LOADING

Type to search

Tags:

Estetika Islam:  Neoplatonisme atau Perumusan Kreatif?

Oleh Haji Misbach

Dua penulis sebelumnya yakni Shiny Ane dan Patricia Prawestri sudah memaparkan filsafat atau teori keindahan dari tradisi Yunani kuno atau Yunani klasik dan abad pertengahan Eropa. Tulisan ini adalah sambungannya, membahas teori keindahan dari tradisi Islam. Nampaknya pembagian ini mengikuti teknik penulisan sejarah filsafat yang menempatkan periode Islam sebagai bagian dari pemikiran estetika abad pertengahan dalam pembabakan sejarah filsafat barat.

Filsuf dan penulis buku Sejarah Filsafat Barat, Bertrand Russell[1], mendudukkan periode sejarah filsafat menjadi; Yunani Kuno, Filsafat Katolik dan Filsafat Modern. Islam dalam konteks sosio politik Barat ada dalam periode sejarah filsafat Katolik (Skolastik dan Patristik), suatu masa di abad pertengahan sebelum kelahiran abad modern. Jika menyetujui filsafat Islam sebagai bagian saja dari periode sejarah perkembangan filsafat barat yakni filsafat yang skolastik dan patristik yang sering dikatakan sebagai filsafat yang melayani teologi, maka Islam, tepatnya filsuf muslim tidak lebih dari para pengikut ajaran Plato, atau Plotinus, atau kaum Neoplatonis.

Seperti pembabakan sejarah filsafat Russel, penulis Sejarah Estetika, Martin Suryajaya[2], mendudukan pemikiran estetika islam dalam suatu periode estetika abad pertengahan dan menyebutkan sebagai aliran neoplatonis. Dua tokoh yang dirujuk adalah al Farabi dan Ibnu Sina. Kecenderungan platonis ini, yang merupakan tafsiran Plotinos, sesuatu yang bercorak spiritual, mudah didamaikan dengan keinginan filsuf-teolog, untuk menyelaraskan iman dan nalar (Martin Suryajaya, hal 160)

Sejarah filsafat bukan satu-satunya cara untuk mengkaji dan menelaah posisi teori keindahan atau estetika dalam khazanah teori-teori filsafat. Cara lainnya adalah mengenalinya posisinya dalam sistematika filsafat. Beberapa penulis buku pengantar filsafat mengelompokkan estetika sebagai cabang filsafat[3]. Pembagian cabang itu dikenal melalui tiga rumpun kajian yakni teori pengetahuan (epistemologi), teori realitas (metafisika) dan teori nilai (etika dan estetika)[4]. Teori  pengetahuan dan teori realitas dianggap bermuara pada teori nilai. Jika pada sejarah filsafat memungkinkan terjadinya pembahasan satu bab terlalu panjang untuk satu topik atau pemikiran seorang filsuf dan pembahasan pada bidang lainnya menjadi lebih sedikit bahkan terlampau singkat, maka dengan melakukan pendekatan melalui sistematika, hal tersebut dapat dihindari. Kajian bisa lebih difokuskan pada aliran, metode dan kecenderungan fokus pembahasan dengan terlebih dahulu mengelompokkan mazhab, aliran atau teori apa saja yang terdapat dalam objek kajian. Misalnya platonisme atau aristotelianisme.

Apa yang disebut platonisme atau neoplatonis berpandangan bahwa etika dan estetika itu ada dalam satu logika, koheren. Sesuatu yang etis pastilah estetis. Begitu sebaliknya. Sebab itulah pembicaraan masalah keindahan, sebagai topik dari pengkajian estetika sulit melepaskan perspektif etika. Dalam praxisnya, karya seni baik itu sastra ataupun seni rupa, dalam paradigma aliran ini kemudian memiliki telos, tidak mungkin menihilkan etika, karena nilai estetis itu berkaitan erat dengan nilai etis (moral).

 Lalu disebutkan dalam sejarah filsafat itu bahwa sejak era pencerahan, neoplatonisme dalam memandang apa yang indah dan hakikat keindahan ini mendapat kritik. Terjadi pemisahan dalam teori nilai. Dikembalikan pada makna asal. Alexander Gottlieb Baumgarten ((1714-1762) merumuskan jika estetika adalah teori tentang suatu hal yang dicerap oleh pancaindra. Leibniz (1646-1716) membedakan pengetahuan intelektual dan pengetahuan yang bersifat inderawi. Yang estetis tidak selalu harus sejalan dengan etis. Yang imanen tidak harus selalu pasti yang transenden. Nilai etis dan estetis berdiri sendiri, memiliki jalannya sendiri. Semua seiring dengan maraknya penggunaan model pengetahuan dan logika induktif, senjakala metafisika, keterpisahan antara agama, spiritualitas dan sains.

Plato dan Neoplatonisme

Lazimnya, dalam penulisan buku sejarah filsafat barat, apa yang dimaksud sebagai alam pikiran yunani terbagi menjadi pemikiran para filsuf alam, sofisme dan Yunani Klasik (Sokrates, Plato, Aristoteles). Masa sesudah tiga filsuf utama itu dikenal sebagai masa Helen-Romana yang berupa pemikiran etik epikureanisme, stoisisme, skeptisisme dan masa religi (neo phytagoras, phylon alexandria dan plotinus)[5]. Melihat keseluruhan alam pikiran yunani sejak mulai para filsuf alam (juga disebut sebaga filsuf pra sokrates), sofisme dan era setelah tiga filsuf utama ini penting untuk melihat kesalinghubungan dan genealogi intelektual. Plato tidaklah mungkin menulis karya-karyanya dalam bentuk dialog, sesuatu yang sebenarnya lebih mirip naskah drama, jika tidak dipengaruhi oleh iklim kepenulisan era dia hidup di mana para sastrawan seperti Sopokles, Euripides dan Aeschylos menjadi nama terpandang yang naskah drama mereka merajai panggung-panggung teater di Athena ketika itu.

Sebagaimana tabiat sejarah, penulisan ulang, komentar hanya dimungkinkan melalui ketersediaan literatur, keterbacaan dan kerapihan sistematika karangan. Pun dalam pemikiran teori keindahan. Plato menjadi penting dan sentral karena literatur yang ditulisnya bisa dihadirkan dan terbaca. Setidaknya teori keindahannya terdapat dalam tiga karangan; Hippias Major, Simposium dan Phaedrus. Dari ketiga karangan inilah secara eksplisit apa itu sesuatu yang indah diterangkan.

Plato atau Platon, julukan bagi Aristocles, memiliki arti si dada lebar. Pria dada lebar ini lahir sekitar tahun 427 SM. Di era itu Athena tengah mengalami masa kejayaan di bawah kekuasaan Pericles. Pengadilan, sidang dewan perwakilan rakyat, gymnasium, teater, perpustakaan atau agora dan ruang-ruang berkumpul massa yang bisa dimanfaatkan untuk latihan pidato (retorika) adalah keseharian peradaban saat itu. Tetapi Pericles hanya hidup hingga tahun 429 SM, dua tahun setelah Plato lahir dan masa kecil Plato adalah masa di mana Athena terlibat perang dengan Sparta. Plato menyaksikan bagaimana terjadi perebutan kekuasaan antara kelompok oligarki dan pendukung demokrasi. Untuk seorang filsuf yang hidup sepanjang 80 tahun usia,  mengalami beberapa gejolak zaman, pernah pergi ke wilayah Mesir selama 12 tahun (usia 28-40 tahun) untuk menghindari kerusuhan sosial dan rasa frustasi pada masyarakatnya setelah gurunya Socrates dihukum minum racun, lalu kembali lagi dengan pemikiran yang lebih matang untuuk mendirikan sekolah, Plato melahirkan karya yang memungkinkan perlunya syarah, komentar, eksplorasi. Sehingga seorang Alfred Whitehead, filsuf inggris, menyebut bahwa alam pikiran barat modern itu hanyalah catatan kaki tulisan-tulisan Plato.

Sedangkan Plotinos (204-270 M), nama yang dialamatkan untuk suatu aliran yang disebut Neo Platonis adalah filsuf di akhir Yunani kuno sebelum era patristik dan skolastik. Plotinos melakukan semacam sintesis dari pemikiran Plato dengan pemikiran filsafat dari Persia dan India. Sistem filsafat Plotinos ada semacam teori tentang Yang Esa.

Apa yang disebut Yang Esa ini adalah realitas negatif, realitas yang tak terdefinisikan, karena itu tak berkekurangan, karena tak teratribut. Semua atau segala sesuatu yang ada berasal dari Yang Esa. Yang Esa adalah tujuan dan asal segala sesuatu. Oleh sebab itu  realitas ada dalam kondisi menurun dan menaik. Gerak menurun itu artinya realitas yang ada mengalir terus menerus dan berasal dari kelimpahan Yang Esa. Meskipun begitu Yang Esa tak berkurang kesempurnaannya.

Proses emanasi atau penyinaran (Perilampsis) dari Yang Esa jni terjadi dalam tiga tahap; (1) dari Yang Esa keluar Akal Budi (nous), yang sejajar dengan Idea dalam gagasan Plato. Akal Budi ini sudah tidak lagi Esa sebab berlaku kaidah dia memikirkan dirinya sendiri, dan sebagai yang dipikirkan (dualitas). (2) dari Akal Budi keluar Jiwa (psike). Jiwa terdiri dari Jiwa Dunia dan Jiwa Individu. Jiwa Dunia menjamin harmoni dalam kosmos. Sedangkan Jiwa Individu bersatu dengan materi. (3) dari Jiwa Individu dan persatuannya dengan materi keluar Jagad Raya. Materi adalah ciptaan Yang Esa yang paling tidak sempurna, paling buruk dan sumber kejahatan. Semakin dekat jiwa dengan materi, semakin kabur pandangan terhadap Yang Esa. Gerakan kembali pada Yang Esa hanya dapat dilakukan manusia dengan cinta (eros). Gerakan menaik menuju Yang Esa adalah proses pemurnian (katarsis). Prosesnya dilakukan dalam tiga langkah:  (1) melalui kesenian, orang dibawa dari keindahan indrawi pada pengertian mendalam mengenai keindahan dan keindahan yang sejati; (2) melalui filsafat, orang akan mencapai pencerahan budi, mengenali dunia idea. (3) melalui kontemplasi, laku tapa, askese, melepaskan diri dari dunia materi. Dengan tahap ini akan terjadi ekstase, penyatuan dengan Yang Esa[6].

Jika penulis sebelumnya (Patricia) sudah menjelaskan ketersambungan pemikiran patristik dan skolastik  dengan Yunani Kuno, maka hal serupa juga dialami oleh tradisi Islam. Sejak Abad 9-10, buku-buku Yunani mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Karya seni terutama puisi, dengan corak Aristotelian yang pertama mendapat perhatian. Seperti pada Ibnu Sina dan al Jurjani. Istilah-istilah yang berkenaan dengan karya seni dalam hubungannya dengan kenyataan dijelaskan melalui perkataan seperti deformasi, stilisasi, dan simbolisasi.

Tahap kedua, persoalan estetika mulai merujuk pada kaum sufi dan filsuf israqiyah (iluminasi). Hal ini disebabkan, pengalaman mistik mereka memiliki kemiripan dengan pengalaman estetik milik seniman. Estetika tidak lagi dikaitkan hanya dengan sastra, tetapi mulai dengan musik, arsitektur, seni rupa, seni lukis dan desain. Corak spiritual itu terlihat dengan masih wajibnya pelajaran cabang-cabang lainnya seperti metafisika, logika, fiqh, hadits, tafsir Quran, filologi, matematika, optik, ilmu hayat, kimia, seni khat, adab dan lainnya.

Dalam tradisi sufi inilah, estetika masih terjalin kuat dengan metafisika dan suluk. Estetika Sufi membicarakan hakikat dan fungsi seni, pengaruhnya terhadap psikis dan ruhani manusia, penggunaan karya seni yang mampu menumbuhkan semangat religi dan solidaritas sosial, serta metode hermenenutika (takwil). Karya seni yang baik dianggap sebagai karya yang dapat dirujuk pada ayat al Quran. Dari sinilah terjadi pemeringkatan pada apa yang Indah. Kaum sufi mengaitkan tujuan ilahiah penciptaan manusia dengan kesempurnaan pengetahuan, akhlak, amal ibadah dan perbuatan[7].

Menurut Al Ghazali, dalam perjalanan hidup manusia di dunia terdapat empat tahapan: indrawi, eksperimental, instingtif, rasional. Tahap indrawi manusia seperti seekor ngengat yang bisa melihat tetapi tidak bisa mengingat. Akhirnya berkali-kali menubruk lilin yang sama. Tahap eksperimental, manusia ibarat seekor anjing yang akan lari setiap melihat rotan pemukul karena pernah dipukul dengan rotan itu. Tahap ketiga seperti seekor kuda atau domba yang akan lari, secara instingtif, saat melihat singa atau serigala. Tahapan keempat manusia mampu melampaui kebinatangannya, mampu meramal apa yang akan terjadi di masa depan dan bersiap untuk itu. Sebenarnya, menurut Al Ghazali, masih ada tahapan kelima yakni yang sudah ditempuh dan dikenal para nabi dan wali. Persoalannya adalah banyak manusia terjebak hanya pada tahap pertama dan kedua[8].

Al Ghazali, ulama Islam klasik paling dikenal di Indonesia ini, dalam Kimia Saadah (Kimia Ruhani Untuk Kebahagiaan) kemudian membedakan peringkat keindahan ke dalam tingkatan: (1) keindahan sensual dan duniawi; (2) keindahan alam; (3) keindahan akliah, yang ditampilkan karya seni yang dapat merangsang pikiran dan renungan; (4) keindahan ruhaniah, terkait dengan akhlak dan adanya pengetahuan tentang diri; (5) keindahan ilahiah. Bandingkan hirarki al Ghazali dengan hirarki Plotinus, tentu sangat mirip. Meskipun berbeda dari segi jumlah tingkatan, tetapi sama dalam substansi.

Selain Al-Ghazali ada juga Al-Farabi.Sebagai musikus dan pengarang buku babon musik,  Al-Farabi mencipta maqamat dalam musik ke dalam beberapa jenis sebagai berikut: (1) Māqām  Rāst:  dapat  membangkitkan  perasaan berfikir  positif,  kebanggan  hati,  kesehtan pikiran.  juga digunakan sebagai penyembuhan untuk jiwa yang  sakit  agar  kembali  bersemangat. (2) Māqām  Bāyātī,  adalah  jenis  nada  yang menumbuhkan  rasa  suka  cita  dalam  jiwa, menimbulkan  kebahagiaan,  imajinasi dengan  perasaan  jiwa  yang  tenteram  akan memicu  hati  menjadi  lapang  serta berbahagia  pada  saat  mengalami  momen yang menyenangkan hati. (3)  Māqām  Sīkāh,  sering  digunakan  pada saat seseorang sedang jatuh cinta. (4)  Māqām  Sābā, memicu perasaan haru dan menyentuh. (5)  Māqām Hījāz,   menghasilkan perasaan emosi  jiwa jauh ke dalam lubuk hati yang terdalam.  (6) Māqām  Nāhwānd,  dapat menimbulkan perasaan merenung atau tempat  berfikir. (7) Māqām  Jīhārkāh,  memberikan kesan manis dan mengharukan. Iramanya selalu  mendorong perasaan  yang mendalam. (8)  Māqām  Ājām, yaitu  alunan yang  cemerlang  akan  menimbulkan keceriaan dalam jiwa siapa saja. Māqām ini bermanfaat  untuk  jiwa  yang  sepi  dan kosong,  jiwa  yang  merasa  jauh  dari kebahagiaan  dan  keramaian  hidup. (9) Māqām  Kûrd,  musik komedi. (10) Māqām  Īrāqī, musik horor.

Perumusan Kreatif

Peran penting peradaban Islam yang menjadi transmitter bagi peradaban barat dalam pandangan Russel seperti dijelaskan di awal mula adalah soal pelestarian karya-karya Yunani Klasik melalui penerjemahan. Dari sini bermula penyerapan dan pewarisan budaya Alam Pikiran Yunani. Para filsuf, budayawan, dan sufi memberikan asas dan arah perkembangan kebudayaan. Kemajuan pemikiran di bidang seni, turut merangsang bidang ekonomi, perdagangan, teknologi dan kebutuhan akan barang seni seperti perabot, ukuran, tekstil dst. Tetapi apakah sebuah peradaban yang kosmopolit karena juga menyerap pengetahuan Byzantium, Persia, India, China juga dari wilayah Arab pra Islam[9]  itu hanya sekedar mewarisi Alam Pikiran Neo Platonis? Atau juga melakukan perumusan kreatif dan pengembangan lainnya yang orisinil?

Menurut Abdul Hadi W.M, kecenderungan estetika Islam itu memang cukup kuat menolak peniruan objek luar secara realistis dan naturalistis. Ikonoklasme, yang merupakan sikap anti berhala atau simbol itu mesti dilihat sebagai pemicu bagi kreatifitas dan imajinasi. Yang enggan untuk semata mata menjadi pelayan bagi sensasi indrawi. Penciptaan karya seni yang ikonoklastik itu adalah upaya pembersihan jiwa, manifestasi zikir, bahkan peninggian martabat manusia yang tak mau ditentukan oleh kemahiran meniru bentuk lahiriah kehidupan seperti tampak dalam seni kaligrafi Al Quran, dan lain lainnya[10].

Estetika Iqbal

Pertanyaan lainnya adalah bagaimana perkembangan teori keindahan atau estetika Islam di masa selanjutnya, di masa kontemporer, saat kebudayaan Eropa (filsafat, ekonomi, politik) setelah era renaisance dan era kolonialisme dunia Timur menjadi yang paling dominan?  Saat tradisi Islam hanya menjadi sub kultur?

Pemikir garda depan yang menyorot hal ini adalah Muhammad Iqbal, penyair-filsuf India. Pemikiran Iqbal mengalami beberapa fase. Pernah menjadi platonis, neoplatonis, panteis. Iqbal mengalami menjadi seorang romantis. Tetapi hal ini menurut M.M Syarif,  hanya masa pertama karir kepenyairannya sampai tahun 1908. Iqbal selanjutnya mengalami masa skeptis. Masa ketenangan Iqbal juga diikuti oleh skeptisisme terhadap eksistensi Keindahan Abadi Yang Esa.

Masa tinggalnya di Eropa, kunjungan ke Spanyol dan Sisilia, memberi kesadaran tentang kejayaan Islam di masa lampau dan kesuraman masa kini. Hal ini membuatnya berhasrat menyalahkan semangat baru. Mistisisme dan filsafat  harus diorientasikan pada kekuatan, kekuasaan, gerak dan usaha supra manusiawi. Iqbal menjadi seorang vitalis yang heroik. Setelah menyerap Nietzsche, Bergson, Freud dan Adler. Tuhan dalam rumusan Iqbal adalah keindahan, tetapi juga Ego Maha Tinggi, Pusat Tenaga Yang Maha Kuat. Manusia juga suatu ego. Masa selanjutnya adalah masa kedewasaan yang berlangsung sejak 1920 hingga akhir hayatnya. Teori keindahan Iqbal adalah  dapat disebut teori ekspresi.

Catatan Akhir

Nilai-nilai kebudayaan yang saat ini dialami oleh penduduk dunia, sudah sepenuhnya tidak bisa lagi dikotakkan ke dalam satu bentuk pewarisan atau proses mewarisi satu nilai kebudayaan saja. Tetapi dari lapisan-lapisan kebudayaan, Timur dan Barat. Juga teori tentang keindahan dan estetika. Pergaulan dan pertukaran nilai itu semakin menguniversal seperti dalam semangat modernisme tetapi sekaligus mencirikan kelokalan, identitas, sesuatu yang posmodern. Persoalannya kemudian adalah bagaimana sejumlah individu dalam melihat kecenderungan kebudayaan, kesenian, karya seni, apakah dengan laku mental kosmopolit, yang inklusif dalam melihat suatu kegiatan berkesenian, suatu persepsi estetik? Atau menutup diri, cemas.

Bagi orang Islam, tradisi kosmopolit di abad pertengahan memperlakukan karya seni, yang menggairahkan kehidupan sosial ekonomi dan meninggikan kehidupan intelektual, harus diselami.  Untuk kemajuan kemanusiaan dan keteguhan Iman.

 

______________

[1] Dari ketebalan buku Sejarah Filsafat Barat karangan Russel yang melampaui 1000 halaman, pembahasan tentang pemikiran filsafat dalam tradisi Islam (Russel menyebutnya Filsafat Arab) terdapat 12 halaman. Terdapat pada bagian 2 dari buku 2 tentang Filsafat Katolik yang membahas Para Filsuf Abad Pertengahan dan diletakkan pada bab x dengan judul Kebudayaan dan Filsafat Islam. Filsafat Arab sebagai pemikiran orisinal, menurutnya tidaklah penting. Sebab pemikir seperti Ibn Sina dan Ibn Rushd pada dasarnya adalah komentator. Pandangan mereka hanya turunan pemikiran Plato dan Aristoteles di bidang logika dan metafisika, turunan dari Galen dalam bidang kedokteran, turunan dari sumber-sumber Yunani dan India di bidang astronomi, dan mistik Persia di bidang filsafat agama. Orisinalitas pemikiran Arab ada di matematika dan kimia. Peran penting peradaban Arab-Islam adalah sebagai peradaban penghubung (transmitter) abad pertengahan dan modern Eropa.

[2] Buku yang hampir sama tebalnya (900-an hal) dengan buku Russsel ini memasukkan pembahasan teori keindahan dalam tradisi Islam (hal 160-164 poin ke-5) sebagai bagian dari bab 7 yang membahas tradisi abad pertengahan awal. Dengan mengajukan al Farabi sebagai pemikir yang melakukan sistematisasi platonisme estetis dan ibn Sina. Ibnu Haytam sebagai pencetus teori perspektif dan Ibnu Rushd sebagai penganut estetika rasional mendapat pembahasan pada bagian bab 8 tentang abad pertengahan akhir. Pembagian abad pertengahan awal dan akhir ini sedikit lebih detail dari segi kronologi sejarah dibanding Russel, sebab buku ini lebih fokus pada isu pemikiran estetika.

[3] Menurut The World University Encyclopedia terdapat enam cabang filsafat: sejarah filsafat, metafisika, epistemologi, logika, etika, estetika (Lih Jan Hendrik Rappar). Pembagian model lainnya masih banyak, tetapi menurut Jan Hendrik Rappar umumnya cabang studi filsafat terbagi ke dalam; epistemologi, metafisika (ontologi, kosmologi, teologi metafisik, antropologi), logika, etika, estetika, filsafat tentang berbagai disiplin ilmu.

[4] Lihat  Sidi Gazalba dalam Sistematika Filsafat (1-4)

[5] Lihat Mohamad Hatta, Alam Pikiran Yunani.

[6] Lihat Simon Petrus L Tjahyadi dalam Petualangan Intelektual, hal 91-92.

[7] Lihat Abdul Hadi W.M dalam Hermenenutika, Estetika dan Religiusitas, hal 35-44.

[8] Lihat Al Ghazali dalam Kimia al Saadah (kimia ruhani untuk kebahagiaan), hal 74-75

[9] Lihat Philip K Hitti, History of The Arabs,

[10] lihat Hermenenutika, Estetika dan Religiusitas, Hal 234-235.

 

Daftar Pustaka

Hatta, Mohammad. (1986). Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI Press dan Tintamas.
Jabbar Beg, M Abdul (1981) Seni di Dalam Peradaban Islam. Bandung: Pustaka
Rappar, Jan Hendrik. (2012). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius
Sharqawi, Effat. (1986). Filsafat Kebudayaan Islam. Bandung: Pustaka
Syarif, M.M (1992). Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan. Bandung: Mizan
Tjahyadi, Simon Petrus L (2004). Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius.
W.M, Abdul Hadi (2004). Hermenenutika, Estetika, Dan Religiusitas. Yogyakarta: Mahatari.

 

 

 

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *