Gunung Djati.

Berbeda dari cerpen-cerpen yang sudah disebutkan, pada cerpen Lima Hari Bersama Kiai, Idola, Sawah Kiai Sayuti, Wiridan Untuk Liem Ong, Islam Cirebon direpresentasikan sebagai agama yang amat solutif. Melalui sosok Kiai Daud yang punya kebiasaan berjalan di pagi hari selepas subuh sambil membagikan uang jajan kepada anak-anak di kampung, Islam Cirebon tergambarkan bisa menjadi solusi spiritual penuh kasih hingga membuat seseorang menjadi muallaf dalam lima hari pertemuan santai. Melalui sosok Kiai Amrillah yang memiliki kepandaian dalam seni berkhutbah hingga kemampuan mengubah sandal bakiak menjadi speaker yang suaranya bisa menggema di langit-langit malam, Islam Cirebon tergambarkan bisa menjadi solusi hiburan yang menakjubkan hingga membuat ratusan warga Bantaru dan kepala desanya yang dikenal membenci pengajian dan menggemari tontonan dangdut menjadi gemar mendengarkan sebuah khutbah secara mendadak. Melalui sosok Kiai Sayuti yang merupakan sosok petani yang cerdas (memiliki pengetahuan di atas rata-rata masyarakatnya), Islam Cirebon tergambarkan sebagai agama yang ilmiah dan berhasil membuat masyarakatnya menemukan solusi dari masalah pertanian yang menimpa. Kemudian melalui sosok Kang Ayip Muh yang kharismatik dan jadi sumber orang-orang mengadukan keluhan hidup, seorang pengusaha non-muslim yang tengah mengalami kebangkrutan usaha berhasil menyelesaikan persoalan ekonominya sehingga sukses kembali dalam bisnis. Tentu, kisah-kisah yang demikian sangatlah penuh hikmah untuk kita sebagai pembaca.

Yang juga cukup dominan dalam kumpulan cerpen Ijazah Pelet adalah representasi Islam Cirebon yang diwakilkan oleh sejumlah kisah santri, yang mungkin bisa membuat pembaca sama terpingkalnya sepertimana ketika saya membaca cerpen Jambu Air yang mengisahkan tiga orang santri “badung” yang kikuk ketika terjebak dalam sebuah masalah, atau bahkan terharu dan tergetar ketika membaca kisah Imron seorang santri yatim piatu. Cerpen-cerpen yang berlatar kehidupan pesantren ini tentu sangat mewakili sisi lain dari Islam Cirebon yang tak bisa dilewatkan. Terlebih, ketika kita membacanya dalam format cerita yang terasa setengah mendongeng juga serta penyusunan plot yang dinamis juga mengejutkan. Apakah pembaca tak merasa rugi melewatkan buku kumpulan cerpen Ijazah Pelet ini? []

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *