LOADING

Type to search

Semesta Puisi Neruda dalam Sinema – Bangkit I.D.

Oleh Bangkit I.D.

Neruda, sebuah film anti-biopic yang sempat masuk nomisasi Best Foreign Language Film pada
penghargaan Golden Globe tahun 2017 lalu, adalah hasil perenungan sutradara Pablo Larrain mengenai
perselisihan bangsanya di bawah pemerintahan otoriter negara Chile.

Dalam film Neruda yang dirilis 2016 lalu ini, Larrain mengambil latar waktu negara Chile pasca Perang
Dunia II, di mana pada tahun 1948 pemuisi sekaligus senator berhaluan kiri terkenal Pablo Neruda
terpaksa melarikan diri setelah pemerintahan menyatakan perang terhadap kaum kiri.

Pablo Neruda sendiri, sebagai pemuisi, telah sedemikian populer. Ia memenangkan penghargaan Nobel
Sastra pada tahun 1971. Ia juga telah memenuhi stadion-stadion di Amerika Selatan dengan ratusan ribu
penggemar yang akan mendengarkan kerinduan dan masalah orang-orang tertindas dalam puisi-
puisinya. Sebagai misal adalah puisinya tentang budak-budak yang membangun Benteng Andes Peru,
dalam The Heights of Macchu Picchu, Canto XII.

Kendati film berdurasi 108 menit ini hanya mengangkat fase ketika Neruda bermain kejar-kejaran
dengan polisi yang memburunya, namun terdapat peristiwa-peristiwa unik yang dengan cerdik dikemas
dengan baik oleh Larrain.

Pada bagian awal, Neruda membacakan puisinya berjudul Tonight I Can Write (Malam Ini Aku Bisa Saja
Menulis — terj. Saut Situmorang), dimuat dalam bukunya Twenty Love Poems and a Song of Despair. Ini
adalah puisi galau yang ditulis Neruda semasa masih muda. Ada kemungkinan Larrain memasukkan
adegan ini untuk menunjukkan semesta kehidupan Neruda secara lebih utuh. Di mana Neruda muda
lebih cenderung romantis ketimbang politis.

Puisi tersebut menunjukkan bagaimana Neruda muda mengalami kebimbangan dengan perasaan
cintanya terhadap seseorang. Ia tidak mengerti apakah dirinya masih mencintai mantan kekasihnya atau
tidak. Kendati demikian, Neruda muda telah berupaya untuk tidak menyerah pada kesedihannya. Sebab
terdapat unsur-unsur yang saling bertentangan dalam puisi tersebut, antara Neruda yang menyerah
dalam kegalauan dan Neruda yang berupaya move-on.

Pada kenyataannya, Neruda memang terus move-on. Puisi-puisinya terus berkembang dengan berbagai
macam tema dan gaya kepenulisan seiring dengan banyaknya pengalaman yang melintasi
kehidupannya. Ketika Neruda harus terlibat dalam Perang Saudara Spanyol, puisi-puisinya pun turut
berkembang ke tema-tema yang lebih politis.

Namun tidak hanya menampilkan puisi-puisi Neruda dalam bentuk adegan pembacaan di film, Larrain
turut menampilkan “puisi” Neruda dalam bentuk alur cerita. Larrain sendiri mengatakan bahwa ia
berupaya menjadikan struktur puisi Neruda sebagai cerita di dalam film garapannya tersebut. Ia
berorientasi untuk mengenalkan penonton pada semesta diri sang oemuisi, Pablo Neruda. Itulah
sebabnya film Neruda ini menjadi sebuah film yang berlapis-lapis dan surealis.

Ketika kita menonton film ini, kita akan merasa sedang berada dalam dunia mimpi Neruda. Alih-alih
menampilkan adegan-adegan pengejaran yang menegangkan, dalam kisah pelarian Neruda ini, ia justru
dikejar-kejar oleh seorang polisi fiktif dengan beragam humor gelap di sana-sini.

Sepanjang cerita pengejaran ini pun, Neruda nampak seolah meninggalkan jejak guna membantu si
pemburunya menemukan Neruda. Demikian pula terdapat hasrat-hasrat sang pemuisi yang tampil
dalam film, ia hidup layaknya seorang borjuis; hedonistik, penuh kemewahan, anggur dan para wanita.
Ini sejalan dengan kegemaran Neruda yang mencintai cerita-cerita detektif semasa hidupnya, juga
sejalan dengan puisi-puisinya yang surealis.

Nampaknya hal tersebut sekaligus memberikan sindiran terhadap kaum kiri yang memiliki posisi
istimewa sebagai seorang intelektual, seniman, lebih-lebih seorang pejabat yang duduk di dalam
parlemen. Posisi istimewa inilah yang membuat mereka nampak jauh dari apa yang mereka gembar-
gemborkan dalam kampanye.

Akhirnya, film Neruda menunjukkan esensi dari sang pemuisi Pablo Neruda. Film ini niscaya akan
mengabadikan popularitas Neruda, membawa hidupnya, puisi-puisinya, serta visinya kepada penonton
generasi baru di bioskop dan para pecinta puisi-puisinya.

Yogyakarta, 31 Mei 2020

Tags:
Previous Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *