LOADING

Type to search

Ziarah Batu

Ziarah Batu

/1/

kami memutuskan untuk memulai ziarah

menjenguk perigi dekat gua

meski air di sana tak lagi

memantulkan wajah kami

kami sudah menguasai peta hari ini

tak akan tersesat ke kanan atau ke kiri

sekarat adalah bagian dari adegan yang nanti

kata-kata bijak yang mengalir di musim hujan

lewat begitu saja di sela jari-jari kami

tak sempat kaufahami setetes pun

kami saksikan sembilu mata itu

dongeng agung yang pernah kami bangun

bergoyang sebentar sebelum rubuh ke arus

yang tak baik jika kami ukur derasnya

sebuah tonggak yang kacau aksaranya

adalah satu-satunya saksi perhelatan ini

/2/

kami dulu suka menciptakan dewa-dewa

mereka-reka nama-nama yang susah dieja

dan merekamnya di jajaran batu

untuk menentramkan huru-hara

penatahnya tak kami ketahui lagi di mana

deretan sosok dewa tanpa kepala

adalah ajakan yang penggal di angan kami

pernah adakah sebenarnya rasa tenteram?

kami pernah suka merangkai perangai ksatria

agar kelak anak-anak bisa menafsirkannta

siapa telah menciptakan punakawan?

/3/

jiwa yang mencari bayang-bayangnya

menabrak cermin

terserak berkeping-keping

watakmu aksara yang tanpa petanda

gambar yang tak hendak dideretkan

dalam tontonan yang digelar hari ini

sebelum sirak-sorai usai menutup tirai

jiwa yang penggal dari bayang-bayangnya

bergetar di kelir yang tumbang

sendirian saja

ya, jiwa kami hari ini

/4/

kami telah memutuskan hubungan

dengan juru gambar itu

tak ada lagi yang percaya pada jiwa kami

gulungan kertas yang tertinggal di gudang

telah memalsukan perangai kami

meriap pasukan rayap menyobek-nyobeknya

berbaris membawanya ke lubang

yang tak mempercayai sejarah

kami telah memutuskan hubungan

dengan juru gambar itu

/5/

(mereka melecut ribuan kuda ke arah barat

jangan sampai keduluan matahari terbenam!

bentak sang senapati)

tak terdengar ringkik dalam gambar

yang dilukis oleh orang yang tak kami kenal

yang konon hanya senyampang saja

turun dari jung untuk membisikkan dongeng

kepada nelayan yang berangkat ke laut

kami tak kenal kuda

            kami tak pernah mendengar lecutan

            hanya teriakan yang segera dihapus ombak laut

dan orang-orang yang turun dari perahu

membayangkan suatu kerajaan ringkik kuda

di lembah-lembah perbukitan

dan orang-orang asing yang hanya tinggal sebentar

mencatatnya di kitab-kitab

sekedar bukti bahwa mereka memang pesiar

dan para pesiar yang hanya tinggal sebantar

mengawini istri dan anak-anak kami

/6/

perempuan-perempuan menanti kami

di pantai: membayangkan keringat dan mani

tapi yang berlabuh adalah para pelawat

tak pernah terekam dalam gambuh dan kinanti

kami masih mengayuh jauh di laut

semakin sayup semakin sepi

kami tak lagi yakin apakah yang berkeliaran itu

adalah anak-anak yang lahir dari benih

yang menetes bersama anyir keringat kami

betapa cantiknya mereka! kami jatuh cinta

dan menulis puisi panjang di pasir dan angkasa

/7/

kami diajari berdoa dengan irama ganjil

sambil mendirikan kuil demi kuil

agar sogra tak teram-temaram

ketika mendengar permohonan kami

kurban yang selalu memuntahkan sendawa

di dinding kuil kami semburkan gambar

yang senyampang dipamerkan pelawat

yang tidak sepenuhnya bisa kami maknai

sapuan dan garisnya, warna dan aromanya

tidak kami temukan sawah dan margasatwa

mereka menyebutkan kitab yang dibisikkan

dari angkasa purba

nun jauh di sana

/8/

jerit pedang dan denting darah dan jilat api

berloncatan dari babad

yang ditata dalam larik-larik rapi di kitab

rekaan juru tulis di kala senggang

ketika tak ada lagi sisa teriak perang dan kebodohan

di sela-sela pesta raja dan sembah punggawa

kami tidak mendengar sendawa dewa

ia tinggal di kuil yang jauh terpisah

dari menara tempat senapati menanti

kekasih dari samudra

/9/

di urat darah berseliweran ikan pari

kalau ombak menyeret perahu kami:

lukisan yang ditorehkan dengan jampi-jampi

di sekujur pinggirnya

ternyata tak mampu bernyanyi

(ah, yang menjadi saksi hanyalah lintah

ketika kami menanam benih di sawah)

bergantian kami bernyanyi

butir demi butir menetes dari atap rumah

kami tak lagi mempercayai janji pembebasan itu

/10/

dewa ternyata tak ikhlas berbagi

doa yang kami persembahkan adalah kurban

membusuk di kuil yang dibangun agak ke bukit

sesuai tata cara yang dulu menciptakan langit

sesuai tanda yang berupa gundukan bumi

jiwa kami adalah layang-layang berekor

yang talinya ditarik, disendal, dan diulur

oleh anak laki-laki yang akan kami kurbankan

/11/

beberapa gunduk pasir, ikan-ikan berkelejotan

(deretan galur, cacing yang padah di mata bajak)

amis keringat, langit yang terhapus sebagian

adalah latar yang direka dalam janturan

sekarat kami meloncat-loncat dalam sabetan

ketika kelir tumbang –

doakan agar kami tenteram

/12/

jejak yang bergeser-geser

di sela-sela kata

tidak untuk dieja, ternyata


SAPARDI DJOKO DAMONO menulis puisi danprosa. Tahun lalu terbit dua kumpulan puisinya, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita dan Namaku Sita.

PUISI KOMPAS, MINGGU, 10 MARET 2013.

Previous Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *