LOADING

Type to search

Literary Terms [6]: Aliterasi, Konsonansi, Asonansi

Aliterasi adalah pengulangan bunyi ujaran dalam urutan kata-kata yang berdekatan. Istilah ini biasanya diaplikasikan hanya untuk konsonan, dan hanya ketika suara yang berulang untuk memulai sebuah kata atau pengulangan pada suku kata yang hendak ditekankan. Dalam metrum aliteratif Inggris Lama, aliterasi adalah perangkat penyusunan utama dari sebuah baris puisi: puisi Inggirs Lama tidak bersajak (maksudnya tidak menggunakan penekanan rima dengan vokal–Pen); setiap baris dibagi menjadi sepasang setengah-baris dari dua tekanan kuat dengan jeda yang menentukan, atau caesura; dan paling sedikit satu, dan biasanya keduanya, dari dua suku kata yang ditekankan di setengah baris pertama berhuruf-huruf dengan suku kata pertama yang ditekan di setengah baris kedua. (Dalam versi ini, sebuah vokal dianggap beralterasi dengan vokal lainnya.) Sejumlah puisi Inggris Pertengahan, seperti Piers Ploughman karya William Langland dan roman Sir Gawain and The Green Knight, keduanya ditulis pada abad keempat belas, masih menggunakan dan memainkan variasi gaya metrum aliteratif lama yang dimaksud. Pada rangkaian suku kata baris pembuka Piers Ploughman misalnya, di sana memberikan penekanan aliterasi:

In a somer séson, when soft was the sónne ….

Dalam tradisi Inggris selanjutnya, bagaimanapun, aliterasi hanya digunakan untuk efek gaya khusus, seperti untuk memperkuat makna, untuk menghubungkan kata-kata yang terkait, atau untuk memberikan warna nada dan meningkatkan palpabilitas pengucapan kata-kata. Contohnya adalah pengulangan konsonan s, th, dan w dalam Soneta 30 Shakespeare:

When to the sessions of sweet silent thought I
summon up remembrance of things past, I
sigh the lack of many a thing I sought
And with old woes new wail my dear time’s waste….

Bagaimanapun, berbagai pengulangan bunyi ujaran lainnya diidentifikasi dengan istilah khusus:

Konsonansi adalah pengulangan urutan dua konsonan atau lebih, tetapi dengan intervensi pada perubahan vokal: live-love, lean-alone, pitter-petter. Puisi W. H. Auden tahun 1930-an, “O where are you going? Sain reader torider,” memanfaatkan perangkat ini secara menonjol; bait terakhir berbunyi:

“Out of this house”—said rìder to reader,
“Yours never will”—said farer to fearer,
“They’re looking for you” said hearer to honor,
As he left them there, as he left them there.

Asonansi adalah pengulangan vokal yang identik atau serupa—terutama pada suku kata yang ditekankan—dalam urutan kata-kata yang berdekatan. Perhatikan i panjang yang berulang dalam baris pembuka dari “Ode on a Grecian Urn” (1820) milik Keats:

Thou still unravished bride of quietness,
Thou foster child of silence and slow time….

Efek Asonansi yang kaya bisa kita temukan di awal “Ode to Evening” karya William Collins (1747) yang dicapai dengan urutan perubahan vokal yang berpola:

If aught of oaten stop or pastoral song,
May hope, chaste Eve, to soothe thy pensive ear…

Untuk kasus khusus dari pengulangan vokal dan konsonan dalam kombinasi, lihat sajak.

 

Sumber: A Glossary of Literary Terms, Seventh Edition, M.H. Abrams
Diterjemahkan oleh Shiny.ane el’poesya

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds