LOADING

Type to search

SAINS PUISI: IRISAN LAIN ATAS KANON SASTRA (2019)

SAINS PUISI: IRISAN LAIN ATAS KANON SASTRA (2019)

“… Kehadiran kumpulan puisi ini, seperti halnya dengan novel Martin Suryawijaya (Kiat Sukses Hancur Lebur), membuat irisan lain atas kanon sastra dan menjanjikan sudut pandang Iebih cair dalam menghadapi perubahan ekosistem antara bahasa dan teknologi.”

(Afrizal Malna)

#SainsPuisi #millenials #lovepoems #0.1. #beautifulthink#art&aeshtetics

EPILOG

Potret Semesta dalam Puisi Menurut Shiny

Oleh: Riri Satria

Sebagai orang dengan latar belakang pendidikan bidang ilmu komputer (computer science) atau teknologi informasi (information technology) dan bekerja dalam dunia penelitian (research and development) sekaligus pencinta dunia puisi, saya punya pemikiran bahwa program komputer (atau algoritma secara umum), persamaan matematika, serta bait-bait puisi (berbentuk sajak) memiliki suatu kesamaan, yaitu menggambarkan situasi atau proses yang kompleks atau rumit dalam simbol-simbol yang sederhana (huruf, angka, serta tanda baca) yang efektif, padat, dan efisien. Namun jika dipelajari lebih lanjut, pada perkembangannya sekitar tahun 1950-an, muncul puisi yang juga memiliki unsur visual seperti tata letak huruf dan kata pada puisi yang sudah pasti memiliki makna tertentu. Ini dikenal dengan istilah visual poetryshape poetryconcrete poetry, atau pattern poetry. Genre (atau entah apa namanya) ini memisahkan puisi dari unsur teks semata dan membuat visual mendominasi wujud karya puisi, tetapi masih tetap memelihara unsur teks.

>Menurut saya, ini sah-sah saja. Bukanlah visual juga pendekatan untuk menjelaskan sesuatu yang biasa dalam dunia ilmu pengetahuan atau sains? Misalnya dalam ilmu kimia, deskripsi rantai karbon lebih baik dijelaskan dalam bentuk visual daripada teks semata. Begitu juga menjelaskan struktur atom dalam ilmu fisika, lebih mudah menggunakan visual daripada teks. Jadi visual itu membuat teks menjadi lebih mudah untuk dipahami untuk mendeskripsikan sesuatu yang sangat rumit dan kompleks. Bahkan pada tingkat tertentu, pada situasi yang chaotic, penggunaan rich picture diagram yang visual seperti pada pendekatan soft systems methodology lebih pas untuk mendeskripsikan apa yang sedang terjadi. Jika puisi itu gunanya untuk menjelaskan sesuatu fenomena dalam koridor poetics seperti yang dikatakan Aristoteles, tidak ada larangan untuk menggunakan visual bukan? Ada pendapat yang mengatakan bahwa visual poetry ini merupakan konvergensi antara puisi dengan seni rupa, ya mungkin saja. Tetapi tentu saja memahami visual poetry ini tidak dapat dilakukan hanya dengan pendekatan bahasa atau linguistik semata, melainkan menggunakan semiotika yang lebih luas daripada hanya sekedar teks bahasa.

>Lantas, jika kita membaca puisi pada buku “Sains Puisi” karya Shiny.ane el’poesya ini, maka unsur visual sangat mendominasi. Pada dunia sains, penggunaan visual dilakukan untuk menjelaskan deskripsi yang sifatnya teks. Jujur saja, saya butuh energi ekstra untuk membaca puisi karya Bung Shiny ini. Itupun setelah saya baca, masih banyak saya yang tidak paham. Bahkan memahami puisi yang pertama yang berjudul “ADA 0.1.”, yang menggunakan simbol bilangan biner (yang merupakan mainan saya sehari-hari dalam teori digital), saya mengalami kesulitan. Tetapi setidaknya saya memahami, simbol bilangan biner itu menggambarkan situasi mati (0) dan hidup (1). Bisa jadi Shiny ingin menggambarkan situasi antara tiada (0) dan ada (1), di mana ada dan tiada itu saling menjelaskan, dan sesuatu yang ada itu adalah puisi? Entahlah. Penulisan bilangan biner pada puisi itu bukanlah bilangan berpangkat, rasanya juga bukan sebuah pola biner yang mengadopsi deret karbon dalam ilmu kimia, dan juga bukan sebuah pola hasil kalkulasi fungsi fraktal. Well, apa makna persisnya, mungkin hanya Shiny dan Tuhan yang tahu. Tetapi entah kenapa, saya masih bisa menikmatinya dalam ketidakpahaman tersebut.

>Tetapi pada “MATEMATIKA DAN PUISI”, Shiny ingin menjelaskan bagaimana matematika membentuk sebuah pola, tetapi kemudian dia menggugat bahwa pola itu hanya terjadi sebagai suatu kesepahaman umum terhadap simbol-simbol yang dipergunakan. Ini sangat menarik, di mana Shiny ingin mengingatkan kita bahwa jangan mensakralkan simbol karena simbol hanyalah kesepahaman umum. Dunia ilmu pengetahuan juga demikian. Apa yang terjadi atau mekanisme karya Tuhan pada alam semesta ini adalah fenomena, tetapi menjelaskan alam semesta dalam bentuk simbol-simbol persamaan matematika atau visual adalah suatu kesepahaman umum, yang bisa saja digugat sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

>Walaupun saya banyak tidak paham puisi karya Bung Shiny ini, tetapi satu hal yang saya pahami, yaitu semesta ini terlalu kompleks untuk bisa dideskripsikan dalam puisi yang semata berbentuk teks, demikian isi pikiran Bung Shiny. Jika kita mempelajari semiotika, teks hanyalah salah satu simbol untuk mendekripsi suatu fenomena atau makna. Banyak hal yang mungkin tak bisa didekripsikan melalui teks, dan harus dibantu dengan visual, atau bahkan lebih banyak visual, tetapi masih dalam koridor poetics Aristoteles. Apakah visual poetry ini kompleks dan rumit? Buat orang awam, persamaan-persamaan dalam ilmu fisika bisa jadi membingungkan dan rumit alias susah dipahami. Tetapi buat kalangan tertentu, dengan membaca persamaan-persamaan tersebut justru menimbulkan kekaguman terhadap bagaimana alam semesta bekerja dan bahkan memberikan rasa keindahan tertentu. Tentu saja saya termasuk awam dalam memahami puisi-puisi karya Bung Shiny dalam buku ini.

Akhirnya, selamat untuk Bung Shiny. Walaupun saya menuliskan epilog untuk buku ini, bukan berarti saya paham makna puisi-puisi karya Bung Shiny ini. Saya justru belajar, bagaimana puisi berinteraksi dengan banyak hal untuk menjelaskan berbagai fenomena dan makna, seperti halnya bagaimana mendeskripsikan mekanisme kerja alam semesta dalam dunia ilmu pengetahuan atau sains.

Bogor, 19 Agustus 2018k


Riri Satria adalah seorang konsultan, akademisi dan peneliti bidang manajemen dan teknologi informasi, pencinta puisi serta salah satu pengasuh komunitas Dapur Sastra Jakarta, penulis buku puisi “Jendela” (2016) serta “Winter in Paris” (2017).

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *