LOADING

Type to search

John Keats – Ode to A Nightingale (Terjemah)

Diterjemahkan oleh Patricia Pawestri
————————————-
Ode untuk Burung Bulbul

 

/1/
Perihnya hatiku, dan separuh kesadaran yang mati rasa
    Perasaanku, seolah-olah racun cemara telah membuatku mabuk,
Atau opium membosankan yang tertenggak ke dalam kerongkonganku
    Satu menit yang lalu, dan kengerian sungai Lethe pun berlalu:
Bukan menjadi cemburu dengan banyaknya kebahagiaan milikmu,
    Tetapi menjadi sangat bahagia dalam kebahagiaan yang kau miliki,–
        Bahwa engkau, bidadari hutan dengan sayap cahaya yang bersinar di antara pepohonan,
           Dalam melodi-melodi yang mengalun
Dari kehijauan hutan di tebing hutan Beechen, dan bayang-bayang tak terhingga,
Paling merdu dari musim panas dalam sajakku yang mengalir.

 

/2/

O, kekeringan yang telah lama berlalu! Yang telah menjadi
    Dingin dalam masa yang lama terbenam di bumi dengan begitu dalam,
Mencecap aroma bunga-bunga dan hijaunya negeri,
    Tarian, dan nyanyian Provencal, dan tawa saat di bawah terik mentari!
O untuk sebuah piala penuh kehangatan iklim Selatan,
    Penuh akan kebenaran, kecemerlangan yang terpancar dari mata air Hippocrene,
        Dengan gelembung-gelembung bermanik di tepinya,
            Dan bibir dengan pewarna ungu;
Bahwa aku boleh minum, dan membiarkan dunia lenyap,
Dan denganmu melesap jauh ke dalam keredupan hutan:

 

/3/

Melesap jauh, larut, dan perlahan terlupakan
    Apa yang tak pernah dikenal di antara daun-daunmu,
Keletihan, demam, dan resah
    Di sini, di mana para pria duduk dan saling mendengarkan keluhan mereka,
Di mana mati rasa menggigilkan, pedih, rambut kelabu di hari-hari terakhir,
    Di mana kemudaan menjadi pucat, dan memudar, dan sirna
        Di mana pikiran menjadi penuh dengan derita
            Dan putus asa menggantung begitu kelam,
Di mana keindahan tidak dapat mempertahankan binar matanya,
    Atau Cinta baru bertunas di sana keesokan hari dan keesokannya lagi.

 

/4/

Menjauh! Menjauhlah! Karena aku akan terbang melesat menujumu,
    Bukan dengan kereta bersais Bacchus dan pasukannya,
Tetapi di atas sayap-sayap tembus pandang Puisi,
    Meskipun pemikiran yang tumpul sukar memahami:
Telah bersamamu! Malam yang melembut,
    Dan dengan bahagia sang Ratu Bulan berada di tahtanya,
        Bergugus-gugus di sekelilingnya Peri-peri bintang;
            Tetapi di sini tiada cahaya,
Menyembunyikan apa saja dari langit kecuali yang tertiup semilir
    Melalui celah suram pepohonan dan jalan berliku yang berlumut.

 

/5/

Aku tak bisa melihat bunga-bunga yang rebah di kakiku,
    Juga keharuman lembut apa yang menggantung pada dahan-dahan,
Tetapi, dalam pekat kegelapan, menebak kemanisan pada setiap hal
    Dengan bulan yang musimnya memberikan berkah
Rumput, rimbun semak, dan pohon buah-buahan liar;
    Hawthorn putih, dan eglantine biara;
        Dengan cepat menghilang bunga-bunga violet karena tertutupi dedaunan;
            Dan yang tersulung dari pertengahan bulan Mei,
Mawar-kesturi yang baru mekar, penuh dengan gugusan embun,
    Dengung bising dari lalat-lalat di musim panas.

 

/6/

Berangsur gulita kudengar, dan, selama beberapa saat
    Separuh diriku bercinta dengan Maut yang menghanyutkan,
Menyebut nama-nama lembutnya dalam sajak-sajak lamunan,
    Untuk menarik dari udara napasku yang nyaris tak terasa;
Kini lebih dari sebelumnya terlihat sangat berharga untuk mati,
    Untuk berakhir pada tengah malam tanpa rasa nyeri,
        Sementara engkau dengan elok mengalirluapkan kebebasan jiwamu
            Dalam sebuah kegembiraan memabukkan!
Masih saja engkau bernyanyi, dan aku membiarkannya berlalu dari telingaku—
    Agar lengking rekuiemmu menjadi tanah.

 

/7/

Kau tak dilahirkan untuk mati, Burung abadi!
    Tidak ada generasi lapar mengincarmu;
Suara yang aku dengar semalam lalu telah didengar
    Pada zaman dahulu oleh kaisar dan badut:
Barangkali nyanyian jiwa yang sama menemukan sebuah jalan
    Melalui kesedihan hati Ruth, ketika, merindukan kampung halaman,
        Dia berdiri berlinang air mata di tengah ladang jagung yang asing;
            Nyanyian yang sama sering kali juga
Membingkai sihir yang memesonakan, menyingkapkan buih
    Lautan yang berbahaya, dalam ratapan negeri-negeri mimpi.

 

/8/

Meratap! Kata yang sangat berdentang
    Menjebakku berpaling darimu kepada diriku sendiri!
Selamat tinggal! Khayalan tidak dapat mengecoh lagi
    Sebagaimana yang ia sering lakukan, peri pengelabu!
Selamat tinggal! Selamat tinggal! Nyanyi pilumu perlahan sayup
    Melewati padang-padang rumput ini, melayang di atas arus aliran sungai,
        Naik ke lereng bukit; dan kini terkubur dalam-dalam
            Pada lembah terbuka di sana:
Apakah hal itu sebuah penglihatan, atau mimpi terjaga?
    Senyaplah suara itu: apa aku terbangun atau tidur?
(1819 di Spaniars Inn, Hemstead, London)

 

Ode to a Nightingale

John Keats – 1795-1821

 

1.

My heart aches, and a drowsy numbness pains
    My sense, as though of hemlock I had drunk,
Or emptied some dull opiate to the drains
    One minute past, and Lethe-wards had sunk:
‘Tis not through envy of thy happy lot,
    But being too happy in thine happiness,—
        That thou, light-winged Dryad of the trees,
            In some melodious plot
Of beechen green, and shadows numberless,
    Singest of summer in full-throated ease.

 

2.

O, for a draught of vintage! that hath been
    Cool’d a long age in the deep-delved earth,
Tasting of Flora and the country green,
    Dance, and Provencal song, and sunburnt mirth!
O for a beaker full of the warm South,
    Full of the true, the blushful Hippocrene,
        With beaded bubbles winking at the brim,
            And purple-stained mouth;
That I might drink, and leave the world unseen,
    And with thee fade away into the forest dim:

 

3.

Fade far away, dissolve, and quite forget
    What thou among the leaves hast never known,
The weariness, the fever, and the fret
    Here, where men sit and hear each other groan;
Where palsy shakes a few, sad, last gray hairs,
    Where youth grows pale, and spectre-thin, and dies;
          Where but to think is to be full of sorrow
               And leaden-eyed despairs,
Where Beauty cannot keep her lustrous eyes,
    Or new Love pine at them beyond to-morrow.

 

4.

Away! away! for I will fly to thee,
    Not charioted by Bacchus and his pards,
But on the viewless wings of Poesy,
    Though the dull brain perplexes and retards:
Already with thee! tender is the night,
         And haply the Queen-Moon is on her throne,
            Cluster’d around by all her starry Fays;
                But here there is no light,
Save what from heaven is with the breezes blown
    Through verdurous glooms and winding mossy ways.

 

5.

I cannot see what flowers are at my feet,
    Nor what soft incense hangs upon the boughs,
But, in embalmed darkness, guess each sweet
    Wherewith the seasonable month endows
The grass, the thicket, and the fruit-tree wild;
    White hawthorn, and the pastoral eglantine;
        Fast fading violets cover’d up in leaves;
            And mid-May’s eldest child,
The coming musk-rose, full of dewy wine,
    The murmurous haunt of flies on summer eves.

 

6.

Darkling I listen; and, for many a time
    I have been half in love with easeful Death,
Call’d him soft names in many a mused rhyme,
    To take into the air my quiet breath;
Now more than ever seems it rich to die,
    To cease upon the midnight with no pain,
        While thou art pouring forth thy soul abroad
            In such an ecstasy!
Still wouldst thou sing, and I have ears in vain—
    To thy high requiem become a sod.

 

7.

Thou wast not born for death, immortal Bird!
    No hungry generations tread thee down;
The voice I hear this passing night was heard
    In ancient days by emperor and clown:
Perhaps the self-same song that found a path
    Through the sad heart of Ruth, when, sick for home,
        She stood in tears amid the alien corn;
            The same that oft-times hath
Charm’d magic casements, opening on the foam
    Of perilous seas, in faery lands forlorn.

 

8.

Forlorn! the very word is like a bell
    To toil me back from thee to my sole self!
Adieu! the fancy cannot cheat so well
    As she is fam’d to do, deceiving elf.
Adieu! adieu! thy plaintive anthem fades
    Past the near meadows, over the still stream,
        Up the hill-side; and now ’tis buried deep
            In the next valley-glades:
Was it a vision, or a waking dream?
Fled is that music:—Do I wake or sleep?

John Keats (1795 – 1821) was an English Romantic poet. He was one of the main figures of the second generation of Romantic poets, along with Lord Byron and Percy Bysshe Shelley, despite his works having been in publication for only four years before his death from tuberculosis at the age of 25.

Although his poems were not generally well received by critics during his lifetime, his reputation grew after his death, and by the end of the 19th century, he had become one of the most beloved of all English poets. He had a significant influence on a diverse range of poets and writers. Jorge Luis Borges stated that his first encounter with Keats’ work was the most significant literary experience of his life.

The poetry of Keats is characterised by sensual imagery, most notably in the series of odes. This is typical of romantic poets, as they aimed to accentuate extreme emotion through an emphasis on natural imagery. Today his poems and letters are some of the most popular and most analysed in English literature. Some of the most acclaimed works of Keats are “Ode to a Nightingale”, “Sleep and Poetry”, and the famous sonnet “On First Looking into Chapman’s Homer”.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *