LOADING

Type to search

Tags:

Cahaya Redup – Rina’s

Aku … cahaya redup dalam jagat sunyi.
Lebih dulu terasak rindu, terpanah
tatap teduh miliknya menusuk luka hati–
yang meratap ingin diobati.

Aku … cahaya redup dalam rasa.
Kasih bertemu di ujung harap, terbelenggu
duka yang saling berpandangan mata.
Menyuarakan kata yang telah lama gagu.

Di kamar yang kusebut ruang kami,
aku selalu datang memayang kelesah.
Dia dengan kehangatan sentuhnya,
menyentuh cahayaku tuk kembali benderang.

Di kamar yang kusebut ruang kami,
aku melepas deraian tangis menderas.
Dia mengajakku mentertawakan gundah,
hingga tak bersisa. Dan tetesan pun menjadi binar.

Binar-binar harapan
bercengkerama di atas luka gulita malam.
Pendaran cinta memancar
menyuar semesta bermandikan cahaya.

Aku adalah cahaya redup,
yang sebenarnya selalu dirindukannya, setiap saat
pendarku memenuhi kamar,
mengikuti jejak-jejak cintanya.

Dan dari balik jendela, ingin kupeluk purnama di luar sana–
agar parasku semakin bercahaya.
Atau kuizinkan dia menyusuri lekuk malam rupawanku,
rela tertawan di perjumpaan gerak hati.

Aku adalah cahaya yang redup.
Untuknya yang sebenarnya selalu menunggu.
Untuknya yang sebenarnya selalu merindu.
Tuturnya:

“Cahaya cinta, dititahkan tuk selalu mencintaiku.”

2020


Oleh Rina’s

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *