LOADING

Type to search

Festival Puisi Jelek: Mendorong Progresivitas, Menimbang Perkembangan Puisi di Era Digital

Oleh Bangkit I.D

Festival Puisi Jelek: Mendorong Progresivitas, Menimbang Perkembangan Puisi di Era DigitalPada 17 Mei 2021, Afrizal Malna dan Syska La Veggie meluncurkan sebuah pegaleran bertajuk Festival Puisi Jelek (FPJ). Pagelaran tersebut diselenggarakan secara digital melalui akun Instagram Artdown Forum (@artdown_forum) dan masih terus berlangsung hingga waktu yang tidak ditentukan. Ketika tulisan ini dibuat, 5 zine berisi puisi-puisi terpilih FPJ telah diterbitkan (unduh: https://linktr.ee/artdown_forum).

Dalam sebuah acara yang ditayangkan melalui kanal Youtube Lampung Kultur (lihat: https://youtu.be/3tX4Q7A4wCk), Afrizal menuturkan beberapa hal yang melatarbelakangi diselenggarakannya FPJ. Dari penuturannya, sedikitnya dapat dirangkum beberapa hal, yakni (1) FPJ sebagai sarana untuk mewadahi generasi muda dalam berkesenian, (2) FPJ sebagai sarana untuk mencairkan persepsi kaku atas keindahan yang terlanjur membekukan kreatifitas, (3) FPJ sebagai sarana untuk mendorong pemahaman publik seni mengenai puisi agar dapat melampaui bahasa teks dan, (4) FPJ sebagai sarana untuk memetakan diri dan lingkungan seniman di era digital.

Keempat hal tersebut kemudian tercermin pada puisi-puisi yang ditampilkan FPJ, baik pada kelima zine maupun pada akun Instagram Artdown Forum sendiri. Seluruhnya merupakan puisi visual hasil dari rekayasa digital, meliputi desain gambar-gambar dan video-video pendek. Selain itu, puisi-puisi visual yang ditampilkan juga bernuansa generasi muda, terlihat dari penggunaan istilah-istilah yang identik dengan kalangan muda seperti bang jago, mager, gabut, bucin dan seterusnya. Sesuai dengan nama tajuk yang diangkat, puisi-puisi yang ditampilkan juga mengusung tema ‘jelek’, dan beberapa di antaranya juga menyinggung tentang sastra Indonesia.

Mengenai tema ‘jelek’ sendiri, Afrizal dalam kanal Youtube yang sama terlihat hendak mencairkan pemahaman publik seni mengenai apa yang dianggap (telah baku dan beku) sebagai ‘indah’, mengajak publik seni untuk melepaskan diri dari dikotomi antara yang indah dan yang jelek. Ia bahkan memberikan kasus konkret dirinya terlibat dalam sebuah penjurian karya seni, di mana pemenangan atas sebuah karya selalu berangkat dari pemaknaan mengenai kategori-kategori estetika mapan yang terlanjur dibaku-bekukan.

Sayangnya, di situ Afrizal masih belum menjelaskan secara lebih mendalam mengenai perubahan persepsi tentang keindahan (estetika) seiring berjalannya zaman. Ia justru berhenti sebagai sisi lain dari koin yang sama, sebagai ‘lawan dari’ estetika yang mapan. Padahal, telah banyak literatur yang membicarakan mengenai perubahan-perubahan di dunia kesenian. Kesemua literatur tersebut tentunya bisa digunakan sebagai pijakan yang kokoh untuk membangun ekosistem baru bagi dunia kesenian di Indonesia, sebagaimana yang dicita-citakan oleh Afrizal sendiri.
Lebih disayangkan lagi, Afrizal dalam akun Instagram pribadinya (@malna.a), dan dalam pengantar pada zine yang diterbitkan, mengungkapkan bahwa FPJ hanyalah arena bermain. Hal ini tentunya akan dapat memberikan kesan pada publik seni bahwa apa yang dilakukan FPJ hanyalah sekadar bermain-main ketimbang upaya untuk membangun ekosistem kesenian yang baru.

Tanpa adanya penjelasan yang terperinci, sulit atau bahkan mustahil dapat menciptakan ekosistem kesenian yang baru. Sebab, publik tidak akan memiliki landasan yang jelas mengenai apa, mengapa, dan bagaimana ekosistem baru tersebut muncul. Alih-alih memberikan penjelasan yang matang, Afrizal justru nampak ingin menihilkan seluruh pengetahuan mengenai seni dan puisi, dengan harapan, tanpa adanya pengetahuan sama sekali, maka akan dimungkinkan muncul pembaruan-pembaruan di bidang seni.

Karya seni bagaimanapun merupakan produk pengetahuan manusia. Ia muncul justru karena manusia telah memiliki pengetahuan-pengetahuan tertentu yang berkaitan dengan proses penciptaan karya seni (teknik). Apa yang menjadi masalah di sini sesungguhnya adalah persoalan macetnya pergerakan pengetahuan seni di banyak kalangan seniman di Indonesia. Kebanyakan dari mereka seakan mager untuk mengupgrade pengetahuannya berkaitan dengan seni, pun demikian juga mager untuk melihat perubahan lingkungan yang melingkupinya.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, FPJ tetap layak untuk diapreasi sebagai pelopor yang berpotensi menimbulkan rasa heran di kalangan publik. Melihat puisi-puisi yang terkumpul dalam FPJ, tentunya akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan bagi publik seni di Indonesia, khususnya mengenai apa itu puisi. Terutama karena perbedaan yang kontras antara puisi-puisi dalam FPJ dan puisi-puisi konvesional pada umumnya.

Meski begitu, pertanyaan mengenai apa itu puisi tetap penting untuk dijawab secara ilmiah, dan bukannya menghindari pertanyaan tersebut. Mengingat bahwa definisi puisi hari ini masih terus diajarkan melalui lembaga-lembaga pendidikan resmi, dan masih terus direproduksi oleh otoritas-otoritas, tokoh-tokoh maupun kelompok-kelompok yang bergerak di bidang puisi, meski definisi tersebut sudah tidak cocok untuk dapat mendefinisikan puisi di tengah perkembangan puisi yang terus mengemuka akhir-akhir ini.

Apabila merujuk pada teks-teks klasik Yunani Kuno, di mana istilah puisi memiliki asal-usulnya di sana, maka akan didapati istilah poiesis, dengan pengertian sebagai aktivitas membuat (to make), dengan tujuan akhirnya adalah produksi. Pengertian asali ini, jelas telah jauh berbeda dengan pengertian puisi hari ini, yang dimaknai sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Puisi dalam pengertian asalnya sama sekali tidak menerangkan mengenai bentuk-bentuk, apakah menggunakan bahasa kata-kata, apakah terikat oleh irama, matra, rima, penyusunan larik dan bait, apakah menggunakan perangkat digital, apakah sekumpulan gerak tubuh, dan seterusnya. Pada intinya, segala aktivitas membuat, penerapan teknik-teknik dalam membuat sesuatu, dapat disebut puisi.

Demikian halnya dalam menyebut karya-karya yang terkumpul dalam FPJ sebagai puisi, pijakannya adalah definisi puisi sebagai aktivitas membuat. Dalam karya-karya yang ditampilkan FPJ, kita dapat mengamati bagaimana puisi-puisi itu dibuat menggunakan keterampilan atau teknik-teknik desain pada perangkat digital. Akan tetapi, tentu saja tidak lantas meninggalkan teknik-teknik lainnya yang tidak berkaitan secara langsung dengan praktek rekayasa digital, misalnya teknik semiotika atau ilmu tentang tanda-tanda, metafora, dan sebagainya tetap perlu digunakan untuk menambah nilai estetika pada puisi digital yang tengah dibuat.

Untuk dapat memajukan perkembangan puisi di era digital, sudah selayaknya pengetahuan-pengetahuan terbaru diserap oleh para seniman/pemuisi. Inilah yang masih nihil selama ini. Kebanyakan lingkaran-lingkaran pegiat puisi, justru masih disibukkan dengan persoalan teknik dasar menulis puisi yang meliputi pengaturan-pengaturan rima, metrum, baris, bait dan seterusnya. Memang betul bahwa hal-hal dasar itu tetap perlu dipelajari. Tetapi persoalannya adalah, kapan waktunya mempelajari hal baru, sementara realitas terus bergerak?

Sejenak saja menengok lingkungan sekitar, seharusnya mudah untuk menyadari bahwa lingkungan dan pengalaman dalam berkesian telah mengalami perubahan. Ini bukan hanya mengenai keberadaan teknologi terbaru—untuk saat ini perangkat-perangkat digital—melainkan juga pengaruh dari perkembangan teknologi tersebut terhadap kehidupan manusia, termasuk di bidang seni.

Sebagian besar waktu yang digunakan manusia pada era sekarang selalu berkaitan dengan aktivitas menggunakan media digital, entah dalam waktu luang, dalam belajar, ataupun dalam bekerja. Hal senada juga tentunya dialami oleh seniman/pemuisi, mereka juga mulai beralih menggunakan media digital untuk berkarya.

Sayangnya, peralihan tersebut masih belum memanfaatkan sepenuhnya potensi-potensi yang disediakan oleh media digital, mereka hanya sekadar berpindah media saja, bahkan tidak sedikit pula yang justru menolak berkenalan/beradaptasi dengan lingkungan baru ini, meskipun dirinya telah ikut terjun di dunia digital. Alhasil, seperti yang dapat disaksikan saat ini, puisi masih berkutat pada konvensi-konvensi lama. Ia belum melebur, belum menjadi kualitas baru di lingkungan hidup yang baru.

Sewajarnya, apabila melihat proses-proses peleburan puisi di dalam lingkungannya yang baru ini (era digital), maka puisi akan lebih banyak melibatkan elemen-elemen audio-visual. Hal ini didukung dari tersedianya perangkat digital yang memberikan akses bagi seniman/pemuisi untuk mewujudkan puisinya dalam bentuk tersebut. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan pula bahwa bentuk ini akan berkembang seturut ditemukannya teknologi-teknologi yang lebih maju. Sebab, kembali lagi pada makna asali puisi, sejatinya ia adalah kerja yang aktif, tidak terikat oleh bentuk apapun.

November 2021

Tags:
Previous Article
Next Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *