LOADING

Type to search

ESTETIKA ABAD PERTENGAHAN EROPA (EUROPE MEDIEVAL AESTHETIC)

Penulis Artikel: Patricia Pawestri

 

  1. ABAD PERTENGAHAN

Abad Pertengahan atau Middle Ages/Medieval Period dalam bahasa Inggris, atau Medium Aevum dalam bahasa Latin adalah periode peralihan dari masa budaya Yunani-Romawi menuju masa Modern. Cristoph Cellarius, sarjana Jerman abad ke-17 menyebutkan: “Sejarah universal terbagi ke dalam era antik, pertengahan, dan baru” (Historia universalis … in antiquam et medii aevi ac novam divisa) (Shank & Lindberg, 2013). Sebenarnya periode ini mempunyai perkembangan di seluruh dunia, namun kali ini yang akan dibahas adalah perkembangan di Eropa.

Abad Pertengahan adalah periode sejarah yang dimulai sekitar abad kelima, saat daerah bekas kekuasaan kekaisaran Romawi Barat dipersatukan kembali di bawah Karel Agung sebagai Kaisar Barat pertama yang diakui oleh Paus dan dengan demikian mengakhiri era bangsa barbar Abad Kuno. Dengan peperangan yang menjadi jarang, maka pendidikan, kebudayaan, agama, dan ekonomi dapat lebih berkembang. Periode sejarah ini berakhir pada abad ke-15 dengan memasuki periode sejarah Renaissance.

Abad Pertengahan dibagi menjadi tiga masa, yakni:

1. Abad Pertengahan Awal (5M—10M) atau dikenal sebagai zaman kegelapan, di mana karya sastra dan budaya masih sangat sedikit terdapat di Eropa Barat. Hanya di Semenanjung Kordoba, seni, budaya, dan ilmu pengetahuan sudah banyak dihasilkan di bawah Kekhalifahan Kordoba. Dan pada abad ke-7, kekhalifahan Islam menaklukkan banyak wilayah Romawi serta membawa budayanya.

Seringkali peperangan yang terjadi pada masa Klasik menyebabkan banyak literatur hilang atau musnah. Namun biara-biara yang terus didirikan seiring gencarnya penyebaran ajaran agama Kristiani di antara kaum penganut kepercayaan leluhur sejak abad keenam telah melestarikan budaya dan bahasa. Mereka tidak hanya melipatgandakan teks keagamaan terkait kehidupan santo-santa, tetapi juga buku-buku periode Klasik seperti Ovid dan Virgil dari Romawi, hukum, filsafat, kedokteran, dan lainnya.

Contoh karya yang berasal dari masa Abad Pertengahan Awal adalah: katedral-katedral ortodoks  yang sempat menjadi masjid dan kini menjadi museum di Turki: Hagia Sophia.

2. Puncak Abad Pertengahan (11M—13M) menghasilkan banyak karya intelektual, spiritual, dan seni. Karya-karya Aristoteles ditemukan kembali dan merupakan pendorong berdirinya Skolastisisme oleh Thomas Aquinas dan para pemikir lain. Pencapaian lain dari periode ini adalah lukisan-lukisan Giotto, puisi-puisi Dante Alighieri dan Geoffrey Chaucer, perjalanan Marco Polo, katedral-katedral bergaya Gothik. Periode ini diwarnai pula oleh perebutan kekuasaan kembali oleh Kristen Eropa Barat atas Tanah Suci yang dikuasai Islam.

3. Akhir Abad Pertengahan (14M—15M) diwarnai dengan bencana kelaparan dan wabah penyakit. Peperangan lokal yang terjadi antara lain timbul dari pemberontakan petani. Krisis kekuasaan terjadi karena perpecahan dalam Gereja Katolik Roma. Namun seni rupa dan ilmu pengetahuan berhasil berkembang pada masa ini. Teks-teks Romawi dan Yunani kuno yang diperbaharui merupakan cikal bakal periode sejarah berikutnya, yakni Renaissance. Teks-teks Latin dipakai dalam kontak dengan bangsa Arab, sedangkan teks Yunani digunakan saat penaklukan Konstantinopel oleh Turki Ottoman.

Contoh karya yang berasal dari masa Akhir Abad Pertengahan adalah: puisi-puisi Petrarka, catatan sejarah pertama oleh Leonardo Bruni, Tres Riches heures du Duc de Berry (Buku Ibadat Harian Teramat Mewah Milik Bangsawan Berry), tembikar mayolika.

  1. DEFINISI ESTETIKA ABAD PERTENGAHAN

Estetika sebenarnya belum menjadi cabang filosofis selama Abad Pertengahan, melainkan subyek pemikiran penulis modern. Filsafat Abad Pertengahan tentang keindahan lebih bersifat implisit daripada eksplisit, karena filosofi yang ada masih sangat tradisional dan tersebar perlahan. Marenbon (2009) mengungkapkan bahwa beberapa estetikawan seperti Umberto Eco, Wladyslaw Tatarkiewicz, dan Erwin Panofsky mengakui bahwa para pmikir Abad Pertengahan tidak melahirkan teori yang secara tersurat dapat diidentifikasi sebagai teori estetika. Tetapi, bila bila direkonstruksi secara telaten, sesungguhnya termuat argumen estetika di balik teks-teks Abad Pertengahan tersebut.

Namun, estetikawan seperti Paul Oskar Kristeller, Andreas Speer, Jan Aertsen dan Olivier Boulnois beranggapan bahwa para pemikir Abad Pertengahan hanya berbicara tentang keindahan spiritual dan tidak tentang keindahan karya seni. Dan karena itulah, bagi sarjana di kelompok kedua ini, istilah “estetika Abad Pertengahan” menjadi absurd (Marenbon, 2009). Ini dikarenakan pendekatan yang dipakai adalah menurut estetika sebagai disiplin filsafat seni yang mengkaji “karya seni” dalam pengertian modern.

Pendekatan yang lebih tepat dalam membaca teks-teks Abad Pertengahan adalah sebagai karya filsafat yang melatarbelakangi beberapa tema perdebatan dalam estetika modern.  Dengan demikian kriteria estetika modern tidak dipaksakan pada teks-teks tersebut, tetapi juga tidak mengabaikannya.

Kecenderungan umum yang didapati pada karya para pemikir Abad Pertengahan ketika membahas keindahan religius adalah adanya pengaruh tradisi estetika Klasik. Estetika Klasik mempunyai puncak pada tiga hal:

  1. Karya seni adalah mimesis (tiruan) dari kenyataan, entah itu kenyataan fisik, mental maupun konseptual.
  2. Karya seni bercorak fungsional, yaitu dapat dievaluasi atas hubungannya dengan dunia di luar karya tersebut, baik itu dunia sosial, politik, moral, religius, dsb.
  3. Keindahan karya seni terletak dalam “keselarasan antar bagian” (summetria).

Pengaruh tradisi Klasik ini terutama disebabkan para pemikir Abad Pertengahan meyakini bahwa pemikiran Klasik telah mencapai puncak pengetahuan tentang apa yang ada di dunia. Ini dibuktikan dengan tradisi menulis komentar atas teks-teks Klasik, hal yang terlihat lebih utama daripada menulis buku tentang gagasan mandiri penulisnya. hal ini menciptakan “otoritas teks” atas kehidupan para pemikirnya.

Selain estetika Klasik, tiga poin dari estetika Yunani Kuno berikut juga mempengaruhi Abad Pertengahan:

  1. Konsepsi seni sebagai “teknik”.
  2. Konsepsi seni yang “rasional”.
  3. Konsepsi kerja kesenian yang “non-kreatif”.

Ketiga konsepsi Yunani Kuno memandang karya seni sebagai hasil penerapan atas pedoman tertentu berdasar metode tertentu yang didapat dari  pengetahuan tentang kodrat alamiah hal-ihwal. Hal ini sesuai dengan yang dituliskan Hugo dari Biara Santo Viktor (1096—1141): “Seni bisa diartikan sebagai suatu pengetahuan yang terdiri dari pedoman dan aturan.” (Ars dici potest scientia, quae praeceptis requlisqe consistit) (Tatarkiewicz, 1980). Maka, kreatifitas  (dalam arti penciptaan berdasarkan inspirasi privat tanpa pedoman) dipandang berlawanan dengan seni.

Kecenderungan para pemikir Abad Pertengahan dalam memfokuskan diri kepada ketuhanan membuat karya mereka menjadi kombinasi yang khas dalam menggunakan pengaruh tradisi Klasik. Hal ini dapat dilihat dari karya Thomas Aquinas yang membicarakan keindahan sebagai salah satu dari beberapa kajian ontologis benda-benda.

Perkembangan estetika Abad Pertengahan, terutama setelah abad ke-12, juga diwarnai dengan sejarah perdebatan keilmuan. Dalam hal ini, tradisi Islam berperan besar karena telah menerjemahkan dan mengomentari naskah-naskah Aristoteles tentang ilmu alam yang semula hilang dari peradaban Eropa. Risalah al-Haytham tentang optik dari abad ke-11 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin juga mempengaruhi para pelukis Renaisans.

Menjelang masa Renaisans, kritik terhadap Tradisi Klasik mulai muncul. Philip Sidney, salah satu pemikir Renaisans, mengutarakan bahsa seni adalah perkara penciptaan suatu kenyataan estetik yang cukup diri, yaitu suatu mikrokosmos estetik yang semestinya dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan kenyataan di luar karya. (Marenbon, 2009).

Umberto Eco menuturkan bahwa secara historis, estetika harus dilihat sebagai “cara di mana suatu zaman memecahkan masalah estetikanya sendiri dalam keperluan permasalahan rakyat dan budayanya.” Dan estetika Abad Pertengahan mengacu pada filsafat serta keindahan. Estetika ini mempunyai ciri adanya konsep klasik dan Kristiani tentang keindahan. Pemikiran-pemikiran Plato dan Aristoteles, yang dibingkai oleh Plotinus sang Neoplatonis menyumbangkan konsep-konsep seperti harmoni, cahaya, dan simbolisme. Pembacaan Alkitab menyumbangkan bentuk hubungan alam dengan ilahi. Tokoh pemikir kunci dalam estetika Abad Pertengahan tersebut adalah Pseudo-Dionysius, Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas.

Berikut penjelasan pengaruh para pemikir zaman sebelumnya, topik utama estetika, dan pemikir utama Abad Pertengahan.

Para Pemikir Zaman Klasik yang Berpengaruh:

a. Plato

Plato sangat berpengaruh dalam pemikiran Pseudo-Dionysius dan Santo Agustinus. Bentuk-bentuk keindahan Platonis adalah gagasan bahwa dunia adalah bayangan dari gambar ketuhanan, sehingga keindahan Tuhanlah yang membentuk semua hal indah di dunia. Ini sekaligus menjadi pemahaman dari Mimesis, yang juga dianggapnya sebagai laku seniman. Tetapi Plato melarang seni mimetik, dan hanya mengizinkan karya seni untuk fungsi didaktik. Demikian juga dilakukan oleh Gereja Katolik selama Abad Pertengahan untuk mengkomunikasikan iman mereka kepada yang buta huruf melalui seni, baik itu seni sastra, arsitektur, musik, dan lukisan.

b. Aristoteles

Aristoteles mencapai penghormatan yang lebih besar dari para filsuf dan teolog Kristen melalui tulisan-tulisan Santo Thomas Aquinas dan Albert Agung. Dalam metafisika Aristoteles, konsep bentuk adalah landasan teori keindahan. Obyek dianggap terbentuk oleh zat esensial atau penentu spesies yang ada dalam obyek. Gagasan lain yang penting adalah hubungan antara “keberadaan” dan “satu” yang merupakan konsep transendental. Dan mengenai mimesis, ia katakan bahwa hal tersebut alami dan dapat digunakan untuk mendidik. Ia mempercayai katarsis yang terjadi dalam menikmati puisi (atau tragedi) dapat meluruhkan emosi negatif.

Aristoteles menekankan beberapa karakter untuk membentuk seni yang baik. Yaitu dengan ukuran dan keteraturan. Dengan ukuran yang tidak terlalu besar atau terlalu kecil memudahkan pengamatan dan pemahaman. Tatanan hubungan antar bagian dan dengan keseluruhan juga sangat penting.

c. Plotinus

Dua hal yang berpengaruh dari Plotinus pada perkembangan estetika Abad Pertengahan yaitu bahwa keindahan berkaitan dengan indra penglihatan dan pendengaran. Dan melalui kedua indra utama tersebutlah, pengetahuan umumnya diperoleh.

Yang kedua, Plotinus justru menolak proporsi sebagai komponen utama keindahan. Tetapi ia menyatakan, bahwa hal-hal sederhana tidak bisa menjadi indah, jika simetri adalah satu-satunya komponen keindahan. Karena jika demikian, hanya benda majemuk yang dapat memenuhi fungsi keindahan, dan itu pun hanya dilihat dari keseluruhan, sedangkan bagian-bagiannya tak dapat lagi dikatakan indah. Salah satu komponen lain yang dapat memenuhi fungsi keindahan adalah warna.

Topik Estetika dalam Abad Pertengahan:

a. proporsi

Umberto Eco menjelaskan bahwa konsep keindahan Abad Pertengahan sesungguhnya dihasilkan dengan menghubungkan banyak konsep yang berasal dari masa Klasik dengan matematika dan menghasilkan banyak variasi. Hal ini juga berlaku dalam proporsi dan harmoni.

Hubungan antara angka dan suara dipelajari pertama kali oleh Phytagoras dalam menemukan nada dan proporsi tertentu yang lebih menyenangkan. Berdasar teori Phytagoras, Boethius menulis De Musica. Olehnya, harmoni dianggap berasal dari Tuhan, dan karena itulah, musik yang dianggap mendekatkan manusia kepada Tuhan harus harmonis. Efek psikologis menjadi kajian penting teori musik, misalnya beberapa ritme dianggap mudah menuntun orang jatuh ke dalam hawa nafsu, dan ritme lain sesuai untuk pendidikan anak muda. Hal ini terungkap ketika Phytagoras berhasil membawa seorang muda kembali memasuki kesadaran saat mendengarkan melodi Hypophrygian ritme spondaik.

Prinsip proporsi dan harmoni diterapkan dalam semua cabang kesenian. Meskipun cara menerapkannya berbeda, namun mempunyai rasio numerik yang sama dalam nilai matematisnya.

Dalam arsitektur, keunggulan proporsi terlihat jelas pada bangunan katedral dan salib. Lukisan harus menunjukkan keseimbangan komposisi, dan musik harus memenuhi syarat harmoni sehingga menjadi indah.

Contoh keterhubungan cabang seni yang berbeda dalam proporsi adalah para arsitek sering menciptakan bangunan sebagai “tatanan yang mengingatkan pada melodi musik”, di samping “pengaturan ilahi” yang merupakan proporsi selaras antara garis lintang, bujur, dan ketinggian. Katedral dibangun dengan konstruksi prinsip-prinsip tersebut, juga bentuk salibnya yang memberikan rasa keseimbangan bila dilihat.

b. cahaya dan warna

Robert Grosseteste dalam risalah On Light, memadukan teori emanasi Neoplatonis dan aspek kosmologi Aristoteles. Perpaduan tersebut juga ditemukan dalam tulisan Pseudo-Dionysius di mana matahari melambangkan keabadian cahaya dan karena itu matahari juga menjadi simbol keindahan keteguhan. Grosseteste juga mengemukakan, dalam metafisika cahaya yang dikembangkannya tersebut, bahwa dunia dibentuk oleh kehadiran cahaya, dan sinar matahari yang memiliki arah pancaran yang lurus mengungkapkan keteraturan permukaan cahaya.

Dan mengenai hubungan proporsi dengan cahaya, dalam Hexaemeron, Grosseteste mengatakan: “Cahaya itu sendiri indah, karena sifatnya sederhana dan segala sesuatu menyukainya. Karena itulah, ia terintegrasi dalam derajat tertinggi dan paling serasi dan setara dengan dirinya sendiri: karena keindahan adalah harmoni proporsi.” Hal ini sesuai dengan identitas yang merupakan proporsi par excellence dari keindahan Tuhan sebagai sumber cahaya: “Karena Tuhan sangat sederhana, sangat selaras dan sesuai dengan diri-Nya.”

Efek cahaya menjadi penting dalam arsitektur dengan menghubungkan cahaya dengan teori warna untuk membentuk karakteristik tertentu dalam keindahan, seperti pancaran dan kejernihan. Hal ini didorong oleh keyakinan bahwa Tuhan adalah Cahaya.

Ungkapan tentang cahaya dan warna yang terkait erat dengan panas tercermin dari keyakinan bahwa kecantikan manusia adalah karena kulitnya yang segar dan kemerahan yang disebabkan oleh hangatnya jiwa, karena jiwa memiliki sifat cahaya.

Edgar de Bruyne mengungkapkan bahwa batu berwarna dan logam mulia telah menjadi simbol estetika cahaya dalam etimologi Latin Perancis. Bahasa Latin dan Perancis adalah dua dari beberapa bahasa yang berperan penting dalam komunikasi para filsuf dan karya sastra. Keyakinan tentang batu berwarna dan logam mulia menunjukkan keyakinan bahwa benda-benda tersebut diciptakan dari terang dan merupakan sumber keindahan.

“Keindahan sederhana suatu warna berasal dari bentuk yang mendominasi ketidakjelasan materi dan dari adanya cahaya inkorporeal yaitu akal dan gagasan.” Dan cahaya inkorporeal bagi orang Kristen adalah terang Tuhan dan memberi kemegahan pada seluruh ciptaan. Cahaya inilah yang memungkinkan keindahan suatu obyek , terutama warnanya, menjadi diterangi, untuk menampillkan keindahannya secara maksimal.

Pseudo-Dionysius menindaklanjuti pemikiran ini dengan pertanyaan reflektif, “Dan bagaimana dengan sinar matahari? Cahaya berasal dari Yang Baik, dan cahaya adalah gambaran dari Kebaikan pola dasar ini. Demikianlah Kebaikan juga dipuji dengan nama ‘Cahaya’, seperti pola dasar terungkap dari gambarnya.” Ini dimaksudkan untuk menyatakan cahaya matahari hanyalah refleksi dan simbol dari cahaya ilahi. Matahari menerangi alam semesta, tetapi cahayanya tidak habis. Dengan demikian, cahaya merupakan syarat penting adanya keindahan.

 Cahaya menerangi warna, di mana warna adalah komponen dari keindahan. Karenanya, warna yang lebih bersinar membuat obyek lebih bercahaya, dan dianggap lebih indah.

Contoh karya yang menggunakan estetika cahaya dan warna adalah penggunaan batu mulia sebagai penghias piranti liturgi (tabernakel, piala, sakristi, dll) dan lukisan-lukisan gerejawi.

c. simbolisme

Simbolisme digunakan untuk memberi makna pada karya seni. Dalam pemahaman hermeneutik, penerapannya akan menghasilkan makna teks yang lebih dalam. Ini terdapat terutama terkait dengan Alkitab. Umberto Eco menjelaskan yang pertama adalah simbol metafisik terkait tradisi filosofi yang mengartikan adanya tangan Tuhan dalam keindahan dunia. Kedua, alegori universal, yaitu persepsi dunia sebagai karya seni ilahi, sehingga segala sesuatu memiliki makna moral, alegoris, analogis dan literal.

Huizinga menjelaskan bahwa simbolisme adalah cara memahami tujuan keberadaan dan merupakan kunci untuk memahami paradigma Abad Pertengahan. Hal ini terkait dengan simbolisme yang berkembang di antara para pemikir Abad Pertengahan di mana begitu banyak referensi, manifestasi  Tuhan dalam banyak hal, dan alam yang berbicara secara heraldik. Ini merupakan perpanjangan dimensi mitopoeik dari masa Klasik, meski digunakan dalam citra dan nilai baru dari etos Kristen. Ketakutan akan ketidakamanan yang begitu mengakar karena tahun-tahun perang, kelaparan, dan wabah, telah mengesankan bahwa simbolisme adalah salah satu bentuk pelarian dalam respon imajinasi menanggapi krisis. Simbol-simbol yang muncul antara lain: ikan sebagai lambang Yesus.

Efek asing yang dihasilkan dari kecintaan terhadap simbol adalah lompatan pemikiran, yaitu memahami hal-hal bukan sebagai hubungan sebab-akibat tetapi sebagai jaringan makna dan tujuan. Contoh penyimpangan ini adalah penggunaan simbol unicorn, yang menurut legenda Klasik dapat ditangkap seorang perawan jika ia menyandarkan kepala di pangkuannya, menjadi simbol ganda yang melambangkan juga Kristus—sebagai Anak Tunggal Allah—diperanakkan kembali melalui rahim Maria.

Alegori, sebagai rangkaian simbol, menurut Bede, dapat membangkitkan semangat, menjiwai ekspresi, dan menjadi ornamen yang sangat bergaya. Dalam penggunaan simbol, terdapat upaya terus-menerus untuk menyatukan yang alami dan yang supernatural. Misalnya ular melambangkan keutamaan kehati-hatian, namun juga dapat melambangkan Kejahatan. Hal ini adalah polifoni tanda. Tentang ini Huizinga mengatakan: “Tentang setiap gagasan, gagasan lain mengelompokkan dirinya sendiri, membentuk sosok simetris, seperti dalam kaleidoskop.”

Sementara menurut Thomas Aquinas, ide utama pemikiran bahwa alam semesta mengungkapkan Tuhan pencipta melalui keindahannya, dan penampilan keindahan adalah tanda dari keindahan yang tak terlihat–adalah sebab dari orang buta huruf yang tidak dapat membaca Alkitab tetap dapat terhubung dengan Tuhan melalui alam. Simbol, terutama, memang diciptakan untuk hal demikian. Sebab Tuhan menciptakan segala sesuatu sesuai citra-Nya, hal ini berarti aspek keberadaan-Nya dapat dilihat melalui pandangan simbolis dari hal-hal yang ada di dunia. Contoh penerapan estetika simbol ini adalah ketiga jendela Katedral Edessa yang melambangkan Tritunggal Maha Kudus dan atapnya melambangkan langit.

Para pemikir Abad Pertengahan jumlahnya sangat banyak, yang utama adalah Santo Agustinus, Pseudo-Dionysius, Santo Thomas Aquinas. Sedangkan para pemikir lain, yang juga sebenarnya menyumbangkan banyak hal penting, di antaranya adalah Boethius, Vincent dari Beauvais, Bede, Grosseteste, Bonaventura, Hugo dari Biara Santo Viktor, John dari Salisbury, Alcuin,  Suger, Albertino Mussato.

ESTETIKA DAN RIWAYAT SANTO AGUSTINUS

Aurelius Augustinus atau sering disebut Agustinus dari Hippo lahir 13 November 354 di Tagaste, Afrika, yang kini menjadi wilayah Aljazair. Ia menerima pendidikan Romawi klasik dan melanjutkannya ke Kartago. Ia mempelajari filsafat Cicero. Dan kemudian menjadi penganut Manikean. Ia menjalin hubungan dengan seorang wanita hingga mempunyai seorang anak.

Agustinus mengajar tata bahasa di Kartago, dan kemudian pergi ke Roma untuk mendirikan sekolah. ia berubah pendirian pada usia 31 tahun karena kekecewaannya pada salah satu uskup Manikean. Ia kemudian masuk Kristen di bawah pengaruh studinya saat itu tentang Neoplatonisme dan beberapa kawan. Ia menjadi pengagum Uskup Milan, yakni Ambrosius, karena retorikanya. Dari uskup ini ia mempelajari cara spiritual yang berbeda dalam membaca Kitab Suci. Ibunya mengatur agar ia berpisah dari kekasihnya dan menikah dengan seorang wanita muda. Namun Agustinus justru memutuskan menjadi imam selibat. Ia kemudian mendirikan biara di rumah peninggalan ibunya dan menulis. Karena kecerdasannya, ia kemudian menjadi uskup hingga akhir hayatnya di tahun 430.

Agustinus menyusun sekitar 350 catatan semasa hidupnya. Confessions adalah otobiografi spiritualnya yang menceritakan perjalanannya memeluk iman Kristen. Ia sering menulis  melawan bidah Manikean yang menolak Perjanjian lama, dan mengkaji Kitab Kejadian untuk mengubah absurditas pembacaan literal dalam The Literal Meaning of Genesis.

Ia sempat mengikuti aliran Pelagius dalam Gereja, yang mengklaim bahwa manusia dengan kehendak bebasnya dapat melakukan perbuatan baik untuk keselamatannya. Klaim ini kemudian dibantah oleh Agustinus dengan mengatakan bahwa tidak ada perbuatan baik yang dapat dilakukan tanpa rahmat Tuhan. Inilah yang melatarbelakangi bukunya yang paling terkenal, De Civitate Dei atau Kota Tuhan, yang membahas mengenai Tuhan, kemartiran, filosofi-filosofi Kristen, dan hubungan agama Kristiani dengan agama dan filosofi lainnya.

De Pulchro et Apto (“Tentang Yang Indah dan Yang Pantas”) adalah risalah pendek yang menjadi awal dari Confessions. Di dalam Confessions, Agustinus menulis:

“Akankah kita mencintai yang tidak indah? Lantas apa itu keindahan (pulchrum) dan apa itu indah (pulchritudo)? Apakah yang memikat dan mempersatukan kita pada hal-hal yang kita cintai kecuali ada keanggunan dan kecantikan di dalamnya … . Saya memperhatikan bahwa dalam tubuh sendiri terdapat keindahan yang muncul dari pembentukan keseluruhan (totum), dan dari kecocokan yang pantas (apte accomodateur), seperti antara anggota tubuh dengan keseluruhannya, atau antara sepatu dan kaki.” (Confessions IV, xiiii)

Kutipan di atas juga menunjukkan pengaruh Tradisi Klasik, yakni ciri proporsional keindahan dan ciri fungsional keindahan.

Agustinus, seperti pemikiran Yunani Kuno, memahami keindahan sebagai keselarasan antar bagian (summetria, proportio) yang membentuk keseluruhan “seperti antara anggota tubuh dengan keseluruhannya”. Dan dalam fungsi keindahan, ia memahami bahwa sesuatu yang indah niscaya memiliki kecocokan yang pantas (aptum dan accodomatum) dengan tujuan keberadaan sesuatu tersebut, seperti “antara sepatu dan kaki”.

Dan dalam sendi ketiga estetika Klasik, yakni bahwa seni bercorak mimetik, Agustinus pun dipengaruhi.

Pemikiran baru yang berasal dari Agustinus adalah pendekatan yang digunakannya dalam memposisikan perihal keindahan. Ia meneruskan pendekatan matematis Plato sampai pada tahap yang belum pernah digunakan oleh pemikir sebelumnya. Keindahan baginya adalah tentang proporsi. Sebuah karya seni menjadi indah bila bagian-bagiannya tersusun secara proporsional. Karena kesenian berkaitan dengan penataan berdasar proporsi atau rasio, maka setiap seni pada dasarnya bersifat rasional. Hal ini, menurut Agustinus, berlaku pada seni yang menampilkan proporsi secara jelas seperti arsitektur dan seni rupa, tetapi juga dalam kesusastraan dan seni tari.

Rasio adalah hubungan matematis antar dua atau lebih kuantitas. Karena proporsi sebagai hakikat keindahan merupakan hubungan matematis, maka hakikat keindahan pun terletak pada hubungan matematis antar bilangan. Dalam risalahnya tentang kehendak bebas, De Libero Arbitrio, Agustinus menyatakan bahwa bilangan adalah landasan segala sesuatu (On the Free Choice of the Will). Hubungan antar bilangan merupakan struktur dasar dari seluruh kenyataan, termasuk kenyataan estetis. Visi matematis Agustinus membentang dari kenyataan hingga tahap abstraksi yang belum pernak dicoba seorang pemikir sebelumnya: seluruh kenyataan pada dasarnya adalah bilangan.

“Suatu hal menjadi indah karena menyenangkan, atau hal itu menyenangkan karena indah? Hal itu menyenangkan karena indah.” Hal ini termaktub dalam karyanya, On True Religion, untuk mengungkapkan keindahan sebuah karya merupakan dasar perasaan senang yang ditimbulkan dari karya tersebut.

“Kau tidak mungkin menerima atau menolak apa yang berhubungan dengan indra badanimu kecuali kau memiliki sejenis hukum dalam dirimu, melalui apa kau dapat membandingkan setiap hal indah yang kau indrai.” Pernyataan lanjutannya ini mengungkapkan adanya “indra seni” dalam diri manusia, yang berfungsi sebagai “hakim dalam diri” yang memungkinkan seseorang mengenali proporsi dalam musik dan seni lainnya dalam kemampuan matematis atau rasio yang dimilikinya sejak lahir. Dari pengalaman inilah dihasilkan pengetahuan “hukum keindahan”.

“Hukum keindahan itu ibarat standar ukuran yang sempurna, yang mampu mengukur apa saja. Standar ukuran semacam itu, tentu saja, tinggal dan tetap. Sebab, apabila tidak demikian, maka standar tersebut tidak akan bisa menjadi patokan. Tidak mungkin, misalnya, sebuah ukuran waktu dapat digunakan untuk mengukur tahun tetapi tidak bisa mengukur bulan. Standar itu pastilah tinggal dan tetap.”

Dan Agustinus memasukkan peran Tuhan sebagai asal dari hukum keindahan yang tunggal dan tetap. Tuhan, sebagai yang abadi dan mengatasi semesta fisik yang berubah terus menerus, adalah asal dari adanya proporsi kodrati benda-benda fisik. Dan dari-Nya juga asal aturan bagi karya seni yang hendak menggambarkan benda-benda fisik. Maka, pengalaman estetis sesungguhnya terletak pada pengalaman religius (Beardsley, 1985).

Selain mengikuti konsep Cicero tentang penginderaan seni, Agustinus juga menggunakan konsep kesatuan yang menyeluruh dari Plotinus. Setiap benda adalah bagian dari suatu kesatuan yang menyeluruh, dan karena itulah, yang terburuk sekalipun sesungguhnya juga mengandung unsur keindahan. Alam semesta ini indah bila dilihat secara keseluruhan, segala sesuatunya tersusun secara proporsional. Dan setiap hal yang menyusun semesta dapat dikatakan berpartisipasi dalam keindahan keseluruhan. Dan keindahan ini, tidak lain adalah berkat penyelenggaraan Ilahi. Tentang ini ia mengatakan:

“Seperti halnya warna hitam dalam lukisan menjadi indah sebagai bahan dari keseluruhan, demikian juga penyelenggaraan Ilahi menyusun tampilan kehidupan ini sebagai keseluruhan yang paling selaras. Sebab ada berbagai peran yang diberikan bagi mereka yang kalah, pesaing, pemenang, penonton, dan pendiam yang tujuan utamanya adalah untuk merenungkan Tuhan. Di antara semua ini tidak ada yang jahat, kecuali dosa.” (On True Religion)

Demikianlah, dua hal yang menjadi pola standar estetik Abad Pertengahan diperoleh dari transformasi wacana estetika ke dalam wacana religius ala Agustinus. Yang pertama adalah mendefiniskan ulang wacana keindahan sebagai proporsionalitas ke dalam wacana matematis tentang bilangan. Yang kedua, menjangkarkan wacana matematis tersebut pada pertimbangan teologis tentang Tuhan sebagai asal dari struktur matematis formal dari keseluruhan kenyataan.

ESTETIKA DAN RIWAYAT SANTO THOMAS AQUINAS

Tommaso d’Aquino atau Thomas Aquino lahir tahun 1225 di sebuah kastil di Roccaseca, Kerajaan Sisilia, yang kini merupakan sebuah wilayah di Italia. Pada usia 5 tahun, ia diketahui sudah mempunyai perhatian besar untuk merenungkan firman Tuhan. Pada usia ini ia memulai pendidikannya. Tahun 1239, ia masuk studium generale (universitas) di Napoli. Di sanalah ia mempelajari filsafat Aristoteles, Averroes, dan Maimonides. Ia kemudian tertarik untuk masuk ke dalam Ordo Dominikan, sebuah ordo yang beranggotakan biarawan pengkhotbah yang hidup sederhana. Ini membuat pertentangan dan penahanannya dalam penjara di kastil keluarganya sendiri. Hal ini dikarenakan secara garis keluarga seharusnya ia menjadi pemimpin biara. Akhirnya, saudara perempuannya membantu mempertemukannya dengan pimpinan Ordo Dominikan di Roma.

Di Roma, Thomas kemudian belajar kepada Albertus Magnus, yang sangat mempengaruhi pemikirannya terutama tentang objek dan keindahan. Di antara teman-temannya, Thomas dikenal pendiam dan terkesan lamban. Namun, Albertus mengatakan bahwa kelak pengajaran Thomas akan didengar seluruh dunia. Thomas kemudian mengajar mahasiswa di Cologne tentang Perjanjian Lama sambil menulis, dan menjadi profesor di usia 31 tahun. Ia menjadi teolog kepausan Roma pada usia 40 tahun.

Ia banyak berdiskusi menentang ajaran-ajaran yang dianggapnya keliru dan terus menulis. Dan mendirikan sekolahnya sendiri di Napoli ketika mengambil cuti dari hiruk pikuk kehidupan akademis di Paris, sambil terus mengajar beragam topik keagamaan dan menulis bagian ketiga dari karyanya terbesarnya, Summa Theologica.

Suatu kali, temannya melihat bahwa ia terangkat ke udara saat khusyuk berdoa di depan salib. Sejak itu ia perlahan berubah menjadi pendiam. Ia juga berhenti mendiktekan kelanjutan dari Summa-nya kepada asistennya. Ia berkata, “ … aku tidak dapat, karena semua yang telah kutuliskan tampak seperti jerami bagiku.”

Thomas meninggal tanggal 7 Maret 1274 ketika sedang membacakan tafsir Kitab Kidung Agung. Jumlah karya yang ia tinggalkan berjumlah ribuan. Summa Theologica, yang merupakan karya terbesarnya dan sangat penting untuk pengembangan keteguhan iman, diletakkan di samping Alkitab saat Konsili Terente.

Estetika Abad Pertengahan Thomas Aquinas

Definisi keindahan Thomas Aquinas adalah bahwa keindahan merupakan sesuatu yang memberikan kesenangan ketika dilihat (Summa Theologica I—II, 27). Pengertian “dilihat”, atau “melihat” ini merujuk pada aktivitas pemahaman. Misalnya ketika seseorang melihat bunga, bentuk yang sama dengan bunga akan timbul dalam pikiran sebagai sebuah pengetahuan dan pengenalan akan keindahannya. Proses ini terdiri dari dua macam pengetahuan, yakni pengetahuan pasif dan aktif. Hal ini menjadi penanda bahwa pemahaman keindahan adalah hasil dari kognisi.

Menurut Aquinas, keindahan sebagai hasil kognisi yang sifatnya objektif, mempunyai beberapa kriteria. Hal ini meliputi aktualitas, proporsi, pancaran, dan integritas (Summa Theologica I, 39.8c). Kriteria ini dambil berdasar hubungan dalam Tritunggal Maha Kudus. Di mana Putra memiliki integritas kepada Bapa seperti diungkapkan: “ … memiliki dalam diri-Nya sendiri secara benar dan sempurna sifat Bapa.” Putra juga proporsi sebagaimana Ia adalah gambaran langsung dari Bapa, dan memiliki pancaran (serta kejernihan atau kecerahan) sebagai Firman seperti dikatakan: “ … yang merupakan terang dan kemegahan kecerdasan.”

Aktualitas terdiri dari tiga poin penting, yakni keberadaan, bentuk, dan tindakan (Armand Maurer). Keberadaan obyek yang sebenarnya adalah syarat keindahan. Aquinas mengungkapkan hubungan antara kebaikan dengan bentuk dalam keberadaan dalam Summa Theologica I, 5.5. Tindakan yang melengkapi aktualitas bentuk dan keberadaan dapat dicontohkan dengan pengertian aksi seorang penari.

Dalam Summa Theologica, disebutkan tentang proporsi:

“Proporsi ada dua. Pertama berarti hubungan tertentu dari satu kuantitas ke kuantitas lainnya, sebagaimana double, treble, dan equal adalah macam-macam bentuk dari proporsi. Dalam pengertiannya yang lain, setiap hubungan antara satu hal dengan hal lainnya disebut proporsi. Dalam pengertian terakhir ini misalnya proporsi makhluk dengan Tuhan, sebagaimana ia terkait dengan-Nya sebagai akibat dari penyebabnya, dan sebagai potensi untuk tindakannya; dan dalam cara inilah daya akal budi mahkluk dapat menjadi proporsional untuk mengenal Tuhan.”

Umberto Eco (1998) menulis bahwa proporsi versi Aquinas merupakan hubungan kualitas dan hubungan kuantitas. Hubungan kuantitas bersifat matematis, dan hubungan kualitas lebih pada kebiasaan, yang dijelaskannya sebagai berikut: “Referensi atau analogi timbal balik, atau semacam kesepakatan di antara keduanya yang sesuai dengan kriteria atau aturan umum.” Hubungan inilah yang menjadi salah satu materi untuk membentuk, sebab akibat, dan Pencipta untuk menciptakan (Summa Contra Gentiles II, 16.8 dan 80-81.7).

Mengenai pancaran, dikatakan mengenai cahaya: “Cahaya adalah milik yang dianggap tepat sebagai indah, yaitu yang berada dalam wujud yang menarik perhatian mata, atau telinga, atau pikiran, dan membuat kita ingin melihatnya lagi” (Gilson, 2000). Radians menandakan kecemerlangan yang terpancar dari objek yang indah. Sebagai contoh, di Abad Pertengahan, pada galeri lukisan, pemadaman lampu dianggap membuat hilang sebagian keindahan lukisan.

Dalam hal integritas, atau keutuhan, Aquinas menjelaskan bahwa integritas bersifat eksistensial. Hal itu mengungkapkan kesempurnaan primal dari sesuatu, yang ditemukan dalam keberadaannya. Di sisi lain, sesuatu menjadi integral ketika ia sempurna dalam aksinya. Atau dikatakan: “Keutuhan menuntut kesempurnaan dalam wujud dan tindakan” (Maurer). Aquinas menjelaskan:

“Kesempurnaan pertama-tama adalah yang menurutnya sesuatu itu pada dasarnya sempurna, dan kesempurnaan ini adalah bentuk keseluruhan; yang merupakan hasil bentuk dari keseluruhan dan bagian-bagiannya secara lengkap” (Summa Theologica I, 73).

Keindahan Transendental

Keindahan sejak era Plato kerap diasosiasikan dengan kebaikan dan kebenaran. Dan Aquinas dalam sistematika estetikanya menjelaskan dalam Quaestiones Disputatae de Veritate  tentang tiga modus transendental keberadaan dari asosiasi tersebut. Modus transendental keberadaan adalah sifat-sifat dasar segala yang ada (ens). Segala sesuatu, sejauh ada, mengandung modus tersebut. Tiga modus tersebut yaitu:

  1. Ketunggalan (unum)

Segala yang ada mempunyai sifat dan kualitas ketunggalan. Ketunggalan adalah wujud dari keseluruhan dan juga merupakan kesatuan, seperti yang tertulis pada Summa Theologica I,73.

  1. Kebenaran (verum)

Segala yang ada mengandung sifat kebenaran. Kebenaran adalah hubungan kesesuaian (adequatio) antara pikiran dan keberadaan. Artinya, kebenaran berada pada sisi pikiran objek maupun sisi objek yang dipikirkan.

  1. Kebaikan (bonum)

Segala yang ada mengandung sifat kebaikan. Kebaikan adalah hubungan kesesuaian antara hasrat dan keberadaan. Dan segala yang ada, sejauh sebagai objek yang dihasrati secara sesuai, memuat sifat kebaikan.

Aquinas menunjukkan kesamaan ontologis/hakikat antara kebaikan dengan keindahan (pulchrum) dalam Summa-nya:

“Keindahan dan kebaikan suatu hal adalah identik secara mendasar, sebab keduanya berlandasan pada hal yang sama, yakni bentuk. Karena itu, kebaikan dipuji sebagai keindahan. Namun keduanya berbeda secara logis. Kebaikan berkenaan dengan hasrat (kebaikan adalah apa yang dihasrati oleh semuanya) sehingga kebaikan mengandung aspek tujuan (sebab hasrat adalah sejenis gerak menuju hal yang dihasrati). Di lain pihak, keindahan berkenaan dengan fakultas kognitif sebab hal-hal yang indah adalah hal-hal menyenangkan bila dilihat.”

Contohnya adalah lukisan pemandangan dikatakan indah karena mempunyai proporsi tertentu yang menimbulkan kesan menyenangkan ketika dipersepsi secara visual. Lukisan tersebut dikatakan baik karena dihasrati oleh banyak orang. Jadi, keindahan dan kebaikan adalah dua aspek dari satu realitas yaitu lukisan pemandangan.

Dengan demikian, Aquinas telah menambahkan satu transendentalia/modus transenden keberadaan yaitu keindahan (pulchrum).

Analogi Keindahan

Dalam kerangka pikir teologis Aquinas, keempat kategori transendental terutama dilekatkan pada sosok Tuhan. Membedakan ketunggalan, kebenaran, kebaikan, dan keindahan Tuhan dari benda ciptaan dilakukan dengan hierarki semantik. Hierarki semantik adalah pelapisan makna suatu kata. Hierarki ini mencerminkan hierarki ontologis yang berarti pelapisan derajat hakikat kenyataan. Inilah analogi entis atau analogi keberadaan.

Penjelasannya adalah sebagai berikut. Seekor kucing, sebuah katedral Gothik dan juga Tuhan dapat diberi predikat “indah”. Predikat transendental (indah, baik, benar, dan tunggal) yang dilekatkan bersifat analog. Artinya ada kesamaan sekaligus perbedaan makna dari predikat-predikat itu yang muncul dari penerapannya pada tiap-tiap kasus. Misalnya keindahan Tuhan berbeda dengan keindahan katedral Gothik, tetapi keduanya “indah” dalam arti berbeda; Tuhan ada seperti halnya seekor kucing, tetapi keduanya “ada” dalam arti yang berbeda.

Hal tersebut berbeda dengan pelekatan predikat yang bersifat univok dan ekuivok. Univok adalah makna yang sama diperoleh dari pelekatan sebuah predikat pada semua kasus. Contohnya “seekor kucing makan ikan”, predikatnya mempunyai makna sama dengan pernyataan “seorang pria makan di warteg”. Sedangkan ekuivok adalah makna yang berbeda diperoleh dari pelekatan sebuah predikat pada semua kasus. Contohnya “kontras warna dalam lukisan itu tajam sekali”, predikatnya mempunyai makna yang berbeda dengan pernyataan “nada itu terdengar tajam”.

Perihal “indah” dan “ada” pada predikat analog di atas, hierarki semantiknya mengungkapkan bahwa makna “ada” dan “indah” dalam pernyataan tentang Tuhan adalah lebih tinggi daripada makna “ada” dan “indah” dalam pernyataan tentang kucing dan katedral Gothik. Dan hierarki ontologisnya adalah bahwa keberadaan dan keindahan Tuhan lebih tinggi dari keberadaan dan keindahan kucing maupun katedral Gothik.

Pengertian hierarkis tentang makna predikat dan hakikat kenyataan inilah yang dimaksud dengan analogi keberadaan atau analogia entis, yaitu bahwa predikat-predikat transendental harus diterapkan sesuai proporsinya. Aquinas menulis dalam Summa Theologica:

“Peneraan predikat secara univok tidak dimungkinkan terhadap Tuhan dan makhluk ciptaan. … Kata “bijak” yang dikenakan pada manusia dalam arti tertentu mencakup keseluruhan hal yang ditandainya. Tidak demikian halnya ketika kata itu dikenakan pada Tuhan. kata itu menyisakan hal yang masih belum tercakup dalam Tuhan dan melampaui makna nama tersebut. Karena itu  jelas bahwa kata “bijak” tidak bisa diterapkan dalam cara yang sama pada Tuhan dan manusia. Sebaliknya, nama-nama juga tidak dapat diterakan pada Tuhan dan makhluk ciptaan dalam arti yang sepepnuhnya ekuivok, seperti yang dikatakan orang-orang. Sebab jika demikian halnya, maka keberadaan Tuhan tidak bisa disimpulkan sama sekali dari keberadaan mahkluk. … Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nama-nama ini menandai Tuhan dan makhluk-makhluk ciptaan dalam arti yang analog, yakni sesuai dengan proporsi. … Dalam analogi, makna tidaklah sama seperti dalam univok, tetapi juga tidak sepenuhnya lain seperti dalam ekuivok, tetapi sebuah kata digunakan dalam makna yang beragam mengikuti beragam proporsi terhadap satu hal.”

Beberapa pendapat lainnya dari Thomas Aquinas yang menjadi bagian diskusi estetika dari para pemikir Abad Pertengahan adalah sebagai berikut.

Bagi Aquinas, cahaya adalah kualitas aktif yang berasal dari bentuk substansial matahari. Benda transparan memiliki kemampuan menerima dan memancarkan kembali cahaya sebagai sesuatu yang baru.

Mengenai keindahan musikal, di tengah penolakan para mistik terhadap ornamen-ornamen yang menakjubkan dalam gereja atau liturgi (seperti simbol sosok mistis centaurus, unicorn, logam atau batu mulia), Aquinas mengkritik untuk meniadakan musik instrumental dalam Liturgi, karena dapat merangsang kesenangan yang berlebihan dan mengalihkan perhatian umat untuk beribadah. Namun ia menyarankan untuk lagu kontemplatif, sesuatu yang sebenarnya sama risikonya.

Demikian juga pendapat Aquinas mengenai mimetik dalam seni puitik. Namun, meskipun berhati-hati terhadap penggunaan segala hal yang mengandung keindahan supaya tidak menyesatkan pandangan umat dalam beribadah, ia menulis: “Tanda seni puitis menunjukkan kebenaran segala sesuatu melalui berbagai keserupaan yang ditemukan.”

Dua ranah nilai, yakni kebaikan dan keindahan yang manunggal dalam estetika Aquinas dan para pemikir Abad Pertengahan ini jelas bukan disebabkan oleh kurangnya pemahaman kritis mereka, namun karena kesatuan tanggapan moral dan estetika mereka terhadap berbagai hal. Bagi mereka, kehidupan tampak sebagai yang sepenuhnya terintegrasi. Hal yang menjadi sesuatu yang telah usang bagi kita, tetapi setidaknya paradigmanya menjadi sumber wawasan yang berharga, di mana doktrin estetika yang mereka hasilkan merupakan landasan bagi pemikiran filsafat selanjutnya.

Aquinas mengembangkan objektifitas keindahan dari Albertus Magnus, yang menganggap keindahan secara objektif hadir dalam segala hal tanpa bantuan atau hambatan manusia, menjadi objektifitas keindahan yang lain, yakni yang menganggap keindahan sebagai properti transendental dan diungkapkan dalam hubungannya dengan subjek yang mengetahuinya. Jenis objektifitas ini mengarah ke humanisme.

Aquinas mengembangkan teori-teorinya dengan cara mengumpulkan dan menyerap semua doktrin tradisional, lalu memberikan komentar pribadinya secara tertulis, antara lain dalam Summa-nya. Sistem yang dimiliki Aquinas membuat Summa karyanya sebanding dengan komputer di Abad Pertengahan, di mana semua data dimasukkan dan setiap pertanyaan mendapat jawaban lengkap. Jawabannya tentu dalam batas-batas logika  dan cara tertentu untuk memahami berbagai hal, seperti konsepsi matematika tentang keindahan, metafisika estetika cahaya, psikologi penglihatan tertentu, dan konsepsi bentuk sebagai penyebab dan pancaran kesenangan.

Pengaruh Thomas Aquinas sangat besar, terutama dalam pengajaran agama Kristiani. Thomisme adalah aliran filsafat yang muncul dari karya dan pemikirannya, yang kemudian berusaha diperbarui oleh Vatikan menjadi Neo-Thomisme yang kritis dan berfungsi sebagai peneguh ajaran Gereja. Dalam sastra, dikenal dua karya besar yang juga dipengaruhi olehnya, yakni Roman de la Rose karya Guillaume dan Jean de Meun dan Divine Comedy karya Dante Aleghieri.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Suryajaya, Martin.2016. Sejarah Estetika. Jakarta: Penerbit Gang Kabel.
  2. Eco, Umberto. 1989. On the Medieval Theory of Signs. John Benjamin BV.
  3. Figg, Kristen Mossler.2005. Arts Humanities Through the Eras Medieval Europe.Thomson Gale.
  4. Ruud, Jay.2006.Encyclopedia of Medieval Literature.Jay Ruud.
  5. Suryajaya, Martin.2016.Selayang Pandang Estetika Abad Pertengahan.(www.martinsuryajaya.com). 5/10/2020.
  6. Eco, Umberto. 2002. Art and Beauty in the Middle Ages. USA: Yale University.
  7. Spicher, Michael.Medieval Theories of Aesthetic.(iep.utm.edu).13/10/2020.
  8. Anonim.Estetika Abad Pertengahan.(id.m.wikipedia.org).4/10/2020.
  9. Anonim.Agustinus Dari Hippo.(id.m.wikipedia.org).6/10/2020.
  10. Anonim.Abad Pertengahan.(id.m.wikipedia.org).4/10//2020.
  11. Anonim.Thomas Aquinas.(id.m.wikipedia.org).4/10/2020.
  12. Anonim.Thomisme.(id.m.wikipedia.org).15/10/2020.

UCAPAN TERIMA KASIH KEPADA:

  1. Shiny ane el-Poesya
  2. Mario F. Lawi
  3. Alif Norrahman
  4. Dyah Merta
  5. Eimen Bhajo

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *