LOADING

Type to search

BUAH ARA PALESTINA – Farrah Sarafa

BUAH ARA PALESTINA – Farrah Sarafa

Dunia batin berbaris coklat seperti bumi,
berwarna emas seperti kegembiraan ilahi,
ras orang yang terjajah memohon
tibanya cahaya langit yang melarungkan
kekhawatiran mereka
ke Laut Mati.

Gelembung yang menggumpal,
butiran gula yang mengembun
layaknya apel karamel yang mendidih
di dalam lidahku yang panas. Aku membayangkan
ancaman tentara menyebabkan hal serupa
kepada anak-anak miskin di sana yang telah lama
terpaksa harus berkorban

ketenaran, pengetahuan dan keterampilan
mereka. Buah ara manis
yang mencengkeram kulit luar yang keriput
seperti tangan seorang kakek yang dibuat jadi suci
dengan rasa takut, rasa jijik, kerinduan untuk menangisi
kedamaian dengan air mata
yang terbentuk dari rasa sakit awan-awan

menunggu untuk dicicipi dan dirasakan.
Luka yang dihasilkan dari ranting yang kering dan manis,
beristirahat di bumi, datang bersama,
kencangkan, gulung, dan susut
menjadi bola-bola kecil yang disebut biji
yang mereproduksi dari kelaparan, penghinaan
dan kebutuhan
jiwa

Palestina. Mereka berenang dalam ingatan
leluhur mereka yang terkubur,
yang hidupnya, hancur, memelihara
tanah pohon ara, menyatu menjadi biji
yang menyusun buah ara.

Hati yang emas–bumi yang berbintik, rasa yang kuat,
janji teragung yangmana Anda
akan menikmati udara Arab
yangmana akan Anda hirup saat Anda makan buah ara
dari nenek moyangku.

(Diterjemahkan oleh Shiny.ane el’poesya)

__________________
PALESTINIE FIG
__________________

Inner worlds lined brown like the earth,
tinted gold like divine mirth,
the occupied race of people plead
for an outside light to dissolve their worry
into the Dead Sea.

Dense bubbles, sugar grains condense
like caramel apple heating
under my hot tongue. I imagine
soldiers’ threats induce a similar
effect on their poor children who have long been
constrained to sacrifice

their fame, knowledge and skill. Sweet fig flesh
that grips wrinkled outer skin
like old native man’s hands made hallow
from fear, disdain, longing to cry peace by tears
formed from the pain of clouds

waiting to be tasted and felt.
Pains produced from sweet-thirsty twigs,
resting on the earth, come together,
tighten, roll, and shrink into small balls called seeds-
reproduce from the hungers, contempt and needs
of Palestinian

souls. They swim in the memories
of their buried ancestors,
whose lives, disintegrated, nourish
fig tree soils, coalesce to become seeds
that constitute fig fruit.

Hearts gold- earth speckled, firm flavor,
a seeded promise that you
will savor the Arabian air
that you will inhale when you eat a fig
from my ancestors.

________

Farah Sarrafa adalah seorang penyair Arab-America. Lahir dari seorang ibu berkebangsaan Palestina dan seorang Kaldea dari sisi ayah. Selain sebagai seorang penyair, ia dikenal di lingkungannya sebagai seorang aktivis dan pegiat budaya. Puisinya yang berjudul “Palestine Fig” pertama kali dipublikasikan di tanah Arab. Puisinya yang lain seperti, “Let the Land Choose”, “Warfire”, “The Dead Sea”, dan “Blood, Sand, and Tears of a Young Boy” dimuat di sejumlah majalah, dan antologi bersama. Terinspirasi oleh Edward Said–pada karyanya Orientalism, Farah Sarrafa merintis studinya hingga menjadi seorang profesor yang berpandangan post-kolonial. Saat ini, Sarafa bekerja sebagai Profesor Sastra dan Bahasa Modern di Pace University, Manhattan.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *