LOADING

Type to search

Literary Terms [3]: Kekeliruan Afektif

Kekeliruan Afektif.  Dalam sebuah esai yang diterbitkan pada tahun 1946, W. K. Wimsatt dan Monroe C. Beardsley mendefinisikan Kekeliruan Afektif sebagai kekeliruan dalam menilai sebuah puisi yang dipijakkan berdasarkan efeknya—terutama efek emosionalnya—pada pembaca. Sebagai akibat dari kekeliruan ini, puisi itu sendiri–sebagai objek penilaian kritis–cenderung menghilang, sebab (dan sehingga) kritik “berakhir pada impresionisme dan relativisme.” Kedua kritikus tersebut menulis mengenai ini sebagai reaksi langsung terhadap pandangan I. A. Richards yang dalam bukunya Principles of Literary Criticism (1923), mengatakan bahwa nilai sebuah puisi dapat diukur berdasarkan respon psikologis yang ditimbulkannya pada pembaca. Beardsley, sejak itu telah merevisi klaim sebelumnya yang mengakui bahwa “tampaknya evaluasi kritis tidak dapat dilakukan sama sekali kecuali dalam kaitannya dengan jenis efek tertentu yang dimiliki objek estetika terhadap pengamatnya,” menjadi sebuah klaim untuk kritik objektif, di mana kritikus, alih-alih dapat menggambarkan efek sebuah karya, dituntut agar berfokus pada fitur, perangkat, dan bentuk karya yang dengannya efek tersebut kemudian bisa dicapai. Reaksi balik yang ekstrim terhadap pandangan Kekeliruan Afektif ini termanifestasi selama tahun 1970-an dalam perkembangan kritik Reader-Respons.

Lihat: Wimsatt dan Beardsley, “The Affective Fallacy,” dicetak ulang dalam W. K. Wimsatt, The Verbal Icon (1954); dan Monroe C. Beardsley, esthetics: Problems in the Philosophy of Criticism (1958), hlm. 491 dan bab 11. Lihat juga konsep terkait Intentional Fallacy oleh Wimsatt dan Beardsley.

 

Sumber: A Glossary of Literary Terms, Seventh Edition, M.H. Abrams
Diterjemahkan oleh Shiny.ane el’poesya

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AVANT PROPOSE


Puisi berasal dari bahasa Yunani, Poiein (buat/making) dengan tambahan -is (aktivitas) di belakangnya. Poiein+is, Poiesis (aktivitas membuat ulang). Kata ini digunakan dalam banyak konteks yang tak hanya pada pekerjaan seni atau lebih khusus seni berbahasa; pada kerja manufaktur hingga dalam penerapan ilmu kedokteran. Contoh yang paling sering saya bawa misalnya pada kata Hematopoiesis (proses natural pembuatan ulang darah: proses pengembangan darah di dalam tubuh yang melibatkan pembelahan hingga diferensiasi kefungsian sel). Akan tetapi, dalam hal ini baiklah kita batasi saja pada kegiatan seni membentuk ulang bahasa, yangmana, para pemikir Yunani ...

Klik Di sini

 

This will close in 0 seconds