LOADING

Type to search

JIWA NAN SUNYI-SEPI: PENGANTAR KURATORIAL & TESTIMONI-TESTIMONI

JIWA NAN SUNYI-SEPI: PENGANTAR KURATORIAL & TESTIMONI-TESTIMONI

Oleh: Shiny.ane el’poesya

Tidak semua karya Puisi adalah bagian dari karya sastra. Puisi punya definisnya sendiri, begitu pula dengan sastra. Satu hal yang membedakannya secara mendasar adalah, bahwa karya sastra sudah seharusnya selalu berisi ajaran mengenai sesuatu, sedangkan Puisi tidak harus. Sebagai contoh: Vatsu-shastra (buku petunjuk arsitektur), Kamashastra (buku petunjuk mengenai seni cinta), Dharmashastra (kitab kebajikan), Artashastra (kitab kesejahteraan, yang mencakup topik ekonomi, politiik, militer), Moksashastra (kitab kebebasan jiwa), Shankyashastra (risalat/karangan filsafat), Jyotish-shastra (kitab astrologi) dan seterusnya. Sastra berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya adalah “alat untuk menyampaikan ajaran.” Shas, artinya ajaran, Tra, artinya alat–dalam hal ini bahasa.

Dari awal membaca karya-karya Pak Abd Samad yang tersebar pada grup telegram Lab. (Sains) Puisi, pengkurasi sudah melihat bagaimana Pak Abd Samad memiliki kecenderungan kuat menulis karya yang bernafas ajaran, yang penuh dengan pesan-pesan; dalam hal ini adalah pesan-pesan etik, religius dan spiritual. Pak Abd Samad menulis beberapa puisi yang seakan-akan mengajak kepada pembacanya tidak hanya untuk menikmati puisi–meskipun dalam lembar persembahan buku ini dikatakan bahwa puisi adalah untuk dinikmati bukan untuk dipikirkan–tetapi juga untuk menangkap makna demi makna di dalamnya. Hal ini bagi pengkurasi adalah satu kemenarikan tersendiri, di mana dalam grup Lab. (Sains) Puisi, terdapat sahabat-sahabat yang dalam proses kreatifnya masih dalam masa “bersenang-senang”. Tetapi, Pak Abd Samad yang secara kebetulan lebih sepuh, mewarnai grup dengan puisi-puisi sastranya itu. Tidak salah, jika kemudian sahabat-sahabat dalam grup memanggilnya dengan sebutan “Abah.”

Hal menarik lain yang perlu diapresiasi adalah, bagaimana proses kreatif yang dilalui oleh Pak Abd Samad dalam menyusun naskah ini–dari pengumpulan hingga kurasi, ternyata dilaksanakan dengan begitu singkat; kurang dari satu minggu. Padahal, ketika niatan untuk menerbitkan buku ini muncul, Pak Samad mengatakan hanya memiliki lima puluhan puisi saja. Ketika pengkurasi sampaikan bahwa puisi-puisi di dalam jumlah itu harus ditambah dengan sejumlah puisi lainnya, ternyata dalam dua hari saja Pak Abd Samad mampu membuat lima belasan puisi susulan, kemudian berlanjut masuk puisi-puisi lainnya. Dengan kata lain, seperti ada energi batin yang kuat dan terpendam selama ini dalam diri Pak Abd Samad, dan kemudian keluar berlimpah-limpah setelah mengikuti kelas pengantar Puisi–sejarah hingga eksperimen, yang kebetulan juga diampu oleh pengkurasi.

Bentuk kerja kratif yang dipilih oleh Pak Samad dalam buku ini, secara umum adalah bentuk persyairan–dengan metrum yang memang tidak terlalu ketat (metrum jumlah kata antar larik dan perimaan). Memang beberapa di antaranya juga digunakan bentuk sajak-sajak dengan tanpa aturan khusus, dan bahkan juga Pak Samad coba gunakan gaya perpuisian eksperimental. Gaya persyairan ini nampaknya memang tepat jika dilihat dari genre puisi yang penuh nasihat dan muatan ajaran agama (Islam) yang Pak Samad kerjakan. Membacanya, mengingatkan kita pada syair-syair lama dalam kesusastraan Indonesia. Hal ini positif, jika kita melihat juga bahwa Pak Samad ternyata merupakan salah satu pembina dari sebuah padepokan di tanah kelahiranya; anak-anak asuh yang ada di bawah binaannya akan sangat membutuhkan buku semacam ini untuk proses pematangan jiwa mereka.

Akhir kata, melaksanakan Puisi adalah sebuah peristiwa pencarian bentuk. Dari persentuhan dengan alam sekitar dan ketekunan untuk terus belajar serta kerendahhatian untuk menerima koreksi lah, kemudian bentuk itu mewujud dengan lebih indah dari tangan Pak Abd Samad. Melalui buku “Jiwa Nan Sepi: Selautan Puisi Karya Abd Samad” ini, pengkurasi ucapkan selamat menikmatinya  dan memaknai kembali.

Jakarta, 05 Ramadhan 1440 H


Testimoni-testimoni:

Jiwa nan Sepi merupakan hasil karya Abdul Samad lainnya yang patut kita apresiasi sebagai karya sastra. Beliau begitu produktif, tidak hanya melahirkan buku-buku populer, tetapi juga kumpulan puisi yang sarat akan makna. Buku ini layak untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami kehidupan manusia yang penuh dengan ambisi dan suka duka.

Dr. Drs. Suriyadi, M.Hum, (Dosen Politeknik Negeri Medan)

Saya resapi kalimat demi kalimat untaian cinta di buku ini, tersadar saya ternyata sudah terdampar di lembah hati sang penulis, saya merasakan getaran jiwanya, begitu dekat dan teramat kuat cinta sang penulis pada Sang Maha, sampai saya merasa enggan untuk hengkang dari lembah cinta tersebut. Oooh indahnya…

Ade Zaenudin, MA (Ketua KALIMAT Komunitas Penulis untuk Indonesia Bermartabat)

Tulisan puisi yang sangat menyentuh dan inspiratif. Semoga pembaca bisa menikmati isi dari setiap syairnya.

Hj. Dini Indriani, M.Pd (Kepsek SMPN 35 Samarinda)

Puisi karya Bapak Abdul Samad merupakan ungkapan keimanan serta kecintaan beliau kepada Rasulullah SAW, dan kepedulian beliau terhadap kondisi bangsa, renungan kedamaian serta pesan pesan ibadah. Kata-kata yang dapat menggugah ini sayang kalau tidak terbaca. Ada baiknya diupload di medsos, sehingga lebih banyak orang yg membacanya, apalagi kalau pelajar di Samboja dilombakan membaca puisi karya warga Samboja. Akan seru. Efeknya lebih luas. Teruslah berkarya dan menginspirasi lewat tulisannya

Ahmad Junaidi (Camat Samboja)

“Masyaa Allah, indah! Menggambarkan penulis pandai meramu kata-kata, penuh khazanah. Pesannya juga langsung kena ke pembaca. Beli. Baca. Nikmati setiap goresan pena yang tercipta!”

Hamid Ihsanudin (Divisi Academy KMO Indonesia)

Puisi merupakan karya sastra yang mengungkapkan isi hati. Pernyataan Wordworth yang dinukil Hasta Indriyana (2015) dalam bukunya Seni menulis Puisi menyatakan bahwa puisi adalah ungkapan spontan perasaan yang kuat kemudian dipahami bukan sebagai pelepas emosi (perasaan) tak terkendali, tetapi mengungkapkan “kedalaman”, bukan “kegundahan jiwa.” Puisi yang merupakan hasil jiwa penyair atau penulisnya melahirkan butir-butir makna yang mengalir dalam konteks situasi terkini.

Setidaknya dalam puisi menurut Indriyana ada beberapa indikator yang turut serta dalam penulisannya yaitu aspek bahasa, bunyi-bunyi, imajinatif, emosional, intelektual, kehidupan individu dan sosial, teknik pilihan tertentu, dan membangkitkan pengalaman tertentu.

Puisi karya Abdul Samad tak terlepas dari indikator-indikator di atas. Sebagai guru SMP Negeri, beliau telah melahirkan beberapa karya yang sudah dipublikasikan. Satu di antaranya adalah Mutiara Hikmah Pemberdayaan Diri yang diterbitkan oleh Penerbit Rumah Imaji, Lampung.

Jiwa nan Sepi merupakan hasil karya Abdul Samad lainnya yang patut kita apresiasi sebagai karya sastra. Beliau begitu produktif, tidak hanya melahirkan buku-buku populer, tetapi juga kumpulan puisi yang sarat akan makna. Dalam “Dusta yang Mungkar,” misalnya, Abdul Samad kelihatannya menyoroti etika pergaulan sesama makluk yang semakian tidak menunjukkan akhlak yang mulia di media sosial.

Para pendusta menebar fitnah dan dusta tanpa pernah merasa bersalah. Mereka juga menebar kebenaran yang menyesatkan terlihat di depan mata hanya mungkin karena berbeda pilihan dalam berdemokrasi atau dalam pergaulan sehari-hari. Keberpihakan yang membabi-buta itu telah melahirkan dusta-dusta, kepedihan, dan luka  yang sangat mendalam.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan akan kesatuan dan persatuan bangsa atau yang paling terkecil adalah kesatuan dan persatuan lingkungan tempat kita tinggal. Hanya dengan kata-kata yang bijaklah yang mampu memberi harapan untuk hidup bersama dengan rukun sesuai dengan ajaran agama yang dianut dan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara.

Last but not the least, karya Abdul Samad telah memberi andil dalam menyuarakan isi hati beliau dan ini patut kita apresiasi setingginya. Buku ini layak untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami kehidupan manusia yang penuh dengan ambisi dan suka duka.

Dr. Drs. Suriyadi, M.Hum, (Dosen Politeknik Negeri Medan)

Tags:
Previous Article
Next Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *