LOADING

Type to search

SHINY, SIMBOL-SIMBOL, DAN SANTANA II; MAN RUN AMOK

Oleh Indra Intisa

Betapa puisi bisa hidup dan menyerupai bentuk apa saja. Ia bisa berubah serupa sebuah surat, sebuah mobil, menyerupai jalan, atau mengambil proses-proses terjadinya sebuah hidup manusia, hewan, bongkar-pasang kendaraan, virus, dst. Bahasa kasarnya ia berkembang layaknya bunglon. Menyamar dan menyerupai tetapi tetap ada pesan-pesan besar yang diselipkan oleh aku lirik. Ini mengingatkan kita pula pada konsep sebuah malware dalam dunia IT. Ia bisa berubah menjadi penunggang (trojan horse), jadi virus yang merusak jaringan dan data, menjadi spam, atau dia bisa hidup dalam sebuah data: menipu mata pengguna awam, padahal ada program tertentu yang telah menyusup dalam data tersebut untuk menginfeksi data-data lain. Serupa parasit?

Beberapa tahun terakhir 2010—2017, di dunia digital (web, blog, media sosial), muncul pula gerakan puisi pola tuang. Yaitu sebuah proses pengenalan genre baru yang berpangkal kepada batasan-batasan fisik. Secara umum puisi ini kita katakan saja sebagai puisi pola tuang. Atau puisi yang disimak dan dibedakan dalam bentuk pola tuang (wadah), seperti puisi dukotu (dua koma tujuh) oleh Melly Imron Tohari (Imtoh), puisi Sonian oleh Soni Farid Maulana, dsb., dengan gaya-gaya serupa. Dari sekian banyak perkembangan dan penciptaan tersebut, sebagian besar gagal memberikan penyegaran yang baru dalam dunia perpuisian Indonesia. Karena aturan yang dibuat hanya terfokus kepada batasan larik, bait, kata atau suku kata. Sekalipun ditulis dengan alasan filosofi tertentu.

Lain daripada itu, muncul pula seorang penyair pemikir, penulis muda yang suka menekuni dunia filsafat, yaitu Shiny. Penyair muda ini termasuk salah satu angkatan digital yang sangat tekun dan produktif dalam menulis. Menulis prosa seperti cerpen, esai dan tentu saja puisi. Puisi-puisi yang ia tulis membawa ruh dan gaya tertentu. Berbeda dengan angkatan digital lainnya, ia tidak bertujuan untuk membagikan dan mengajarkan kepada orang lain—mengajak beramai-ramai menulis puisi seperti apa yang ia tulis—ia lebih cenderung kepada dirinya sendiri. Barangkali kebebasan dan ke-akuan dari puisinya adalah sebuah kenikmatan tersendiri sehingga ciri khas tersebut tetap melekat pada dirinya saja.

Seperti pada buku “Kotak Cinta”, Shiny sengaja membawa pembaca ke sebuah alam baru—alam tertentu yang dibatasi oleh batasan yang ia buat sendiri. Kita seperti masuk ke sebuah daerah yang baru, lingkungan baru, anggap saja seperti pergi ke danau Toba, sedangkan sebelumnya kita belum pernah mengujungi daerah tersebut. Apa yang kita rasakan? Takjub, aneh, senang, bahagia, sedih, atau cemas? Di sebalik itu, tentu ada aturan, larangan atau batasan ketika kita masuk ke area tersebut, sama halnya dengan mitos Nyi Roro Kidul. Dilarang memakai pakaian hijau selama di pantai laut selatan. Bagaimana kalau melanggar?

Kotak Cinta yang ia buat merupakan sebuah jebakan tersendiri untuk pembaca. Puisinya cenderung rumit dan gelap. Berisi simbol-simbol unik, baru dan bahkan tak terduga. Jika salah-salah, kita bisa tersesat layaknya kita masuk ke dalam hutan. Bagaimana jika kita belum menguasai medan, tak bawa kompas, sepatu hutan, pisau, makanan, dsb., apakah kita siap? Tapi kita harus bersiap-siap. Tak boleh lengah, sebab kotak yang ia aturkan bukan sembarang kotak. Ada banyak harta karun tersembunyi di dalamnya. Kita harus mampu memecahkan teka-teki, simbol-simbol yang disembunyikan di dalamnya untuk sampai pada tujuan. Rumitkah? Pemikiran Shiny memang termasuk rumit dan luas. Tetapi ia ingin memadatkan dalam sebuah puisi pendek dan terbatas dengan diksi yang benar-benar dipangkas dalam sebuah kotak. Karena jika kita mampu mengendusnya, maka muncullah cinta. Kotak Cinta.

Salah satu puisinya yang menarik disimak dalam buku “Kotak Cinta”, adalah puisi yang berjudul “Santana II; Man Run Amok” (lihat gambar). Sebuah judul yang tidak biasa. Saya pribadi, tidak punya banyak literatur terkait makna dari judul ini, selain beberapa kaitan seperti: Santana adalah sebuah grup musik rock Amerika Serikat yang terbentuk pada tahun 1967 di kota San Francisco, California. Kemudian, Run Amok bisa juga merujuk kepada idiom “Berperilaku atau bersikap tidak terkendali.” Man, sendiri adalah manusianya. Jadi Man Run Amuk, bisa juga diterjemahkan menjadi manusia yang mengamuk? Lalu bagaimana dengan hubungan-hubungan antara judul dan isi? Tentu tidak sesederhana penalaran ini.

Untuk isi, dua kata di larik paling atas kalau kita simak dalam-dalam itu seperti bacaan atau ucapan saat Yesus disalib: “Eli, eli”. Tapi dibatasi pagar. Apa pun fungsi dari pagar? Lupakan itu dulu, mari kembali kita simak makna dari kata Eli ini. Atau sebelum itu kita bisa melihat simbol dari gambar salib memanjang di bawahnya, sebelum di atasnya ada ucapana Elia. Sejarahnya mencatat, saat Yesus disalib, ia sempat berkata “Eli, Eli, lama sabakhtani? “, yang artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46 & Markus 15:34). Kajian kristologi ini tentu akan berbeda penafsirannya antara umat Kristiani dan Islam. Masing-masing punya alibi dalam menafsirkan. Karena kita bukan sedang membahas kajian tentang kristologi, maka yang kita bahas adalah pemikiran aku lirik dalam puisi ini.

Mari kita telaah kembali terkait larik pertama itu “Eli(a) ditulis dua kali. Selain berfungsi sebagai ucapan yang memang diucapkan yesus sebanyak dua kali (Allah-Ku) pada saat disalib, juga secara tidak langsung menyiratkan bahwa, ayat ini adalah yang dicatat di dua Injil, dan satu-satunya yang dicatat di dalam kisah penyaliban Yesus di Injil Matius dan Markus. Lalu bagaimana dengan simbol MR, A!, T, dst? Apa pula fungsinya? Begitulah luasnya puisi Shiny dan pemikirannya yang bergerak-gerak. Tetapi mau dipadatkan.

Kalau kita baca puisi-puisinya yang lain, seperti pada buku Sains Puisi, aka nada banyak penanda yang saling timpuk satu sama lain. Memang benar-benar membuat otak lebih keras dalam berpikir, jika pembaca menikmati puisi-puisinya melalui tantangan-tantangan makna symbol. Padahal, menafsirkan puisi-puisi seperti itu, bisa saja melalui pendekatan yang berbeda, sebagaimana kita melihat dan menikmati lukisan-lukisan abstrak, surealis, atau menikmati lagu-lagu tanpa ada suara vocal. Entahlah.

***

Nb: Sebagian besar tulisan ini adalah potongan-potongan esai saya pada buku Kotak Cinta, Shiny Ane El’poesya

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *