LOADING

Type to search

Tags:

Dead Poets Society: Spirit Komunitas Puisi untuk Model Pendidikan Alternatif

Dead Poets Society: Spirit Komunitas Puisi untuk Model Pendidikan Alternatif

Oleh: Annur Aliyyu

Film Dead Poets Society  diproduksi oleh Touchstone Picture. Dirilis pada tahun 1989 dan telah memenangi beberapa piala Penghargaan Oscar untuk kategori Skenario Asli, nominasi Pemeran Utama Pria Oscar (Robin Williams), Sutradara Terbaik Oscar, serta Film Terbaik Oscar. Film ini menceritakan tentang enam orang murid Akademi Welton yang mencoba menghidupkan kembali sebuah komunitas puisi yang bernama Dead Poets Society. Rencana yang tidak mudah dilakukan mengingat pihak administratif sekolah tidak menganggap komunitas tersebut adalah hal positif, sehingga menutup dan melarang keberadaan komunitas tersebut hidup di Akademi Welton.

Akademi Welton merupakan sebuah sekolah lanjutan swasta di Amerika yang sangat prestisius di tahun 1959. Sekolah ini terkenal dengan lulusannya yang selalu diterima Ivy League (8 universitas paling bergengsi di Amerika Serikat), sehingga menjadi impian banyak orang tua untuk bisa menyekolahkan anak mereka di Welton. Pendidikan yang dilaksanakan di sekolah tersebut sangat keras, dengan berpedoman pada empat landasan utama yaitu tradisi, disiplin, kehormatan, jaminan mutu.

Berbeda dengan para orang tua yang sangat bangga menyekolahkan anaknya di Welton, murid-murid tidak merasakan hal yang sama. Mereka bahkan memplesetkan nama Welton menjadi Hell-ton untuk menggambarkan kondisi sekolah mereka yang sangat kaku, keras, disipin, dan tidak memahami keinginan dan perasaan para murid. Mereka bahkan mengganti empat landasan utama pendidikan di Welton menjadi humor, horror, kemerosotan, kotoran. Begitulah, murid-murid Welton menjalani hari-hari yang membosankan di sekolahnya, meski tertekan, tapi tidak bisa berbuat banyak, karena sangat takut pada aturan sekolah dan juga tekanan dari para orang tua mereka.

Praktik pendidikan seperti di Akademi Welton ini sayangnya masih banyak berlangsung hingga saat ini. Pengajaran yang kaku, monoton, dengan penerapan konsep disiplin yang keliru, identik dengan kekerasan dan pemaksaan kehendak, yang digambarkan oleh mayoritas guru di film ini, sayangnya masih sering terjadi. Padahal semua itu sudah jelas terbukti tidak efektif. Hanya perasaan tertekan, frustrasi, dan dorongan untuk memberontak yang ada dalam diri siswa, dan bukan sebuah kesadaran. Konsep disiplin yang benar seharusnya adalah sebuah konfigurasi antara kasih sayang dan ketegasan, dan itu sangat dibutuhkan oleh anak (baca: murid).

Adalah guru baru bernama Mr. Jhon Keating (dibintangi oleh Robin Williams). Dia mengajar pelajaran Bahasa Inggris di salah satu kelas, dimana terdapat enam anak muda yang sangat enerjik, penuh semangat dah harapan, tapi seperti kebanyakan murid di Welton lainnya, sangat tertekan dengan harapan-harapan orang tua mereka. Mereka adalah Neil Perry, Todd Anderson, Cameron, Stephen Meeks, Charlie Dalton, Knox Overstreet. Neil adalah anak tunggal dari keluarga sederhana yang sangat terobsesi ingin menjadikan Neil seorang dokter, Neil anak yang sangat penurut, tapi juga ramah, bersemangat, dan berprestasi di sekolah. Todd adalah putra dari keluarga terpandang, kakaknya seorang alumni Welton yang sangat berprestasi, sehingga Todd menjadi sangat terbebani dengan ekspektasi kedua orang tua dan para guru. Cameron adalah anak yang sangat pintar dalam pelajaran Bahasa latin. Meeks lebih merupakan anak yang paling penurut diantara teman-temannya dan pintar dalam Matematika. Sementara Charlie Dalton adalah anak dari keluarga kaya raya yang seringkali menjadi pembuat onar di sekolah. Terakhir, ada Knox Overstreet yang juga anak dari keluarga kaya raya, yang sangat tergila-gila pada seorang gadis yang sudah bertunangan.

Tidak seperti guru lain di Welton yang mengajar para siswa dengan sangat keras, kaku, dan penuh disiplin, Mr. Keating justru mengajar dengan cara yang sangat unik dan berbeda.

Pada hari pertama mengajar, dia masuk ke dalam kelas dari pintu depan, bersiul sambil berjalan melewati murid-murid yang duduk di bangku-bangku mereka, dan terus berjalan ke luar dari kelas melalui pintu belakang, dan meminta anak-anak di kelas mengikutinya. Dia membawa anak-anak ke ruangan penyimpanan foto-foto para pendahulu Sekolah Welton, lalu menyampaikan pelajaran pertama tentang puisi berjudul “O Captain, My Captain” karangan Walt Whitman, yang menceritakan tentang Abraham Lincoln, memperkenalkan diri, dan mempersilakan murid-murid memanggil dirinya O Captain My Captain. Melanjutkan pelajaran dengan meminta salah satu murid membaca puisi di buku halaman 542 yang berjudul “To the Virgin to Make Much of Time”, dengan ada satu istilah yang sangat membekas dalam benak murid-murid yaitu “Carpe Diem” yang artinya petiklah (raihlah) hari, buatlah hidupmu lebih berarti, yang disampaikan dengan cara yang unik, dimana murid-murid diminta menatap foto-foto para alumni, lalu Mr. Keating membisikan  carpe diem dari belakang murud-murid. Pembelajaran selanjutnya yang diberikan Mr. Keating sangat menarik perhatian dan disukai murid-murid, sehingga mereka mulai merasa sekolah di Welton menjadi sedikit ada harapan.

Metode mengajar yang dilakukan oleh Mr. Keating merupakan salah satu contoh metode mengajar yang memberi kebebasan berpikir kepada murid. Mr. Keating berhasil menanamkan dalam benak para murid bahwa berpikir adalah aktivitas yang bebas dilakukan di manapun, tidak hanya terbatas saat di ruang kelas saja. Bisa dilakukan oleh siapapun, bahkan oleh murid yang notabene dianggap belum dewasa dan masih memerlukan bimbingan. Berpikir juga bisa dilakukan melalui aktivitas apapun, tidak hanya melulu melalui aktivitas ilmiah, tapi juga bisa dari aktivitas membaca puisi yang dilakukan dalam pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkannya.

Suatu hari, murid-murid menemukan buku tahunan alumni yang di dalamnya ada Mr. Keating, serta sebuah perkumpulan bernama Dead Poets Society dimana Mr. Keating merupakan salah satu anggotanya, yang telah lama ditutup di Welton karena pihak administratif sekolah tidak merasa bahwa perkumpulan tersebut adalah perkumpulan yang baik dan positif. Perkumpulan tersebut adalah perkumpulan yang berisi anak-anak muda penuh semangat, yang ingin mengungkap tentang hakikat kehidupan, melalui cara-cara yang indah dan romantis, dengan rutin berkumpul untuk membacakan karya-karya Thoreau, Whitman, Shelley dan karya-karya terbaik lainnya. Murid-murid yang telah tertarik dengan gaya mengajar Mr. Keating, dan merasa dari spirit  Dead Poets Society adalah sesuatu yang positif, berniat untuk menghidupkan kembali perkumpulan tersebut. Maka mulailah secara diam-diam mereka berkumpul setiap malam di suatu gua tersembunyi di halaman belakang sekolah, dan mulai berbagi cerita, berbagi harapan dan impian, bercanda, membacakan puisi, dan lain-lain, sehingga kehidupan di Welton menjadi lebih menyenangkan dan murid-murid mulai terinspirasi untuk berjuang menggapai impian-impian hidupnya.

Neil yang merupakan murid paling bersemangat akhirnya berhasil menemukan impian hidupnya untuk bisa ber-acting. Dia mulai ikut audisi di salah satu perkumpulan teater dan mulai berlatih acting. Todd yang merupakan murid paling canggung dan ragu-ragu, akhirnya bisa menemukan potensinya dalam pelajaran berkat pengajaran Mr. Keating. Knox yang pantang menyerah, akhirnya berhasil mendapatkan gadis impiannya, dan Charlie Dalton tetap menjadi pembuat onar, dengan menulis semua aktivitas perkumpulan Dead Poets Society di tabloid sekolah, yang meskipun menggunakan nama samaran, akhirnya tercium oleh pihak sekolah. Sekolah pun melakukan upaya-upaya pendisiplinan, meski tidak sampai mengeluarkan anak-anak tersebut dari sekolah.

Desas-desus tentang perkumpulan Dead Poets Society pun akhirnya diketahui oleh para orang tua, termasuk orang tua (Ayah) Neil, yang sampai datang menemui Neil untuk memperingatkan Neil agar tidak melakukan hal-hal tidak berguna dan cukup fokus saja belajar. Ayah Neil yang sudah mengetahui Neil mulai ber-acting bahkan dengan tegas meminta Neil untuk berhenti dari perkumpulan teater. Neil yang sudah terlanjur jatuh cinta pada aktivitas seni peran tetap melanjutkan actingnya bahkan tampil dalam sebuah pementasan drama, dan bermain dengan sangat memukau, membuat bangga teman-temannya serta Mr. Keating.

Ayah Neil yang diam-diam menyaksikan pementasan drama tersebut sangat marah dan memaksa Neil pulang ke rumah, lalu memutuskan bahwa Neil akan dipindahsekolahkan ke sekolah lain yang memiliki disiplin lebih ketat. Neil yang sangat terpukul, serta tidak pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang menjadi keinginannya, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di ruang kerja ayahnya.

Hal paling menarik dalam film ini adalah tentang spirit kehidupan yang melandasi keberadaan Dead Poets Society. Anak-anak muda dalam komunitas ini mampu menemukan bahwa puisi bukan hanya serangkaian kalimat-kalimat tak berguna dan tanpa makna, dan komunitas pecinta puisi bukanlah sekedar perkumpulan anak muda yang rutin bertemu, duduk melingkar dan membacakan puisi-puisi. Komunitas ini justru memanfaatkan puisi sebagai media untuk belajar dan berdiskusi mengenai segala hal terkait hakikat kehidupan, untuk apa manusia hidup, dan apa yang harus dilakukan oleh manusia agar kehidupan ini menjadi lebih berarti untuk dijalani. Spirit yang akan mengantarkan manusia pada pemahaman akan makna dari keberadaan dirinya di dunia.

Aktivitas komunitas pecinta puisi seperti yang digambarkan dalam film ini, bisa dijadikan sebagai rujukan model pendidikan alternatif, dimana guru sebaiknya memerankan diri sebagai Captain yang memberi dan menyediakan ruang untuk berkembangnya kebebasan berpikir para murid, mendapatkan keluasan pandangan mengenai kehidupan, sehingga akan memunculkan kesadaran diri dalam setiap diri murid yang berbasis pada  pemahaman dan penghayatan akan hakikat dirinya, melalui aktivitas-aktivitas yang menyenangkan, salah satunya puisi, dan bukan dengan cara kekerasan ataupun pemaksaan kehendak.

Sungguh sangat disayangkan bahwa hingga saat ini masih banyak pihak yang mengganggap bahwa aktivitas berpuisi adalah aktivitas yang tidak berguna, membuang-buang waktu, bahkan menjauhkan seseorang dari pencapaian hidupnya. Gambaran seperti pelarangan keberadaan komunitas pecinta puisi di Akademi Welton, serta sosok Ayah Neil yang sangat tidak ingin putranya tergabung dalam aktivitas-aktivitas yang dianggap akan mengganggu fokus Neil pada pelajaran, masih terjadi hingga saat ini. Masyarakat belum sepenuhnya memahami bahwa aktivitas berpuisi adalah aktivitas yang indah, aktivitas yang merupakan refleksi dari nyanyian jiwa yang paling dalam. Aktivitas yang akan mengantarkan manusia pada esensi kemanusiaannya yang terdalam. Aktivitas yang justru sangat dibutuhkan oleh setiap manusia untuk mencapai keseimbangan kehidupan.

Gambaran indah aktivitas berpuisi di atas akan menjadi semakin luar biasa jika dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah komunitas pecinta puisi. Dimana setiap individu bisa saling bertukar pemahaman dan pemikiran secara bebas berdasarkan pengalaman subjektif masing-masing, yang dirasakan setelah membaca atau mempelajari suatu karya. Akan terjadi diskusi dan interaksi intelektual yang mendorong pengembangan kemampuan berpikir manusia dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan. Sebuah model pembelajaran alternatif yang selanjutnya tentu bisa diimplementasikan dalam berbagai setting dan tujuan pengajaran.

Film yang berdurasi sekitar 2 jam 8 menit ini mengingatkan pada kita semua bahwa anak adalah manusia yang memiliki perasaan, keinginan, kehendak, aspirasi, dan hak untuk menentukan hidupnya, ingin menjadi apa mereka kelak, ingin menjalani kehidupan seperti apa mereka di masa depannya. Merdekakan pemikiran mereka, maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi kuat yang bertanggung jawab. Film ini adalah referensi wajib untuk ditonton oleh seluruh orang tua, calon orang tua, para pendidik ataupun calon pendidik, serta semua pihak yang merasa peduli terhadap kemajuan pendidikan di dunia. Kini, film ini menjadi salah satu film wajib diputar di kelas-kelas sekolah menengah di Inggris dan Amerika Utara.

Sukabumi, 29/09/19


Annur Aliyyu Perempuan asal Sukabumi yang belakangan tengah giat belajar menulis puisi; dimulai dari Haiku, Burdah, Puisi Naratif, dan sebagainya. Pernah terkesima dengan salah satu puisi hingga menangis tersedu-sedu di tahun 2019, dan akhirnya memutuskan untuk serius belajar menulis puisi.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *