LOADING

Type to search

Literary Terms [2]: Estetisisme, atau Gerakan Estetika

Estetisisme, atau Gerakan Estetika, adalah sebuah fenomena yang terjadi di Eropa selama akhir abad kesembilan belas yang berpusat di Prancis. Gerakan ini menentang dominasi pemikiran ilmiah. Penulis Prancis mengembangkan pandangan bahwa karya seni adalah nilai tertinggi di antara produk manusia justru karena itu mandiri dan tidak memiliki kegunaan atau tujuan moral di luar keberadaannya sendiri. Akhir dari sebuah karya seni hanyalah untuk eksistensi karya itu sendiri dalam kesempurnaan formalnya; yaitu, menjadi indah dan direnungkan sebagai tujuannya itu sendiri. Seruan Estetika kemudian menjadi dikenal dengan ungkapan l’art pour l’art—seni demi seni.

Akar sejarah Estetisisme berasal dari pandangan yang dikemukakan oleh filsuf Jerman Immanuel Kant dalam bukunya Critique of Judgment (1790) yang di dalamnya mengatakan bahwa pengalaman estetis “murni” terdiri dari perenungan “tanpa pamrih” terhadap suatu objek yang “menyenangkan atas dirinya sendiri,” tanpa mengacu pada realitas atau tujuan “eksternal” dari kegunaan atau muatan moralnya. Sebagai gerakan kesadaran, Estetisisme Prancis sering diidentikkan berasal dari ungkapan Théophile Gautier atas pernyataannya bahwa seni hakikatnya “tidak berguna” (kata pengantar Mademoiselle de Maupin, 1835). Estetisisme juga dikembangkan oleh Baudelaire, yang sangat dipengaruhi oleh klaim Edgar Allan Poe (dalam The Poetic Principle, 1850) yang mengatakan bahwa karya tertinggi adalah puisi per se, puisi yang ditulis semata-mata demi puisi itu sendiri; pandangan ini kemudian diadopsi oleh Flaubert, Mallarmé, dan banyak penulis lainnya. Dalam bentuknya yang ekstrem, doktrin estetis “seni untuk seni” membelok ke dalam doktrin moral dan semi-religius tentang kehidupan demi seni, dengan seniman yang direpresentasikan dalam wujud sebagai pendeta yang melepaskan keprihatinan praktis dari kehidupan biasa untuk megikuti apa yang Flaubert dan lainnya sebut sebagai “agama keindahan”.

Pandangan Estetisisme Prancis diperkenalkan ke Generasi Victoria Inggris oleh Walter Pater, dengan penekanannya pada kecerdasan tinggi dan kehalusan gaya, rekomendasinya untuk memenuhi kehidupan seseorang dengan sensasi akan yang indah, dan advokasinya atas nilai tertinggi keindahan dan cinta seni untuk seni itu sendiri. (Lihat Kesimpulannya untuk The Renaissance, 1873.). Pandangan artistik dan moral Estetisisme juga diungkapkan oleh Algernon Charles Swinburne dan oleh penulis Inggris tahun 1890-an seperti Oscar Wilde, Arthur Symons, dan Lionel Johnson, serta oleh para seniman J.M. Whistler dan Aubrey Beardsley. Pengaruh ide-ide yang ditekankan dalam Estetisisme—khususnya pandangan tentang otonomi sebuah karya seni, penekanan pada kriya dan seni, dan konsep puisi atau novel sebagai karya itu sendiri yang sebagaimana diinvestasikan melalui nilai-nilai intrinsiknya, telah menjadi sesuatu yang penting dalam tulisan-tulisan para penulis terkemuka abad kedua puluh seperti W.B. Yeats, T.E. Hulme, dan T.S. Eliot, serta dalam teori sastra Kritik Baru.

Untuk perkembangan terkait, lihat Decadence dan Ivory Tower.  Merujuk pada: William Gaunt, The Aesthetic Adventure (1945); Frank Kermode, Romantic Image (1957); Enid Starkie, From Gautier to Eliot (1960); R.V. Johnson, Aestheticism (1969). Untuk kondisi intelektual dan sosial selama abad kedelapan belas yang memupuk teori bahwa sebuah karya seni adalah tujuan itu sendiri, lihat M.H. Abrams, Art-as-Such: The Sociology of Modern Aesthetics, dalam Doing Things with Texts: Essays in Criticism and Critical Theory (1989). Kumpulan tulisan yang berguna dalam Gerakan Estetika adalah Ian Small, ed., The Aes thetes: A Sourcebook (1979), dan Eric Warner dan Graham Hough, eds., Strangeness and Beauty: An Antology of Aesthetic Criticism 1848-1910 (2 jilid.; 1983). Panduan deskriptif yang berguna untuk buku-buku tentang subjek ini adalah Linda C. Dowling, Aestheticism and Decadence: A Selective Annotated Bibliography (1977)

 

Sumber: A Glossary of Literary Terms, Seventh Edition, M.H. Abrams
Diterjemahkan oleh Shiny.ane el’poesya

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *