LOADING

Type to search

SELEMBAR EMAIL DARI TUAN DIREKTUR – Bangkit I.D.

“Mari bertaruh!”
“Bertaruh apa?”
“Gaji kita sebulan.”
“Untuk?”
“Perusahaan tak akan membiayai pengobatan kita saat salah satu di antara kita terserang penyakit itu.”
“Virus Corona?”
“Ya, tentu saja.”
Sudah pasti aku tak mau bertaruh dengannya, semua sudah jelas. Perusahaan akan berdalih bahwa penyakitnya datang dari luar pabrik, meski pabriklah yang memaksa kami pergi keluar rumah. Dengan begitu, mereka tak perlu merasa bertanggungjawab atas penyakit kami.
Setelah WHO menyatakan virus itu menjadi pandemi global, kami masih diharuskan membuat sarung tangan, meski di saat seperti ini aku yakin tak ada orang yang mau menghabiskan uangnya hanya untuk sepasang sarung tangan olahraga.
Sejak direktur perusahaan mengeluarkan pernyataannya melalui email, kami semakin yakin bahwa tak akan ada penghentian produksi di tengah ancaman wabah, kecuali perusahaan memutuskan agar mengurangi karyawannya akibat krisis di masa wabah ini. Aku telah mencetak emailnya, kamu bisa membacanya:
“Dear All,
Hari-hari yang akan kita jalani niscaya terasa berat. Akan tetapi, kita tak akan berhenti meski kondisi semakin sulit.
Hidup untuk meningkatkan capaian kerja adalah motivasi kita, dan bekerja untuk EFISIENSI adalah prinsip kita. Sesulit apapun situasinya, kita tidak boleh menyerah.
Salam hangat,
C.R.”
Apakah kamu memerhatikannya? Ia menulis kata ‘efisiensi’ dengan huruf besar. Isi emailnya pun tak menunjukkan apa-apa, kecuali kepentingan perusahaan dan ancaman bagi kami yang dianggap tidak efisien. Dan lihat, salam hangat itu terasa sangat menjijikkan.
“Satya,” tiba-tiba seseorang memanggilku, “bagaimana update pengiriman material KNT-222891 dari Best Pacific Textile?”
Aku memutar kursi. Pak Manto, kepala bagian ERP, sekarang berdiri di hadapanku. Ia adalah orang yang memastikan pengadaan sumber daya perusahaan berjalan lancar. Sebenarnya ia orang yang baik, hanya saja akhir-akhir ini ia kehilangan sifatnya.
“Sedang kami usahakan, Pak.”
“Brengsek! Sudah lima kali kau mengatakannya!” Ia membentakku. Suaranya sangat keras meski ia mengenakan masker di mulutnya. Seluruh rekan kerja di ruangan ini seketika membisu, terpaku menatap layar monitor masing-masing. Tapi aku tahu, mereka berpura-pura tak mendengar.
“Kami… Kami sudah mendorong pihak Best Pacific, Pak.”
“Mendorong? Mendorong matamu! Tak ada perkembangan sama sekali!”
“Maaf, Pak. Maafkan saya, tapi… Tapi tentu Bapak sudah mengetahui, di Dongguan sedang lockdown, seluruh pekerja Best Pacific tidak bekerja, Pak.”
“Ah, mati aku! Mati! Jangan sampai kita kehilangan lebih banyak buyer lantaran kelewat deadline!”
“Kami akan berusaha keras, Pak.”
“Goblok! Aku tidak ingin mendengar jawaban itu, Satya Kuncara! Katakan yang lain!”
“Kami bisa siapkan kurir kilat, Pak. Itu akan mempercepat pengiriman setelah Best Pacific kembali bekerja.”
“Ya Tuhan,” suaranya kini menjadi lirih.
Pria paruh baya itu masih berdiri di hadapanku. Kuperhatikan masker di mulutnya bergerak-gerak, seperti ada yang hendak menerobosnya. Ia membukanya, dan mulut itu menganga. Tapi tak ada apa-apa di sana. Lama-lama mulut itu menyerupai mulut goa. Di dalam sangat gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa kecuali hitam pekat.
Sesaat kemudian, mulut itu mengeluarkan asap yang segera memenuhi ruangan. Namun yang lebih mengagetkan, seekor ular berwarna hitam menyeruak keluar dari mulutnya secara tiba-tiba. Makhluk itu melesat cepat ke arahku, ia akan membentur wajahku andai tak berkelok ke atas. Ular itu sangat besar, kepalanya hampir menyentuh langit-langit ruangan. Dari ketinggian itu, sang ular menatapku. Sesekali ia menjulurkan lidahnya yang bercabang. Aku ketakutan, tubuhku menegang dan bergetar. Makhluk ini akan menelanku, pasti akan menelanku.
Aku memejamkan mata dan berteriak, tapi tak ada yang mendengar. Beberapa detik berlalu, namun masih tak terjadi apa-apa. Perlahan-lahan aku membuka mata, Pak Manto sudah tak ada di sana.
“Ini semua pasti karena email sialan itu,” salah satu rekan kerjaku berkata. “Belum pernah aku melihat ia sekejam itu.”
“Ya, efisiensi.” Jawab yang lain.
“Gila, ini gila! China sudah melakukan lockdown tetapi kita masih terus ditekan untuk mengimpor barang-barang dari sana.”
“Memang gila. Dan apa yang akan kita dapatkan setelah semua omong kosong ini, adalah kita akan kehilangan pekerjaan.”
“Tidak, tidak. Perusahaan tak perlu repot-repot mengurangi karyawan-karyawannya. Sebab virus ini yang akan melakukannya.”
“Dimulai dari tuan direktur.”
“Ya, ya, dari tuan direktur!”
Mereka tertawa. Itu adalah satu-satunya lelucon yang membuat mereka bisa tertawa. Namun tak butuh waktu lama untuk membuat lelucon itu tak lagi lucu. Tekanan kerja yang semakin mencekik ini akan membuat segalanya kembali layu.
Sudah 10 hari sejak kabar Tiongkok menutup diri, kami tak mendapatkan balasan apapun dari pihak Best Pacific, kecuali hanya permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang telah mereka perbuat. Aku merasa kami tak akan berhasil menyelesaikannya tepat waktu. Sekalipun kain sintetis itu datang besok pagi, akan sangat muskil untuk segera mengubahnya menjadi 18.000 pasang sarung tangan baseball hanya dalam waktu 3 hari.
Keadaan memang begitu sulit, beberapa buyer telah mencabut pesanannya dari kami. Beberapa lainnya telah beralih untuk membuat masker, kami pun sedang berusaha menambah hasil produksi, dari yang semula hanya sarung tangan olahraga, kami coba menambahnya dengan produksi masker. Namun saat ini baru dalam tahap sampling, kami belum tahu apakah ada buyer yang berminat dengan masker buatan kami. Apabila kondisi masih terus seperti ini, aku khawatir kami akan benar-benar kehilangan pekerjaan.
Kami telah mendengar kabar, cabang perusahaan kami di Wonosari dan Godean telah melakukan pengurangan karyawan. Jumlahnya mengejutkan, lebih dari 400 karyawan produksi dan staff telah dirumahkan dan hanya diberi Kartu Pencari Kerja. Ini membuatku gelisah. Aku punya seorang istri yang sedang mengandung anak pertamanya, ia baru berusia 4 bulan, apabila aku turut kehilangan pekerjaanku di masa seperti ini ….
***
Di rumah, istriku telah menyiapkan air hangat untukku. Tetapi aku biasa berlama-lama di kamar mandi, sekadar mengistirahatkan badan sejenak sambil menikmati sebatang rokok. Aku pernah membacanya di internet, mandi saat badan lelah justru kurang baik bagi kesehatan. Itu sebabnya aku berlama-lama di dalam.
Setelah menghabiskan rokok, aku beranjak. Dengan gayung itu, perlahan-lahan kusiramkan lintah ke sekujur badanku. Mereka langsung menempel di badan dan mulai menghisap darahku—kamu bisa melihat lintah-lintah itu, tubuh mereka mengembung, lalu satu per satu jatuh ke lantai kamar mandi setelah merasa kenyang.
Lendir yang mereka tinggalkan di badan ini membuatku mual. Aku tak tahan lagi melihat semuanya, perutku terasa bergejolak dan aku muntah-muntah mengeluarkan banyak sekali lembaran invoice dari berbagai supplier bahan baku; Tiong Liong Industrial, Changzhou Kexu Textile, juga Far Eastern Ltd. Aku segera menyingkirkan semuanya, memakai handuk dan berlari menuju kamar.
Usai mengenakan baju, aku duduk di tepi ranjang, mendengarkan deru mesin kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan, melihat suasana sore hari yang membuat segalanya berwarna sepia dari jendela kamar, langkah-langkah kaki istriku yang mondar-mandir di dapur, hingga tercium bau bawang goreng dari sana. Tapi aku masih diam, bergeming.
“Mas Satya,” istriku datang. Ia melihatku duduk menundukkan kepala. “Apa kamu baik-baik saja, Mas?”
Aku bangkit. Ia mendekapku.
“Tidak, aku tidak apa-apa,” jawabku sambil mendekapnya balik.
“Tapi kamu terlihat pucat.”
“Semua orang tampak pucat akhir-akhir ini, pasti karena masker yang mereka kenakan sepanjang hari.”
“Mas Satya…”
“Aku lapar, Andini.”
Istriku tahu, jika aku mengalihkan pembicaraan seperti itu, berarti aku sedang butuh waktu untuk memikirkan segalanya sendiri. Maka ia hanya akan menemaniku menuju ruang makan.
Di sini hanya ada sebuah meja bundar dan dua kursi untuk kami duduk. Istriku memasak sup hari ini, namun hanya ada sedikit ayam di dalamnya. Ini lebih baik ketimbang hanya tempe goreng dan nasi. Gajiku harus selalu dihemat, kami harus lebih waspada kalau-kalau salah satu di antara kami membutuhkan biaya tambahan selama masa wabah ini. Kamu tahu, harga masker melonjak tinggi, dan aku tidak tahu apakah biaya perawatan apabila terserang Virus Corona juga mahal. Kami harus sudah bersiap. Lagipula, kami juga harus menyediakan segalanya untuk kelahiran anak pertama kami.
Kuperhatikan istriku mengambilkan sepiring nasi untukku dan satu lagi untuk dirinya sendiri. Lalu ia menaruh sup ke piring nasiku, ia memberiku sebuah ceker ayam dan menaburkan bawang goreng ke atas nasiku. Satu teko air putih dan dua gelas kaca ia letakkan di tengah-tengah meja. Aku masih menunggunya mengambil bagiannya. Tak butuh waktu lama, kami pun memakannya. Hingga makan selesai, tak ada percakapan di antara kami.
Kali ini aku yang akan membersihkan semuanya. Aku sudah berjanji akan melakukannya. Aku mengangkat piring-piring, gelas dan semua peralatan makan lainnya untuk dicuci. Lalu mengembalikan semuanya ke tempatnya semula. Tak terasa, hari sudah gelap. Istriku telah menungguku di ranjang.
“Andini,” aku berbisik kepadanya. “Seandainya kita tahu apa yang akan terjadi besok.”
“Bukankah lebih baik tidak tahu?”
“Tidak, Andini, ketidaktahuan tidak akan menolong siapapun.”
“Mas Satya,” ia membalikkan tubuhnya, menatapku dan membelai rambutku. “Jangan lagi kamu kutip kata-kata Karl Marx. Kamu lihat, kita telah melalui semuanya dengan selamat, padahal ada banyak sekali peristiwa yang tidak dapat kita ramalkan.”
“Tapi ini situasi yang lain, Andini. Ada wabah yang mengancam kita, pekerjaanku, dan anak itu, dan masa depan kita, dan …”
“Ssstt…” ia mendekap kepalaku. “Apapun yang terjadi pada kita, aku akan selalu bersamamu. Ingat apa yang kamu katakan waktu malam pertama kita? Aku ingin mendengarnya malam ini.”
“Andini, hidup bersama denganmu, aku merasa kiamat tak akan lagi menakutkan.”
Kurasakan dekapannya semakin hangat, aku pun terlelap di sana.
***
Hari ini 2000 yard kain Rib Spandex 390 gram yang kami pesan dari Jakarta tiba. Aku telah memberitahukan kepala gudang perusahaan untuk menyiapkan orang-orangnya agar segera memindahkannya ke dalam gudang. Kain ini biasa kami gunakan untuk memproduksi sarung tangan militer. Sebenarnya, kedatangan kain ini pun terlambat 3 hari. Aku tahu, di Jakarta telah memangkas jam kerja menjadi 3 hari saja. Ini kuketahui dari supir truk Dong Son Industrial, nama perusahaan pembuat kain itu.
“Bagaimana keadaan di sana?” tanyaku.
“Wah, gila. Batuk sedikit saja akan segera dijauhi orang-orang,” supir itu tertawa. Kulitnya hitam mengkilat akibat terik matahari. “Pernah aku menggunakan angkutan umum, lalu seorang nenek naik. Belum ada satu kilometer angkutan umum berjalan, nenek itu batuk-batuk. Seluruh penumpang langsung memaksanya turun.”
“Apa kamu mengenakan masker saat itu?”
“Ya, semua orang mengenakan masker. Hanya saja nenek itu memang tidak mengenakan masker.”
Di sekitar, orang-orang gudang sibuk mengeluarkan gulungan-guluang kain itu dari dalam truk. Mereka memanggulnya di atas pundak dan menaruhnya ke atas trolley untuk kemudian dibawa menuju gudang.
Kepala gudang memanggilku, ia memberitahuku bahwa semua muatan telah dikeluarkan dari truk.
“Ini surat jalannya,” katanya sambil menyerahkan surat jalan kain-kain itu.
“Baik, terima kasih,” aku menerimanya dan memasukkannya ke dalam kantong kemejaku.
Ia berjalan kembali ke dalam gudang. Kulihat ia tampak lesu hari ini. Tapi semua orang memang tampak lesu dan pucat. Aku tidak dapat membedakan apakah mereka sakit atau hanya sedang banyak pikiran. Namun, kulihat ia tiba-tiba jatuh menelungkup, aku berteriak dan menunjuk ke arahnya. Dengan bantuan supir truk dan beberapa orang gudang, kami mengangkat tubuhnya. Kami harus menggotong tubuh itu agak lama, sebab unit kesehatan karyawan berada jauh dari lokasi gudang.Kami bahkan harus menaiki beberapa tangga sebelum akhirnya dapat masuk ke ruang kesehatan itu.
“Ke sini, taruh di sini,” dokter itu menunjukkan tempat tidur. Kami menaruhnya di atas sana.
Orang-orang gudang segera kembali ke gudang. Mereka masih harus menyusun kain-kain yang telah dikeluarkan ke ruang pengecekan material. Sementara supir truk berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Aku duduk di kursi ruang kesehatan ini, memperhatikan dokter berusaha meluruskan badan si kepala gudang dan memberinya minyak kayu putih. Aku merasa nafasku agak sesak, ini pasti akibat kelelahan setelah menggotong tubuh itu.
Tiba-tiba Pak Manto datang, ia mendampratku.
“Pemalas! Jadi begini caramu menjalani masa efisiensi?”
Dokter itu tersentak, ia menoleh ke arahku, kemudian ke Pak Manto. Aku berdiri dan segera kembali ke ruanganku. Aku tidak ingin berdebat dengannya, meski aku bisa saja menjelaskan. Sepanjang jalan menuju ruanganku, Pak Manto masih terus memaki-maki. Sementara nafasku terasa semakin berat.
“Kurang ajar! Apa kau tidak tahu aku harus segera mengambil keputusan terkait material yang tertunda itu? Apa kau tidak memikirkannya, kita sedang dalam masa efisiensi. Semua harus bekerja keras, tapi kau bermalas-malasan di ruang kesehatan!”
Aku telah sampai di depan pintu ruanganku. Di belakang, Pak Manto semakin keras memaki-maki. Aku mencengkeram gagang pintu itu, dan ia segera berubah menjadi sebuah pistol. Kamu tahu apa yang aku pikirkan? Aku akan menembak kepalanya! Namun ia mendorongku terlebih dulu, tenaganya sangat kuat hingga aku membentur pintu dan membuatnya terbuka.
“Duduk dan katakan apa yang ingin aku dengar!” ia menyuruhku.
“Mereka akan mulai bekerja besok, Pak. Dan kain itu telah mereka pastikan dikirim hari itu juga.” jawabku.
“Baik,” suaranya kini tampak lebih tenang. Namun di saat seperti ini justru membuatku semakin tertekan. “Kau sudah tahu, ‘kan? Cabang perusahaan kita telah mengurangi pegawainya. Kini adalah giliran kita. Aku masih memikirkan siapa kira-kira yang akan aku pulangkan. Aku berharap itu bukan kau.”
Ia meninggalkanku. Aku masih merasakan sesak nafas, ditambah dadaku terasa sakit setelah membentur pintu tadi. Aku menarik nafas dalam-dalam beberapa kali, dan syukurlah, itu membuatku lebih baik. Kemudian aku merogoh kantong kemejaku dan mengeluarkan surat jalan tadi. Aku memasukkan data-datanya untuk membuat laporan stok kedatangan barang. Kuperhatikan angka-angka di dalam monitor itu bergetar, kemudian semuanya buyar. Mereka berpencar ke segala arah. Dan monitor itu, tiba-tiba tertawa padaku.
Aku tersentak menjauhi monitor itu, namun kursi yang aku duduki mencengkeram lenganku. Aku tak bisa berdiri. Monitor di hadapanku kini menampilkan sosok lelaki mirip diriku, ia melangkah keluar dari layar monitor dan berjalan terseok-seok menuju jurang. Aku berteriak tapi ia tak mendengar.
“Satya,” aku semakin terkejut. Rupanya ia hanya rekan kerjaku.
“Ada apa?” jawabku.
“Kita dipanggil ke ruang meeting.”
“Baiklah.”
Pak Manto memberitahu kami, bahwa dalam waktu dekat perusahaan akan melakukan lockdown. Ini adalah perintah negara, seluruh karyawan harus dirumahkan hingga waktu yang belum pasti. Namun ada yang membuat kami semua semakin lesu, yakni ketika Pak Manto mengatakan bahwa kami hanya akan digaji dari Kartu Pencari Kerja. Tidak salah lagi, itu berarti selama berada di rumah kami tidak akan menerima gaji sama sekali. Sebab dengan kartu itu, kami hanya akan menerima uang Rp600 ribu per bulan dari negara.
Seluruh badanku tiba-tiba terasa lemas, aku teringat istri dan anak yang sedang dikandungnya. Apa yang akan aku katakan di rumah? Bagaimana nasib keluargaku ke depan? Apa jadinya kami hanya dengan 20 ribu per hari? Dunia terasa berputar sangat kencang, aku terpelanting ke sana ke mari, membentur dinding ruangan, membentur meja dan kursi, membentur langit-langit ruangan dan akhirnya kudapati diriku duduk seperti semula, menghadap layar monitor dengan angka-angka yang tersusun rapi. Aku kembali bekerja seperti biasa.
***
Pulang. Aku telah berada di beranda rumah. Nafasku kembali sesak, semakin berat. Aku masih belum menemukan cara untuk mengatakan semuanya pada istriku. Aku hanya ingin kami hidup bahagia, semuanya berjalan baik-baik saja, tapi mengapa semua ini justru terjadi? Tubuhku semakin sulit digerakkan, gravitasi bumi seakan semakin kuat. Kulihat lantai yang kupijak telah menjadi lumpur hisap. Susah payah aku mencapai pintu rumah, dan sesak nafas ini semakin membuatku menderita.
Sekuat tenaga aku mengangkat tanganku, perlahan-lahan kudorong pintu dan aku terkejut, selembar email sialan dari direktur perusahaan itu melayang di depanku, namun dengan segera email itu melipat-lipat dirinya sendiri menjadi mirip bola ping-pong. Bola itu kemudian mendesak masuk ke mulutku, lalu melesat lebih dalam hingga menyumpal tenggorokanku. Aku tercekik, tak bisa bernafas. Lidahku terjulur. Aku tak bisa berteriak. Panik, aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan diri. Kusadari telapak kakiku mulai terasa dingin, kemudian lututku juga dingin, lalu pinggangku, dadaku dan akhirnya leherku. Aku kehilangan keseimbangan. Namun, aku tak merasakan sakit ketika kusadari tubuhku ambruk dan kepalaku terbanting keras ke lantai. Gelap, aku tak dapat melihat apa-apa lagi. Untuk sesaat, aku masih mendengar istriku menjerit memanggil namaku.
Yogyakarta, April 2020

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *