LOADING

Type to search

Istirahatlah Kata-kata dalam Film – Bangkit I.D.

Oleh Bangkit I.D.

Istirahatlah Kata-kata, merupakan salah satu puisi Wiji Thukul yang ditulis sekitar tahun 1988 di Solo. Judul puisi itu oleh Yosep Anggi Noen diangkat menjadi judul film yang mengambil latar kisah Wiji Thukul semasa buron di Pontianak, Kalimantan Barat, pada tahun 1996. Film yang serentak diputar pada 19 Januari 2017 setelah sebelumnya ikut diputar di Locarno International Film Festival ke-69 di Swiss dan Busan International Film Festival ke-21.

Melalui film ini, banyak penonton terutama dari kalangan aktivis yang berharap dapat mengenal lebih jauh sosok Thukul, terutama kiprahnya sebagai pemuisi sekaligus sebagai bagian dari perlawanan kediktatoran rezim militer Orba. Tetapi harapan tersebut tidak terpenuhi dalam film, sebab film Istirahatlah Kata-kata memang hanya mengangkat situasi Thukul sewaktu menjalani masa pelariannya di Pontianak.

Thukul buron setelah puisi-puisinya turut sukses menteror kediktatoran rezim Orba. Puisi-puisi Thukul memang terkenal dengan kritik sosialnya, bahkan dalam puisi-puisinya, ia dapat mengambil garis pemisah yang jelas, tidak ambigu apalagi ragu-ragu dalam mengecam kediktatoran dan membela rakyat tertindas.

Ketika situasi politik semakin memanas, Thukul berusaha menyelamatkan diri dari represi dengan hidup berpindah-pindah. Pontianak adalah salah satu persinggahannya selama masa pelarian.

Dalam film, beberapa puisi Thukul ditampilkan, salah satunya adalah puisi Istirahatlah Kata-kata. Puisi ini cukup menggambarkan apa yang tengah dialami Thukul selama berada dalam pelarian:

istirahatlah kata-kata / jangan menyembur-nyembur / orang-orang bisu / kembalilah ke dalam rahim / segala tangis dan kebusukan / dalam sunyi yang meringis / tempat orang-orang mengikari / menahan ucapannya sendiri / tidurlah, kata-kata / kita bangkit nanti / menghimpun tuntutan-tuntutan / yang miskin papa dan dihancurkan / nanti kita akan mengucapkan / bersama tindakan / bikin perhitungan / tak bisa lagi ditahan-tahan

Thukul memang lebih banyak diam dalam film, irit kata-kata, tidak ada aksi pengorganisasian massa guna melakukan protes. Namun hal ini tidak dapat dimaknai sebagai tidak melakukan apa-apa.

Ia tetap mendengarkan berita-berita lewat radio maupun kabar dari kawan-kawan seperjuangannya, membaca buku, dan sesekali berdiskusi dengan kawan-kawannya. Thukul tetap bergerak dalam diam, ia melawan ketakutan dan kesunyiannya sendiri. Thukul pun percaya bahwa selama masa “istirahat” itu, perjuangan melawan kediktatoran Orba akan kembali muncul, bahkan “tak bisa lagi ditahan-tahan”.

Sebagai anggota partai berhaluan kiri, serta anggota Jaker, Thukul tentunya paham hukum dialektika. Sehingga dalam “istirahat” atau “tidur” sekalipun, akumulasi keresahan yang disebabkan situasi politik masa itu akhirnya akan membangunkannya kembali, menjebol dinding yang telah menahan segala ucapan, tindakan serta tuntutan-tuntutan dari yang miskin papa dan dihancurkan, termasuk dirinya sendiri.

Hal tersebut terbukti, Thukul berhasil mengalahkan ketakutan dan kesunyiannya. Hasrat berjuangnya pun tak terbendung. Selepas di Pontianak, hingga periode 1997-1998 ia masih terlibat dalam beberapa aktivitas di Jakarta dan kota lainnya, sampai akhirnya resmi dinyatakan hilang pada tahun 2000.

Terlepas dari banyaknya kekurangan di dalamnya, film Istirahatlah Kata-kata patut diapresiasi. Sebab perfilman yang menampilkan sosok Wiji Thukul di bioskop dapat menjadi bagian perjuangan menolak lupa sekaligus mengenalkan kepada kita sosok pemuisi yang turut terlibat secara intens di dalam pergerakan rakyat. Syukur-syukur dapat memantik perbincangan lebih jauh tentang Wiji Thukul sebagai seorang aktivis dan perbincangan mengenai puisi-puisinya sebagai seorang pemuisi.

 

Yogyakarta, 30 Mei 2020

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *