LOADING

Type to search

Mencatat Pola Tuang (I): Dari Persinggungan, Penelusuran Istilah, ke Pengertian Asli

Dalam peta perpuisian Indonesia era internet, munculnya sejumlah puisi dengan pola-pola tuang tertentu adalah sebuah fragmen tersendiri yang tak bisa dilewatkan begitu saja perbincangannya. Dan menurut penulis, setidaknya ada empat sebab mengapa saat ini penulis perlu mencatatnya. Pertama, sebab belum ada yang membincang dan mencatatnya secara lebih menyeluruh sebagaimana terjadi pada fragmen perpuisian Indonesia era internet lainnya–yang lebih dominan–seperti dilakukan oleh Cunong dalam “Puisi Digital: Kajian Reproduksi Antologi Puisi Digital Cyberpuitika-2002),” atau lebih ke belakang sebagaimana terekam dalam buku “Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk (2004).” Sehingga, sampai saat ini pengetahuan akan puisi dengan pola-pola tuang tertentu ini masih sangat terbatas peninjauannya dan tak tuntas segala penilaiannya.

Kedua, munculnya sejumlah puisi dengan pola tuang tertentu–yang di lingkar-linkungan penyebarannya kemudian disebut dengan istilah puisi Pola Tuang saja–telah cukup memberi gairah tersendiri dalam pemeriahan tradisi perpuisian kita; muncul efek domino sejak percobaan awal hingga terbentuknya berbagai grup Facebook yang diperuntukkan untuk mewadahi aktivitasnya masing-masing. Ketiga, fenomena ini tentu mencerminkan semangat bereksperimen yang juga positif dalam puisi, meskipun dengan segala kurang-lebihnya yang bisa kita kembali tinjau secara kritis dari masing-masing konsepnya nanti. Dan keempat, karena penulis melihat baik dari sisi penggunaan istilah maupun animo atas fenomena Pola Tuang tersebut–setidaknya sejak tahun 2019–nampaknya memang benar-benar redup; sebuah babakan seperti sudah rampung dan bisa dicatat sebagai sebuah fragmen tersendiri.

 

Persinggungan

Jika tak salah ingat, awal penulis mendapati istilah Pola Tuang yaitu tahun 2014, ketika terlibat sebuah diskusi pada sebuah grup sastra FORSASINDO. Di tengah diskusi, salah seorang anggota grup didapati menyebut istilah Pola Tuang. Pada saat itu–dan masih sampai saat ini–penulis sendiri menggunakan istilah form untuk merujuk pada bentuk (wujud objektif dari) sebuah puisi, bukan Pola Tuang. Istilah yang penulis pakai dari pasangan istilah Matter and Form sebagaimana Aristoteles menggunakannya setiap membahas status keberadaan sekaligus drajat kualitas sebuah objek. Terlebih, saat itu istilah Pola Tuang digunakan oleh penyebutnya untuk merujuk satu pengertian khusus yang sempit sehingga tak mungkin penulis “adopsi”, yaitu, atas puisi yang mengikuti perhitungan jumlah suku kata, kata, dan larik saja.  Sampai pada suatu hari, penulis mendapati seorang anggota grup–dengan menggunakan istilah Pola Tuang–memberi tantangan kepada anggota lain untuk membuat puisi dengan hanya bermodalkan 10 huruf pilihan saja. Cth. “a-u-e-s-y-p-k-t-h-r : Sayapku patah tertusuk sepatah payah.” Namun, tantangan itu sepi peminat.

Menyusul tantangan itu–tanpa menggunakan istilah Pola Tuang–penulis sendiri coba memberikan tantangan yang lebih rapat untuk membuat dengan persis hanya dengan #10huruf saja; bukan dengan 10 huruf pilihan. Dengan ide dasar, bisakah kita dan kawan-kawan semua memunculkan setidaknya sebuah pernyataan puitik (very short/mikro poem) dari hanya dengan #10huruf saja dengan pemaksimalan kreativitas dalam penggunaan tanda baca dan aspek morfologis kata? Tiga di antara sejumlah contoh yang penulis berikan dalam tantanganitu misalnya: “Asmara-dan-A!” – judul: Mistik Cemburu, “Tuhan; P(a)tah!” – judul: RA!, “arepo | opera” – judul: Universe.  Pada tantangan itu, komentar turut serta anggota termasuk diskusi tak terduga menembus lebih dari angka 1000, dan, istilah Pola Tuang kembali penulis dapati muncul–dengan cukup berulang.

Efek ramainya tantangan tersebut, penulis makin intens diundang masuk ke berbagai grup untuk diminta memberi sejumlah komentar bagi puisi, yang faktanya, penulis makin sering mendapati istilah Pola Tuang digunakan. Pada titik itu, penulis akhirnya merasa bahwa istilah ini memang populer di kalangan pegiat sastra di Facebook, yangmana, penyebutan istilah ini tak ditemui dan tentu tak populer di sejumlah komunitas di luar media sosial. “Ada sesuatu yang menarik sepertinya,”penulis bergumam dalam hati.

Pada tahun 2015, ketika penulis coba membagikan sebuah ulasan atas buku puisi “Pagar Kenabian” karya Sofyan R.H. Zaid, istilah Pola Tuang juga muncul di kolom komentar dari beberapa anggota grup. Dan, memang, sebelum membuatnya, ketika mencari tahu bagaimana buku tersebut telah medapatkan respon dari masyarakat Facebook, penulis mendapati sebuah ulasan yang meletakkan buku “Pagar Kenabian” di antara puisi berPola Tuang sebagai rangkaian puisi (yang menurut pengulasnya) dengan “bentuk pengucapan yang relatif ‘baru’”(?!) seperti Dukotu, New Haiku, New Mbeling dan Sonian. Soal penempatan dalam kelompok tersebut, sebagian penulis sepakat dan sebagian tidak. Sepakat sebab memang buku “Pagar Kenabian” dikerjakan dengan mengikuti pola (baca: struktur) hingga penyusunan tipografi tertentu serupa beit (bait/larik berpasang ala) syair Arab yang sangat mempertimbangkan metrum. Sehingga, bisa diletakkan bersama-sama dengan jenis puisi yang memiliki form khusus tetentu. Dan tidak, sebab, style Nadhzam atau syair Arab bukanlah satu cara ungkap yang relatif baru dalam tradisi perpuisian kita yang pernah menyerap style Syair sejak era Melayu-Islam, kecuali, jika itu terkait pada cara penyusunan tipografinya yang kali ini lebih mirip dengan sumber inspirasinya. Tapi, itu pun pada akhirnya bukan sebuah pembaharuan, melainkan justru penguatan kembali atas sebuah tradisi.

Masih di tahun yang sama, dengan kesadaran untuk turut meramaikan secara sekaligus fenomena “Pola Tuang” dan–penulis sebut–fenomena “kembalinya puisi (terikat)struktur” yang mempertimbangkan masuknya model Haiku juga Nadhzam (seperti di zaman masuknya Soneta dll. oleh Yamin dan sejumlah puisi dengan struktur bentuk yang ketat dalam Setanggi Timur oleh Amir Hamzah), penulis merampungkan puisi #10huruf menjadi sebuah form yang lebih utuh, yang penulis namai Ma’(w)ar yang kemudian segera dikumpulkan dalam buku “50.000 Ma’(w)ar; antomena sajak #10huruf”; juga, mulai merintis eksperimen lain dengan  form dasar berupa bentuk (lebih tepatnya tipografi) kotak. Dalam rangka tersebut, tentu istilah Pola Tuang pula tetap gulir di kolom-kolom komentar.

Puncaknya, ketika puisi-puisi eksperimen Kotak dikumpulkan dan hendak diterbitkan pada tahun 2017, ketika penulis meminta Indra Intisa untuk memberi pengantar atas buku yang akan diberi judul “Kotak Cinta,” ia meletakkannya di antara sejumlah puisi Pola Tuang. Dari situ, pada akhirnya tercetus di dalam pikiran bahwa kelak sudah semestinya penulis mencari tahu lebih jauh terkait asal-usul sekaligus ragam usaha pembuatan Pola Tuang ini–juga tentu soal fenomena masuknya kembali pengaruh puisi “asing” yang terikat struktur. Namun, mengenai fenomena masuknya kembali Haiku serta kemunculan animonya, kita sudah sama-sama tahu bahwa pekerjaan ini sudah dirampungkan oleh Imron Tohari dalam buku “Mengungkap Misteri di Balik 5-7-5 Pola Haiku (2015).” Satu-satunya buku yang membahas tentang Haiku dan perkembangannya di sejumlah negara yang ditulis oleh penulis dan dalam Bahasa Indonesia.

Satu hal yang perlu disampaikan juga pada bagian ini, bahwa selama bereksperimen dalam form kotak, penulis makin intens bersentuhan tidak hanya istilah tetapi juga dengan (karya-karya) puisi Pola Tuang. Tiga yang paling penulis ingat yaitu PUTIKA, Padma dan Sonian. Dari ketiga Pola Tuang itu, PUTIKA yang paling menarik bagi penulis sebab telah memiliki berbagai ragam pengembangannya, kemudian Padma sebab aturan stukturnya yang cukup menantang daya kreatif, dan Sonian yang tak menarik perhatian penulis; masing-masing akan dibahas secara khusus bergantian. Dari tiga pola tuang tersebut, hanya Pola Tuang PUTIKA dan Padma yang pernah penulis gunakan untuk membuat sejumlah puisi dan kemudian dibagikan ke beberapa grup.

 

Penelusuran Istilah

Sebagaimana disinggung di muka, di saat ini, fenomena puisi Pola Tuang seperti sudah tak lagi masanya. Grup-grup, animo, hingga trendnya sudah sepi. Meskipun, penulis mendapati ada satu-dua orang masih mengikuti trendnya dan coba terus mengumumkan bahwa ia sudah menciptakan puisi dengan pola tertentu. Dalam hal ini, penulis gunakan istilah trend sebab memang yang masih bersangkutan berkali-kali mengedepankan (sibuk dengan) aspek-kultus ketimbang sibuk mematangkan pemikrian dan penguatan ekperimentasi yang dibutuhkan untuk mencapai suatu form tertentu yang bisa dipertanggung jawabkan dengan lebih layak. Artinya, sisi gelap dari fenomena Pola Tuang yang diambil, bukan sisi terangnya. Sehingga wajar, jika usaha yang demikian tak menimbulkan kegairahan di kalangan pembaca yang semakin hari semakin kritis terhadap segala usaha kultus-personal yang kosong.

Namun, di luar sepinya animo itu, pada tahun 2021 ini, penulis masih mendapati setidaknya pada dua orang yang dengan rutin menggunakan istilah Pola Tuang. Bahkan, dengan penjabaran-penjabarannya di berbagai kolom komentar hingga status pribadi yang jauh lebih fasih ketimbang pegiat grup puisi di Facebook kebanyakan–saat ini dan fase sebelumnya. Yaitu, penulis dapati pada Indra Intisa dan Imron Tohari. Dari situ, penulis merasa, mungkin sudah waktunya untuk mencari tahu lebih jauh soal ini dan kemudian menuliskannya.

Singkat cerita, dua pekan ke belakang pada 3 November 2021, penulis mengirimkan pesan singkat kepada Imron Tohari tekait siapa yang orang yang pertamakali menggunakan frasa Pola Tuang. Penulis sampaikan, bahwa hendak memperjelas soal ini.

“Om, siapa orang yang pertama kali gunakan frasa Pola Tuang–untuk merujuk sejumlah puisi berpola angka yang marak beredar pada tahun 2013-2017an di Facebook?”

Jawaban pertama yang penulis dapatkan adalah kira-kira demikian,“Waduh, tak tahu. Yang pasti, sejak pertama, aku lebih suka menyebutnya Pola Tuang. Maksudku, sejak pertama aku memperkenalkan puisi Dua Koma Tujuh, lebih suka memperkenalkannya dengan sebutan Pola Tuang.”

Dari jawaban tersebut, sebenarnya kita sudah mendapatkan jawaban yang diinginkan. Yaitu, oleh Imron Tohari sendiri. Meskipun, ia sendiri masih berhati-hati dalam mengatakannya. Mengapa penulis langsung bisa menyimpulkan demikian? Setidaknya penulis punya keyakinan sampai 65%. Sebab, pertama, dalam jawaban yang diberikan terdapat kalimat langsung yang menyatakan bahwa ia memperkenalkan sebuah konsepnya dengan menyebutnya demikian, dan kedua, ketika dikatakan sejak DuKoTu, maka itu sudah mengisyaratkan jawaban dari segi penanda waktu, yangmana, dari yang penulis tahu secara terbatas sebelumnya, DuKoTu–dalam konteks ini–adalah termasuk jenis puisi berPola Tuang yang muncul di tahun-tahun pertama.

Namun, angka 65% itu adalah angka yang masih terlalu spekulatif.

Pada tanggal 9 November 2021–dengan tetap menanggalkan preasumsi–penulis coba kembali melemparkan pertanyaan serupa di grup telegram Sains Puisi Lab. kepada Indra Intisa yang memang juga intens dalam menggunakan istilah Pola Tuang serta termasuk pegiat puisi yang telah aktif bergumul di dalam jaringan internet sejak zaman Friendster, Mayspace, hingga memasuki Facebook pada tahun 2008. Jawaban yang didapat kira-kira demikian, “Saya tidak tahu pastinya siapa yang kenalkan pertama kali istilah itu di dunia maya. Tapi, saya bisa pastikan Om Imron Tohari yang pertama kali buat puisi-puisi dengan batasan fisik yang ia sebut Pola Tuang. Awalnya DuKoTu saya kenal ketika dibuka untuk publik di Facebook. Tapi itu sudah dibahas oleh Om Imron di Milis Yahoo. Ketika diajarkan di Facebook, yang lain ngikut kemudian jadi ramai. Termasuk ngikut bikin Pola Tuang. Biasanya, orang lain buat yang demikian untuk ciri khas dirinya sendiri saja. …. Jadi, kalau menurut saya, jika ditanya siapa bapak puisi Pola Tuang era sekarang? Ya Om Imron Tohari.”

Dari “rangkuman” rekaman ingatan yang disampaikan oleh Indra Intisa tersebut, meskipun juga tidak secara langsung memberikan jawaban siapa yang pertama kali menggunakan istilah Pola Tuang, namun kembali mengerucut dan kini secara tajam–dengan mengeliminasi seluruh pengusung konsep lainnya yang datang belakangan–kepada Imron Tohari sebagai orang yang pertamakali menggunakannya. Tentu ini rekaman ingatan yang sangat berharga di tengah langkanya pembahasan yang diakronis (baca: secara kronologis). Dan, dari jawaban tersebut, membuat angka kebenaran spekulasi yang penulis buat, rasanya bisa naik sampai angka 80%.

Di sela-sela oborolan tersebut, karena memang belum mendapatkan pernyataan yang pasti, penulis sambil kembali melakukan pencarian. Dilakukan dengan cara memanfaatkan mesin pencari Google dan Facebook sendiri dengan keyword spesifik: “Pola Tuang Imron Tohari.”

Dari pencarian tersebut tentu banyak sekali tulisan baik berupa status Facebook, perbincangan dalam grup, komentar-komentar lepas, hingga artikel-artikel yang tersebar di berbagai site juga blog. Dari sekian banyak yang disuguhkan oleh algoritme mesin pencari, perhatian penulis tertuju pada sebuah tulisan lepas yang berjudul, “Mengenalkan Puisi Sanjak Rima Pola Tuang 4444 ala lifesspirit!tulisan Imron Tohari sendiri yang terposting pada site sastra-indonesia.com tahun 2011, “Detak Bahasa di antara Pencipta dan Apresiator Puisi II,juga tulisan Imron Tohari yang terposting pada site yang sama tahun 2010.

Menurut penulis, dua artikel tersebut menarik. Mengapa demikian? Sebab dua artikel tersebut menunjukkan secara objektif kepada penulis, bahwa penggunaan istilah atau frasa Pola Tuang, sudah digunakan oleh Imron Tohari sejak tahun 2011 ketika coba memperkenalkan Padma, yang artinya sebelum ia mempublikkan DuKotu dan kemudian muncul animo Pola Tuang yang mengikutinya. Lebih jauh dari itu, pada artikel tertahun 2010, kita bisa menemukan istilah Pola Tuang telah digunakan meskipun dengan penggunaan yang sangat minimal dan nampak masih samar-samar; untuk tidak mengatakan belum menjadi istilah yang diberi intensi khusus dan “dimajukan.”

Beberapa frasa bentukan yang dekat secara leksikal dengan frasa Pola Tuang yang muncul pada artikel tersebut di antaranya: (1) Pola Penuangan, (2) Pola Hidup, dan (3) Pola Piker (memang ditulis demikian: Piker). Yang menarik adalah, frasa Pola Tuang sendiri muncul tidak sebagai frasa yang mandiri sebagaimana dalam penggalan kalimat berikut, “.…kritik, masukan Struktur (4) Pola Tuang.” Ada kata “struktur.” di situ. Kemudian kata Tuang dalam beberapa bentukan kalimat berikut: (1)”… karena sebenarnya dengan bahasa simbol yang dia tuangkan tersebut,” (2)”… bentuk dan rangkaian tertuang dalam suatu karya,” (3) “… disinilah hak bantah/pejelasan dari sang penyair/pujangga diperlukan sebagai bentuk pelurusan akan persepsi tuang segala hal terkait dengan hasil karyanya.” (4)”… dianggap tidak relevan dengan kaidah piker penyair/pujangga dalam menuangkan karyanya.“

Dari ragam penggunaan kata Pola dan Tuang seperti di atas, kita bisa melihat bagaimana istilah Pola Tuang terbentuk (bermetamorfosis) di dalam arus kesadaran Imron Tohari. Ia tidak muncul sebagai satu istilah yang siap pakai yang dipinjam dari orang lain, atau dari peristilahan (nomenklatur) ilmu lain. Untuk lebih memastikan lagi bahwa frasa bentukan ini memang mulai digunakan oleh Imron Tohari, penulis coba menelusuri tulisan bagian pertama dari “Detak Bahasa di antara Pencipta dan Apresiator Puisi II,”  yang juga ternyata terdokumentasikan pada site yang sama. Yangmana, ketika dilakukan analisis penggunaan kata pada tulisan “Detak Bahasa di antara Pencipta dan Apresiator Puisi I, ternyata hasilnya, kata Pola hanya digunakan dua kali lewat frasa Pola Piker, dan kata Tuang digunakan hanya sekali dalam rangkaian kalimat, “…dari masing-masing pribadi/individu pengkarya cipta yang dituangkan ke dalam bentuk bahasa tulis maupun lisan yang akhirnya menciptakan letupan-letupan …” Jadi, seakan nampak jelas pada artikel “Detak Bahasa di antara Pencipta dan Apresiator Puisi II” tadi, bukan hanya terbukti awal penggunaannya, melainkan juga bagaimana istilah Pola Tuang itu pertamakali terbentuk–setidaknya di dalam kesadaran Imron Tohari.

Penemuan itu membuat keyakinan atas penyimpulan akan asal-usul istilah Pola Tuang adalah dari Imron Tohari naik dari 80% hingga sekitar 90% saja. Naik 10%. Penulis menganggap bahwa kesimpulan itu masih memiliki lubang yang cukup besar. Sehingga masih diperlukan langkah lain, yaitu kembali melakukan konfirmasi. “Bisa diingat lagi gak, Om, pertama kali pakai istilah Pola Tuang itu kapan dan dari siapa? Sebab, sejauh yang saya amati, istilah itu memang muncul di masa ramainya puisi berpola angka. Pada masa sebelumnya, dari buku-buku yang sejarah atau polemik sastra yang beredar belum pernah muncul,” kembali penulis mengirimkan inbox.

“Seingatku, istilah itu memang dari aku sendiri,” ungkapnya lebih terang, ”dan sering aku sebut pada berbagai kotak komentar jika pembahasannya sedang terkait. Tapi, bukan berarti aku mengklaim bahwa aku sebagai yang pertama, ya. Sebab, bisa jadi pendahulu kita juga pernah menggunakan atau menyatakan istilah yang sama dalam konteks yang berbeda, namun itu tak terdeteksi. Tapi, terkait istilah yang sering  aku sebut itu, aku siap mempertanggung jawabkannya,” tambahnya melengkapi dengan tuntas meski tetap dengan sikap berhati-hati.

Dari pernyataan tersebut, penulis kira cukuplah sudah penelusuran yang diperlukan terkait asal-usul bagaimana istilah Pola Tuang ini masuk ke dalam perbincangan perpuisian di antara kita semua. Bisa dikatakan, nilai kebenaran kesimpulannya dari 90% kini telah naik menjadi 99%. Dan sebagaimana di pembukaan zaman Sains modern dikatakan bahwa semua angsa itu berwarna putih, maka angka 99% tersebut pun sama, hanya bisa digugurkan jika dihadirkan di antara angsa-angsa putih itu angsa yang berwarna hitam.

 

Soal Pengertian yang Sebenarnya

Setelah kita sama-sama menelusuri bagaimana asal-usul istilah Pola Tuang rampung, maka soal apa pengertian yang sebenarnya atau yang asli dari istilah Pola Tuang adalah hal yang tidak hanya penting, tetapi juga bisa tergolong mendesak. Sebab, sebagaimana terkesan pada peristiwa persinggungan penulis dengan istilah Pola Tuang atau juga tersirat dari pernyataan yang keluar dari Indra Intisa, istilah Pola Tuang memang telah banyak ditafsirkan secara reduktif–atau lebih tepatnya melenceng–dari pengertian asalnya hanya kepada persoalan Pola Tuang dengan cara penentuan ketukan jumlah suku, kata dan baris belaka. Yangmana, kalaupun kemudian ada aspek filosofi yang ditambahkan, tak jarang memang lebih mirip konsep yang dipaksakan secara asal pasang ketimbang lahir dari permenungan yang menyaluruh. Mari kita ulang kembali apa yang diungkapkan oleh Indra Intisa berikut dengan lebih lengkap:

“… Om Imron Tohari yang pertama kali buat puisi-puisi dengan batasan fisik yang ia sebut Pola Tuang. Awalnya DuKoTu saya kenal ketika dibuka untuk publik di Facebook. Tapi itu sudah dibahas oleh Om Imron di Milis Yahoo. Ketika diajarkan di Facebook, yang lain ngikut kemudian jadi ramai. Termasuk ngikut bikin Pola Tuang. Biasanya, orang lain buat yang demikian untuk ciri khas dirinya sendiri saja. Lebih tepatnya, Pola Tuang itu penyusunan puisi yang merujuk pada batasan jumlah kata, larik, diksi, rima, dst, Itu terpola pada bentuk tuangnya.  Jadi, kalau menurut saya, jika ditanya siapa bapak puisi Pola Tuang era sekarang? Ya Om Imron Tohari.”

Dari dua data awal tersebut, penulis kemudian kembali bertanya-jawab kepada Imron Tohari untuk mendapatkan kejelasan. Berikut rekaman panjang dialognya:

“Om, saya kan pakai istilah form untuk merujuk bentuk sebuah karya baik yang memang terikat maupun yang tidak terikat aturan tertentu (like free-verse). Sebab, kata itu memang katayang pengertian dasarnya umum: form (bentuk). Nah, untuk frasa Pola Tuang sendiri bagaimana? Sebab di situ ada kata Pola.”

“KBBI: ‘pola/po-la/n 1 gambar yang dipakai untuk contoh batik; 2 corak batik atau tenun; ragi atau suri; 3 potongan kertas yang dipakai sebagai contoh dalam membuat baju dansebagainya; model; 4 sistem; cara kerja; –permainan;– pemerintahan; 5bentuk (struktur) yang tetap; — kalimat; dalam puisi, — adalah bentuk sajak yang dinyatakan dengan bunyi, gerak kata, atau arti; …’

“Jika merujuk pada pengertian di KBBI yang Om kirim barusan, di sana kata Pola merujuk pada sesuatu yang memang memiliki model, sistem, atau aturan tetap tertentu. Apakah berarti istilah Pola Tuang juga hanya digunakan untuk puisi yang punya ciri demikian? Bagaimana dengan model puisi bebas yang relatif tak bersistem atau beraturan khusus? Apakah istilah Pola Tuang juga (pernah) digunakan? Jika iya, dalam pengertian yang bagaimana?”

“Pola Tuang itu tata cara menuangkan, tata cara menyampaikan, tata cara menuliskan dan atau pengertian yang sederajat. Pola Tuang ini lebih kepada bagian dari genre yang terikat. Jadi lebih spesifik. Seperti saat aku mengenalkan puisi Dua Koma Tujuh sebagaimana pernah aku sampaikan ke Shiny.”

“Oke, Om. Berarti clear ya bagaimana konsep ini bermula ditawarkan. Yaitu, memang untuk mencakup puisi yang punya Pula. Jadi kalau sudah jelas begini, tidak lagi ada simpang siur jika hendak ada yang menggunakan istilah Pola Tuang ini ke depan. Termasuk, jika saya hendak menggunakannya. Adapun untuk cakupan yang Om baru sampaikan, saya sendiri sepakat. Sebab, jika dipaksakan penggunaannya juga kepada puisi yang memang bebas dan tak berpola, itu justru akan membuat konsepnya jadi ambyar.”

“Betul, Shiny. Pola Tuang memang kumaksudkan sebagai wadah atau bentuk untuk aku mempresentasikan ide, gagasan, atau tema ke dalam wujud puisi, lebih tepatnya tempat menuliskan sebuah puisi dengan dibatasi oleh tata aturan tertentu yang dibuat oleh penggagas (baik perseorangan atau kelompok). Pola Tuang aku pikir adalah merupakan bagian dari eksperimen untuk mewadahi sesuatu, semisal ide.”

“Oya, Om. Tapi seperti ini. Puisi bebas juga kan seringkali masih memiliki pola pada hasil nyata praktiknya. Meskipun sebuah puisi dikatakan dan dikerjakan sebagai puisi bebas tanpa aturan khusus, tetapi seringkali tetap memiliki pola rima/kemerduan yang muncul secara ‘alamiah’ seperti adanya unsur Asonansi atau unsur Konsonansi. Yang demikian, bagi Om Imron, apakah termasuk ber-Pola Tuang?”

“Pola Tuang di sini dalam konteks yang khusus, yang khas, dan dilakukan berkelanjutan. Misal, Pola Tuang Haiku, maka harus memuisikannya sesuai kaidah dan tata aturan yang sudah disepakati sebagai Haiku. Demikian seperti ketika kita menulis Pantun harus sesuai dengan kaidah dan Pola Tuang Pantun. Demikian juga kalau kita ingin menulis puisi Padma, Panatha dll. yang poladan atau sistemnya sudah ditentukan. Dengan memahami Pola Tuang, masing-masing bentuk puisi (dalam tanda kutip), maka kita bisa tahu kenapa puisi tertentu disebut Haiku, Senryu, Pantun, Seloka, Soneta, Konkret, dll. Intinya, Pola Tuang itu yang memiliki batasan tententu yang khas.”

“Ooh, jadi begitu, Om?”

“Ya. Sebagai contoh, Pola Tuang buku  Setengah Tanka atau Kotak Cinta yang Shiny buat. Itu bukankah terdapat batasan yang harus selalu ada sebagai karya yang berPola Tuang demikian? Begitulah penerapan istilah Pola Tuang. Nah, sampai di sini aku rasa kian jelas, ya pengertian yang aku maksudkan?”

“Sudah sangat jelas, Om.”

“Tapi ada catatan lagi sedikit yang mau aku sampaikan. Bahwa, tataaturan Pola Tuang dalam perkembangannya kemudian, bisa dikonsepsikan secara bersama lewat sebuah konvensi kelompok, atau, tetap didasarkan oleh penggagas awalnya.”

“Seperti pada Padma yang berkembang melalui dialog dengan Om Cunong?”

“Bukan. Itu hanya bagian dari proses yang berkaitan dengan konsepnya saja. Kecuali, jika aku–sebagai pencetus–dan Mas Cunong–sebagai penanggap–menyepakati kalau ‘blablabla’ itu dijadikan sebuah tata aturan bersama. Ilustrasi gampangnya, misal pada Haiku yangmana Kigo menjadi salah satu syarat utamanya, ternyata ada sebuah grup menerapkan Haiku tanpa Kigo namun tetap mempertahankan unsur-unsur lainnya seperti spirit imajisme, pola kata 575 serta Kirejinya, maka, itu sah dalam sebuah grup tetap menyebutnya sebagai ber-Pola Tuang. Tetapi, itu tidak berlaku di grup lain yang tak terlibat proses konvensinya.”

Dari dialog tersebut kita sesungguhnya sudah mendapatkan gambaran jelas lagi terperinci akan pengertian dari istilah Pola Tuang. Sehingga, diharapkan tak lagi pengertiannya diselewengkan atau dikecilkan hanya pada soal Pola menentukan jumlah suku kata, kata atau larik belaka.  Bahkan kita mendapati sesuatu yang lebih dari itu, bahwa Pola Tuang merupakan sebuah wadah khusus dari sebuah eksperimen dari sebuah ide. Artinya, jika ada ide lain, bisa digunakan eksperimen Pola Tuang lain. Sehingga tidak mematok pada satu wadah saja.

Penulis kira sampai di sini kita semua bisa mengikutinya dengan terang dan jelas. Bukan begitu?

 

Penutup

Dalam penutup pembicaraan soal Pola Tuang bagian pertama ini penulis hendak sampaikan dua hal penting. Pertama terkait hal singkat fenomena (“New”) Haiku dan puisi (ala) Nadhzam Sofyan RH Zaid, dan kedua soal fenomena Pola Tuang sendiri.

Soal fenomena (“New”) Haiku dan puisi (ala) Nadhzam Sofyan RH Zaid, hendak ditegaskan kembali, meskipun dari segi kesamaannya memiliki aturan terikat dengan sekelompok puisi Pola Tuang sehingga ketiganya bisa kita golongkan dalam satu kelompok fenomena munculnya kembali puisi (terikat) struktur, namun, ketiganya lahir dari konteks yang berbeda. Khusunya dari ruang hingga alasan kemunculannya. Sebagai contoh, puisi ala Nadhzam lahir dari ruang sebuah pesantren yang oleh Sofyan tuturkan langsung pada penulis, bahwa saat itu pesantrennya belum tersentuh internet dan dari yang penulis tahu, media yang digunakan sebagai wahana ekspresinya adalah koran serta majalah. Yang artinya, jelas merupakan ruang yang berbeda dari ruang dalam jaringan sebagaimana Pola Tuang lahir di Milis kemudian Facebook. Dari pengantar bukunya pun, penulis dapati bahwa landasan pijak lahirnya puisi ala Nadhzam adalah sebagai respon Sofyan R.H. Zaid atas makin membludaknya fenomena puisi bebas dalam sastra Indonesia. Sedangkan, fenomena puisi Pola Tuang, lahir dari spirit eksperimentasi Imron Tohari untuk coba mengembangkan sejumlah pola-pola tuang.

Soal fenomena Pola Tuang sendiri, yaitu kenyataan bahwa Pola Tuang sebagaimana obrolan panjang penulis bersama Imron Tohari, ia ada bukan sebagai sebuah niatan untuk sekadar pendakuan, pengumpulan followers, hingga pengkultusan receh bahwa “saya adalah pencipta Pola Tuang ini dan itu”, sebagaimana penulis banyak dapati pada sejumlah peniru yang begitu heboh tanpa alasan, dan bahkan, cenderung sudah besar kepala di muka padahal gagasan-gagasan yang ditawarkannya justru masih begitu mentah. Mengapa pada momen persinggungan penulis dengan fenomena Pola Tuang pada akhirnya lebih tertarik pada PUTIKA dan Padma ketimbang misal pada Sonian, tak lain di antaranya sebab unsur eksperimentasi (unsur pemecahan persoalan puitik serta kemungkinan-kemungkinan pengembangan lain) yang terdapat dari keduanya jauh lebih terasa ketimbang yang ada pada Sonian. Dari penggunaan pilihan nama saja, Sonian, yang merujuk pada nama Soni Farid Maulana pencetusnya, sudah menunjukkan adanya miskin ide, miskin gagasan, namun, secara vulgar justru bertendensi mengarah kepada kultus.

(Bersambung …)

 

18 November 2021

 

Tags:

1 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *