LOADING

Type to search

Benarkah Inti Ekspresi Puisi adalah Sintaks?

Bahan bacaan di bawah ini adalah merupakan rekaman balas-komentar yang dilakukan oleh penulis (Shiny/eL) di dalam status Facebook milik Ahmad Yulden Erwin (biasa dipanggil Bang AYE), yang berjudul, “Inti Ekspresi Puisi adalah Sintaksis. Bukan Kata.”

Maksud dari komentar-komentar yang saya utarakan adalah untuk coba menolak bahwa inti dari ekspresi puisi adalah sintaksis, dengan pijakan sederhana, bahwa aspek sintaksis adalah hanya salah satu saja unsur dalam ketata-bahasaan yang bisa dimaksimalkan dalam kerja Puisi (POIESIS); ada aspek morfologi, fonetik, semiotik, dst.

Oke, berikut rekaman balas-komentar tersebut:

———————————————————————————
INTI EKSPRESI PUISI ADALAH SINTAKSIS, BUKAN KATA
———————————————————————————

Dalam konteks ekspresi puitik, inti puisi itu bukan di kata melainkan sintkasis puitik–baik klausa maupun kalimat. Ada banyak jenis sintaksis puitik dalam teknik perpuisian dunia tergantung ars poetica yang mendasarinya, di antaranya: sintaksis puitik klasik, sintaksis puitik romantik, sintaksis puitik ekspresionistik, sintaksis puitik imajistik, sintaksis puitik impresionistik, sintkasis puitik surealistik, hingga sintaksis puitik abstrak. Setiap sintaksis puitik memiliki “ciri” tekniknya sendiri.

Agak aneh juga bahwa di Indonesia yang jadi penekanan di dalam teknik ekspresi puitik justru adalah soal “kata”, bukan sintaksis (baik frasa, klausa, maupun kalimat). Kenapa aneh? Karena, baik secara linguistik maupun stilistika, kata mendapatkan “kebermaknaan puitiknya” justru di dalam sintaksis, yaitu dalam konteks sintagmatis dan pragmatika, bukan di dalam kata itu sendiri.

Namun, banyak penyair atau kritikus atau apresian di sini yang mencoba berargumen bahwa inti ekspresi puisi adalah “kata”, bukan sintaksis, dengan mengambil contoh dua puisi karya Sutardji Calzoum Bachri (SCB) ini:

———-
KALIAN
———-
pun

——–
LUKA
——–
ha ha

Mereka berpendapat bahwa kedua puisi SCB itu hanya menampilkan satu kata bahkan onomatope (tiruan bunyi), dan tak ada kalimat di dalam badan puisinya. Namun, mereka lupa peran dari judul puisi. Pada kedua puisi SCB itu, bila judul puisi dikaitkan dengan isi puisinya, maka jelas hal itu adalah sebuah sintaksis. Bila judulnya dihilangkan, maka terbukti kedua puisi SCB itu tak memiliki makna sebagai sebuah puisi.

Di sisi lain, kita kerap menemukan pendapat, bahkan di dalam buku-buku teks pelajaran sastra di Indonesia, inti ekspresi puisi ada pada kata sedangkan prosa pada kalimat. Hal itu jelas keliru. Sebab, seperti sudah saya buktikan dalam konteks dua puisi SCB di atas, hanya dengan menyusun kata secara acak di dalam satu teks puisi, tanpa memerhatikan aspek sintagmatik dan pragmatikanya di dalam sintaksis, tak akan menghasilkan kebermaknaan melainkan racauan. Puisi jelas bukan racauan.

————————————————————–
Esai @ Ahmad Yulden Erwin, 11 November 2015
————————————————————–

Shiny.ane elpoesya (SAE) :

Tulisan di atas menurut saya, mengasumsikan, bahwa sebuah Puisi senantiasa ditulis dalam kalimat–dengan sintaks minimal. Pertanyaannya, bagaimana dengan eksplorasi yang dilakukan oleh para penulis puisi yang mengeksplorasi hingga wilayah morfologi, bahkan wilayah semiologi; belum lagi, keberadaan Irama dalam puisi, bukanlah persoalan sintaks, melainkan persolan yang lebih kecil dalam bahasa: Fonetik

Sebagai contoh dari kedua itu, misalnya bisa kita temukan dalam puisi Buah Rindu, Amir Hamzah yangmana ia menulis kata Fana dengan Fani untuk mengejar rima. Apa yang dilakukan oleh Amir Hamzah di sini tidak mungkin kita baca sebagai sebuah eksplorasi sintaksis, melainkan eksplorasi morfologis sekaligus fonetik.

Dalam puisi “Aku MencintaiMu dengan Seluruh JembutKU,” bang Saut Situmorang bermain dengan unsur Semiotik (pengkapitalan huruf); dalam “ADAM” (di salah satu trilogi Perawi Rempah), Pakcik sendiri bermain dengan presisi typografis. Artinya, ekspresi Puisi tidak sesederhana hanya pada Sintaks.

____

Ahmad Yulden Erwin (AYE) :

Sintaksis itu apa? Itu bukan hal yang sederhana dalam linguistik. 😀

Itu hal yang mempelajari 4 hal, yaitu: kata, frasa, klausa, dan kalimat.

Marfologi, fonetik, bahkan semiologi itu ada hubungannya dalam sintaksis, tidak terpisah begitu saja.

Penyimpangan yang dilakukan oleh Amir Hamzah soal rima itu adalah soal Licentia Poetica. Hal itu biasa dilakukan bahkan oleh Sheakspeare juga. Artinya apa? Untuk tahu artinya, kau harus menggunakan sintaksis juga. 😀

Morfologi (linguistik), adalah suatu bidang ilmu linguistik yang mengkaji tentang pembentukan kata atau morfem-morfem dalam suatu bahasa.

____

S.A.E. :

Ahmad Yulden Erwin Sebagai sebuah penyusun makna kalimat, saya sepakat mereka tidak dapat dipisahkan. Apalagi, yang dikejar adalah sebuah makna kalimat itu sendiri, yang memang membutuhkan sintaks. Tetapi, estetika tidak hanya dipenuhi oleh persoalan Sintaks. Ada unsur-unsur lain yang membangunnya secara bersamaan, bahkan ketika itu dibangun dalam rangkaian kalimat.

____

A.Y.E :

Dalam linguistik, sintaksis (dari Yunani Kuno: συν- syn-, “bersama”, dan τάξις táxis, “pengaturan”) adalah ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat dalam bahasa alami. Selain aturan ini, kata sintaksis juga digunakan untuk merujuk langsung pada peraturan dan prinsip yang mencakup struktur kalimat dalam bahasa apapun, sebagaimana “sintaksis Irlandia Modern.” Penelitian modern dalam sintaks bertujuan untuk menjelaskan bahasa dalam aturan ini. Banyak pakar sintaksis berusaha menemukan aturan umum yang diterapkan pada setiap bahasa alami. Kata sintaksis juga kadang digunakan untuk merujuk pada aturan yang mengatur sistematika, seperti logika, bahasa formal buatan, dan bahasa pemrograman komputer. (Wikipedia).

Sintaksis adalah ilmu tatakalimat yang menguraikan hubungan antarunsur bahasa untuk membentuk sebuah kalimat. Relevansi sintaksis difokuskan pada unsur-unsur pembentuk kalimat baik dari segi strukturnya (segmental maupun dari segi unsur-unsur pelengkapnya, suprasegmental). Sintaksis perlu dipelajari karena ilmu ini membahas tatabentuk kalimat yang merupakan kesatuan bahasa terkecil yang lengkap. Sintaksis berhubungan dengan unsur bahasa lain yang ada keterkaitannya dengan unsur pembentuk kalimat. Unsur tersebut antara lain fonem, kata, intonasi, kesenyapan, dan kontur. Sebenarnya banyak ahli bahasa yang telah memberikan penjelasan tentang sintaksis yang masing-masing memiliki persamaan dan perbedaan baik cakupan maupun redaksinya. Ada ahli yang mengatakan bahwa sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat klausa, dan frasa. Sementara itu, ahli lain mengatakan bahwa syntax in the studi of the patterns by which words are combined to make sentences. Artinya, sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang diperlukan sebagai sarana untuk menghubung-huubungkan kata menjad kalimat. Di sisi lain, ada yang menyatakan bahwa sistaksis adalah kaidah kombinasi kata menjadi satuan yang lebih besar, yakni frasa dan kalimat. Pernyataan tersebut memberikan penjelasan bahwa satuan yang tercakup dalam sintaksis adalah frasa dan kalimat dengan kata sebagai satuan dasarnya. Bidang sintaksis mengkaji hubungan semua kelompok kata atau antarfrasa dalam satuan-satuan sintaksis itu. Sintaksis mempelajari hubungan gramatikal di luar kata, tetapi di dalam satuan yang disebut kalimat.. Berdasarkan penjelasan tersebut kiranya dapat dinyatakan bahwa sintaksis adalah bagian dari tatabahasa yang mengkaji tentang kaidah pengabungan kata menjadi satuan gramatik yang lebih besar yang disebut frasa, klausa, dan kalimat, serta penempatan morfem suprasegmental (intonasi) sesuai dengan struktur semantik yang diinginkan pembicara sebagai dasarnya. Secara keseluruhan buku ini berisi hakikat frasa, klausa, dan kalimat, serta penjelasan yang mendalam tentang frasa, klausa, dan kalimat. Penjelasan mengenai frasa meliputi hakikat frasa, perbendaan frasa dengan kata, dan jenis-jenis frasa berdasarkan distribusinya dan jenis-jenis frasa berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya. Penjelasan klausa mencakup hakikat klausa, jenis-jenis klausa, dan makna klausa. Sementara itu, penjelasan mengenai kalimat meliputi hakikat kalimat, jenis kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya, jenis kalimat berdasarkan pengungkapannya, jenis kalimat jenis kalimat berdasarkan jumlah klausanya, dan kalimat efektif. (Sintaksis Bahasa Indonesia, Supriyadi, UNG Pers).

Estetika itu apa? Kau jangan cuma mengutip-ngutip istilah tapi tak tahu maknanya.

Yang mengatakan ini hanya estetika puisi itu hanya persoalan sintaksis siapa? Itu hanya perkataanmu sendiri. 😀

____

S.A.E. :

Saya berpendapat, adanya pembagian keilmuan dalam linguistik dari aspek terkecil hingga terbesar dari susunan pembangunan kalimat (Fonetik-morfologi-sintaks-paragraf) menunjukkan bahwa setiap bagian-bagian kajiannya memiliki signifikansi dan urgensinya tersendiri, dan dalam praktik penggunaannya, itu dapat digunakan secara kreatif.

____

A.Y.E. :

Memang, lalu yang menentangmu siapa? 😀

Kalimat juga dibentuk oleh kata, tapi mengatakan bahwa kalimat itu kata belaka itu yang ngawur. 😀

____

S.A.E. :

Maksd saya, bisa digunakan dengan penekannya masing-masing juga; meskipun secara bersamaan dilahirkan dalam produk puisinya.

____

A.Y.E. :

Kalimat dalam sisntaksis itu juga mempelajari kata, di samping frasa, klausa, kalimat.

Kau belum sekali pun menjawab pertanyaanku, kita akhiri saja diskusi ini. 😀

____

S.A.E :

Oke gapapa diakhiri. Tapi saya coba jawab dulu.

Sejauh yang saya pelajari dalam ilmu linguistik, Sintaks adalah ilmu yang mempelajari mengenai penyusunan kata dalam sebuah rangkaian fungsi gramatik, sehingga dengan rangkaian tersebut dimungkinkan adanya makna-kalimat yang dapat dipahami oleh penyampai dan penerima pesan. Hal ini sesuai asal kata sintaks itu sendiri, Arrange-in-Order.

____

A.Y.E. :

Ada nggak kalimat tanpa kata? 😀

Tapi mengatakan yang ada hanya kata, dan kalimat tak ada. Itu berarti tolol. 😀

____

S.A.E. :

Ahmad Yulden Erwin Ya tidak ada lah. tetapi, jika berkaitan dengan unsur yang lebih kecil dari Frasa, kajiannya bukan lagi wilayah Sintaks; sebab objek formalnya sudah bergeser.

____

A.Y.E. :

Kau ngawur, yang dipelajari dalam sintaksis itu bukan cuma soal kata, tapi juga frase, klausa, dan kalimat, bahkan wacana. Semua itu tersusun dari kata, tapi bukan berarti frase, klausa, kalimat, dan wacana itu tidak ada.

Kalau lebih kacil lagi, maka masuk wilayah fonetik. Siapa bilang itu sintaksis? Tapi keduanya berhubungan erat. 😀

____

S.A.E :

Saya tidak bilang hanya Kata. Saya bilang, jika berkaitan dengan unsur yang lebih kecil dari Frasa, kajiannya bukan lagi wilayah Sintaks; sebab objek formalnya sudah bergeser.

Dalam Sintaks memang dipelajari juga soal kata, tetapi jika sudah berkaitan dengan Morfologi, salah satunya–sebagaimana saya singgung di awal, dia sudah bagian di luar Sintaks.
____

A.Y.E. :

Marfologi itu bukan kata, tetapi, morfologi (linguistik), adalah suatu bidang ilmu linguistik yang mengkaji tentang pembentukan kata atau morfem-morfem dalam suatu bahasa.

Bukan cuma kata yang dipelajari oleh marfologi, tetapi morfem juga. 🙂

____

S.A.E :

Memang benar Morfologi itu adalah kajian pembentukan kata dan morfem2nya.

Dalam buku Pakcik juga Pakcik menulis soal Jeda Puitik. Jeda Puitik ini justru membuktikan bahwa persoalan puisi bukan hanya persoalan Sintaksis, atau bahkan bukan hanya persoalan yang diungkapkan melalui kata-kata dan rangakaian kata, tetapi dalam diam itu sendiri. Sebagaimana dalam Haiku, ada Jeda melalui Kire.

Meskipun tentu, yang dimaksud Jeda di sana ada dalam konteks jeda kalimat juga. Artinya ia hadir dalam-dan-bersama Sintaks.
____

A.Y.E. :

Memang benar. Yang bilang persoalan puisi itu cuma sintaksis siapa? dirimu sendiri!

____

S.A.E :

😮 ????????

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *