LOADING

Type to search

Cerpen Pertamaku – Bangkit I.D.

Cerpen Pertamaku

Aku telah menggorok lehernya dengan satu tangan, selebihnya biarlah Tuhan yang mengatur semuanya, dan aku mencuci tangan, dan membaca buku, dan minum obat pemberian Ibu Resita, dan bermain catur, dan aku telah menemukan beberapa trik dalam pembukaan Ruy Lopez, dan sedikit dalam pembukaan Gambit Menteri, dan sepanjang hidup yang kujalani hanyalah tentang hal-hal sederhana seperti ini, meski ada juga beberapa perubahan, seperti cerita kali ini tentang aku dan Meti, tetangga sebelah rumahku di mana aku telah lama memerhatikan rutinitas Meti si kerangka hidup itu, ia begitu kurus oleh pola makan yang hanya sekali sehari, dan makanan yang ia peroleh hanyalah pemberian Masjid dekat rumahku, dan apabila Meti menghadiri sembahyang tengah hari, ia akan mendapat nasi kotak, dan memakannya dengan segera, dan kembali lagi tengah hari berikutnya, dan kembali lagi tengah hari berikutnya, dan kembali lagi tengah hari berikutnya, dan kembali lagi tengah hari berikutnya, dan kembali lagi tengah hari berikutnya, dan aku tahu sampai kapan itu akan berakhir dan, tapi, biarlah Tuhan yang mengatur semuanya, dan aku menyirami tanaman ketika Meti lewat depan rumahku, dan kemudian aku memotong kuku, dan memotret kucing kesayanganku, kucing alien, pikirku, sebab bulunya tak ada karena aku telah mencukur habis semuanya, dan ia pernah memberiku beberapa cakar dan gigitan, dan saat itu aku memeluknya sangat erat, hanya meniru adegan aneh dalam film, seorang lelaki mendekap seorang perempuan dengan erat setelah pergulatan sengit di atas kasur, tapi kucingku laki-laki seperti aku, dan ia tak lagi bergerak, dan aku memasukannya ke dalam kulkas, dan selebihnya biarlah Tuhan yang mengatur semuanya, dan Meti akan lewat saat aku menyiram tanaman, dan aku memotret kucingku, tampak begitu tenang di dalam es yang membungkus tubuh telanjangnya, pose yang puitik, begitulah aku menilainya setelah Ibu Resita menanyakan arti dari foto kucingku, dan betapa aku telah menjadi orang baik yang diliputi keindahan, persis kata Ibu Resita, dan ia selalu mengatakan itu sembari menuliskan resep untukku, dan seperti biasa aku meyakini bahwa ia telah bersungguh-sungguh mengatakannya, dan aku kembali menjalani hidupku yang sederhana, dan membaca buku, dan minum obat pemberian Ibu Resita, dan bermain catur, dan aku telah menemukan beberapa trik dalam pembukaan Reti, dan sedikit dalam pembukaan Four Night Game, dan menyirami tanaman ketika Meti lewat depan rumahku, dan kemudian memotret kucing kesayanganku, dan menemui Ibu Resita, semakin hari ia nampak semakin pucat, dan ia menulis resep sembari mengatakan bahwa aku semakin menjadi orang baik yang dikelilingi keindahan, dan aku memercayainya, dan kemudian aku kembali ke rumah, dan membaca buku dengan tenang, dan bermain catur, dan menemukan trik dalam Italian Game, dan menunggu Meti lewat depan rumah, dan aku merasa ada yang terlewat dari rutinitas hidupku tapi aku tak tahu apa, dan aku melihat Meti lewat, dan aku memukulnya dengan tongkat baseball dari belakang, dan menyeret si kerangka itu ke dalam rumah setelah jatuh pingsan, dan aku mengambil pisau lalu segera menggorok lehernya dengan satu tangan, dan aku memotret seluruh tubuhnya yang tergeletak, pose yang puitik, dan selebihnya biarlah Tuhan yang mengatur semuanya, dan aku mencuci tangan, dan membaca buku, dan bermain catur, dan menyiram tanaman, dan Meti tak lagi lewat ketika aku menyiram tanaman, dan aku telah menuliskan bahwa aku tahu kapan akhir bagi rutinitas Meti, dan demikianlah perubahan sungguh terjadi seperti sering diberitakan dalam televisi, dan cerita orang-orang tentang robot dan sebuah dunia digital, dan aku memotret kucing kesayanganku, dan menemui Ibu Resita, dan untuk pertama kalinya ia menanyakan keadaanku setelah melihat foto Meti, dan aku menjawab bahwa aku baik-baik saja dan diliputi keindahan, dan aku juga memberitahunya bahwa yang ada di foto itu bukan Meti, aku telah mengganti namanya menjadi Mati, penemuan yang puitik, dan kemudian seperti dalam dongeng tak masuk akal, beberapa polisi tiba-tiba datang mencengkeram tanganku,dan aku diajak naik mobil, dan sebuah perjalanan yang aneh, dari jendela mobil aku melihat tak ada manusia di jalanan, dan aku dibawa ke sebuah ruang kaca, dan tanganku diikat di belakang kursi, dan kakiku disatukan dengan kaki kursi menggunakan tali rafia berwarna hijau, dan ikatannya cukup kuat, dan mereka menanyaiku tentang bagaimana aku membunuh Meti, dan aku sedang tak ingin mengatakan apa-apa, terlebih karena polisi itu nampak seperti psikopat, wajahnya tanpa ekspresi sama sekali, dan aku teringat pada buku yang aku baca, seharusnya aku membacanya saat ini, dan lalu tanamanku, seharusnya aku menyiraminya saat ini, dan lalu caturku, seharusnya aku melangkahkan kuda putih ke petak F3 saat ini, namun perubahan sungguh telah terjadi, dan kemudian Ibu Resita berjalan ke arahku dan memintaku menulis sebuah cerpen, dan aku tak terkejut sama sekali kalau ia ternyata ikut denganku, dan untuk kedua kalinya, ia mengatakan sesuatu yang berbeda dari biasanya, dan aku yakin dengan perkataannya bahwa aku adalah seorang penulis cerpen yang diliputi keindahan, dan aku diberi sebuah buku dan sebuah pensil dan sebuah penghapus, dan ikatan di tanganku dilepas dan, tapi kakiku tidak, dan aku tak tahu apa yang harus aku tulis, dan Ibu Resita mengatakan bahwa ceritaku bersama Meti akan menjadi cerita yang baik dan, tak ketinggalan, diliputi keindahan, dan aku memercayainya, dan aku mulai menulis sebuah kalimat, dan kalimat itu ada di awal cerpenku ini, dan aku terus menulis dan membiarkan Tuhan mengatur semuanya, …

November 2021

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *