LOADING

Type to search

Sastra: Komposisi Amanat, Komposisi Alat

Sastra, sebagai sebuah karya tulis (Literature), sebagai penanda periode masyarakat sejarah ( : masyarakat penulis), hakikatnya adalah sebuah komposisi. Komposisi itu berupa “komposisi amanat” (Shas-), juga “komposisi alat” (-Tra).

Dalam kenyataan tradisionalnya, secara umum sastra dikerjakan dan dikumpulkan dari segi “komposisi amanat”nya, yang, di dalamnya mencakup berbagai topik pembicaraan, seperti misalnya vatsu-shastra (buku petunjuk arsitektur), kamashastra (buku petunjuk mengenai seni cinta), dharmashastra (kitab kebajikan), artashastra (kitab kesejahteraan, yang mencakup topik ekonomi, politiik, militer), moksashastra (kitab kebebasan jiwa), shankyashastra (risalat/karangan filsafat), jyotish-shastra (kitab astrologi); Bahkan, Veda yang disebut sebagai karya sastra tertua dari Hinduism yang berisi apauruseya (naskah pengetahuan suci, yang ditulis di atas inspirasi “suara superhuman”), juga dibagi dengan cara pengkategorian “komposisi amanat” ini: Rigveda (kitab himne), Yajurveda (kitab pengorbanan), Samaveda (kitab mantra), Atharaveda (kitab pengetahuan).

Seiring berjalannya waktu dan makin kompleksnya manifestasi karya sastra, kemudian muncullah pula usaha pembagian yang didasarkan dari segi “komposisi alat”nya. Seperti misalnya, dalam kavyashastra yang ditulis di tahun 600 M yang sudah mulai memisahkan antara tulisan yang berbentuk lirikal, epos, drama dsb., sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles dalam Poetics. Jauh sebelum kitab kavyashastra sebenarnya pernah dilakukan usaha pengkategorisasian yang serupa oleh Vimliki dalam Ramayananya (500 SM), di mana ia menggunakan istilah “Kriya-kalpa” untuk menyebut kumpulan tulisan yang membahas aturan seputar puisi.

[Kita lompat jauh…]

Dalam pengertian–dan dalam tradisi pembicaraan su-sastra (seni tulisan indah/ “belles-lettres”/”beautiful letters”) Indonesia modern, tentu soalnya telah makin kompleks dan makin rumit lagi dengan sebab adanya persentuhan berbagai tradisi keilmuan serta budaya dunia yang dialami oleh bangsa Indonesia sejak awal abad 20.

Dari segi “komposisi amanat”, kita telah membaca bahwa di tahun 20an pernah terjadi satu polemik budaya yang berkaitan dengan sastra bertendens. Sastra yang oleh Sutan Takdir Alisjahbana dianggap memiliki “kewajiban” memberikan kontribusinya bagi pembangunan nasional negara Indonesia, yang secara mendasar disepakati pula oleh lawan-lawan polemiknya. Kita juga menemukan puncak aksentuasi yang tegas soal ini, yang menekankan pada “keberarti-an” karya sastra dari (sajak-sajak) Chairil yang penuh vitalitas.

Sastra yang bertendens ini selalu muncul dari masa ke masa dalam perjalanan sejarah su-sastra kita, juga serta seiring dengan perkembangan kompleksivitas kesadaran masyarakat atas realitas dan capaian-capaian ilmu pengetahuan yang melingkupi suasana zamannya.

Dari segi “komposisi alat”, melalui keinginan agar terjadi suasana pembaharuan dalam sastra Indonesia, Chairil dianggap telah juga mewujudkan keinginan pembaharuan yang diadzankan oleh STA. Satu disertasi milik Boen S. Oemardjati tentang Chairil seolah membuktikan capaian Chairil di mana sebagai seorang penyair, Chairil menggunakan bahasa tidak hanya berputar pada “komposisi linguistik-dasar” tetapi juga sekaligus “komposisi estetik”; Bahasa sebagai alat “penyimpan” amanat, dalam tradisi kesusastraan, tidak lagi hanya digunakan sebagai sebuah komposisi tata bahasa formal-baku yang sesuai dengan aturan konvensi yang ada pada masanya (langue) kemudian dituangkan ke dalam satu pola persajakan yang juga sudah ada, tetapi juga bagaimana kemudian bahasa digunakan–juga dituntut–dalam satu praktik (parole) kesenian–modern, sehingga di dalamnya, dimungkinkan berbagai praktik “permainan”, “dekonstruksi”, hingga kemungkinan bagi sebuah “penyegaran” terhadap bahasa nasionalnya sendiri.

Pada tahun 60-70an terjadilah satu semangat yang hampir serupa dengan apa yang telah dilakukan leh Chairil dalam sikapnya terhadap konvensi tata-bahasa nasional, melalui kredo puisi; Sutardji Calzoum Bachri. Tidak cukup, hal demikian pula terjadi dalam dunia prosa yang digawangi oleh cerpen-cerpen Danarto yang begitu eksperimental.

Dari perkembangan (praktik seni-permainan bahasa) yang demikianlah kemudian muncul serangkaian karya-karya teks sastra yang sifatnya memang elitis dan hanya dapat difahami oleh komunitas tertentu yang memang bergelut tidak hanya dengan soal-soal tata bahasa dasar, tetapi juga perangkat ilmu linguistik yang lebih luas dan menyeluruh.

Di pihak lain, selalu ada kelompok yang punya keinginan agar aspek “amanat” dalam sastra bisa selalu menggapai pembaca seluas-luasnya, meskipun dengan mengabaikan aspek ekperimentasi linguistiknya ( : estetikanya), bahkan, dengan melalui jalan pereduksian-pereduksian amanat yang sesungguhnya kepada amanat permukaan yang paling mungkin bisa ditangkap oleh audiensnya. Atau bahkan dengan hanya mengangkat satu topik yang justru menyembul dari kesadaran massa (baca: kesadaran populer, untuk tidak menggunakan frase kesadaran pasar: doxa) yang tak reflektif itu sendiri.

Dari berbagai hal demikianlah, kemudian kita sampai pada satu situasi di mana–dengan tidak lebih dulu bicara lebih jauh soal perkembangan kapitalisme industri yang juga punya andil tak kecil dalam perkembang biakan generasi pop di seluruh dunia–tradisi kesusastraan kita terbelah di antara dua jalan menuju masa depan: Jalur amanat dan jalur eksperimen.


Oleh Shiny.ane el’poesya

Shiny.ane el’poesya Penulis manuskrip puisi 50.000 Ma'(w)ar🍷–, #Kotakcinta, Burung Kafir, Sains Puisi, etc. Penulis Cerpen “Matahari [ES 158]–”

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *