LOADING

Type to search

Tulisan – Menulis: Apa, Bagaimana, dan Mengapa? [1]

Oleh: Shiny.ane el’poesya

Jujur saja, sepertihalnya dengan makna asal dari kata Puisi (baca: Poiesis) dan bagaimana ia muncul ke tengah-tengah sejarah sejak masa awal kemudian mengalami berbagai pergeseran hingga penyempitan maknanya, di tengah-tengah meluapnya semangat berliterasi, kata “Tulisan dan Menulis” juga pada akhirnya masih sedikit dipahami secara utuh dan banyak disempitkan maknanya–khususnya hanya pada praktik menulis dan merangkai huruf-huruf alfabetis sebagaimana dilakukan oleh para penulis novel, cerpen, sajak, naskah film, drama dan sebagainya. Masih banyak yang beranggapan, bahwa jika ingin menulis berarti kita mesti menerbitkan sejumlah karya berupa tulisan-tulisan yang disebutkan tadi. Lebih jauh, hanya jika diterbitkan sebagai bagian dari proses kreatif berkesenian, sehingga seringkali melupakan mereka yang gemar menulis karya-karya dalam bentuk lain. Kondisinya memang dimikian miris.

Beberapa kelas penulisan yang saya perhatikan akhir-akhir ini dan banyak tersebar iklannya di media sosial, juga tidak lepas dari urusan yang disebut merangkai huruf-huruf alfabetis termaksud. Seakan menulis adalah memang perkara yang benar-benar hanya berurusan dengan penyusunan hururf-huruf menjadi kata, kata menjadi frasa, frasa menjadi klausa, klausa menjadi kalimat-kalimat (yang enak dibaca) dan kemudian menjadi serangkaian paragraf-paragraf yang memenuhi seluruh tubuh dari sebuah buku. Soal pengilustrasian, penambahan chart, grafik, gambar dan seterusnya dianggap sesuatu yang lain dan secara konsep bukan merupakan bagian dari tulisan. Terlebih, para pelakunya juga memperlakukan hal-hal yang terakhir disebutkan itu memang sebagai “tempelan” dan “pelengkap” belaka yang, pada titik tertentu diangap bisa dibuang begitu saja tanpa masalah.

Soalnya adalah, bagaimana jika ada sebaian kecil dari kita yang tidak memperlakukan kerja penulisan dengan cara demikian? Dengan coba menjadikan gambar-gambar, oresan-oresan, chart, grafik, dan apa-apa yang non-alafabet ke dalam bagian tulisannya sebagai yang pokok? Bahkan, dengan memperlakukan secara aktif beberapa tanda baca ke tengah-tengah media penulisannya dengan sementara mengesampingkan alfabhetnya (A-Z)? Faktanya, ketika itu terjadi, yang ada  justru adalah kegagapan dari banyak pembaca dan bahkan dari mereka yang mengaku telah bergelut dalam tradisi berliterasi. Tidak sedikit yang merasa bingung, atau bahkan menunjukkan ekspresi selayaknya bertemu dengan makhluk asing (alien berkepala ayam bercula badak berkaki kadal berperut kodok dan berpunggung sundel bolong) yang tiba-tiba jatuh dari langit di tengah siang bolong[!] Padahal, sesungguhnya itu adalah sesuatu yang wajar dan semestinya sudah menjadi bagian yang disadar-pahami oleh para pegiat dunia tulis.

Pertanyannya, mengapa demikian? Mengapa “litterature shock” itu bisa terjadi? Jawabannya–sejauh yang saya amati, sebab di antara kita ternyata sebenarnya masih banyak yang belum terliterasi dengan betul; belum memahami sesunguhnya apa dan bagaimana tulisan itu ada, hadir, mewujud, dan lebih jauh mengapa ia di sana mesti ada?–di tengah-tegah kita!

Apa itu Tulisan?

Jika kita megecek arti kata dari Tulis (kata dasar dari Tulisan) dalam Online Etymology Dictonary (etymonline.com) , maka kita akan temukan arti kata Tulis (as Write) sebagai berikut.

write (v.)

Old English writan “to score, outline, draw the figure of,” later “to set down in writing” (class I strong verb; past tense wrat, past participle writen), from Proto-Germanic *writan “tear, scratch” (source also of Old Frisian writa “to write,” Old Saxon writan “to tear, scratch, write,” Old Norse rita “write, scratch, outline,” Old High German rizan “to write, scratch, tear,” German reißen “to tear, pull, tug, sketch, draw, design”), outside connections doubtful.

For men use to write an evill turne in marble stone, but a good turne in the dust. [More, 1513]

Words for “write” in most Indo-European languages originally mean “carve, scratch, cut” (such as Latin scribere, Greek grapheinglyphein, Sanskrit rikh-); a few originally meant “paint” (Gothic meljan, Old Church Slavonic pisati, and most of the modern Slavic cognates). To write (something) off (1680s) originally was from accounting; figurative sense is recorded from 1889. Write-in “unlisted candidate” is recorded from 1932.

Dari yang kita baca pada kamus etimologi di atas, kita menemukan berbagai pengertian dari Tulis yang berasal dari masa yang lalu cukup bervariasi. Tetapi, dari sleuruh variasi yang coba dikumpulkan di sana, kita menemukan hampir dari setiap yang dihadirkan selalu merujuk kepada satu kata, yaitu “Scratch” yang berarti “gores,” yang kemudian juga disandingkan dengan kata-kata lain yang amat dekat maknanya, yaitu “draw” yang berarti “gambar,” “sketch yang berarti “sketsa” dan lebih jauh dengan “de-sign” yang jika kita rujuk akar katanya berari “menandakan ulang.” Dari situ sebenarnya kita mestinya dibuat sadar, bahwa hakikat dari sebuah proses “Menulis” adalah sebuah pekerjaan yang mengikutsertakan di dalamnya sebuah aktivitas semacam meninggalkan jejak kepada sebuah benda yang menjadi mediumnya. Hal ini tentu, tak bisa diidentikkan begitu saja dengan proses yang disebut dengan “mencetak” yang biasa dilakukan dengan menggunakan alat bantu untuk kepentingan menggandakan–sebagaimana dikerjakan oleh banyak publisher-publisher, atau juga sesungguhnya dengan kata “ketik” (type), meskipun kata ini di zaman modern menjadi diidentikkan dengan pekerjaan menulis. Padahal, jika kita fikirkan, ini memiliki konsekuensi yang tidak sederhana. Setidaknya untuk beberapa hal.

Misalnya, pertama, dengan mengidentikkan kata Write dengan Type (baca: typing alfabeth), justru berkonsekuensi menghilangkan salah satu makna primordial dari menulis yang sudah ada sejak zaman kuna, yaitu membuat oresan-oresan, gambar, yang bernuansa visual, dan ini yang ternyata terjadi. Sebagaimana disinggung pada bagian awal, ketika ada sebagian kecil dari seorang penulis hendak menyertakan aspek visual dalam kerja memproduksi sebuah karya tulisan, hal tersebut oleh publik hanya dianggap sebagai sebuah ilustrasi yang berada di luar definisi tulisan, dan artinya hal itu dianggap bisa dihilangkan begitu saja sebab bersifat komplamenter. Kedua, soal lainnya lagi, jika kita benar-benar mengidentikkan kata atau kerja menulis dengan “Typing,” bagaimana jika ternyata bagian visualnya itu memang dibuat lebih dominan mengisi ruang tulisnya dan pada aspek visualnya-itulah pesan-pesan utamanya dititipkan? Maka, sikap pengesampingan dan serta menganggap tidak penting aspek visualnya adalah sebuah sikap yang vatal!

Soal yang ketiga, terkait status dari “penyematan titel” seorang penulis sendiri yang pada akhirnya justru benar-benar dilepaskan dari kerja “seni-visual” yang sebenarnya masih sangat dimungkinkan oleh teknologi modern (ex. pen table), bahkan didukung dengan suasana kreatif yang multi-media; dengan kata lain, seorang “penulis” (selain dari segi komunikasi ide, ia) tidak hanya sekedar “typing and printing,” yang artinya hanya sekadar meminjam font-font yang sudah disediakan oleh aplikasi pengolahan kata, yang artinya juga sudah dibuatkan oleh para pengores huruf (pegiat de-sain huruf yang awalnya pasti melalui proses mengores) tetapi ia bisa sambil (juga) mengoreskan sesuatu yang sifatnya unik, sangat identik, menandakan kepersonalan pengarangya. Dengan konsekuensi yang juga sebenarnya sangat positif, sehingga proses penulisan kreatif bisa menghasilkan sesuatu yang tidak monoton sebab melulu hanya “ngotot” dengan medium huruf-huruf. Dalam kasus tradisi pengkaryaan perpuisian, hal tersebut sebenarnya sangat terbuka dan senantiasa dilakukan oleh gerakan-gerakan yang mencoba keluar dari pandangan konservatif soal apa itu puisi dan persajakan yang hanya dibangun dengan huruf-huruf.

Itu semua, belum lagi kita menyertakan berbagai model sistem tulisan yang digunakan oleh beberapa negara atau kalangan yang tak melulu berisi sistem berbasis huruf-huruf alfabetis, melainkan dengan ideogram, piktogram atau juga simbol-simbol lain seperti pada tulisan-braille yang berasal dari sistem penandaan night writting. Pertanyaannya kembali, apakah sudah saatnya untuk memikirkan ulang megenai ini? Atau menganggap apa yang dipahami sejauh ini mengenai ‘Apa itu Tulisan’ sudah cukup kebenarannya? Bagaimana menurut anda? []

**

 

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *