LOADING

Type to search

Sains Puisi: Melampaui Eksperimen Perwajahan Seni-Puisi

Sekilas melihat puisi-puisi yang terkumpul dalam buku Sains Puisi karya Shiny.ane el’poesya, kita tentu tidak sulit untuk menyadari adanya penyimpangan-penyimpangan dalam bentuk/perwajahan puisinya.
Puisi, yang di Indonesia umumnya dimaknai sebagai rangkaian kata-kata indah, dinegasikan oleh Shiny dengan menampilkan ragam bentuk puisi yang lebih banyak melibatkan elemen-elemen visual ketimbang keterbacaan teks.
Lantas, apakah itu semua hanyalah ketengilan seorang Shiny? Atau—bahkan—apakah ia sudah gila? Tidak. Shiny sendiri telah membantahnya melalui Avant-Propose dan esai-esai lainnya yang ia selipkan di antara puisi-puisi eksperimentalnya dalam buku Sains Puisi. Semua esai-esai tersebut tentunya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ia berkarya bukan karena ketengilan, apalagi gila, melainkan karena ia serius dalam menciptakan wajah baru dunia perpuisian, khususnya di Indonesia.
Akan tetapi, lebih dari sekadar menciptakan perwajahan baru bagi puisi, Shiny agaknya juga menyiratkan adanya landasan lain dalam keputusannya untuk bereksperimen dengan perwajahan puisi.
Misalnya, bisa kita lihat dalam beberapa puisinya yang berjudul One Shift Puzzle, Teka-teki Puisi, One Turn dan Muse. Di sini, kita dihadapkan dengan gambar-gambar teka-teki silang, permainan solitaire, atau permainan-permainan yang serupa itu. Sebagian orang mungkin akan bertanya, mungkin juga dengan nada sinis, “apa menariknya puisi begini? Di mana letak ‘kebaruan’ dari bentuk puisi teka-teki ini?”
Permainan-permainan seperti teka-teki silang, permainan kartu solitaire, ataupun puzzle, bisa dimaknai sebagai bentuk perantara, sebagai media interaksi antara si pembuat dengan publik. Dilihat dari poni ini, Shiny tampaknya tengah berusaha membongkar sebuah paradigma kuno dalam berkesenian, terutama berkaitan dengan paradigma bahwa produk seni (puisi) ialah sebuah produk terbatas yang dihasilkan individu-individu tertentu dengan skill/keterampilan khusus dalam membuat karya seni, untuk kemudian diinterpretasikan maknanya kepada pembaca/publik. Apa maksudnya?
Apabila selama ini puisi sering menempati posisi sebagai ‘pengkhotbah’, sementara pembaca sebagai subjek yang cenderung pasif bagi puisi dengan tugas hanyalah menginterpretasi, maka dalam puisi-puisi tersebut, Shiny mengubah posisi ini. Puisi bukan lagi menjadi ‘pengkhotbah’, melainkan menjadi sebuah ‘wadah’ bagi pembaca/publik untuk ikut terlibat secara aktif dalam puisi tersebut, bukan hanya sebagai interpretator, melainkan juga terlibat sebagai ‘produsen’ dalam puisinya.
Tentu saja hal itu akan berdampak pada wujud akhir puisi, ia dapat menjadi apa saja tergantung dari konsesi yang terbangun antara pembuat puisi dengan publik yang terlibat dalam puisi tersebut. Dengan demikian, Teka-teki Puisi, Muse, One Turn, maupun One Shift Puzzle yang dihasilkan oleh Shiny merupakan suatu terobosan, suatu ‘kebaruan’ dalam dunia perpuisian di Indonesia, terutama untuk menciptakan hubungan interaktif antara pembuat puisi dan publik. Karenanya, ia tergolong dalam bentuk puisi yang partisipatoris dan mengandung nilai-nilai demokratis, jika kita suka menyebutnya begitu.
Lebih lanjut, puisi-puisinya yang menonjolkan aspek visual/gambar, di mana gambar-gambar tersebut juga cenderung ‘nyeleneh’, misalnya Behind The Digital Poetry, Ava-Puisi; Malaikat Puisi, hingga Kesusastraan Pokemon, Shiny seakan hendak menonjolkan/memperjelas ruang lingkupnya dalam penggarapan puisi-puisi tersebut, yakni berkaitan dengan perkembangan teknologi.
Hari ini, di mana kita telah akrab dengan perkembangan teknologi termasuk di dalamnya adalah teknologi design grafis, pemuisi juga tidak terlepas dari dampak kemajuan teknologi tersebut. Bukan hanya mengenai perubahan persepsinya terhadap kemajuan teknologi, namun juga perubahan tekniknya dalam menggarap puisi. Pemanfaatan media digital, ia gunakan secara lebih maksimal. Artinya, Shiny memiliki kesadaran penuh bahwa ia berada di sebuah dunia yang penuh dengan perangkat digital. Hal ini terlihat dari penggunaan ‘tools’ atau alat-alat yang tersedia dalam aplikasi design, apapun jenisnya. Ia bermain-main dengan duplicating, croping, positioning gambar—singkatnya, seluruh perangkat editing gambar—dalam puisi-puisinya.
Lebih jauh lagi, kita dapat mengamati hasil puisi yang tercipta. Dalam sekilas pandang, puisinya nampak sebagai gambar yang ‘berantakan’. Penuh dengan tumpukan-tumpukan gambar lain, coretan-coretan, teks-teks singkat, dan sebagainya. Akan tetapi, di sinilah justru terletak esensi puisi yang dihasilkan Shiny. Selain hendak menonjolkan ruanh lingkupnya dalam membuat puisi, ia seakan tengah berupaya mendobrak anggapan bahwa puisi haruslah memiliki unsur-unsur ‘keindahan’, memiliki ‘yang sublim’, mengandung nilai-nilai ‘keagungan’, yang tidak dapat dengan mudah ditiru oleh orang lain. Sementara dalam puisi-puisi Shiny tersebut, kita bisa bertanya-tanya, “apanya yang indah dari gambar berantakan seperti ini?”
Walter Benjamin, dalam esai panjangnya berjudul The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction (1935), mengatakan bahwa kesenian di era modern, di mana alat-alat produksi massal telah menjadi umum, akan kehilangan ‘aura’nya, atau bisa kita samakan dengan kehilangan ‘yang sublim’. Hal ini bukanlah sesuatu yang perlu disesali, sebab menurut Walter Benjamin, apa yang disebut ‘yang sublim’ hanyalah konstruksi yang dibangun sejak abad kegelapan, di mana seni pada masa itu hanyalah milik segelintir bangsawan, atau biasa juga disebut ‘canon/kanon’. Alhasil, seni yang dihasilkan cenderung merepresentasikan kehidupan para kanon itu sendiri.
Sementara seni sebagai kebutuhan manusia untuk mengekspresikan diri, kurang bisa memenuhi kebutuhan publik.
Sementara George Dickie, dalam Evaluating Art (1988), mengatakan bahwa seni menjadi seni setelah dinyatakan oleh penilaian publik terhadap seni. Ia bukanlah penilaian yang muncul dari lembaga seni tertentu, melainkan dari publik luas penikmat seni. Penilaiannya tentu bisa dari aspek apa saja, mungkin dari aspek estetisnya, atau bahkan aspek politisnya.
Demikianlah, kita bisa melihat lebih jauh apa yang hendak ditampilkan Shiny, tidak hanya mengenai eksperimen pada lapis perwajahan/bentuk puisinya, namun juga eksperimennya untuk membawa dan mengenalkan nilai-nilai baru dalam kesenian, khususnya puisi.
November 2021
Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *