LOADING

Type to search

Keponakan Jibril Bersama Maharesi; Sebuah Pengantar Di Belakang Burung-Burung Tuhan

Oleh: Shiny.ane el’poesya

Sampai saat pengantar singkat ini ditulis, mungkin masih banyak yang mengira bahwa jumlah penulis karya sastra di Cirebon (sejak tahun 2000an awal) bisa dihitung oleh hanya dengan beberapa jari. Terlebih, jika kita mengacu pada jumlah penulis puisi. Ini tercermin dari sejumlah pengakuan para remaja yang terlihat aktif di berbagai kegiatan seni tulis di Cirebon, yang jika diminta untuk menyebutkan nama, maka hanya mampu menyebutkan lagi-lagi nama yang itu-itu saja.

Tapi sebentar! Tunggu dulu! Sebab jika kita ingin melihatnya dengan lebih teliti, serta dengan basis pengumpulan informasi yang cukup, maka sebenarnya pendapat yang demikian itu bisa jadi cenderung menyesatkan. Mengapa? Sebab, pendapat demikian biasanya hanya bertumpu pada nama siapa saja dari mereka yang dikenal sebab memiliki komunitas, atau dalam bahasa yang praktikal, berhasil menghadirkan citranya ke tengah-tengah tali kesadaran populer. Lepas dari itu, tak jarang eksistensi kepenulisan seseorang di Cirebon seakan-akan “tertunda di balik meja” sebelum menjadi sosok terkenal; untuk tidak mengatakan tidak dianggap ada sama sekali.

Oleh karenanya, ketika menerima naskah yang ada di tangan pembaca ini, naskah yang sekaligus di dalamnya memuatkan dua nama penulis puisi, rasannya begitu senang dan bangga. Sebab, dengan itu setidaknya penerbitan ini bisa sedikit merasa sudah berdiri di sisi jalan yang tepat, yaitu, dengan bisa membantu mempublikasikan apa yang “tertunda di balik meja” itu.

**

Ada yang menarik ketika mendapatkan sebuah informasi bahwa Kang Syarif pada akhirnya memutuskan untuk menerbitkan tulisan-tulisannya. Sebab, sejauh yang kita semua tahu, Kang Syarif adalah seorang yang telah melalu-lintang ke berbagai kegiatan komunitas dan aktivitas di belakang gelaran kesusastraan (juga kepesantrenan) di Cirebon. Dalam forum-forum diskusi baik formal maupun informal, dalam pergaulan sehari-hari, Kang Syarif teruji tidak pernah mengambil diri ke dalam sebuah sekat-sekat komunitas. Ia masuk (baca: bersedia mendatangi) hampir ke semua perkumpulan di mana kesenian khususnya kesusastraan dibicarakan. Vitalitasnya yang demikian, sungguh-sungguh melebihi vitalitas banyak kaula muda pegiat seni di Cirebon, yang sering kali terbiasa hanya berkumpul di masing-masing titik perkongkowannya. Idealismenya dalam berkesenian pula begitu melampaui yang lainnya, di saat kita semua hampir menyadari bahwa di Cirebon ada semacam “mentalitas kultural” antar komunitas yang cenderung berlaku “hukum rimba.” Ia mendatangi semua komunitas dan perkumpulan untuk mencari ilmu bukan untuk berdebat, untuk memperhalus diri bukan untuk memperkeukeuh diri, apalagi untuk mencari musuh. Namun, demikian Kang Syarif belum pernah terlihat turut menerbitkan buku sastra apapun, hatta itu sekadar turut dalam sebuah buku antologi beramai.

Kang Syarif adalah seorang yang berada di tengah semua kalangan. Baik dari perbedaan latar belakang, kecenderungan kelompok, umur, bahkan generasi para pengiat sastra di Cirebon. Di saat yang bersamaan–dalam pergaulan sehari-hari sambil setengah bergurau–ia kerap menyebut dirinya sebagai “Keponakan Jibril.” Sebuah metafora yang menandakan di mana titik diri eksistensial dari yang menyebutkannya. Sebuah metafora yang juga begitu terasa sangat orisinil akan sosok kedirian dari seorang penyair.

Sejauh yang terbaca, metafora “Keponakan Jibril” demikian tidak pernah dicetuskan oleh penyair manapun sepanjang sejarah kesusastaraan Indonesia. Dan, bukankah sebuah metafora eksistensial adalah suatu hal yang dipertaruhakan antar satu Penyair Indonesia dan Penyair Indonesia lainnya untuk menandakan titik kepenyairan itu sendiri yang tidak semua berhasil mendapatkannya? Hanya segelintir penyair seperti Chairil misalnya di era Poejangga Baroe yang menemukan frasa “Binatang Jalang” untuk menandai ambang eksistensialnya. Terlebih, di zaman banjir puisi, metafora sering kali begitu mubadzir dihambur-hamburkan oleh generasi penulis terkini, yang hampir-hampir tanpa pergulatan eksistensial serius yang mendasar akannya. Kalaupun iya, pergulatan itu mentok hanya pada permainan citra-citra chaotik atau keburu mendaku surealis, padahal hanya bermodalkan lamunan-lamunan nganggur.

Beberapa gambaran bahwa metafora “Keponakan Jibril” bukanlah sebuah permainan bibir belaka misalnya, jika kita mendatangi kediaman Kang Syarif, maka kita akan menemukan sebuah kediaman yang tidak biasanya menjadi kediaman orang saat ini. Bukan hanya dari perwujudannya yang berupa sebuah gubuk–yang tanpa dialiri listrik, tetapi bagaimana cara Kang Syarif sendiri memperlakukan ruang hidupnya sebagai sebuah jalinan alam langit kecil.

Sebuah kisah. Satu hari yang telah lama menjelang Isya, Kang Sayrif pernah telihat tengah duduk sendiri di balai depan gubuknya; sebuah balai yang rusak, teramat berdebu dan hampir remuk, namun beruntung kaki-kakinya masih kuat menopang sehingga tak roboh. Sebagai orang yang baru beberapa minggu kenal saat itu, saya bertanya, “Kang, kenapa ini tidak dibenahi atau setidaknya dibersihkan?” Lalu dengan artikulasi yang kuat dan sadar ia menjawab, “Kenapa saya mesti membenahi dan membersihkan ini semua? Orang yang mendirikannya saja sudah tidak ada yang peduli?! Itu ada gubuk, isinya penuh buku-buku yang tidak mungkin bisa dilahap habis dalam setahun dua tahun, dan di depannya sebuah balai yang luas untuk diskusi. Biji kopi dan api senantiasa tersedia, apalagi sekadar air yang jatuh langsung dari langit keenam belas. Kurang apa? Tetapi ditinggalkan. Lalu, apa faedahnya buat saya? Enak saja!” Ya, menurut penuturannya balai di depan gubuknya itu adalah semula sebuah balai untuk kumpul berdiskusi, tetapi kemudian ditinggalkan sebab para pelakunya sudah memilih kafe-kafe, rumah makan-rumah makan, atau tempat-tempat bergaya hidup modern lain sejenisnya untuk nongkrong-nongkrong. Jujur saja, jawaban itu membuat saya tertegun tanpa sepatah kata pun. Bukan sebab saya tak bisa mengelak, atau mengajukan pertanyaan serta penyataan lainnya soal kondisi balai itu. Saya tertegun, sebab jelas perkataannya memukul persis watak dan cara berkesadaran generasi–yang oleh Kang Syarif disebut sebagai generasi–millenial sial saat ini! [duh!]

Di hari yang lain, di tengah mulai meluasnya pandemi ke daerah-daerah, di sebuah sore ba’da Ashar, Kang Syarif pernah ditemui tengah memanaskan air di atas tungku di depan gubuknya. Sebab melihat di sebelahnya terdapat pula sebuah api pembakaran, akhirnya saya melontarkan satu pertanyaan retoris sebagai pembuka obrolan. ”Sedang bakar apa, Kang?” Sambil melongok ke hangat api. “Wah, ubi dan singkong ternyata. Menu makan sore yang nikmat ini!” Mendengar itu, Kang Syarif kemudian menyambut dengan perkataan, “Siapa yang mau makan-makan? Enak saja! Saya sedang memberi makan api dengan sampah-sampah yang berserakan di dunia!” Kembali, hati saya sebenarnya tertegun dan merenung di dalam kepada sepanjang obrolan santai selanjutnya.

Di sebuah sore yang lain–menjelang petang, saya pernah menemui Kang Syarif tengah berdiri di gigir jalan dekat dari gubuknya. “Sedang nunggu siapa, Kang?” tanyaku setelah menghentikan motor. ”Sedang menunggu santri Millenial Sial! Macam-macam dia. Janji habis Ashar sudah hampir jam 5 belum juga datang. Ditelpon, alasannya motornya dipake, bannya kempes, ini itu!” ungkapnya, geram. “Yasudah, Kang. Saya yang antar saja. Lain kali, kalau memang mau kemana telpon saya aja. Kalau pas kebetulan sedang ga lagi di tempat kerja, nanti saya coba samper,” coba menawarkan. Tetapi, cobalah kita dengar jawabannya, “Kamu mau ngajak berantem Keponakan Raja Namrud?” Sebuah julukan yang juga sering ia gunakan untuk dirinya ketika sedang kesal kepada seseorang. Julukan yang digunakan untuk menandai bahwa sebenarnya ia bisa saja melakukan tindakan melampaui batas kepada orang-orang yang membuatnya kesal. “Hati-hati kamu bicara. Karena itu harus dipertanggung jawabkan!” Ia menekankan, bahwa manusia itu lidahnya begitu ringan. Ngomong ini ngomong itu. Tetapi, sering kali mengangkat satu kaki untuk melangkah saja terasa seperti mengangkat gunung.

Kang Syarif menggambarkan dirinya sebagai sosok seorang Keponakan Jibril. Andai kita telusuri penggunaan perumpamaan ini (sekali lagi bukan sekadar permainan semantik tetapi dari dialektika eksistensial sang pe-laku), ia bukan pula digunakan sebagai kebanggaan, melainkan sebagai sebuah tanggung jawab pada dirinya. Bukan pula, sebagaimana tangung jawab Jibril itu sendiri–atau Hermes dalam Mitologi Yunani–yang memiliki tugas sebagai penyambung lidah Tuhan dengan manusia. Ia–Kang Syarif, dengan rendah hati menempatkan dirinya sebatas sebagai pembelajar yang dalam kesepi-sendiriannya hidup dibimbing langsung oleh Jibril, sebagaimana dua Musa di zaman Fir’aun. Ketika tanggung jawab itu tidak dipikul dengan benar, maka berbahayalah yang ada. Alih-alih memberi manfaat, justru melahirkan kesesatan hingga kecemasan di tengah kehidupan masyarakat sekitarnya sebagaimana apa yang terjadi pada diri Musa Samiri. Sehingga wajar jika kita sering mendengar dari bibir Kang Syarif sendiri mengatakan, “Belajar pada alam dengan sebenarnya pada alam dan tidak hanya dari buku-buku, apalagi dari para pengkhutbah yang hanya bisa bicara dan penuh dusta. Peduli setan dari setan-setan seluruh penjuru bumi dan langit. Belajar pada hidup untuk kehidupan itu sendiri! Siapa manusia mau mengerti dan mau peduli. Semua hanya sibuk dengan urusan masing-masing yang tidak jelas juntrungnya. Saya belajar untuk diri sendiri!” Begitu ungkapnya panjang lebar seakan tengah menguraikan sebuah percikan-percikan permenungan.

Percikan-percikan permenungan dari seseorang yang setiap hari hidup dengan menyalakan api. Ya, dengan cara menyalakan api yang sebenarnya–setiap malam tiba, bukan sebagai perumpamaan sebagaimana dicetuskan oleh Chairil dalam salah satu puisinya; bagimu negeri, kunyalakan api.

Namun, dengan itu bukan pula berarti Kang Syarif tidak memiliki seorang panutan yang mana ia belajar kepadanya sebagai seorang murid (baca: santri). Ia memiliki seorang guru yang amat ia hormati dan kagumi. Seorang guru yang membuat dirinya memutuskan untuk menjadi Abdi sepanjang hidupnya, bahkan tetap ia akrabi ketika sang guru sudah mangkat begitu lama. Ia menulis sebuah puisi penutup yang indah dalam sebuah buku kumpulan memoar untuk memperingati wafatnya Sang Guru. Berikut.

Tujuh tahun sudah aku hidup
bersama Maharesi, sampai kini masih
kudapat kuliah langsung empat mata
bersamanya di malam-malam hari

Sehingga kumeresapi, menjalari
kesukaan untuk menyendiri bersama sepiku
hanya dihibur oleh riuh kalimat-kalimat
Tuhan yang seliweran silih berganti tiada henti

Kumohon jangan pernah engkau mengerti,
Karena aku tahu bukan itu yang kau ingini
dariku dan kuharap dikau tidak tahu,
Sebab aku sangat memahami
Bukan aku yang engkau mau

15 Ramadhan 1437 H

Kang Syarif pernah berkata, “Tadi malam, Yai datang ke Gubuk. Tetapi hanya diam saja.” Wallahu a’lam. Sebab alam merkayangan memang ada, dan sebagian dari kita memang bisa mengaksesnya.

Pada contoh pemilihan cover buku ini misalnya, Kang Syarif mengungkapkan, bahwa sebagai seorang yang juga memiliki hobi pada seni gambar dan lukis, suatu ketika menempuh perjalanan dari Cirebon ke kediaman rumah Jeihan di Bandung dengan bekal seadanya. Jauh-jauh ia katakan, tujuannya pertama tentu hanya untuk belajar, dan kedua dalam rangka meminta dibuatkan sebuah lukisan yang kelak diperuntukkan sebagai cover buku kumpulan puisi pertamanya. Kita tahu, Jeihan pun telah mangkat cukup lama jika kita meneropongnya dari hari-hari ini. Tetapi, apa yang dikatakan oleh Kang Syarif kepada? “Saya tidak akan menghianati Jeihan. Sudah lelah-lelah dia membuatkan saya lukisan, lalu saya menggantinya dengan yang lain yang kalian anggap lebih bagus? Kalian mau ngajak berantem Keponakan Raja Namrud?”

Ya, Raja Namrud! Sebuah julukan diri yang juga dikenakan ketika ia tengah kesal pada sesuatu.

Kang Syarif, ia adalah seorang yang–meskipun kerap terkesan keras wataknya–tetapi sungguhlah saya bersaksi amat lembut hatinya. Apa-apa yang ia ucapkan tidaklah pernah keluar dari sebuah lamunan-lamunan kosong. Di dalamnya selalu dari sebuah hasil pergulatan hidup juga laku penyepian yang serius dan tidak main-main. Lebih-lebih, ia adalah seorang yang tulus, bersih, tidak pernah mengusili apalagi “menggonggongi” kehidupan orang; cara hidupnya tidak terkotori oleh berbagai hal yang bisa mengeruhkan kehidupan itu sendiri sebagaimana diidap oleh banyak manusia di zaman ini. Perumpamaannya, jika kita semua adalah kumpulan dari bongkahan bebatuan yang berasal dari dasar kerak bumi, maka Kang Syarif adalah salah satu dari jenis batu yang tidak semua orang dapat mengerti betapa amat berharganya ia; jenis batu mulia yang langka. Sebab itu, layaklah kita kini menyilakan kaki kita yang sering kali gemar mobat-mabit tidak jelas di tengah kehiruk-pikukan zaman, mungkin untuk sekadar mendengarkan apa-apa yang diungkapkan oleh beliau. “Iqra!”

**

Berbeda dari Kang Syarif, Salman Alfarisi menggambar­kan dirinya sebagai “Yang Berada Di Belakang Burung-Burung Tuhan.” Sebuah metafora klausatif yang tidak merujuk siapa diri, tetapi di mana posisi. Ia menggambarkan bahwa kakinya telah diletakkan sekolom dengan para burung-burung Attar yang tengah mencari Simurgh. Lebih tepatnya, ia berada di belakang mereka sebagai orang yang mengikuti. Jalan mistik yang diambil Salman Alfarisi lebih nampak digambarkan sebagai jalan ketakziman, ketimbang bentuk mistikum yang diambil oleh Kang Syarif yang melalu-lintang di lapisan-lapisan langit enambelas dengan suka-suka. Meskipun, pada beberapa puisinya ia juga kerap menunjukkan sebuah posisi yang tak selamanya demikian. Seperti misalnya pada seri puisi bertopik “Fa” yang seakan-akan memposisikan dirinya justru mandiri di antara jalan burung-burung Tuhan milik Attar.

Untuk membaca kemana arah puisi-puisi Salman Alfarisi, mungkin kita bisa membaca saja tulisan milik Rabu yang berada pada lembar setelah ini yang tengah coba memberi gambaran mengenai puisi Salman Alfarisi yang akhirnya dijadikan judul kumpulan buku puisi ini. Meskipun, Rabu mendekatinya dengan pendekatan yang berbeda, yaitu dengan tafsir imajis. Selebihnya, dalam kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan selamat kepada kedua penulis dan para pembaca atas terbitnya buku ini. Saya yakin buku terbitan ini merupakan salah satu terbitan yang ditunggu-tunggu oleh publik sastra Cirebon; oleh kita semua. Selamat!

Shiny.ane el’poesya
Jagat Peteng, 16022021, Sumber, ngadep Kulon.

Tags:
Previous Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *