LOADING

Type to search

Tags:

Pantat Bencong Beracun – Haji Misbach

Dari Sabang aku mulai bergerak
ke Surabaya untuk kemudian mampir agak
lama ke Sukabumi, dalam gelindingan roda waktu —

“Waskita, Wahai Sultan Kerajaan Sabang,
Setelah pulang dari Kuningan
ceritakan pada teman Palembang ITB-mu itu
kalau di pinggir rel kereta ada banyak tulisan:
‘PANTAT BENCONG BERACUN’

di setiap bangku taman dan bunga baru mekar
di atas Ciliwung dan mimpi-mimpi gubuk kayu
menggantikan belukar
di mana ada banyak tikar
ditemani musik melayu dan minuman dingin
setiap lima belas jengkal kakimu.”

“Kuceritakan padamu
Di Surabaya, aku diteriaki di tengah panas
Sambil nonggeng bisa, Mas… Yuk….5000!'”

“Itu cerita Jakarta dulu
Jangan pernah mencoba
bisa habis kehidupan kita
benjol-benjol merah disertai demam panas!”–

Peradaban berubah
Cerita Mataram kini eksotis untuk udara malam
Jakarta yang lembab dan berkeringat
sambil menunggu kabar Gorontalo
yang menularkan absurditas hidup.

war war war war
king Bali death
king Lombok win
king Bali lost

Aceh menunggu demokrasi
Kendari menunggu banyak buku
Makasar bertemu jalan berliku
Subang butuh internet

Hasrat harusnya bukan berputar pada sejarah Sitompul
Tapi pada dekapan hangat Franchine Rosenda
atau minimal pada sisa-sisa kecantikan Dian Sastro

Jakarta, 6 Maret 2009


Oleh Haji Misbach. #BukuBergerak

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *