LOADING

Type to search

(FILSAFAT) KEINDAHAN, ESTETIKA DAN KERJA SENI DALAM PANDANGAN ARISTOTELES

–Catatan kecil (kedua) ini dibuat oleh Shiny.ane el’poesya* sebagai bahan diskusi Estetika di grup Sains Puisi Lab.–
 
Banyak yang menganggap, bahwa bertanya mengenai “apa itu keindahan?” dan ”apa itu estetika?” termasuk bagaimana jawaban yang diberikannya adalah hal yang sama, padahal, kedua hal tersebut adalah dua soal yang berbeda. Dengan kata lain, menyamakan antara keduanya secara manasuka adalah satu kekeliruan. Dalam diskusi sebelumnya–pada sesi penutup, telah dikatakan bahwa judul diskusi yang digunakan adalah Keindahan dan bukan Estetika atas pembahasan “(Filsafat) Keindahan Dalam Pandangan Plato,” sebab, Plato dalam pembicaraannya, ia memang memberikan sorotan kepada “apa yang indah?” (Yunani: Kalos, keindahan), dan bukan pada “apa yang estetis?” (Yunani: Aesthetos, Aisthanesthai, yang dipersepsi, dirasa, dialami, dihayati sebagai yang indah; Aisthesis, sensasi sebuah sentuhan).
 
Pada diskusi yang kedua ini–melalui pemikiran Aristoteles, kita akan coba memperjelas mengenai duduk perkara konseptual kedua istilah tersebut. Tetapi, sebelumnya mari kita ketahui lebih dulu sekilas siapa Aristoteles.
 
Biografi Singkat Aristoteles
 
Aristoteles adalah salah satu murid Plato paling brilian. Pada akhir kehidupannya, ia telah mewariskan kepada murid-muridnya berbagai disiplin pengetahuan yang berhasil ia susun dengan sistematis. Dari mulai cabang-cabang keilmuan dalam filsafat, logika, retorika, politik, psikologi, zoologi, hingga puitika.
 
Aristoteles adalah anak dari seorang dokter. Ia lahir di Macedonia tepatnya di Kota Stagira. Ia masuk ke Akademi Plato di Athena pada usia 18 tahun. Selepas meninggalnya Plato, ia pergi ke Kota Assos dan bergabung dengan kelompok Platonis. Namun, kemudian ia kembali pergi untuk menuju Kota Lesbos dan mempelajari zoologi (ilmu hewan). Pada tahun 335 SM, ia tercatat telah kembali ke Athena dan mendirikan “sekolah”nya sendiri yang diberi nama Lycium. Nama tersebut ia dapatkan ketika ia mengunjungi pemakaman yang dibuat untuk menghormati Dewa Apollo Lycius. Kelompok belajar milik Aristoteles ini juga dikenal dengan nama “Paripatetik,” yang artinya “berjalan-jalan,” karena Aristoteles ketika mengajar sambil berjalan-jalan di antara muridnya. Di Lycium ini pun, pada akhirnya Aristoteles benar-benar berdiri sebagai seorang pemikir dan peneliti yang mandiri serta secara umum lepas dari pemikiran Plato.
 
Jika kita bagi, maka paling tidak ada tiga fase dalam perkembangan pemikiran Aristoteles: (1) Fase yangmana secara umum ia masih berada di bawah pengaruh pemikiran gurunya, Plato. Beberapa karya yang dihasilkan pada fase pertama ini di antaranya: On The Soul (Psikologi), sebagian fragmen terdahulu dari Organonnya (Logika), Physis (Fisika/Ilmu Alam), De Anima (Dunia Hewan). (2) Fase yangmana ia mulai mengkritisi sejumlah pandangan Plato–meskipun tidak sepenuhnya. Beberapa karya yang dihasilkan pada fase kedua ini di antaranya: On The Philosophy (Filsafat), Metaphysics (Filsafat Utama, Metafisika), Eudemian Ethics (Etika dan Kebahagiaan), dan Politics (politik). (3) Fase ketika Aristoteles benar-benar telah menjadi pemikir dan peneliti yang mandiri, lepas dari pemikiran dan apa yang menjadi konsentrasi Plato. Pada fase ini ia telah memulai penelitian di bidang ilmu alam dan sejarah dengan lebih objektif, metodis, dan detail selayaknya seorang saintis bagi masanya. Beberapa karya pada fase ini di antaranya: The Categories (Biologi-Logika), De Interpretatione (Interpretasi), Analitica Prioria-Analitica Posterioria (Logika), Topica (Seni), Sophism (Filsafat-Retorika), Physisc (Fisika/Ilmu Alam), Methaphysics (Filsafat), Meteorologica (Benda-benda langit), Animal History (Sejarah Hewan), Magna Moralia (Moral), Nichomachean Ethics (Etika), Politics (Politik), Retoric (Debat dan Pidato), dan Poetics (Seni Representasi: Sajak, Drama, Tragedi dst.).
 
Pada tahun 343 SM, ia diundang oleh Raja Philip untuk menjadi guru pribadi dari Alexander Agung yang masih berusia remaja. Ia ditugaskan oleh Raja Philip untuk mengajarkan berbagai ilmu dan terutama ilmu kebijaksanaan (filsafat) kepada anaknya. Selepas Alexander Agung menjadi Raja dan meninggal, Aristoteles pergi ke Kota Chaltic di Pulau Euboa hingga ia meninggal.
 
Pandangan Aristoteles mengenai Alam Semesta
 
Meskipun berpandangan sama sebagaimana gurunya, Plato, yang mengatakan bahwa alam semesta adalah sesuatu yang ADA dan Real melampaui keberadaan manusia dan tetap akan ada meskipun manusia tidak menyadarinya, tetapi, Aristoteles menolak pandangan dualisme (dua-dunia) Plato mengenai alam semesta. Realitas hakiki dari alam semesta bukanlah apa yang ada di luar yang duniawi ini, ia adalah apa yang berada dan bersentuhan secara langsung dengan kehidupan sehari-hari kita. Tetapi, meskipun demikian, ia tetap membedakan antara apa yang disebut sebagai Fisika (yang indrawi) dengan apa yang disebut sebagai Meta-(yang melampaui) Fisika (yang indrawi), dengan pengertian khusus mengenai Metafisika itu mengenai apa-apa (Latin: Essentia, Arab: Maa Hiyyah, Esensi) dari alam semesta yang selain melalui kemampuan indrawi juga hanya ditangkap dan dipahami dengan bantuan akal-rasional (logika).
 
Aristoteles mengatakan, bahwa dari segala keberadaan yang ada di Alam Semesta, sudah semestinya ada satu keber-ADA-an yang melandasi banyak keberadaan indrawi yang menjadi turunannya. Tetapi, sekali lagi, keber-ADA-an tersebut bukanlah sesuatu yang sepertihalnya keber-ADA-an yang berada di “Alam Idea,” yang kemudian menjadikan apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari kita statusnya menjadi “yang tiruan” atau “yang palsu.” Keber-ADA-an yang dimaksud oleh Aristoteles adalah Keber-ADA-an yang statusnya sebagai sebuah prinsip Kebenaran Tertinggi sebagai Penyebab Pertama dan Utama (Prima Causa) dari segala keberadaan turunannya–yang nampak oleh pengamatan indrawi terpisah-pisah dalam bagian-bagiannya. Keber-ADA-an yang prinsipil dan hakiki ini hanya dapat diketahui dengan pemahaman yang rasional (baca: rasionalitas) mengenai apa Yang Universal dari yang terpecah-pecah dan terbagi-bagi itu. Dengan kata lain, Alam Semesta bagi Aristoteles bersifat tunggal (ESA) dan ia hanya menjadi beragam-ragam sebab pengetahuan indrawi dan pengalaman sehari-hari manusia yang terbatas (partikular) dan non-rasional akannya. Aristoteles percaya, bahwa segala sifat pengetahuan itu (termasuk pengetahuan akan Kebenaran) adalah atribut belaka atas yang ADA, tetapi bahwa keberadaan mengenai ADA yang menjadi dasar dari segala keberadaan adalah tetap sebuah keniscayaan yang melampaui (atau bersifat pra-)pengetahuan. Sifat dari ADA itu kekal, tak berubah-ubah. Ia ADA sebagai ADA itu sendiri (being qua being), tak bergantung pada yang lain dan tak dapat dihancurkan sebagaimana kita menyaksikan adanya segala gerak, perubahan, penghancuran dan penciptaan ulang (poiesis) dalam realitas alam yang indrawi.
 
Dari penjelasan yang demikian, kita pula bisa menarik kesimpulan mengenai bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan mengenai Alam Semesta yang dimaksud dengan masing-masing derajat pengetahuan apa yang hendak diperoleh. Pertama, melalui pengalaman sehari-hari dan pengamatan indrawi, kedua melalui kerja rasional-logis. Dalam hal ini, Aristoteles mengatakan pula bahwa, setiap manusia (all men) pada dasarnya secara alamiah (by nature) akan terdorong untuk selalu ingin mengetahui sesuatu (desire to know). Dan dalam pemenuhannya, ia akan memperoleh semacam kenikmatan/kebahagiaan. Sama sebagaimana Socrates-Plato, Aristoteles menganggap bahwa pengetahuan dan pemanfaatan akal adalah satu keutamaan hidup yang dimiliki oleh manusia dari makhluk-makhluk lainnya, meskipun, apa yang dimaksud dengan pemanfaatan akal di sana pada akhirnya berbeda baik dalam proses maupun tujuan akan-pengetahuan-apa yang hendak dicapainya.
 
Keindahan dalam Pandangan Aristoteles
 
Sebagaimana Plato, Aristoteles dalam Metafisika ketika membahas Matematika, ia berpendapat bahwa Keindahan adalah sesuatu yang berkaitan dengan keteraturan (harmoni), sesuatu yang simetris dan sesuatu yang mengandung kepastian sebagaimana terdapat pada Matematika. Aristoteles menyatakan, bahwa Matematika yang memiliki sifat demikian adalah bentuk terbaik dari Keindahan. Bahkan, pada bagian ini, Aristoteles benar-benar telah menggunakan Matematika itu sendiri sebagai cara menjelaskan Alam Semesta.
 
Tetapi gambaran mengenai apa yang indah dalam pandangan Aristoteles tidak berhenti sampai di situ. Ia memiliki pendapat lanjutan dalam karya yang lebih belakangan; dalam Poetics. Dalam Poetics, ide akan harmoni dan kesimetrian, dijelaskan dengan penjabaran yang bernuansa “biologi organisme,” sebagaimana konsentrasi studi yang digelutinya secara khusus. Bahwa, sebagaimana sebuah organisme, adanya keharmonisan sebuah keseluruhan akan sesuatu, tidak dapat dilepaskan dari adanya peran penting dari bagian-bagiannya yang saling mengisi satu sama lain, menempati “lubang-lubang yang ada,” sehingga keutuhan dan keharmonisan tersebut tercipta. Pendapat yang demikian secara tidak langsung pula telah menegaskan kembali peran sentral keberadaan kenyataan sehari-hari dalam terciptanya keharmonisan Alam Semesta secara keseluruhan.
 
Dengan pandangan yang demikian, Aristoteles juga dikenal sebagai perintis gagasan “fungsionalisme” dalam teori penciptaan karya seni. Artinya, setiap bagian-bagian dari apa yang terdapat dalam sebuah komposisi dalam karya, ia haruslah menempati fungsi-fungsinya yang tepat agar keharmonisan yang dibayangkan tercipta dalam kesatuan dan keutuhan fungsi-fungsinya yang tepat. Gagasan yang serupa pula ia terapkan ketika menggambarkan bagaimana sebuah keteraturan dalam negara bisa tercipta hanya jika ia dimulai dari teraturnya kehidupan rumah tangga banyak warga negara, meningkat kepada terciptanya keteraturan hidup masyarakat, hingga puncaknya keteraturan hidup bernegara. Tanpa peran penting dari setiap bagian-bagiannya yang demikian, negara yang teratur dan harmonis tak akan tercipta.
 
Selain soal harmoni, kesimetrisan, kesatuan dan keterkaitan antar bagian-bagiannya yang saling melengkapi, Aristoteles juga menyampaikan satu hal lain mengenai ukuran. Aristoteles mengatakan bahwa sesuatu yang terlalu kecil tidak akan dapat dikatakan indah, sebab kita akan terlalu singkat dalam melihatnya, begitu pula pada sesuatu yang terlalu besar, sebab kita tidak akan bisa melihat keutuhannya. Jika kita melanjutkannya sebagaimana prinsip Golden Way (etika jalan tengah yang juga dirintis Aristoteles), prinsip ini bisa kita tafsirkan pula dalam lingkup kualitas sebuah karya. Bahwa, sebuah karya yang dapat dikatakan indah secara umum adalah karya yang di satu sisi tidak terlalu sederhana sehingga kita bisa dengan cepat sekali memahaminya tanpa efek psikologis apapun, juga sekaligus tidak terlalu rumit sehingga pada akhirnya penikmat karya terjebak pada situasi “kebingungan,” bukan pada perasaan “tergugah.”
 
Estetika dalam Pandangan Aristoteles
 
Sebagaimana telah disampaikan bahwa “apa yang indah?” (Yunani: Kalos, keindahan), berbeda dengan “apa yang estetis?” (Yunani: Aesthetos, Aisthanesthai, yang dipersepsi, dirasa, dialami, dihayati sebagai yang indah; Aisthesis, sensasi sebuah sentuhan). Pembicaraan mengenai “apa yang indah?” mengesankan bahwa yang dibicarakan adalah sesuatu yang memang benar-benar objektif dan berada di luar individu, sedangkan bicara mengenai “apa yang estetis?” justru sebaliknya, menyaratkan akan adanya sebuah pengalaman langsung dari subjek. Dengan kata lain, estetika adalah soal yang berkaitan dengan penilaian yang sifatnya sangat subjektif, sebab, senantiasa akan menyertakan di dalamnya sentimen-sentimen, penghayatan perasaan personal, “the sentience moment,” bahkan hingga selera pribadi, sensasi-sensai yang bisa jadi detail-detail kesemuanya itu hadir secara bersamaan.
 
Berkaitan dengan ini, dalam Nichomachean Ethic, Aristoteles pernah mengatakan, “Life is defined in … man by the “dunamei” of “aistheseos” or thought; life seems to be essentially the act of perceiving or thinking. And life among the things that are good and pleasant themselves since it is determinate and the determinate is of the nature of the good; and that wich is good by nature is also good for the virtuous man.” –Hidup didefinisikan pada manusia dengan adanya energi potensial untuk mempersepsi atau berfikir. Dan hidup di antara segala sesuatu dengan itu adalah bernilai baik dan menyenangkan sejak itu berjalan sebagai takdir alamiah, dan takdir alamiah adalah satu kebaikan alamiah, dan kebaikan yang alamaiah itu pula bernilai baik bagi keutamaan hidup manusia.
 
Apa yang kita temukan pada Aristoteles ini kebalikan dari Plato yang mengatakan bahwa untuk membuat koneksi dengan Alam Semesta (Realitas Tertinggi), manusia harus menanggalkan segala sentimen kebertubuhannya dengan yang dunia dan sesegera mungkin agar mengedepankan “akal transenden”nya, yangmana, Aristoteles justru mengatakan bahwa segala Nilai Kebenaran yang ada bagi Alam Semesta adalah hanya hasil dari sebuah abstraksi rasional–termasuk mengenai adanya Realitas Idea(l), dan cara bersentuhan langsung dengan Alam Semesta secara real adalah melalui Aestheseos tersebut. Aestheseos inilah yang memungkinkan manusia memiliki pengalaman langsung mengenai Kalos (Keindahan). Tetapi, sebenarnya tidak juga sampai pada distingsi yang ekstrim seperti itu, sebab, bahwa Niilai Keindahan dari “To Kalliston” juga pada dasarnya toh adalah hasil sebuah abstraksi. Maka apa yang disebut sebagai “hidup dalam sensasi-kebertubuhan” dan “hidup dalam permenungan-rasional” adalah sebuah kesenangan yang hadir secara bersamaan sebagai energi potensial yang ada pada diri manusia; Aesthetic Life + Philosophycal Life = Human Life Virtue. Adanya kedua energi potensial yang ada dalam diri manusia inilah yang memungkinkan munculnya pandangan mengenai kajian dan kritik seni modern, yang menggabungkan antara unsur objektifitas dan subjektivitas pengkaji atau pengkritiknya.
 
Masih dalam Nicomachean Etich, Aristoteles mengatakan bahwa jiwa manusia mencapai Kebenaran melalui seni, sains, perasaan, kebijaksanaan dan kecerdasan. Sebab, keberadaan manusia di dunia menjadi eksis, karena manusia bisa memiliki kesemuanya itu. Rumah eksistensi manusia di dunia adalah kemampuannya merasakan dunia itu sendiri. Objek-objek yang ada di dunia ini pun tidak akan benar-benar menjadi eksis dalam kehidupan jika tanpa adanya aktivitas manusia yang merasakan kehadirannya.
 
Soal Katarsis dan Hamartia
 
Berkaitan dengan pengalaman estetik, Aristoteles–dalam Poetics, misalnya membahas satu konsep yang menjadi ciri khas dari sebuah karya (tragedi) yang bagus di masanya saat itu. Meskipun ini artinya pembahasan bergeser kepada hal yang berkaitan dengan proses resepsi karya bagi penikmatnya. Yaitu, konsep Katarsis, yang berasal dari kata “Kathoros,” yang berarti “untuk menyucikan” atau “untuk membersihkan.” Apa yang dibersihkan di sini adalah banyak hal yang berada dalam jiwa manusia: sampah-sampah emosional, ketegangan yang terpendam dari hasil menghadapi kenyataan hidup yang begitu kompleks, sikap kebijaksanaan yang terhambat dalam menghadapi jurang takdir dan berbagai penderitaan, kecemasan-kecemasannya, penyakit-penyakit kejiwaan yang tak tersadari, hingga dari satu perasaan tegang-batin akibat berhadapan dengan laku dan segala peristiwa dramatik yang dihadirkan oleh karya seni itu sendiri.
 
Adanya pengalaman Katarsis ini, merupakan bagian terpenting yang membuat karya tragedi begitu digemari oleh masyarakat Yunani. Juga sebenarnya menjadikan satu penanda yangmana pada akhirnya sebuah karya seni bukan melulu persoalan menempatkan Keindahan (kalos) sebagai puncak kreativitasnya, tetapi justru bagaimana sebuah struktur dibuat untuk menggugah Perasaan Estetik (Aesthetos) penikmatnya. Ya, bagaimana mungkin, sesuatu yang menonjolkan sebuah tragedi yang menyedihkan dan membuat orang iba dapat dikatakan sebagai sebuah kaya yang Indah? Bukankah justru sebaliknya, tragedi menyajikan kepada kita akan adanya unsur-unsur yang menjadi lawan keindahan yang akan mendominasi penggalan-penggalan terpentingnya: bencana, pembunuhan, darah, penyiksaan, penghukuman tanpa ampunan, dan seterusnya, dan seterusnya. Inilah yang disebut Aestheseos.
 
Sebagai pelengkap dari konsep Katarsis tersebut, Aristoteles membahas juga satu konsep lainnya yang bernama Hamartia. Secara harfiah Hamartia berarti dosa. Namun secara praktis ia bukanlah dosa atas sebuah doktrin atau ajaran tertentu yang bersifat eksklusif, melainkan sebuah kondisi (batin) seorang tokoh yang dianggap baik, atau bahkan memiliki wibawa dengan ranking tinggi, prestisius, bermasa depan cerah, tetapi justru ia melakukan satu kesalahan atau kekeliruan tertentu yangmana membuat keadaan, peristiwa, plot, tiba-tiba menjadi berbalik arah menuju sebuah akhir kemanusiaan yang tragis dari yang seharusnya atau yang diharapkan. Dari kondisi ini, penonton pertunjukan drama misalnya, akan terbangkitkan perasaan kasihan atau perasaan ngerinya atas akibat-akibat yang muncul dari kondisi ironis yang dimaksud itu. Perasaan-perasaan yang demikianlah yang akan menyentuh kesadaran mereka, sehingga di sana dikatakan menyaksikan karya tragedi akan menimbulkan sebuah pembersihan batin: Katarsis.
 
Bagaimana Kerja Seni dalam Pandangan Aristoteles
 
I. Mimesis
 
Bertolak dari pembicaraan Plato, maka kita akan mulai bagian ini dari persoalan bagaimana Aristoteles memandang Mimesis. Berbeda dari Plato yang mengatakan bahwa Mimesis adalah aktivitas yang boleh dikatakan tidak bernilai sebab ia adalah pekerjaan meniru dari sebuah dunia yang merupakan tiruan dari Dunia Idea dan tak bersifat intelektual, Aristoteles dengan pandangan mengenai dunianya sendiri, berpendapat bahwa pekerjaan Mimesis (1) bukanlah merupakan pekerjaan meniru Dunia Idea yang tak ada itu, (2) bahwa apa yang dilakukan oleh manusia melalui Mimesis justru adalah merupakan pekerjaan mengolah ulang, pembentukan ulang bahan-bahannya (poiesis) dengan mengerahkan segala potensi kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri; pengerahan Potensi Estetik dan serta pengerahan Potensi Pikiran. Lebih dari itu, juga pengerahan Potensi Tindakan itu sendiri, sehingga ia juga bukan hanya merupakan sebuah aktivtas teotirik, aktivitas pengetahuan, internalisasi objek-objek kepada “tubuh”, melainkan melalui tindakan itu juga memungkinkan sebuah hasil, sebuah Artifact (produk kesenian)–yang bukan sekedar “barang imitasi.” Proses Mime selain meng-copy, di dalamnya sekaligus adalah kerja mengubah.
 
Secara umum, Aristoteles dalam Poetics memberikan beberapa contoh sebagai berikut, bahwa karya-karya musik adalah merupakan hasil Mime dengan serta mengolah ulang suara-suara dan ritmik yang tersedia di alam, karya lukis merupakan hasil dari proses Mime dari berbagai macam percampuran warna, dan karya tragedi dari berbagi macam tindakan-tindakan manusia dan ujaran-ujarannya. Aristoteles membedakan antara apa yang berjalan di Alam Semesta secara natural dengan apa yang dikerjakan manusia sebagai kerja seni. Alam Semestra bergerak secara natural dengan hukum-hukum internalnya, sedangkan kerja seni berjalan dengan sebuah proses intervensi dari manusia. Bahkan, dikatakan bahwa pekerjaan seni juga seringkali merupakan pekerjaan untuk “mengarahkan gerak Alam Semesta yang kadang tersesat,” layaknya seorang dokter “membernarkan” kondisi fisik manusia yang tengah tertimpa rasa sakit agar menjadi “normal” kembali. Dengan kata lain, kita bisa mengatakan bahwa pekerjaan seni merupakan pekerjaan yang juga digunakan sebagai mengkondisikan keadaan Alam Semesta agar dapat sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan keberadaan dan kebertubuhan manusia di dalam Alam Semsta itu sendiri, seperti halnya manusia menata rumah tinggal dan lingkungan sekitar dengan proses (re)kreatif hingga cita rasa seni khusus, untuk membuat tempat tinggalnya senyaman juga seselera mungkin. Dalam hal ini, kita juga menemukan korelasi gagasan dari Aristoteles mengenai proses penciptaan Alam Semesta juga dengan proses terjadinya karya seni. Aristoteles berpendapat bahwa Alam Semesta bekerja setidaknya dengan keberadaan 4 sebab (4 causa):
 
(1) Adanya Sebab Material. Sebab Material berarti bahwa Alam Semesta ini merupakan sebuah keberadaan yang sudah niscaya yang kekal dan bukan merupakan ketiadaan sebagai sebuah bahan dasar (Matter) dari proses pegerakan Alam Semesta. Sehingga ia bukan sesuatu yang hanya ada dalam pikiran, bayang-bayang, hanya konsep dan esensi belaka. Ia merupakan sebuah eksistensi sekaligus sebuah subtansi.
 
(2) Adanya Sebab Formal. Sebab Formal yaitu bahwa Alam Semesta itu keberadaannya sekaligus adalah sebuah bentuk (Form), yang artinya bukan merupakan sesuatu yang tidak jelas juntrungan keberadaanya, sehingga tak dapat digapai atau tidak dapat didefinisikan status keberadaannya eksistensialnya.
 
(3) Adanya Sebab Efisien. Yaitu, adanya penggerak, “aktor utama,” dari Matter dan Form Alam Semsta itu, sehingga ia dari sesuatu menjadi mungkin menjadi sesuatu yang lain dari asalnya. Sebagai contoh, “aktor utama” dari keberadaan sebuah kursi adalah adanya si pembuat kursi. Aristoteles mengatakan adanya “Prima Causa” (Penyebab Pertama dan Utama) dari terselenggaranya Alam Semesta yang dapat kita jumpai sehari-hari ini, yang ia menggerakkan (mengintervensi) segala proses dan kejadian Alam Semesta mula-mula. Aristoteles tidak menyebutnya Dewa, atau Tuhan dalam pengertian sebuah person, tetapi ia menyebutnya sebagai “yang menggerakkan tetapi tak ikut bergerak.” Ia lebih kepada satu energi potensial (Dunamoi) dari Matter Pertama Alam Semesta, ketimbang sebuah “Entitas Lain” dari Matter Pertama tersebut.
 
(4) Adanya Sebab Final. Atau tujuan dari seluruh keberadaan hingga proses pergerakan Alam Semesta itu sendiri. Aristoteles mengatakan Sebab Final dari itu semua adalah Agathon; sebuah Kebijaksanaan, atau lebih tepatnya sesuatu yang bermakna Kebijaksanaan bagi Alam Semsta itu sendiri.
 
Keempat Kausa tersebut saling terkait dan tidak bisa dilepaskan salah-satunya. Keempat Kausa tersebut ketika terselenggara, menjadi satu sistem yang disebut “Prinsip Kausalitas” yang mesti dan niscaya melekat pada Alam Semesta dan segala peristiwa turunan terkecilnya. Sehingga, dalam proses penciptaan karya seni pun, hal itu terjadi, dan peran seorang pekerja seni di sana adalah sebagai Sebab Efisien sekaligus sebagai pengarah ulang (penentu Sebab Final) dari proses pengolahan bahan-bahan dasar dari karya seninya. Yangmana, seorang pengkarya pun tidak disikapi sebagai sekedar person, melainkan sebagai kompleks dari energi potensial (dunamoi dari eksistensi) kemanusiaan itu sendiri.
 
Aristoteles adalah termasuk pemikir pertama yang begitu menghargai apa yang disebut Mimesis (aktivitas meniru) dalam pengertian positifnya. Bahkan, ia coba menjelaskan bahwa Mimesis bukan hanya merupakan sebuah keahlian, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Ini bisa dibuktikan dengan kondisi psikologis dari masa balita manusia yang memang ia memperlajari dan mulai menjalankan kehidupan dengan cara menirukan apa-apa yang ia lihat di sekitarnya. Menirukan ibunya, menirukan ayahnya, menirukan perilaku hewan-hewan yang ia temui, dan semua yang mungkin ditirukan dari alam: bunyi-bunyian, imej-imej, perilaku-perilaku dan seterusnya dan seterusnya, dan semua ini terus berlaku hingga manusia menjadi dewasa dengan derajat kacakapannya masing-masing dalam melakukan proses peniruan, serta pemanipulasian atasnya.
 
II. Techne, Phronosis, Prudence
 
Berbicara kecapakan, maka kita sesungguhnya bicara mengenai kata “Techne,” atau Teknik. Martin Heidegger pernah mengungkapkan bagaimana seharusnya kita memahami prinsip dari apa yang disebut sebagai Teknik dalam pandangan Aristoteles, bahwa:
 
“Techne is know-how in taking care, manipulatuing and producing, wich can develop in different degrees, as for example with the shoesmaker and the tailor; it is not the manipulating and producing itself but is a made of knowledge, precisely the know- how which guides the poiesis.”
 
Techne adalah pengetahuan mengenai bagaimana mengolah, memanipulasi, dan memproduksi, yangmana dapat dilakukan dalam berbagai derajat, sebagaimana contohnya yang dilakukan seorang pembuat sepatu dan seorang penjahit; tetapi ini bukan sekedar memanipulasi atau memproduksi dalam dirinya sendiri belaka, lebih dari itu bahwa ia sebenarnya sebuah mode pengetahuan, lebih tepatnya pengetahuan mengenai-bagaimana yang mana poiesis (proses in making/pembuatan) dipandu olehnya.
 
Dengan mendudukkan Teknik sebagai pengetahuan mengenai bagaimana, maka sekali lagi di sini Aristotels hendak mengatakan bahwa apa yang dinamakan sebagai kerja berkesenian adalah pekerjaan yang mengikutsertakan proses rasional-logis di dalamnya. Di dalamnya, terdapat sebuah intensi sekaligus sebagai intervensi kepada Logos; “Hukum Rasional” yang tersembunyi di dalam bekerjanya Alam Semesta. Intensi rasional itu bisa berupa kerja induksi, deduksi, abduksi, hingga proses dialektis. Dengan ungkapan yang agak amplifikatif, apa yang disebut sebagai kerja teknik adalah kerja dalam memperhitungkan serta sekaligus merencanakan (merumuskan sebuah master plan) dengan fondasi epistemik (penyusunan pengetahuan) yang kukuh atas objeknya; bahan mentahnya.
 
Faktor yang demikianlah yang membuat kerja berkesenian di dalamnya menyertakan apa yang pula dinamakan kerja berfilsafat, atau setidaknya semacam mental dan sikap saintifik atas Alam Semesta dengan benar. Meskipun juga, terkadang pengertian akan Teknik ini kerap hanya terjebak pada “fungsi metodisnya” belaka, dan digunakan tanpa disandingkan dengan perasaan berkeseniannya (Aesthetosnya), sehingga hasil dari yang dikerjakan meskipun bentuknya serupa, ia sesungguhnya hanya jatuh sebagai sebuah karya kerajinan (craft), bukan sebagai sebuah produk dari berlaku-kesenian (artifact).
 
Dalam Nichomachean Ethic, Aristoteles juga mengatakan, bahwa kecakapan kerja-kesenian ini tidak akan benar-benar mencapai yang terbaik jika tanpa diiringi dengan Phronesis (kemampuan untuk memutuskan tindakan yang tepat sesuai dengan konteks yang dihadapi) dan juga dengan Prudence (kemampuan berpikir dengan tingkat kewaspadaan yang cukup untuk memutuskan apa yang baik bagi kelanjutan kehidupan manusia). Bagi Aristoteles, dua prinsip Keutamaan ini selayaknya dimiliki oleh seorang pekerja seni dalam berkarya. Seandainya dua hal ini tidak diterapkan, maka akan menjadi satu faktor penghambat tersendiri akan tercapainya Kebaikan Ultima dalam tujuan perjalanan (thelos) kehidupan manusia mencapai Kebijaksanaan (Agathon).
 
III. Soal Topos
 
Soal berikutnya yang menjadi perhatian Aristoteles dalam perkara seni adalah mengenai Topos, yaitu bagaimana cara membangun sebuah argumen. Dalam pengantar buku Desertasi Doktoral Sara Robineli mengenai “Ars Topica: The Classical Technique of Constructing Argumens from Aristotle to Cicero,” David S. Lavene mengatakan bahwa perhatian ini diberikan oleh Aristoteles berkaitan dengan adanya fenomena retorika yang cukup populer digunakan di Yunani. Dalam pengamatannya, soal Topos ini menjadi penting bagi Aristoteles sebab adanya fenomena gap yang terjadi antara skema berargumen dengan menggunakan perangkat logika formal untuk penyusunan pengetahuan yang valid, dengan mereka yang banyak hanya menekankan aspek persuasif dari praktik retorika yang dapat menyedot perhatian serta memanipulasi emosi audiensnya dalam debat-debat. Poin yang disampaikan oleh pengantar singkatnya, adalah bahwa Aristoteles dalam kajiannya mengenai Retorika ia mendapati bahwa apa yang dapat mempengaruhi audiens ternyata tidak melulu sebab canggihnya teknik memanipulasi emosi audiensnya (dengan menggunakan sejumlah kecakapan psikologi massa) belaka, tetapi juga sebab adanya peran skema argumen yang kuat (akurat) secara logis di dalamnya; ya, meskipun memang banyak ahli debat atau ahli orasi di zamannya tidak menggunakan ini.
 
Sara Robineli sendiri mengatakan, bahwa Aristoteles sebenarnya tidak merumuskan secara definitif mengenai kata Topos. Ia hanya berkali-kali memberikan gambaran bagaimana skema logis (deduksi dengan berbagai variannya) mesti digunakan dalam menyusun sebuah argumen sehingga kekeliruan-kekeliruan dalam melakukan penyimpulan (inferensi) dalam berargumen tidak terjadi. Yang kedua, bahwa persoalan Topos ini juga berkaitan dengan bagaimana pentingnya sebuah objek didekati dari berbagai sudut pandang atau dengan sebuah sudut pandang khusus untuk menguatkan sebuah argumen baik dalam debat maupun dalam berorasi. Dalam hal ini, Sara Robineli mengutip apa yang ada pada pembuka “Topics” karya Aristoteles: Tujuan dari risalah ini adalah untuk menghadirkan sebuah metode yang mana kita harus dapat memiliki alasan logis agar opini-opini kita dapat diterima mengenai berbagai masalah.
 
Penutup
 
Sebagaimana kita tahu, apa yang coba kita diskusikan di sini adalah satu dari dua warisan pemikiran mengenai teori Keindahan, Estetika, dan bagaimana kerja Kesenian beredar di zaman Yunani yang amat penting dan wajib untuk kita ketahui sebelum melangkah jauh kepada berbagai teori-teori yang bermunculan di masa setelahnya, apalagi yang bermunculan sepanjang sejarah teori berkesenian modern hingga mungkin teori-teori yang juga turut bermunculan di awal abad 21 sekarang ini. Meninnggalkan apa yang menjadi perhatian Plato dan Aristoles sama saja dengan melangkah ke depan tanpa dasar keilmuan mengenai seni yang semestinya. Namun, bukan berarti pula dengan ini kita justru berhenti mempelajari yang lain ketika kita telah menemukan dasar dari berkesenian dari pemikiran kedua tokoh tersebut. Sebab apa? Sebab toh dari kedua tokoh tersebut, kita mengetahui, bahwa ternyata masing-masing dari mereka telah memiliki cara pandangnya mengenai apa yang dimaksud dengan Keindahan dan Estetika.
 
Lebih jauh, yang satu bisa jadi merupakan sebuah sanggahan dari yang lainnya, yang pada akhirnya tidak bisa dicampuradukkan begitu saja dengan manasuka. Seperti Poetics Aristoteles (yang berisi duduk perkara Mimesis sebagai seni re-presentasi) yang memang dikerjakan sebagai sanggahan atas apa yang sudah diajukan sebelumnya mengenai Mimesis oleh gurunya–Plato. Ada prinsip-prinsip yang memang diperjuangkan untuk satu pandangan dunia tertentu yang melampaui dari sekedar praktik berkesenian itu sendiri, yaitu bagaimana mereka (lalu mesti kita) memandang Alam Semesta dan bagaimana menurunkannya dalam prinsip-prinsip bermenung dan bertindak dalam kehidupan. Dengan kata lain, apa yang perlu kita pegang seusai diskusi ini adalah, bahwa kita sudah memperlajari sebuah khazanah sebagai pengkayaan pengetahuan dan dengan itu dapat menjadikan kita lebih mantap serta bijaksana dalam berlaku-kesenian kedepannya. Semoga!
 
______________________________________
 
Shiny.ane el’poesya. 11 Juni 1991. Lelaki yang amat mencintai Ibu, adik dan perempuannya. Pernah melihat Bulan Kembar di masa Taman Kanak-Kanak. Menerbitkan buku puisi Kotak Cinta (2017), Sains Puisi (2019), tetralogi bidadari masehi: Bidadari Masehi (2020), Sayap Patah (2020).
 
Daftar Bacaan
 
Sejarah Filsafat Barat, Bertrand Russel (Buku)
Sejarah Filsafat Islam, Madjid Fachry (Buku)
Metaphysics-Aristotles, W.D. Rose (Buku)
Nichomachean ethics-Aristoteles, English Trans. W.D. Rose (Buku)
Poetics-Aristotle, Gerald F. Else (Buku Terjemah Poetics)
Aristotle’s Ideas On Art, Dr. Uzman, Gazi University, Ankara. (Jurnal)
Beauty, Value, and the Aesthetics of Life in Kant and Aristotle, James I. Porter (Jurnal)
Heidegger, Aristotle and The Work of Art, Mark Sinclair (Buku)
Platos’s Sophis – Martin Heidegger, English Trans. Richard Rojcewicz (Buku)
Ars Topica: The Classical Technique of Constructing Argumens from Aristotle to Cicero, Sara Robineli (Buku, Desertasi Doktoral)
Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *