LOADING

Type to search

M E S S I A II; KHUTBAH MUSA SAMIRI

M E S S I A II; KHUTBAH MUSA SAMIRI

Dua tulisan di bawah ini dibuat baru saja, sebagai tanggapan dari sebuah diskusi soal Messianisme yang diadakan Selasa kemarin (08/05) oleh Paramadina Institute of Etich and Civilization yang dihadiri oleh 2 pembicara dari Iran (Prof. Dr. Abdul Majid Hakimelahi dan Dr. Safakhah–sebagai keynote speaker), 2 dari Universitas Paramadina (Prof. Abdul Hadi W.M. dan M. Subhi Ibrahim, M.Hum) dan 1 pembicara dari Universitas Pelita Harapan (Dr. Phil Fitzerald Kennedy Sitorus) untuk memperingati hari kenaikan Isa Al-Masih. Adapun Untuk membaca rilis dan rangkuman berita silah akses akun FB PIEC Paramadina.

Dua tulisan ini (yang mencoba “memotret” ulang perdebatan antara Musa dan Samiri soal agama di tengah-tengah Harun dan Bani Israel) juga dimuat dalam rencana penebitan manuskrip #burungKafir yang akan dicukupkan hingga akhir minggu pertama bulan Ramadhan.


M E S S I A

Messia! Messia! Messia!” Sekelompok orang dari bani itu berteriak-teriak seakan meminta pertolongan kepada Tuhannya, yang telah berbulan menterlantarkan mereka di tengah-tengah debu-debu, terik siang dan badai malam gurun. Lantaran mendengar itu, Sang Nabi justru mempercepat langkahnya mendaki sebuah bukit dan naik ke sebuah gunung dengan janji sepuluh malam dan sepuluh pagi.

Namun malam dan pagi pun telah berganti sepuluh, dan entah untuk waktu berapa lama lagi umat itu akan saling berselisih sebab perkara sehari-hari, bermusuhan sebab soal-soal kecil, dan hendak berperang saudara hingga makin merusak jumlah mereka yang semakin kecil.

Melihat hal ini terjadi, ia–orang Samiri itu lantas gelisah, dan menanyakannya pada Aron berhari-hari untuk memberikan sebuah fatwa. Namun Aron–yang fasih lidahnya, justru menuup mulutnya dan tak berdaya seolah tak melihat apa-apa.

Lantaran kegelisahan itu makin memuncak, akhirnya ia yang biasa menyendiri menghindari keramaian dan gemar menyepi, menaiki satu bukit di antara mereka dan mulai berkhutbah:

Berkumpullah wahai seluruh kaum! Tuhan telah menghukum kita sebab kita telah jauh darinya. Maka mulai saat ini, kumpulkanlah seluruh yang paling berharga dalam hidup kalian, untuk menciptakan sebuah berhala tempat di mana kita bersama-sama bedoa dan memujanya! Akulah Musa! Akulah Musa! Yang sejak bayi diasuh Jibril sang roh kudus!”

Tentu, Aron yang telah berjanji setia kepada Musa untuk menjaga kaumnya, saat itu marah atas apa yang dilakukan oleh Sang Musa dari Samiri. Baginya, Musa adalah Musa, dan bagaimanapun Musa dari Samiri bukanlah Musa.

Tetapi, justru kita melihat dari cerita sejarah, bahwa bani itu langsung berbondong-bondong membuat sebuah berhala setelah mendengar khutbah panjangnya, dan kita tak mendapati kemarahan Samiri kepada Musa ketika berhalanya kembali dihancurkan, atau ketika Aron berkali-kali mengkafirkan.

2018


M E S S I A II; Khutbah Musa Samiri

I.

Dan pergilah Musa meninggalkan kaumnya
Untuk berkata-kata dengan Tuhannya–melalui api

Namun malang, Musa justru bertanya-tanya
ketika Tuhannya berkata: “Mengapa, engkau mendahului kaummu? Menemuiku?”

Dan sesungguhnya Tuhan telah benar-benar
menguji tidak hanya kaumnya
tetapi juga begitu dengan Musa

II.

Maka naiklah Musa Samiri
ke atas sebuah bukit dan berkhutbah:

“Lemparkanlah seluruh benda-bendaemas-emas yang kalian semua bawadari harta reruntuhan yang memberatkan kalianJuga lembu-lembu persediaan makanan kalian

Lemparkanlah ke tengah-tengah apilantas akan aku tunjukkan siapa Tuhan kalian

Akulah Musa! Akulah Musa! Yang diasuh JibrilSang roh kudus sejak kecil!”

Melihat semuanya hancur dalam api
Seluruh kaum serentak bersujud
di hadapanNya

III.

Aron tak dapat berkata-kata sepatah pun
Musa pun geram setibanya dan menghancurkan
semua yang tersisa, termasuk yang hancur dalam api

Diusirnya Samiri, dikutuknya dan dihujatlah ia
ditulisnya sebagai orang yang punya penyakit aneh
di mana kulitnya tak dapat disentuh
oleh manusia-manusia lainnya di bumi

Musa geram–sebagaimana wataknya
keras benar-benar menghancurkan semua
sambil mengabaikan bahwa di sana
di ujung penghujatannya, Samiri berkata:

“Bangsa ini, bangsa yang dalam hatinya tak pernah benar-benar butuh kemenangan tak butuh kemenangan peradaban atau bahkan tanah perjanjianbangsa ini hanya butuh satu dari seluruh kegelapanmengetahui siapa sebenarnya (dan hidup bersama) Tuhan!”

2018


#burungKafir

ny.ane el’poesya Penulis manuskrip puisi 50.000 Ma'(w)ar🍷–, #Kotakcinta, Burung Kafir, Sains Puisi, etc. Penulis Cerpen “Matahari [ES 158]–”

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *