LOADING

Type to search

Sebelum Masuk ke Dalam Dunia Puisi Shiny.ane el’poesya; Sebuah Pengantar Buku Puisi “Anggur Kekasih: Setengah Tanka.”

Oleh: Imron Tohari

Puisi yang dibangun dari hasil tangkapan sensoris, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang ditulis dalam pola tertentu, hendaknya, mesti dipahami hal-hal yang menjadi latar belakang lahirnya konsep termaksud—hal ini dimaksudkan untuk dapat menciptakan kesan atau gema yang mampu memberi tekanan secara gambaran mental/mental imagery. (lifespirit, 29 Maret2015)

 

Buku Anggur Kekasih: Setengah Tanka Shiny.ane el’poesya, dibagi dalam tiga bab. Bab I terdiri dari 58 puisi dengan judul Anggur Kekasih. Bab II terdiri dari 28 puisi dengan judul Setengah Tanka I. Dan, bab III terdiri dari 32 puisi dengan judul Setengah Tanka II. Keseluruhan, kalau diprediksi tebal buku kira-kira 120an halaman, di luar pengantar ini dan epilog yang akan dihadirkan juga.

Membaca buku antologi tunggal puisi Shiny, bab I Anggur Kekasih, secara umum gaya ungkapnya tidak berbeda jauh dengan gaya pengungkapan puisi-puisi yang juga dipakai sebagai sarana pengungkapan para penulis puisi lainnya, dalam pengertian, pesan dan amanat yang ingin disampaikan pada pembaca, lebih banyak bertumpu pada gaya ungkap citra konkret imajis, teknik paradoks dengan sedikit kombinasi gaya bahasa perbandingan/ perumpamaan (majas), serta secara form tidak terikat bentuk atau pola tuang tertentu; kecuali Haiku pada beberapa.

Secara umum, gaya ungkap citra konkret imajis—teknik penyajian yang sering dijumpai pada karya-karya sastra Jepang semisal haiku, tanka, dan haibun (gabungan mini prosa dan haiku)–yang digunakan oleh Shiny dalam bab I, saya pikir terinspirasi gaya ucap penyajian karya sastra Jepang yang saya maksudkan itu, bukan secara khusus pada pola tuangnya; pada ruh atau penjiwaannya dalam membangun gambaran mental aku lirik. Dalam pengertian ini, seolah ingin menawarkan keleluasaan secara eksklusif pada pembacanya untuk menciptakan sendiri pesan atau amanat yang dibawa teks puisi, melalui kesan atau gema yang–secara pikiran sadar dan pikiran alam bawah sadar–bersentuhan dengan sisi emosional atau gambaran mental masing-masing pembaca. Untuk memberi gambaran dari apa yang dimaksud, di sini saya hadirkan 2 puisi yang diambil secara acak dari bab I Anggur Kekasih, berikut:

Tak Ada Yang Abadi

Aku berdiri di depan sebuah telaga
menatapnya tenang dengan saksama
dan tiba-tiba kulihat dari sebuah jatuh daun
pecah riak air bersamaan pecahnya cahaya
langit sore yang kian gelap oranye

Aku berdiri di depan kedai sebuah kaki bukit
ketika malam tiba dan kulihat bulan
di atas pohon bersinar putih
namun tiba-tiba ia pula mulai diselimuti awan gelap
yang perlahan merayap dan mendekap

Tumbuhlah pohon-pohon, tumbuhlah pohon-pohon
pohon-pohon yang tanpa tubuh dan nama-nama
Dari setiap dingin yang jatuh mekarlah bunga-bunga
sebab, di mana hati dapat dengan kokoh berdiri, bila semua
musim menghablur lembap, murung seperti ini?

Mei, 2012

 

Di Musim Dingin

Di musim dingin, selalu ada daun
daun berserakan yang kering
daun yang ringan namun memberi tanda
bahwa di dalam proses, gerak pun terasa berat

Dan angin bisa gugur berjatuhan

14 Desember 2014

Namun, disamping sejumlah puisi yang terkesan memberi keleluasaan pada pembacanya dalam menciptakan hantaran pesan atau amanat puisi, dalam bab I Anggur Kekasih, pada beberapa puisinya Shiny juga coba menghadirkan dengan tegas (menghantarkan sendiri) pesan amanat puisinya dengan gaya pengucapan yang semi mbeling  dengan nuansa satire dan lagi paradoks yang kental, sebagaimana contoh dua puisi yang saya ambil secara acak/random di bawah ini:

Sutan Takdir

Sutan Takdir, selalu disebut-sebut namanya
sebagai orang nomor satu sampai sekarang
dalam obrolan-obrolan tentang Polemik Kebudayaan
juga sebagai pelopor Poejangga Baroe
Tetapi, buku-buku tentang filsafat dan bahasanya
dilupakan. Hampir tak tersentuh oleh kebanyakan
penyair zaman sekarang yang kapiran!

Juli 2014

Chairil

Chairil Anwar: “Playboy kapiran!”
kalau kata orang tua Jawa dulu
Gak punya duit, tetapi semua gadis dipacari

Tetapi, itu artinya kata-kata memang berarti
Puisi bisa masuk begitu jauh ke jantung
Ke ulu hati gadis-gadis yang berkepala suci

Juli 2014

Keberanian Shiny penyair muda kelahiran Cirebon, 11 Juni 1991 dalam berekspresi dan berkreativitas dengan menawarkan kesegaran bentuk pola tuang serta gaya ungkap puisi, baru terlihat dalam bab II & III, yang diberi judul Setengah Tanka I dan Setengah Tanka II. Penjelasannya sebagaimana berikut.

Tahun 2000-an (hingga catatan pengantar ini ditulis), berpuisi dengan gaya pengungkapan bertumpu pada citraan dan sedikit penggunaan gaya bahasa (majas), semakin banyak diminati dan diposting di media sosial (internet). Gejala ini sejalan dengan maraknya puisi-puisi pendek jepang seperti puisi haiku, tanka, senryu, haibun, dll. Dan, mungkin ini juga yang menjadi salah satu latar Shiny melakukan eksperimen kreatif (menawarkan gaya pengungkapan dengan pola tuang berdasarkan tata aturan tertentu yang unik) yang diilhami dan dinafasi “pola tuang”, gaya ungkap, maupun gaya pengucapan dari puisi-puisi pendek Jepang tersebut. Shiny melakukannya dengan penyatuan unsur-unsur yang menafasi masing-masing pola, ke bentuk pola tuang baru dalam cara menyusun/mengkombinasikan unsur-unsur secara khas dan sistematis.

 

Setengah Tanka I dan Setengah Tanka II, begitu tulis Shiny dalam bab II dan bab III. Dan saya yakin, ketika membaca judul bab itu, yang pertama kali terlintas dipikiran calon pembaca adalah perihal yang berkaitan dengan pola tuang puisi Tanka, terutama struktur bentuknya yang menggunakan pola 575-77 suku kata (onji). Atau, anda bisa saja berpikiran Setengah Tanka yang dimaksud, adalah penggunaan salah satu dari dua bagian form Tanka—form atas (575) atau form bawah (77). Salahkah jika muncul pemikiran seperti itu? Jika itu anda tanyakan pada saya, tentu akan saya katakan tidak. Sebab, jika dicermati, pola tuang yang diciptakan oleh Shiny, khususnya memang jelas terinspirasi dari pola tuang Tanka dan Haiku. Atau mungkin, di Setengah Tanka I, pada setiap bait tiga, saya pikir lebih dekat dengan nafas haibun serta teknik penampakan kireji (dalam menciptakan Ma: ruang keheningan/ ruang jeda sesaat) yang sering ditampakkan pada haiku dua larik.

Bentuk pola tuang dalam karya Setengah Tanka I, perhatikan puisi SEPASANG RASI dan BINTANG DI LANGIT, bait pertama (575) dan bait kedua (757), secara bentuk/pola tuang, gaya pengungkapan dan pengucapan, bernafaskan batas atas tanka yang merupakan perwujudan dari pola tuang haikai—atau haiku. Dalam konteks ini, ruh puisi maupun pola tuang yang digunakan oleh Shiny adalah sepenuhnya haiku, walaupun sesungguhnya frasa atas yang digunakan terkadang cenderung agak longgar (bisa dengan kigo ataupun tidak) dalam mendeskripsikan, merepresentasikan, maupun dalam mengekspresikan aspek kejiwaan diri (nada sedih, kecewa, gembira, dll) yang dipengaruhi hasil tangkapan indra sensoris: dari alam, tradisi & kebudayaan.

Secara teori, penggunaan majas—penyajian dalam bentuk citraan konkret, sering dimanfaatkan para tankais untuk daya cipta keindahan dalam pengucapan tanka. Sedangkan untuk menyatukan citraan antar bait (Bait I dan Bait II), larik tiga (L3) pada bait pertama, diperanfungsikan sebagai pivot (Poros/titik tumpu) yang merekatkannya dengan citraan yang ditampilkan oleh bait dua. Dan dalam Setengah Tanka I, kehadiran bait tiga yang berpola tuang tiga larik dengan tiap lariknya mensyaratkan masing-masing 12 sukukata, justru yang muncul adalah satu kesatuan utuh larik dalam bait, yang mana membuat kesan gaya pengungkapan haibun dan haiku dua larik lebih dominan dari pada gaya pengungkapan tanka itu sendiri.

Penyatuan antar larik bait pertama dengan bait kedua sesuai dengan kedudukan tiap larik, saya melihat ini semacam usaha parafrasa dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi yang tertunda dalam bait I dan bait II, yang sebelumnya lebih menekan pada nada atau emosi dan hanya diposisikan sebagai larik imajis dengan kata yang konkrit. Adanya parafrasa ini, menghadirkan gaya pengungkapan yang berbeda; secara kesatuan utuh saya mendapati ruh haibun dan gaya pengungkapan haibun (bentuk perpaduan mini prosa dengan haiku), yang dalam mendeskripsikan, menyajikan, menggambarkan, memaparkan dan atau mempresentasikan kata-kata secara jelas, dengan memberi ruang kesan secara implisit (tersirat). Sedangkan dari perwujudan penulisan yang dirapatkan dalam satu kelompok frasa/klausa sendiri–dengan syarat menyediakan satu ketukan spasi, serasa dinafasi gaya pengungkapan teknik haiku dua larik. Dan yang paling pokok, penggambaran dari satu kesatuan utuh bahasa ungkap, dalam hubungannya secara semantik, sintaksis, dan fonologi, mampu menciptakan ruang keheningan, permenungan, kontempelasi (ruang Ma). Untuk lebih jelas, perhatikan diagram alir I. …

 

Sedangkan bentuk penyajian pola tuang Setengah Tanka II, secara pola tuang dinafasi dua larik terakhir form tanka yang 77 suku kata (onji), hanya dalam konteks ini Shiny mensyaratkan volume kata LI terdiri dari 11 suku kata, dan LII terdiri dari 6 suku kata dalam tiap baitnya. Bisa jadi pembagian jumlah suku kata ini jika ditarik benang merah dengan tanggal dan bulan kelahiran yang saya sampaikan di awal, memang secara filosofi

(… want to reading the book?) 

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *