LOADING

Type to search

Tags:

Corona (I-II) – Arum P

Corona I

Belum senja. Langit masih bingung tentang awan dan angin, mendung atau terik, dan keringat justru membanjir.

Sekumpulan orang berjongkok menyantap makanan. Berpeluh, kepedasan. Sebagian lupa cuci tangan. Kalah oleh cengkrama keakraban.

Minum seteguk bergantian, dari kendi penuh kenikmatan. Lupa tantang virus dan kuman, atau justru tak kenal.

Yang ada hanya kebersamaan, kesyukuran dan saling berbagi keberkahan. Lupa ada sisi lain yang ramai dibicarakan. Mendengar, tapi tak paham.

Pulang penuh kegembiraan, meski hujan jatuh menjadi penghantar. Deras bersama halilintar, memberi gigil yang tetap diterjang. Langit telah menentukan pilihan.

Tak lama, demam menyerang. Dada terasa sesak berhimpitan, tersengal. Menyeduh hangat jahe dan madu sebagai penangkal. Tak berpikir ini efek virus atau kuman. Ikhtiar sederhana, dari resep nenek moyang. Tubuh menghangat tapi sesak menghilang. Tidur saja yang dibutuhkan. Tenang tak bingung kabar corona yang menghujam.

Hujan menderas
Tubuh basah berlumpur
Dingin menggigil

Kdr, 15032020.

***

Corona II

Berkabar
Gigil demam
Sesak menyerak
Virus kematian

Rawat sigap

Kdr, 15032020.


Oleh Arum P

Tags:
Previous Article
Next Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *