LOADING

Type to search

Nyanyian dalam Nyanyian; Tidak Ada, Harmoni yang Dijanjikan Tuhan

Nyanyian dalam Nyanyian; Tidak Ada, Harmoni yang Dijanjikan Tuhan

Logos menggantikan mitos. Di Ionia seorang anak lelaki mulai menghitung jumlah bintang-bintang, dan megukur jarak antara langit dan bumi. Ia tenggelam di antara cahaya bulan yang memar. Dan sepertinya ia iba kepada fenomena itu; ketika dewa-dewa terus berperang di langit dan memperebutkan musim yang bergerak; ia menagis.

Pada satu malam ia bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa dewa-dewa bisa memerintah keadaan bumi tanpa menyentuhnya? Tentunya pada saat itu, ia tidak percaya pada “wahyu,” ia juga tak seberuntung Abraham, yang kejatuhan “dingin” dari langit; ia hanya merasakan sendiri, bahwa alam dan angin terus berubah. Pertanyaan itu terus menghantuinya, sampai suatu hari.

Sampai satu hari ia menemukan harmoni, dan ia mulai melakukan percobaan-percobaan kecil di dalam waktu. Ia tidak takut pada kematian, ia tidak pula menghindar dari kutukan, ia mendengar dewa-dewa marah, dan alam hujan, alam badai, ia tak menutup telinga, sebab, “aku perlu mendengar,” gumamnya dalam hati.

Apa yang ia lakukan adalah jalannya sendiri, yang dibuatnya sendiri. Perlahan ia menemukan satu demi satu, bagaimana cara ia menggerakkan satu demi satu: menanam, bepergian, berkeliling di tengah-tengah pasar, di Agomena, dan menyebarkan suara; suara daun-daun jatuh. Sampai ia bertemu dengan seorang perempuan yang tak ia kenal, yang bertanya padanya: “lalu siapa namamu? Setelah kau berikan nama bagi seluruh alam.”

Setelah berhari-hari, rupanya, pertanyaan dari perempuan itu cukup mengganggu. Sampai ia lupa, bahwa ia pernah berfikir dan membayangkan, bagaimana caranya menggerakkan awan yang hitam, dan orbit-orbit yang meggantung di ribuan planet itu.

Malam berganti, pagi berganti; hari berganti, bulan berganti, ia hanya terus menambahkan jumlah garis di dinding, sampai dinding berganti dengan dinding, dan batu berganti dengan batu, hujan berganti dengan hujan; perempuan itu, entah kemana ia menghilang.

Alih-alih ia mengambil jarak, ia kembali turun ke hujan. Alih-alih ia menepi, ia terus ke tepi. Dan melamun di depan sebah kolam, kolam yang “rusak” penuh dengan gelombang. Lama, ia menunggu, sampai benar-benar tenang.

Dan setelah bertahun-tahun, dikhabarkan seseorang telah ditemukan meninggal di samping sebuah sungai. Khabar itu menyebar ke seluruh penjuru kota; seorang “penyair,” menggubah kisahnya:

“Telah langit biru
Malam baru
Bintang-bintang mabuk
melanggar Tuhan dan Tabut

Malaikat-malaikat dan bidadari
bersama dewa-dewi
tetapi menari

Tetapi menari
bulan itu
di atas alam semesta ini

Tetapi menari
Di atas api
orang-orang Yunani dan Yahudi

Ketika seorang ‘Nabi’ jatuh di atas sungai
abadi
dan kehilangan diri; tanpa khabar,
cinta, lalu mati

Sebab ia telah sadar
bahwa cinta
dan dewa-dewi bukanlah keajaiban
dan Tuhan, bukanlah keajaiban
Sebab Mezbah dan Kuil, bukanlah kebenaran
Theatron dan Mesir, bukanlah ketinggian

Ia akhirnya lebih percaya pada suara
burung-burung, dari alam gelap yang masyhur
yang jatuh bertabaran
bersama runtuhnya ratusan guntur

Ia pun menangis
di atas nisannya tertulis:
‘Lalu sayang, siapa namaku?’”

24 Januari 2018


Shiny.ane el’poesya Penulis manuskrip puisi 50.000 Ma'(w)ar🍷–, #Kotakcinta, Burung Kafir, Sains Puisi, etc. Penulis Cerpen “Matahari [ES 158]–”

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *