LOADING

Type to search

PERTANYAAN

PERTANYAAN

Di rooftop sebuah rumah yang amat sederhana, dua orang remaja tengah asik menatap bintang-bintang, dan langit–yang tenang diam.

Di tengah lamun, ambur suara sinar kereta, dan embusan angin, tiba-tiba salah satu di antara mereka bangkit dari bangku panjang. Ia menghela nafas dalam-dalam. Mungkin karena bosan, ia mengajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kalau Tuhan itu dua?” Panjang lebar mengutarakan. Ia menyebutnya It’s a freedom. Sebuah kebebasan, yang dimiliki sekaligus diuji oleh dua otoritas dan kekuatan agung di luar sana.

Ia mengatakan sangat berbahaya andai kita memiliki hanya satu Tuhan saja, atau terlalu banyak. Satu Tuhan menjadikan sebuah otoritas akan berkuasa atas segala hal dengan seenaknya, dan terlalu banyak Tuhan akan menimbulkan kekacauan sebagaimana dikatakan oleh banyak orang. Tetapi, ia melanjutkan bahwa kalaupun ia harus memilih, ia akan memilih dengan banyak Tuhan ketimbang hanya satu saja. Sebab di saat demikian, pada akhirnya manusia akan memiliki hak yang sama untuk mejadi hakim bagi berbagai tindakan Tuhan yang menimbulkan berbagai kerusakan di dunia.

Mendengar itu, sahabatnya masih bergeming. Sambil tetap memperhatikan awan-awan tipis yang terus bergerak perlahan.

Ia membayangkan bagaimana seandainya ia mampu bertindak layaknya Tuhan? Ia membayangkan bahwa dirinya tengah menyusun ulang bintang-bintang dengan benda-benda lainnya, seperti sekumpulan bintang-bintang dan sebuah bulan, sekumpulan bintang-bintang, bulan dengan planet-planet, sekumpulan planet-planet cantik dengan berbagai tumbuhan-tumbuhan dan makhluk-makhluk aneh di luar angkasa, seperti menyusun sekumpulan kata-kata:”ada sekumpulan bintang-bintang dan sebuah bulan, sekumpulan bintang-bintang, bulan dengan planet-planet, sekumpulan planet-planet cantik dengan berbagai tumbuhan-tumbuhan dan lautan-lautan dan makhluk-makhluk aneh di luar angkasa …” dan seterusnya seperti ketika Tuhan pertama kali menata alam semesta melalui nama-nama. “Pasti mengasyikkan,” gumanya dalam hati.

“Tetapi memang benar,” sautnya kini. “Seharusnya sesuatu yang meskipun didasarkan pada sebuah argumen logis, tetapi pada titik tertentu dalam jika dalam hukum-hukum logika sendiri ia menyimpan di dalamnya sesuatu yang bertentangan, maka sebenarnya argumen itu tidak bisa diterima. Seperti misalnya tadi kau ungkapkan, apakah bisa Tuhan yang satu menciptakan Tuhan yang lainnya untuk ia sembah sendiri, kalau ia memang benar-benar maha bekuasa dan mahamenciptakan? Maka sebenarnya pernyataan-pernyataan kemahaan Tuhan itu meskipun secara sepintas terlihat masuk akal dimiliki oleh Tuhan, sebenarnya itu adalah satu pendapat yang keliru. Apakah karena banyak manusia lemah di bumi ini sehingga kemudian kita mengasumsikan bahwa sesuatu yang dianggap Tuhan itu harus sempurna dengan tolak ukur itu?”

Tetapi mungkin memang, setelah dua remaja itu kembali turun dari rooftop, kehidupan yang mereka jalani kembali seperti biasa. Dengan segala macam rutinitas dan kebisingannya.

Dua remaja itu pergi ke sekolah dengan menyusuri gang-gang kecil, rel kereta, jalanan raya, dan kemudian seuah gerbang besi berwarna hijau yang dijaga oleh seorang ustad sebelum masuk ke kelasnya masing-masing,

Di kelas mereka mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, seperti ilmu-ilmu fiqih, ilmu akidah dan akhlak, matematika, biologi, kimia dan fisika dasar, sejarah juga ilmu bahasa. Tetapi yang mereka pelajari adalah berbagai hukum-hukum, berbagai aturan-aturan dan cara penerapannya, berbagai rumus-rumus yang dipandang sebagai sebuah ketetapan yang tak bisa digugat. Bahkan, salah satu di antara mereka pernah mengalami satu peristiwa unik, yaitu dituduh oleh beberapa guru hingga wakil kepala sekolah sebagai seorang komunis yang tak beragama, ketika dalam salah satu perayaan maulid remaja itu mencoba megajukan sebuah pertanyaan dalam orasi pembukanya: “Apakah Tuhan benar-benar ada, kalau banyak hal yang hendak dilakukan di sekolah ini seringkali dilarang secara otoriter dengan tanpa lebih dahulu memahami alasan panitia?”

Di tengah riuh sorak siswa dan siswi, tiba-tiba saja seluruh sound sistem di ruangan mendadak mati karena salah satu guru mencabut aliran listrik yang masuk ke ruangan tersebut; rangkaian acara tiba-tiba diambil alih oleh pihak sekolah. Dibekukan dalam bebeapa menit, dan dilanjutkan dengan berbagai rangkaian agenda yang dicoret.

Sore itu, sebagai remaja, memang mereka tak mengalami sebuah “persekusi” dalam pengertian sebenarnya. Tetapi pada akhirnya mereka memahami, bahwa ada banyak pertanyaan-pertanyaan tidak dengan mudah–bahkan untuk sekedar– diajukan di muka publik. Banyak orang-orang di sekitar mereka hanya menerima berbagai hal lengkap dengan batasan-batasannya, di lingkungan pesantren yang menjadi bagian tempat mengajinya, misalnya, atau di masjid-masjid sekitar yang biasa mereka kunjungi sore hari, orang-orang seringkali merasa cukup dengan norma-norma kelompoknya masing-masing, dengan serangkaian tradisi, dan iman terhadap sesuatu yang diajarkan tanpa penelusuran lebih lanjut.

Apa yang diajarkan oleh seorang ustad, asalkan ia telah dianggap sebagai ustad oleh orang-orang yang entah siapa–bisa kawan-kawannya sendiri, oleh ibu-ibu pengajian, oleh para pedagang keliling, oleh para pemabuk di gang, atau bahkan karena hanya status pekerjaannya sebagai guru ngaji anak-anak TPA, maka seringkali dengan otomatis berbagai pernyataannya dianggap sebagai sebuah kebenaran, sebagimana hukum-hukum dan rumus-rumus yang diajarkan di sekolah menengah, yang seolah tak perlu dipertanyakan kembali.

Pada saat itu, bagi mereka, berbagai obrolan agama tengah nampak seperti aktivitas “ritual mistis” yang tabu untuk dibicarakan di luar batas tertentu. Pada saat itu, mereka semakin yakin, kalau dalam agama (beramai-ramai dalam beragama) ada satu kondisi yang bersebrangan dengan kebebasan, terutama kebebasan berfikir.

Seiring berjalannya waktu, salah satu dari remaja itu tengah merintis studi sarjananya di bidang psikologi. Namun, karena kegemarannya membaca buku-buku sains teoritik–seperti buku-buku yang berisi penelitian tentang hubungan kejiwaan manusia dengan otak, hubungan kondisi sistem saraf manusia dengan prilaku dan pengalaman berkesadaran sehari-hari dsb., ketimbang buku-buku panduan praktikum, ia sempat memutuskan untuk mengambil kelas diskusi publik yang membahasa seputar hubungan antar pengalaman beragama dengan otak selama beberapa seri dalam delapan pekan.

Dari hasil diskusi panjang itu, ia mendapatkan satu kesimpulan yang cukup memberikan pengaruh dalam hidupnya hingga kini: bahwa beragama berarti sama dengan penggunaan sebagian fungsi dari sistem saraf yang terdapat di dalam otak, dan tidak hanya sebatas menggunakan salah satu fakultasnya secara maksimal–berfikir. Dan dari pertemuan itulah, ia sampai pada satu titik di mana penghayatan agamanya beralih dari satu penghayatan dialektis (model perdebatan sebagaimana dipraktikkan oleh para teolog), ke satu model penghayatan keberagamaan yang bertolak pada satu pengalaman berkesadaran.

Namun pada tahap ini, sekaligus menjadi satu titik nadzir baginya sejauh menjadi penghayat sebuah agama tertentu. Di mana ia jadi menyadari akan kenyataan adanya satu kemungkinan intervensi pengalaman kesadaran melalui manipulasi aktivitas sistem saraf yang melibatkan alat-alat laboratoium. Dengan kata lain, membuat rangkaian fenomena keberagamaan persis hanya sebuah efek dari kesadaran manusia itu sendiri, tak terkecuali pengalaman bertemu dengan berbagai jenis makhluk spiritual. Semua perdebatan tradisional keagamaan dan ketuhanan menjadi bersifat artifisial sebab ia hanya menjadi efek dari sebuah usaha manusia dalam menafsirkan pengalaman dalam berbagai makna (logosentrisme). Atau, dengan kata lain, seperti halnya cecuit seekor burung yang hanya berisi serangkaian bunyi-bunyian yang tak menandakan benda: spiritualitas hanya sebagai sesuatu yang sama dengan pengalaman-pengalaman psikologis lainnya yang bersifat imanen, yang sebenarnya kosong dari pernyataan-pernyataan yang bersifat metafisis serta harapan-harapan yang bersifat transendental.

11 Januari 2018


Shiny.ane el’poesya Penulis manuskrip puisi 50.000 Ma'(w)ar🍷–, #Kotakcinta, Burung Kafir, Sains Puisi, etc. Penulis Cerpen “Matahari [ES 158]–”

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *