LOADING

Type to search

MAWAR

Aku mawar yang tumbuh
di halaman sebuah rumah
Besar tak berpenghuni
Pemilikku sudah lama
tak lagi tinggal disini

Tapi setiap pagi,
tukang kebun mengunjungiku
Mencabuti rumput liar
di sekitarku, menyiramiku, dan
sesekali memberiku pupuk

Dia sangat menyayangiku
Saat aku mekar,
dia pandangi aku penuh takjub,
tersenyum, dan berlalu
kala matahari mulai meninggi

Banyak tanaman lain yang hidup
di halaman, bunga-bungaan, perdu,
hingga tanaman berkayu
Aku bersyukur pada Tuhan karena
akulah yang paling mencuri perhatian

Begitulah kehidupanku
Bertumbuh dengan baik
berkat dia, manusia pertama
yang tulus menerima dan
mencintaiku

Aku ingin terus bersamanya
Menunjukkan kecantikanku
hanya padanya
Mempersembahkan keindahanku
hanya untuknya

Di waktu tertentu, rumah menjadi
ramai; pemilik rumah datang
membawa rombongan
Aku tak begitu suka, karena artinya
aku tak bisa bertemu dia

Mereka datang mengagumiku
Berujar aku cantik dan
ingin memetikku
Biasanya berakhir luka;
duriku mengenainya

O, maafkan aku, sungguh
aku tak ingin melukai siapapun
aku begitu untuk melindungi diri
dari gangguan tangan jahil
tak terpuji

Kehidupan kembali sepi
Kala pemilik rumah pergi,
meninggalkan aku dan
luasnya halaman, serta
dia yang kesepian

Hingga suatu hari ia datang,
Tapi tak sendirian
Seseorang di sampingnya,
mendengarkan acuh tak acuh
cerita betapa serunya dia merawatku

Aku tersenyum lega; dia tak
melupakanku
Mendengarnya bercerita awal mula
dia bertemu aku, mengagumiku,
membuatku lupa jika sedang cemburu

Seseorang di sampingnya mendekatiku,
dan berkata, “Benar, mawar ini cantik sekali,
bisakah petikkan untukku?”

O, tidak, aku berseru, kumohon
jangan lakukan itu
Mematahkan sama saja membunuhku
Karena kecantikanku akan segera layu

Mahkotaku akan mengerut cepat
Kelopakku akan mongering sekejap
Tangkaiku tak akan lagi lekat
Dia mendekatiku dengan ragu

Seseorang di sampingnya kembali
berkata, “Ayolah, nanti juga akan tumbuh
yang baru,” Ia menjawab,

“Tidak, sungguh
aku tak sanggup

mematahkannya”.

02/07/2019


Oleh: Annur Aliyyu

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *