LOADING

Type to search

Perumpamaan Visual Metaforis: Perwujudan “Teka-Teki Puisi” Shiny Ane el’poesya

Oleh: Imron Tohari

“Menulis puisi, perihal bagaimana cara Anda memberlakukan unsur-unsur pembentuk puisi dalam ragam cipta sensibilitas/kepekaan imaji. Dan bagaimana cara Anda dalam mengekspresikan secara impresif tiap-tiap unsur kekaryaan (baca: puisi) dalam satu kesatuan utuh sebuah system atau matriks” (lifespirit).
Jika saja ada data statistic yang mencermati tingkat pertumbuhan penyuka puisi, saya berani berasumsi buta, jika di era digital inilah yang paling pesat pertumbuhannya, dengan suatu pemikiran, kemudahan serta keterbukaan dalam berinteraksi langsung (dalam hitungan detik) antara pencipta puisi dengan pembaca puisi, yang mana hal ini tidak mungkin dilakukan sebelum era digital. Kondisi semacam ini yang mendorong rasa keingintahuan untuk ikut melibatkan diri, bersentuhan secara langsung dengan puisi, tanpa mempedulikan benar-salah menurut kaidah penulisan puisi yang sudah disepakati secara konvensional (mungkin). Anda sering mengunjungi komunitas-komunitas penyuka puisi, terutama di Facebook, tahun 2010-an hingga saat esai ini saya tulis? Bila iya, pastinya Anda mencermati adanya fenomena, di mana beberapa penyuka puisi melakukan banyak eksprimen yang berkaitan dengan penyajian puisi. Terlepas dari berhasil tidaknya eksprimen-eksprimen tadi memberi pengaruh dalam dunia penulisan puisi pada umumnya, yang perlu digarisbawahi, pesona puisi dengan ragam gaya pengucapan, pengungkapan, pola tuang, dan kemudahan dalam menyerap maupun mempublikasikan hasil olah cipta karya di era tekhnologi digital saat ini, juga kian berpotensi membuka wacana perdebatan semakin intens, terkait apa-mengapa-bagaimana esensi makna dan arti puisi itu sendiri. Berkenaan dengan arti puisi, kecenderungan perdebatan terutama yang berhubungan dengan bentuk penyajian, ini dikarenakan publik lebih familiar puisi disajikan dengan menggunakan tulisan huruf atau abjad, dibandingkan dengan yang selain itu, misalnya puisi konkret yang minim kata atau yang tanpa menggunakan kata sama sekali.
Puisi Konkret, di Antara Visual Metavoris dan Visual Imagery.
Dalam berbagai esai, jurnal, maupun buku-buku yang berkaitan dengan sastra, secara etimologis “puisi—poites—poet dari bahasa Yunani” berarti mencipta atau membentuk. Dari arti etimologis tadi, saya pikir terlalu singkat (kalau tidak boleh dikatakan sebagai pernyataan yang tidak tuntas), saya pribadi lebih suka mengatakan sebagai daya cipta melalui imajinasi dalam memberi dorongan pada gambaran mental untuk bergerak. Berkaitan dengan pengertian puisi, dalam perkembangannya, secara umum puisi dibagi dalam dua struktur, yakni struktur fisik puisi—bunyi, kata konkrit, symbol/lambang, majas, serta imaji, dan struktur batin puisi—tema/amanat, nada dan rasa.
Kekurangsukaan (ekstrimnya: ketidakpatutan) bentuk pengungkapan puisi konkret menurut sebagian penyuka puisi (?), hampir tidak berbeda kasusnya dengan puisi haiku, hanya saja kalau dalam bentuk pengungkapan puisi haiku, berkaitan dengan ketidaklengkapan tata kalimat (walaupun masih berwujud tulisan), namun kalau bentuk puisi konkret berkaitan dengan visual yang tidak berwujud tulisan (terutama yang sepenuhnya menepikan wujud tulisan—berwujud sketsa atau garis saja).
Mengenai bentuk penyajian puisi (terkhusus puisi konkret), dalam jurnalnya yang berjudul “CONCRETE RESEARCH POETRY: A VISUAL REPRESENTATION OF METAPHOR”, Prof. Marcy Meyer (BS, Universitas Georgetown; MA, PhD, Universitas Negeri Michigan), menulis:
“Puisi konkret dapat dikonseptualisasikan sebagai “citra-kata,” atau ” sesuatu hal yang berkaitan dengan kecakapan dan kecerdasan manusia yang bukan berupa kata atau gambar saja yang secara tunggal atau ada di antara keduanya” (Kostelanetz, 1970, para. 1). Atau, puisi konkret dapat dianggap sebagai “ideogram atau konstelasi kata-kata ” (Solt, 1970, p. 59). Pada dasarnya, puisi konkret memberi pembaca objek visual untuk dipahami, serta teks untuk dibaca. Dengan membuat bentuk yang berfungsi sebagai wadah untuk teks, penyair mendahului cara linier, logis, berurutan yang biasanya digunakan manusia untuk memproses komunikasi tertulis kata demi kata, baris demi baris, paragraf demi paragraf, dan halaman demi halaman dengan gambar/visual gestalt—proses seseorang mengetahui beberapa hal lewat panca indra (persepsi) melalui pengorganisasian suatu komponen-komponen yang memiliki hubungan, pola, dan juga kemiripan yang bersatu menjadi satu kesatuan ….”
Dari pernyataan Prof. Marcy Meyer di atas, saya semakin penasaran (kepo, istilah anak muda jaman sekarang), pesan apa yang sebenarnya ingin ditawarkan Shiny Ane El’poesya melalui bentuk puisi konkret “Teka-Teki Puisi”, pada pembacanya, terutama melalui perwujudan dengan perumpamaan visual metaforis yang berupa tiga huruf dalam susunan kotak-kotak kosong yang ditata sedemikian rupa (tipografi). Sebagaimana yang saya tampilkan secara utuh, gambar 1 di bawah ini:
Sebelum memenuhi rasa kepenasaran saya, perihal pesan apa yang ingin ditawarkan Shiny Ane el’poesya, terlebih dahulu saya ingin tahu apakah bentuk pengungkapan karya di atas, dapat disebut dalam katagori karya puisi? Untuk kepentingan tersebut, akan saya kosongkan sesaat pikiran saya dari segala teori puisi, apalagi pengertian puisi sebagaimana yang dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam hal ini, saya hanya akan melihat dan mencermati, apakah bentuk penyajian dan pengungkapan yang terdiri dari tiga huruf, yang ditempatkan dalam tiga kotak, yang kemudian diikuti susunan kotak-kotak kosong tanpa huruf atau abjad, dipandang sebagai satu kesatuan utuh karya, telah memenuhi keseluruhan atau sebagian unsur-unsur pembentuk puisi, terutama dalam konteks unsur-unsur pembentuk struktur fisik puisi—bunyi, kata konkrit, symbol/lambang, majas, serta imaji.
Dalam konteks struktur puisi, kata konkret terpenuhi dengan perwujudan susunan huruf pembentuk kata pronominal /Aku/, dan konsep perlambangan, dalam perwujudan garis-garis pembentuk kotak—susunan kotak, dan dipekerjakan sebagai visual metaforis (majas), dalam pengertian visual metaforis—ini menggambarkan perbandingan antara apa yang ada dalam visual, termasuk konotasi dan denotasinya dengan benda lain dan maknanya secara kiasan.
Dan sebagai citraan visual (visual imagery), dalam pengertian citraan visual—ini menggambarkan apa yang kita lihat yang dialami langsung melalui indra penglihatan—dalam puisi Shiny Ane el’poesya, bentuk persegi atau kotak tadi. Secara filosofis, visual “kotak—susunan kotak” melambangkan tempat, wadah, ruang-ruang khusus, pemikiran yang terukur atau terfilter, pandangan-pandangan maupun harapan-harapan yang bersifat relatif.
Berangkat dari pendekatan visual metavoris dan visual imagery, mencermati keseluruhan bentuk, indra penglihatan saya tersedot menuju tiga rangkaian huruf dalam kotak yang terlihat paling menonjol di antara susunan garis dalam bentuk susunan kotak-kotak kosong (tipografi). /A-k-u/tiga baris huruf yang membentuk kata konkrit “Aku—pronomina”, ada dan ditulis pada kotak paling atas, dan “aku” ini bisa mewakili siapa saja. Tapi, ini pronominal aku ada di antara susunan kotak-kotak kosong, di sini saya berasumsi Shiny Ane el’poesya (selanjutnya saya akan tulis sebagai penulis puisi), membebaskan penikmat baca untuk memberi tafsir atau interpretasi yang didasarkan atas pencitraan mental (mental imagery) dari masing-masing penghayat. Ini artinya Anda bisa menginterpretasikan pesan tersurat maupun tersirat dengan tetap membiarkan atau mempertahankan kotak-kotak tetap kosong (tidak terisi), dan atau bisa juga Anda isi sesukanya (keseluruhan atau sebagian), namun tetap dalam koridor satu-kesatuan system yang telah digariskan.
Salah satu kelebihan dengan gaya penyajian visual metaforis dan visual imagery—ini perihal eksplorasi ruang dan waktu (cronotope), seperti halnya pronominal aku ada di antara kotak-kotak kosong, aku pronominal dengan subyek yang berbeda akan diikuti makna indek yang berbeda untuk masing-masing aku pronominal tadi. Penjelasan sederhananya seperti ini: Seorang penghayat menginterpretasikan “Aku” pronominal dari arti puisi itu sendiri sebagai pokok pembicaraan, sedangkan penghayat berikutnya menginterpretasikan “Aku” pronominal dari Tuhan, dari penghayat sendiri sebagai aku lirik, atau dari benda lainnya, dst, dan ini tentu masing-masing akan membawa turunan makna indeks yang berbeda yang akan memberi pengaruh dalam interpretasi makna. Dalam perkataan lain, penulis puisi ingin mengatakan bahwa interpretasi dalam memaknakan, bersifat relative/tidak mutlak.
Untuk lebih jelasnya, secara garis besarnya saya akan memaknakan pesan tersurat maupun pesan tersirat, karya puisi konkret berjudul “TEKA-TEKI PUISI” dengan bentuk penyajian sebagaimana adanya di atas, dengan random image hasil bentukan dari “Aku” pronominal yang berbeda:
  1. Saya mengasumsikan “Aku” pronominal dari kedirian arti puisi itu sendiri—merujuk dari judul “TEKA-TEKI PUISI”, dan garis-garis yang membentuk kotak kosong, merupakan perumpamaan visual metaforis (majas) dari pemikiran-pemikiran atau pandangan-pandangan maupun harapan-harapan yang bersifat relative. Dari sini saya dapat asumsikan pemaknaan secara tersurat pun tersirat, penulis ingin menyampaikan melalui puisi konkretnya, perihal arti dari puisi itu sendiri bersifat tidak mutlak—diwujudkan dengan visual kotak-kotak kosong yang berkorelasi dengan diksi /TEKA-TEKI/dalam judul—bahkan seandainya kotak-kotak kosong tadi diisi dengan serangkaian huruf—tipografi (dalam konteks termaksud) tetap menawarkan makna dalam arti sifat absolut tadi.
  2. Jika aku pronominal, saya mengasumsikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan imani—aku lirik pronominal dari insan manusia, atau saya selaku penghayat, atau penulis puisi sendiri. Saya atau mungkin Anda, bisa saja mengasumsikan “Aku” ada sebagai ciptaan, dan kekosongan adalah isi, dan pada akhirnya “Aku” bukan siapa-siapa, sebab yang maha “Aku” adalah yang menjadikan “Aku” ada, yakni yang maha mencipta.
  3. Perpaduan isi dalam bentuk tulis di antara visual imagery dan visual metaforis, kebertautannya dengan judul dalam satu rangkaian system, akan memberi tekanan secara gambaran mental (mental imagery), yang memungkinkan tiap-tiap individu penghayat, baik secara pikiran sadar maupun pikiran bawah sadar, untuk mengingat, mengarahkan, merencanakan kebaharuan pikir pada masa depan yang dirasakannya tidak menentu—ini semacam rekonstruksi pengalaman persepsi aktual dari masa lalu yang saling tumpang-tindih. Bisa dilihat dalam beberapa visualisasi yang saya buat,berkaitan dengan adanya tekanan secara gambaran mental—hasil tangkapan indra sensoris dalam imaji. Beberapa visualisasi yang saya tampilkan, dengan asumsi adanya daya stimulasi yang berbeda, sebagaimana gambar 2, 3, 4, dan 5 di bawah ini:
Sifat relatif dalam memaknakan ini mengingatkan saya pada teori sains fisika—relativitas ruang-waktu yang dilontarkan Einstein. Mengutip Michael Turner, Direktur Institut Kavli untuk Fisika Kosmologis, Einstein percaya bahwa ruang dan waktu tidaklah ajeg, melainkan merupakan fenomena yang fleksibel, relatif, dan dinamis seperti proses alam semesta lainnya. “Terdapat lengkungan ruang dan waktu (spacetime warp), dan itu adalah cara yang sama sekali baru dalam memandang gravitasi,” ujar Turner dilansir AFP. Sederhananya, melalui teori ini menjelaskan bahwa hukum fisika akan selalu sama dan konstan di mana pun. Namun sesuatu yang terjadi pada ruang dan waktulah yang membuatnya berbeda. Melalui pandangan yang berbeda akan menghasilkan ruang dan waktu kejadian secara berbeda pula. Semua hal tersebut sifatnya relatif. Ruang dan waktu terjalin menjadi sebuah kontinum tunggal yang dikenal sebagai ruang-waktu (spacetime). Peristiwa yang terjadi pada saat yang sama untuk satu pengamat dapat terjadi pada waktu yang berbeda untuk yang lain.1)
Dalam Al-Falsafa al-Ula, ilmuwan bernama lengkap Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq Al-Kindi (sekitar 800–870 M), sebenarnya juga telah mengungkapkan dasar-dasar teori relativitas. Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al-Kindi. Namun, ilmuwan Barat, seperti Galileo, Descartes, dan Newton, menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al-Kindi.
“Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda,” papar Al-Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, “… jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al-Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut.
Menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan, dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke objek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein. Dalam Al-Falsafa al-Ula, Al-Kindi mencontohkan, seseorang melihat sebuah objek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit, dia melihat pohon-pohon lebih kecil. Jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar.
“Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain,” tutur Al-Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat. 2)
Sensibilitas/kepekaan imaji yang ditawarkan Shiny Ane el’poesya dengan gaya pengungkapan visual imaji, yang dimuat dalam buku Sains Puisi, halaman 133-2019,Penerbit Mata Aksara, ini sebagaimana Danarto (1941-2018), pada karyanya yang berbentuk visual—sembilan kotak-kotak kosong—masing-masing terdiri dari tiga kotak, dalam tiga susun, tanpa judul (?). Puisi Konkret “Teka-Teki Puisi” Shiny Ane el’poesya, secara tema, pesan tersurat maupun tersirat, saya pikir satu garis atau satu persamaan dalam tema dan pesan tersurat pun tersirat, dengan apa yang ingin disampaikan oleh Danarto pada puisi konkretnya yang juga disajikan berupa garis-garis yang membentuk susunan kotak kosong berjumlah 9 (Sembilan). Atau beberapa penyair memberinya nama puisi konkret kotak Sembilan—dalam konteks ini, saya beranggapan, Danarto tidak memberinya judul, kecuali menyebut bahwa karya yang dibuat adalah puisi—ini semacam pengantar dalam puisi pola tuang haiku yang kecenderungan ditulis terpisah dengan ayat haiku, selain dimaksudkan sebagai pengganti judul, juga untuk mempermudah dalam pengarsipan karya. Yang membedakan keduanya, dalam hal penyajian, Danarto Murni hanya mengandalkan gaya pengungkapan visual metaforis dan visual imagery. Sedangkan gaya penyajian Shiny Ane el’poesya, kombinasi tulisan di antara visual metaforis dan visual imagery. Jika Shiny Ane el’poesya mempekerjakan pronominal dan metafora secara terpisah—“aku, pronominal” dan “… Puisi, yang dalam judul, metafora”, maka Danarto mempekerjakan secara bersama-sama, ya pronominal, ya metafora, melalui penyebutan karyanya “Puisi”, yang seperti telah saya jelaskan di atas semacam pengantar dalam puisi pola tuang haiku. Saya berasumsi, Danarto melakukan ini dengan tujuan untuk memperluas ruang kerja mental imagery, dengan melibatkan semua indra sensoris dalam imaji.
Sebagai penutup, saya tampilkan puisi konkret karya Danarto (Gambar 6) dan karya Susie (Gambar 7), yang merupakan bagian dari metode penelitian puisi konkret yang di lakukan oleh Prof. Marcy Meyer, yang pernah mendapatkan penghargaan ICA Redding Dissertation Award tahun 1996 dan 2001 CSCA Federation Prize. Secara penyajian, puisi konkret Susie, seperti halnya puisi konkret Shiny Ane el’poesya, sama-sama memakai kombinasi tulisan di antara visual metaforis dan visual imagery.
Lihat lampiran Gambar 6 & 7
Mataram, 15 Maret 2021
Literature
3) Menyingkap Misteri Pola 575 Haiku, Imron Tohari, Cetakan pertama—Penerbit Kekata Publisher, Oktober 2015; struktur fisik dan struktur batin puisi dalam haiku.
5) Stanford Encyclopedia of Philosophy
Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *