LOADING

Type to search

Teori Puisi dan Keliaran Bahasa Puisi: Resensi buku karya Shiny.ane elpoesya

Judul buku         : Sains Puisi
Penulis                : Shiny.ane el’poesya
Penerbit              : Mata Aksara
Tahun terbit        : 2019
Jumlah halaman : 150
ISBN                    : 9786025768194

Peresensi            : Patricia Pawestri

Teori Puisi dan Keliaran Bahasa Puisi: Resensi buku karya Shiny.ane elpoesya

Shiny.ane el’poesya adalah salah seorang pembelajar puisi yang aktif. Sebagai seorang generasi milenial ia kerap tergelitik untuk menciptakan karya eksperimental. Dan sekumpulan dari karya-karya eksperimental itu ia bukukan dengan judul “Sains Puisi”. Di dalamnya terdapat 69 puisi dengan berbagai bentuk yang dapat digunakan sebagai bahan belajar bagi para pecinta puisi untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan.

Puisi-puisi Shiny kebanyakan berbeda dengan kecenderungan penulis puisi pada umumnya. Kerja kreatif yang ia lakukan seakan ingin menembus segala kemungkinan cara menampilkan puisi. Ia mencoba melibatkan hal-hal yang berhubungan dengan desain grafis, seperti tabel diagram, perwajahan blog, stiker, pembatas buku. Ada juga permainan puzzle, algoritma, mirrorism (istilah saya sendiri untuk sesuatu yang tampil seperti cermin). Hal terpenting yang harus disadari adalah bahwa beberapa karya beliau adalah puisi visual, sebuah bentuk eksperimen dari puisi konkret yang lebih menonjolkan tipografi sebagai cara berkomunikasi ketimbang unsur verbal, merupakan sebuah cara yang masih tergolong baru dan asing bagi penulis pemula di Indonesia, meskipun cara tersebut telah diperkenalkan pertama kali tahun 1925 oleh Joan Miro.

Kelebihan lain Shiny adalah ia peduli dengan teori puisi, hal yang kemudian membuat puisi-puisinya terasa mempunyai pakem dan mapan; ditunjukkan dengan kehadiran “Avant Propose” sebagai pembuka materi dalam bukunya kali ini. Kepedulian yang sama juga ia tunjukkan dalam tulisan bejudul “Komposisi” dengan menuturkan perincian mengenai asal usul puisi dan penyusunnya dengan mengambil ujaran dari Ibn Shina, Ibn Rusyd, Al Farabi, Aristoteles, dan Heideger.

Sebagai generasi milenial yang peduli dengan pengetahuan, teknologi dan ekologi untuk kepentingan masa depan manusia, ia mengungkapkan beberapa hal:

  1. “Tapi bisa jadi kehidupan kita sebagai manusia memang berasal dari dunia ini, yang muncul dari lompatan kompleks cardinal sistem alam semesta yang melahirkan kesadaran mandiri seperti keberadaan Super AI (Super Artifisial Intellegent) dalam sebuah world game yang amat canggih. Lantas kta tersesat di dalam sistem normal yang ada.” –NOOB Note—
  2. “Salah satu indikasi terjadinya hujan asam ini misalnya terlihat pada gejala Korosifitas Tembaga yang banyak bisa dilihat—misalnya, di kaki patung-patung yang terdapat di ruang publik: Endapan hijau (CuSO4) yang terdapat pada Patung Jenderal Ahmad Yani, Bandung, pada permukaan kepala Patung Liberty, Amerika, pada patung The Grant Memorial, dsb. Semoga kondisi yang semakin memprihatinkan ini bisa menyadarkan kita, walau satu mawar.” –catatan kaki pada Manuskrip Hijau I: Patung dan Embun—
  3. “Max, katakan padaku, kegilaan macam apa ini? Sains digunakan untuk memusnahkan kehidupan.” –MATAHARI ES [158]–dan Lubang Gelap –

Melalui “Language game; pengalaman kita”, “Puisi sebagai Eksperimen” dan “Puisi sebagai Eksperimen (II): Dari Chairil, Sutardji, Afrizal hingga Saut Situmorang”, Shiny mengungkap akar kerja kreatifnya dengan beberapa penyair sebagai basis dan titik tolak eksperimennya.

Hal yang menarik adalah ketika menyimak puisi-puisi adaptasi yang ia garap dari karya-karya para penyair nasional tadi, sebenarnya dapat disadari bahwa beberapa kali Shiny hanya sekedar berhasil menghadirkan kembali tokoh-tokoh tersebut dalam puisinya. Dengan kata lain, Shiny belum maksimal dalam menggubah karya sehingga dapat kita katakan bahwa puisi adaptasi tersebut bukan merupakan pribadi Shiny yang hadir, hanya cermin dan pengulangan dari penulis asalnya saja.

Namun diri Shiny yang unik dapat terbaca melalui banyak karya yang tertuang dalam buku ini. Misalnya adalah “ A  K U “ yang merupakan salah satu puisi dari manuskrip “50.000 Ma’ar” dalam buku pertamanya; “Kotak Cinta”. Juga puisi-puisi “Algorhyme” yang merupakan permainan rima menggunakan elemen angka dan huruf. Beberapa puisi binernya bahkan memberikan efek bias, antara kemisteriusan makna dan bayangan hidup mati dual krom pada layar komputer yang menampilkan bahasa mesin.

Keliaran bahasa Shiny dalam bereksperimen bisa ditemukan, misalnya dalam puisi berikut:

JKLMNOMLKJI H

Jakarta, lantai 25 pada sebuah wisma
Kereta hujan memutus nafas pagi.

Laut menyiram ulang pertemuan
Memetik kepala mawar.

“Nanti,” katamu.

O

II.

Mungkin kita mesti kembali pada proses
: Lima; empat; tiga; dua; satu

“Karangan itu telah berubah
-Jatuh dari cangkir,”

isap sepi

III.

Jakarta, lantai 25 pada sebuah wisma
Kereta hujan melewati nafas pagi.

Laut menyiram ulang pertemuan
Membasahi leher mawar.

Menit bergerak

Heathens

Jakarta, 15 Januari 2018

Membutuhkan beberapa saat memikirkan bagaimana ‘hujan’ mempunyai bentuk ‘kereta’, dan bagaimana ‘laut’ dapat hadir di sebuah wisma di Jakarta untuk ‘menyiram’ dan ‘memetik’ mawar yang mempunyai ‘kepala’, serta hubungan peristiwa tersebut dengan seseorang yang seakan menjawab dengan kata ‘nanti’ atas sebuah pertanyaan yang tak terungkap begitu saja dalam puisi tersebut.

Keseluruhan puisi Shiny.ane el’poesya yang misterius seakan menunjukkan pentingnya, dan justru melalui kemisteriusan dan ketertutupannya, sekali lagi pentingnya penyingkapan atas segala hal yang terjadi di dunia ini. Rumus-rumus matematika, fisika atau kimia, teori-teori bahasa, ilmu pengetahuan, teknologi media visual dan kerja kreatif manusia, kesemuanya bersama-sama berusaha mengungkap apa yang terjadi dengan dunia manusia. Sehingga menjadi seruan untuk manusia itu sendiri lebih peduli kepada kehidupan.

Jogja, 09/10/2019.   

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *