LOADING

Type to search

Tags:

Makna Hidup

Makna Hidup

Victor Frankl penggagas teori Logotherapy menegaskan bahwa hidup hanya bermakna jika manusia itu sendiri memberikan makna terhadap hidupnya, bahkan jika hidupnya dalam penderitaan sekalipun. Hal ini berarti manusialah yang menciptakan makna bagi hidupnya, melalui proses permenungan, penghayatan, disertai segala kerendahan hati dan penerimaan yang tulus bahwa Tuhan telah mengatur semuanya. Sebuah pengakuan bahwa tak banyak yang bisa manusia lakukan, kecuali adanya campur tangan Yang Maha Kuasa.

Hidup yang bermakna bukanlah hidup yang selamanya berada dalam kesenangan, dalam kebahagiaan. Justru banyak manusia yang pada akhirnya lengah dan tergelincir, salah memilih jalan hidup, ketika terus-menerus berada dalam kemudahan dan kesenangan. Potensi pikir, potensi kreatif, kepekaan dan penghayatan justru menjadi tumpul karena terlalu terbiasa dengan situasi-situasi yang aman. Sebaliknya, tidak sedikit karya-karya besar yang justru lahir dari situasi-situasi mencekam, situasi antara hidup dan mati, situasi yang benar-benar nyaris tak ada lagi harapan.

Beberapa karya besar seperti buku Frankl yang berjudul Death Camp to Existentialism, yang kemudian dikenal menjadi Man’s Search of Meaning dan merupakan cikal bakal lahirnya teori konseling Logotherapy, yang hingga kini masih digunakan di dalam praktek-praktek psikoterapi di Amerika bahkan di seluruh dunia, ditulis saat Frankl berada di dalam camp pembersihan etnis Yahudi oleh bangsa Jerman; lalu ada lukisan-lukisan Vincent van Gogh yang bernilai milyaran kini, yang mulai dia lukis sekitar tahun 1881 di masa-masa terpuruk di tengah kesakitan dan kesendirian yang dialaminya; ada Ludwig van Beethoven yang sejak usia 26 tahun mengalami gangguan pendengaran serius, yang terus memburuk di sepanjang hidupnya, tapi mampu melahirkan setidaknya 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian karya untuk kuartet gesek, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi; lalu dari tanah air ada Ir. Soekarno yang ketika dipenjarakan oleh pemerintah kolonial Belanda, malah berhasil menulis naskah pledoi (naskah pembelaan) berjudul “Indonesia Menggugat”, naskah yang menjadi dokumen politik historis karena pengaruhnya yang sangat besar bukan hanya pada bangsa Indonesia, tapi juga meluas ke daratan Belanda dan Eropa Barat;  ada Pramoedya Ananta Toer yang berhasil menyelesaikan empat novel legendaris yang disebut Tetralogi Buru, saat dia dipenjarakan oleh pemerintah kolonial Belanda, rezim Soekarno, dan bahkan rezim Soeharto, serta masih banyak lagi contoh lainnya.

Dari itu semua tampak bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan makna kehidupannya meskipun keadaan membatasinya. Kebebasan yang bahkan tidak bisa dihalangi oleh belenggu penderitaan apapun. Kebebasan memutuskan makna hidup dari segala penggalan-penggalan kehidupan yang telah dialaminya, akan mendorong manusia melakukan aktualisasi diri. Melahirkan karya, melahirkan prestasi.

Proses kelahiran manusia ke muka bumi sejak awal sudah merupakan proses yang dipenuhi kesakitan, penderitaan, bahkan perjuangan. Berjuta-juta sel sperma berenang menuju sel telur, akhirnya berguguran di tengah jalan, dan hanya satu sel sperma saja yang berhasil menembus dinding sel telur; lalu terjadi pembuahan, dan selanjutnya berkembang menjadi embrio sebagai bakal janin manusia. Proses barsatunya sel sperma dan sel telur di rahim ibu merupakan proses perjuangan yang keras.

Di sisi lain, fenomena yang banyak kita lihat saat ini adalah banyaknya manusia yang cenderung lemah mental, pendek pemikiran, bahkan seringkali hilang akal, ketika dihadapkan pada situasi-situasi rumit dalam kehidupan. Tidak sedikit yang berakhir dengan menjadi pelaku tindak kriminal atau anarkis, atau bahkan memilih aksi menganiaya diri sendiri alias bunuh diri dengan alasan ingin menghentikan penderitaan. Menurut logotherapy, mereka yang seperti itu lupa, bahwa bisa jadi segala kesengsaraan dan penderitaan hidup yang dialaminya adalah salah satu cara Tuhan untuk membuatnya mendekat. Andai manusia memaknai setiap penderitaan seperti itu.

Kebutuhan akan makna hidup adalah kebutuhan yang paling fundamental dan merupakan  esensi dari keberadaan manusia. Semakin manusia mampu menemukan makna hidupnya, maka akan semakin bahagia pula kehidupannya, bagaimanapun kondisinya. Frankl mengungkapkan bahwa proses pencarian makna hidup bisa diperoleh manusia melalui penghayatan terhadap kehidupan, penerimaan diri terhadap takdir, melalui aktivitas transendensi diri, pekerjaan, cinta, penderitaan, dan kondisi suprameaning; kondisi-kondisi yang tidak bisa hanya diterima oleh akal, tapi hanya bisa dialami oleh iman. Kepasrahan yang benar-benar mengakui dan menerima bahwa ada kekuatan luar biasa yang menggerakkan kehidupan manusia, bahkan alam semesta.

Ketika manusia mampu memaknai hidupnya, terlebih ketika penemuan makna hidup tersebut lahir dari kondis-kondisi yang kurang menyenangkan, dan bahkan berhasil menjadikannya sebagai momentum titik balik kehidupannya (baca: terlahir kembali), maka proses aktualisasi diri selanjutnya tidak akan terbendung lagi. Aktualisasi diri yang bukan didasarkan pada kesombongan akan kehebatan diri, tapi semata-mata didorong oleh keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih bermanfaat, untuk berbagi, untuk membahagiakan dan memuliakan orang lain.

Pada titik ini, manusia akan merasakan betapa Maha Pengasih dan Penyayangnya Tuhan. Tidak akan ada lagi penolakan terhadap takdir ataupun menyalahkan Tuhan. Manusia akan menyadari bahwa tidak ada satupun yang terjadi pada dirinya, yang luput dari kuasa dan ketentuan Tuhan. Kebahagiaan, kesenangan hidup, ujian, penderitaan, kesakitan, serta hal-hal baik ataupun buruk lainnya semata-mata Tuhan berikan hanya untuk kebaikan manusia. Tuhan memang sudah sangat dekat, tetapi memang sekali lagi, Dia sangat senang jika manusia mendekat.

27 Agustus 2019


Oleh: Annur Aliyyu

Perempuan asal Sukabumi yang belakangan tengah giat belajar menulis puisi; dimulai dari Haiku, Burdah, Puisi Naratif, dan sebagainya. Pernah terkesima dengan salah satu puisi hingga menangis tersedu-sedu di tahun 2019, dan akhirnya memutuskan untuk serius belajar menulis puisi.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *