LOADING

Type to search

META(-verse), AI, POIESIS!

META(-verse)

Kamis 28 Oktober lalu, Mark mengumumkan penggantian nama perusahaannya dari Facebook ke Metaverse (MVRS–Meta). Sebuah perusahaan yang hendak didorong untuk menjadi salah satu pemain utama dalam proyek pembentukan kehidupan masyarakat berbasis Lingkungan Virtual–yang terintegrasi.

Mendengar pengumuman tersebut, masyarakat internet dari berbagai platform aplikasi langsung beramai-ramai membincangkannya. Dari masyarakat Facebook sendiri, Instagram, Twitter, hingga Youtube. Banyak yang memandang pergantian itu sebagai sesuatu yang perlu disambut dan kelak dirayakan, tetapi, beberapa yang lain melihatnya sebagai fenomena bisnis biasa  belaka; Mark sedang memainkan strategi hingga pengalihan isu dari krisis perusahaan (soal sekuritas) yang sedang dialami.

Sebagai masyarakat Puisi yang sejauh ini memang berenang di Facebook, menurut saya, apa yang diumumkan Mark merupakan satu kabar yang bagus. Artinya, ke depan akan ada sebuah experience baru lagi dalam cara kita kebanyakan berkomunitas. Ya, meskipun Facebook bukanlah yang pertama berinvestasi di bidang ini. Sebab, sejumlah perusahaan lain bahkan sudah melangkah jauh lebih awal. Niantic, misalnya. Sebuah perusahaan di bawah naungan Google yang sudah membangun labnya jauh-jauh hari.

Masih ingat Pokemon Go (2016)? Ya, game dengan teknologi Augmented Reality pertama yang meledak di pasaran dunia, dan menjadi game yang begitu digemari; baik oleh para gamers hingga kalangan remaja secara umum. Game ini dirilis secara masif di berbagai belahan dunia. Dengan ditopang infrastruktur GoogleMap, Pokemon Go memiliki potensi jelajah yang tidak terbatas. Saya sendiri sempat dibuat tercengang ketika sebuah situs menuliskan bahwa sejumlah pokemon langka hanya bisa didapatkan bukan sekadar dengan naik ke sejumlah puncak gunung merapi, tetapi juga jika kita bisa masuk dan mengeksplorasi Gedung Putih serta Pentagon. Tidakkah itu seperti tantangan Epik?

Oke, lupakan pertanyaan itu sementara. Kita kembali kepada Metaverse.

Kata “Meta” sendiri, meskipun Mark mengumumkannya sebagai kata yang diambil dari bahasa Yunani (Meta: melampaui), namun, dalam aplikasi praktisnya, kata itu didefinisikan sebagaimana istilah Metaverse didefinisikan pada novel Snow Crash (1992); karena memang diambil dari sana. Sebuah novel  karya Neal Stephenson yang–sebagaimana novel-novelnya yang lain–bergenre Sains Fiksi juga Post-Cyberpunk. Dan konon, ketika novel Neal ini diterbitkan, disebut-sebut sebagai novel yang menggambarkan mimpi masa depan (generasi muda Millenial di) Silicon Valley.

Apa yang dipilih oleh Mark (juga tentu berarti oleh perusahaan pendorong Metaverse lainnya) dalam soal pemilihan nama ini, menurut saya kuranglah tepat. Apa sebabnya? Sebabnya adalah, yang hendak dilakukan oleh kelompok perusahaan pengembang (masyarakat) teknologi digital ini adalah sebuah usaha penciptaan dunia yang bertumpu pada imajinasi, yangmana, jika merunut setia istilah Yunani, maka apa yang hendak dilakukan itu bukanlah seakar dengan realitas Meta, melainkan, seakar pada realitas Fantasi (Yunani: Fantasia). Realitas Meta, adalah realitas yang berada di luar realitas sehari-hari yang kulaitas keberadaannya tidak digantungkan pada subjek, sedangkan, realitas Fantasi justru kualitas keberadaannya tergantung pada kemampuan subjektif seseorang dalam mereka-reka sesuatu.

Pula jika kita tarik dalam tradisi debat filosofis, apa yang hendak dibuat saat ini oleh para pengembang Metaverse, sebenarnya adalah apa yang pernah dibahas jauh-jauh oleh para pengkaji budaya soal keberadaan HyperReality di sekitar kita yang muncul sebagai konsekuensi dari adanya revolusi IT dan Internet. Apa yang hendak dimunculkan dalam citra-citra visual proyek Metaverse, pula ternyata merupakan citra-citra yang merupakan serangkaian Simulacra yang hakikatnya serupa sebagaimana pernah terjadi sejak era pembangunan proyek Dream Land; kemudian semua proyek pembangunan Dunia Fantasi-Dunia Fantasi tiruannya di berbagai negara yang didirikan untuk ramai-ramai dikunjungi sebagai wahana hiburan. Jadi, sekali lagi bukan merupakan sebuah realitas Meta sungguhan yang coba dibuka untuk bisa diakses oleh banyak orang.

Kemudian, apa yang perlu kita juga beri perhatian adalah bahwa kata yang digunakan setelah kata Meta- adalah kata -Verse. Sebuah kata yang semestinya memang sudah akrab di telinga kita para pegiat puisi. Sebab, kata Latin ini digunakan juga dalam nomenklatur Ilmu Puisi; untuk merujuk pada bentuk baris-baris bermetrum. Yangmana, pengertiannya sejalan ketika kata ini juga digunakan dalam nomenklatur Ilmu Fisika dalam istilah Uni-Verse: kesatuan dari berbagai kenyataan yang memiliki hukum (artinya bermakna) di setiap bagian-bagiannya.

Sehingga, kita di sini bisa kembali bertanya secara kritis, apa sebenarnya yang coba hendak diwujudkan oleh para pengembang Metaverse saat ini? Untuk coba memperoleh gambarannya lebih objektif, saya coba kutip langsung apa yang digambarkan Neal Stephenson sendiri dalam Snow Crash: “So Hiro’s not actually here at all. He’s in a computer-generated universe that his computer is drawing onto his goggles and pumping into his earphones. In the lingo, this imaginary place is known as the Metaverse. Hiro spends a lot of time in the Metaverse. It beats the shit out of the U-Stor-It.”

Jelas, bahwa apa yang hendak diwujudkan sebagai “Metaverse” dalam hal ini (sekali lagi) adalah sebuah dunia dari sekumpulan imaginary, dan bukan sebuah realitas-Meta yang sesungguhnya. Lebih tepatnya, dalam konteks ini sebuah dunia yang menampilkan berbagai citra visual yang merupakan kombinasi dari berbagai pancaran sinar yang bisa ditangkap oleh perangkat khusus, seperti oleh kacamata atau headset AR-VR; bukan sebuah dunia di mana berbagai dimensi bisa kita akses secara mudah melalui berbagai pembukaan gerbang-gerbang api dan cahayanya.

Jangankan ke arah yang demikian, ke arah menuju dunia yang tak sekadar festival visual saja tidak akan pernah terwujud; seperti munculnya ke permukaan dunia simbolis, metaforis, dan seterusnya dan seterusnya. Sebab, yang demikian hanya bisa diwujudkan jika kelompok pengembang bisnis ini berani menggandeng elit seniman sebagai pengarah budaya yang juga bervisi ke depan. Alih-alih, sebagaimana kita juga tahu, Mark dan tentu “Meta-verse”nya (Meta-verse yang bertanda kutip) mengatakan bahwa perusahaan pengembang (visual-visual)  iklanlah yang tetap akan menjadi partner utama dalam pembangunan lebih lanjut model bisnisnya. Sehingga, bisa ditebak sejak saat ini, dunia baru (baca: masyarakat virtual) yang akan muncul adalah lagi-lagi kamunitas masyarakat yang (kelak) cenderung konsumeristik ketimbang masyarakat yang poiETICS!

 

AI

Satu isu penting yang perlu direspon berbarengan isu yang baru kita bahas, adalah ketika seseorang ditemui tengah membincangkan perkembangan AI dan hubungannya dengan Puisi. Seperti yang mengkristal ke dalam sebuah pertanyaan, “apakah sebuah robot atau setidaknya sebuah mesin generator yang diperangkati dengan kecerdasan buatan ketika ia mampu membuat sebuah puisi (layaknya para pemuisi pada umumnya hingga pemuisi yang punya reputasi) bisa dikatakan hasil buatannya ada sebuah puisi?” Pada bagian ini, kira-kira saya akhirnya akan coba kembali menjawab soal itu. Sebab, saya mendapati pertanyaan demikian sudah berkali-kali, baik diajukan oleh kawan-kawan yang pernah mengikuti apa yang saya kerjakan dalam SainsPuisi (2015-terbit 2019) yang sebagiannya memang berhubungan dengan dunia AI, atau saya temui dalam sejumlah artikel lepas sebagaimana artikel yang akan dibahas secara khusus berikut.

Tak kurang dari dua pekan sebelum Mark mengumumkan pengubahan Facebook menjadi Meta, Riri Satria seorang pegiat komunitas sastra di Jakarta yang kebetulan sekaligus datang dari latar seorang pengajar program MTI di Fasilkom UI, membuat tulisan berjudul “Teknologi Kecerdasan Buatan dan Tantangan Masa Depan Puisi.” Dari judul saja kita sudah langsung tahu kemana arah tulisan tersebut dibawa. Sebuah tulisan yang sangat menarik sebab membawa isu yang sesuai dengan perkembangan zaman, juga sebab dibuka dengan bercerita kembali tentang kekalahan Gary Kasparov pada 1997 oleh DeepBlue (Super Komputer buatan IBM) yang begitu fenomenal dan cukup menggemparkan.

Secara umum, bisa dikatakan pandangan dan horizon yang dilontarkan Riri Satria sebenarnya termasuk yang paling maju ketimbang pandangan dan horizon sejumlah pegiat komunitas di lingkungan terdekatnya mengenai isu ini. Bahkan, jika kita menyebut nama-nama yang konon sering digadang-gadang sebagai “penyair papan atas,” justru malah kita menemukan mereka masih betah berendam sepenuh badan di kolam (pertukaran wacana) yang terus sama, yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.  Bayangkan, kita seperti terus-terusan diminta mengikuti wacana yang lagi-lagi soal Kesusasteraan Melayu Klasik dan sekitarnya tanpa bergeser sedikitpun. Atau,  membincangkan perpuisian Indonesia Modern yang juga masih melulu diMelayu-Melayukan tanpa visi untuk bergerak ke arah yang lebih depan.

Berbeda dari lingkungannya itu, Riri Satria justru dalam tulisannya mengetengahkan dua tulisan penelitian yang cukup urgen ke dalam perbincangan segar atas isu ini: (1) “A Chart Generator for Rhythm Patterned Text (1999),”  yang merupakan tulisan salah satu kawannya yang konon kemudian menjadi proto-text bagi disertasinya sendiri yang berjudul, “An Evolutionary Algorhytme Approach to Poetry Generation (Edinburg University: 2004),” dan (2) tulisan dari Hugo Goncalo Oliveir yang berjudul “Automatic Generation of Poetry: An Overview (Coimbra University: 2014).” Selain itu, Riri Satria sendiri pula menyampaikan secara pribadi isyarat kritisnya atas kondisi (percakapan) kesusastraan (di lingkarannya) yang macet sebagaimana ia ungkapkan: “… suka tidak suka, diterima atau tidak, faktanya ini sudah terjadi. Mesin komputer Google sudah mampu membuat puisi. Faktanya begitu!” sambil mengajukan salah satu site generator yang bisa melakukan hal tersebut (poem-generator.org.uk). Atau, dalam pernyataan panjangnya berikut:

“Tetapi, jika sudah berwujud akhir puisi, apakah bisa dibedakan mana yang diciptakan komputer, serta mana yang diciptakan manusia? Ini sebuah pertanyaan yang susah dijawab, namun menarik untuk dicari jawabannya. Suatu saat, saya ingin melakukan suatu eksperimen. Saya kumpulkan sejumlah kurator atau kritikus puisi, lalu saya minta mengevaluasi sejumlah puisi, separuh buatan manusia, dan separuh buatan komputer. Apakah mereka bisa membedakannya? Tetapi pada akhirnya, wawasan si kurator atau kritikus harus luas. Menurut saya, jangan-jangan proses kurasi puisi di masa depan harus dilakukan bekerjasama dengan pihak yang memiliki big data perpuisian seperti Google.”

Dalam paragraf tersebut, pandangannya jelas memukul sejumlah kalangan yang sering mengaku menjadi satu-satunya sebagai hakim atau polisi utama bagi puisi–namun menutup diri dari perkembangan yang ada. Tersirat di sana, bahwa komputer kedepannya bisa melakukan sesuatu jauh lebih baik dari manusia. Dan saya sangat sepakat serta tidak menampik itu.

Namun, tunggu dulu. Berkebalikan dari sikap inklusifnya, sayangnya dalam tulisan tersebut Riri Satria sendiri ternyata masih nampak bersikap ragu-ragu untuk melangkah lebih jauh. Pada sejumlah bagian dari tulisannya, masih terasa cukup kental sisa-sisa pandangan konservatifnya yang nampak sebagai “pembela manusia” dalam perkara proses penciptaan puisi. Misalnya ia katakan berikut: “Secara generik, proses penciptaan puisi oleh manusia itu melewati empat tahapan, yaitu, (1) observasi, (2) kontemplasi, (3) penyaringan emosi, (4) komposisi atau konstruksi. Semua dilakukan dengan melibatkan rasa, hati, dan pendalaman batiniah oleh manusia. Itulah yang membuat puisi memiliki daya gugah yang tinggi. Sementara itu, komputer melakukan keempat proses itu secara mekanistik atau algoritmik, tentu saja tanpa melibatkan rasa atau proses batiniah apapun.”

Betapa terasa kental jejak-jejak sifat konservatif pada bagian tersebut. Bagaimana bisa, pembelaan tersebut disandarkan pada argumen yang persis seperti kalangan romantik (yang cenderung selalu reaktif pada teknologi) bertolak pada aspek rasa, batin, emosi, atau mungkin aspek sejenis lainnya yang kini konon didaku sebagai penyebab dari munculnya ketergugahan dalam proses pembacaan? Padahal, jika kita balikkan saja lewat hipotesis yang diajukan di awal mengenai tes kritikus atas sejumlah puisi buatan manusia dan generator, mengenai apakah mereka bisa membedakan mana buatan manusia dan mana buatan mesin, segera asumsi romantiknya itu akan langsung runtuh. Sebab, pembaca, pada akhirnya akan tergugah ataupun tidak bukan karena puisi dibuat oleh siapa dan siapa, dengan perasaan apa dan bagaimana, tetapi, dari komposisi internal yang objektif pada puisinya. Kecuali, jika memang si pembaca adalah orang yang senantiasa bersikap fanatik dan tendensius akan status kepengarangan.

Belum lagi, jika kita tengok penelitian di kamar sebelah dari hasil temuan-temuan Neurosains yang juga mempengaruhi wacana apa, bagaimana (pikiran, pengetahuan, rasa, batin, hingga imajinasi) manusia yang juga pada akhirnya mempengaruhi penelitian soal apa dan bagaimana puisi bekerja dan dikerjakan, serta bagaimana AI itu sendiri diarahkan pengembangannya, hingga bagaimana hubungan antara keduanya, maka, pada dasarnya, sikap-sikap romantik yang defensif dalam memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (tantangan) yang berasal dari perkembangan sains dan teknologi terkini, adalah sebuah klise belaka. Dan, pada titik tertentu, jawaban yang demikian justru akan menghambat langkah ke depan dalam pengembangan perpuisian–kita.

Bayangkan, selama ini, kebanyakan pemuisi kita sesungguhnya sudah mengakui bahwa nature system memiliki daya puitiknya tersendiri yang lebih besar dibanding manusia, yang bahkan, seringkali manusia “menyusu” kepadanya untuk memperoleh inspirasi. Tetapi, mengapa saat ini manusia justru masih bersifat naif ketika berhadapan dengan perkembangan teknologi yang berbasis penelitian kecerdasan yang kelak akan makin bisa seribu kali lebih cerdas lagi dari yang sekarang sudah ada? Apakah, banyak dari mereka menganggap perkembangan teknologi terkini tidak lebih cerdas dari seekor burung yang berkicau di pagi hari hingga suara sungai di pegunungan yang menghasilkan ricik-ricik air di antara krikil yang diam seribu bahasa?

Pandangan yang konservatif serupa pula nampak terdapat pada bagian-bagian penutup artikelnya ketika ia mengungkapkan, bahwa, “kita (manusia) harus membuka ruang-ruang kreativitas yang baru yang merupakan keunggulan manusia yang tak pernah tergantikan oleh mesin. Inilah peluang kita untuk mempertegas mana porsi mesin dan mana porsi manusia.” (?!) Pertanyaannya, sejak kapan kreativitas adalah sebuah “hal” yang hanya dimiliki oleh manusia? Bukankah justru sebaliknya, sejak zaman kuno bahkan dipertegas dalam teks-teks kebudayaan Yunani, bahwa kreativitas adalah sesuatu yang “ditiru-tiru” oleh manusia dari apa yang hanya bisa dilakukan oleh Dewa, Demiurgos, atau Tuhan, yang bisa menciptakan segala sesuatu dari nol? Sedangkan manusia hanya mampu mengolahnya ulang?

Lantas, atas dasar apa kemudian dengan begitu optimisnya kita akan mendeskriditkan sebegitu dalam masa depan kecerdasan hingga kemampuan self-creation  dari mesin (komputasi), hanya misal sebab mesin adalah hasil dari kerja pemrograman yang dilakukan oleh manusia belaka? Apakah mesin akan selamanya sesederhana itu? Dengan munculnya berbagai penelitian dan pengembangan AI yang pesat, pandangan klasik yang mengatakan bahwa mesin hanyalah sebuah “kaleng berkabel” yang “cuma bisa” berfungsi sebagai kepanjangan tangan dan kaki dari manusia, semestinya sudah harus didaur ulang; jika memang dianggap masih memiliki manfaat. Jika tidak? Saya kira biarkan pemikiran itu segera berakhir saja di TPU.

Maka, sampai pada bagian ini, saya sendiri akan coba menjawab secara tegas pertanyaan yang sudah diajukan di muka, “apakah sebuah robot atau setidaknya sebuah mesin generator yang diperangkati dengan kecerdasan buatan ketika ia mampu membuat sebuah puisi (layaknya para pemuisi pada umumnya hingga pemuisi yang punya reputasi) bisa dikatakan bahwa hasil buatannya ada sebuah puisi?” Jawabannya, ya! Sebab, pada faktanya, banyak manusia bahkan hanya mampu membuat karya yang lebih buruk dari apa yang dibuat oleh komputer terkini. Yangmana, salah satu contoh yang sama fenomenalnya, pula bahkan sudah disebut oleh Riri Satria dalam artikelnya, yaitu, pada tahun 2020 awal, OpenAI, sebuah lembaga penelitian AI di San Francisco, mengumumkan sebuah AI ciptaannya, dengan kemampuan belajarnya yang mencapai tingkat tertentu, dapat membuat karya setara kualitas formalnya dengan apa yang pernah dibuat oleh Emily Dickinson. Sehingga, kita bisa bertanya, apa yang membuat manusia dianggap tetap selalu lebih unggul daripada mesin dalam membuat produk puisi jika faktanya demikian?

Saya kira, jawaban yang bisa dimunculkan sangat jelas arahnya. Segera, atau bahkan sudah lama sekali sejak berperadaban, manusia secara berangsur sudah tidak lagi lebih cerdas dari ciptaannya sendiri yang hidup di atas prinsip akumulasi pengetahuan baik yang terakumulasi dalam catatan di atas kertas apalagi yang kini tercatat dan menempel pada mesin–komputasi. Apakah kita merasa kurang sering mendapati meme bahwa zaman ini adalah zaman di mana telepon genggam telah berevolusi menjadi SmartPhone sedangkan mayoritas penggunanya menjadi semakin stupid? Sehingga tak bisa memahami situasi yang demikian? Oleh karenanya, peradaban ke depan–seni berpuisi di dalamnya, cepat ataupun lambat sangat mungkin tak lagi milik manusia, dan manusia saat ini tak perlu mengeluhkan hingga menangisinya. Peradaban seperti itu pasti akan terwujud, kecuali jika ada sekelompok manusia bodoh atau penganut sekte sesat kembali merusaknya dan membunuhnya sebelum beranjak dewasa.

 

POIESIS

Sebagai penutup, kembali saya mengulang soal ini. Bahwa Puisi–sabagimana saya ungkapkan dalam AvantPropose Sains Puisi, dengan “P” besar, yang memiliki akar katanya pada Poiesis, bukanlah sesuatu yang satu-satunya dimiliki oleh (jiwa) manusia.  Ia terjadi hampir pada setiap jengkal peristiwa alama semesta, yang justru dari Poiesis yang terjadi di setiap jengkal alam semesta itu, dimungkinkannya kehidupan sebuah makhluk hidup bernama manusia; kita semua.

Dari yang demikian itu, kemudian dimungkinkan atasnya kita mampu memanfaatkan segala yang muncul sebagai fakultas jiwa. Kemudian kita berkesenian, berbudaya, melalui kata-kata (logos), yangmana secara sempit kebanyakan orang saat ini masih berpandangan bahwa Puisi bersandar padanya–kata-kata. Padahal, tidak. Jangankan sekadar (dunia) kata-kata, bahkan, manusia sendiri dari sisi mana pun tak berhak secara absolut memilikinya. Sebaliknya, segala proses Puisilah yang justru menjadi dasar untuk menjelaskan keberadaan di sini kita semua–yang pada titik tertentu dengan segala turunan kreativitas individualnya.

Puisi bukanlah barang kerdil yang statusnya dapat dijatuhkan hanya sebagai kerja re-kreatif atau sebagai mentifak dari kerja kebudayaan manusia belaka, apalagi lebih rendah dari itu, seperti orang-orang di sekitar kita yang masih saja sibuk berpandangan dan berbicara soal puisi yang kaitannya melulu hanya dengan soal tips-tips atau tutorial membuat sesuatu menjadi lebih menggugah, picisan hingga lebay. Ia-Puisi, Poiesis, lebih akbar dari itu. Ia adalah gerak Agung yang tak terbatas, dan sebagai sebuah Sains, ia adalah sebuah paradigma dalam menjelaskan apa yang menjadi begini dan begitu dari segala ADA!

 

07 November 2021

 

 

Shiny.ane el’poesya (11 Juni 1991). Pernah melihat bulan kembar di usia taman kanak-kanak. Alumni Fakultas Falsafah dan Peradaban Univ.Paramadina, jurusan Falsafah dan Agama dengan minat pribadi pada kajian filsafat, peradaban dan seni. Pendiri Sains Puisi Lab., sainspuisi.com, Poiesis Indonesia. Penulis buku puisi Kotak Cinta (2017), Sains Puisi (2019), Bidadari Masehi (2020), Sayap Patah (2020), Bid(a)dari (2021), Anggur Kekasih: Setengah Tanka (2021). Bagi saya, Puisi itu tidak hanya aktivitas berurusan dengan kata-kata belaka. Puisi lebih jauh dari itu.

 

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *