LOADING

Type to search

Tags:

Indra Intisa: Tips Sederhana Menulis Puisi Bagi Pemula

Indra Intisa: Tips Sederhana Menulis Puisi Bagi Pemula

1. Cari Tema yang Menarik

Ide bisa didapat dari mana saja. Ia bisa didapat dari alam: melihat gunung, sungai, laut, proses hujan, dst. Atau bisa juga lahir ketika melihat hirup-pikuk pasar, politik, pertengkaran, hukum, dst. Perhatikan prosesnya. Simak poin-poin penting yang bisa dijadikan pesan amanat. Jika sudah, tema bisa ditentukan. Cari judul yang menarik dan baik.

2. Tentukan Pesan dan Amanatnya

Pesan dan amanat adalah dua pokok penting dari setiap tulisan. Jangan buat tulisan tetapi tidak jelas apa tujuan dan pesan yang ingin disampaikan. Dari ide-ide besar yang telah kita tetapkan, tema yang ditentukan, maka kita bisa memilah dan menginginkan seperti apa pesan yang akan dibuat. Seperti: nasihat untuk anak muda, perenungan tentang hidup, dst. Puisi juga bisa diarahkan untuk umum, untuk anak-anak, dewasa, pejabat, guru, atau siapa saja. Sesuaikan dengan tujuannya. Jangan sampai puisi anak-anak ditulis super gelap dengan tema orang dewasa.

3. Tentukan Sikap

Sikap penyair terhadap puisi dan pembaca itu penting. Bagaimana cara kita menyusun puisi. Dan bagaimana pula respon orang lain ketika memaca sebuah puisi. Kita bisa menulis dengan kesan mendikte, mengajak, menggambarkan, dst., tentunya yang sesuai dengan tema dan tujuan yang akan diangkat. Mendikte bisa dalam bentuk puisi satir. Mengajak bisa dalam bentuk nasihat. Menirukan bisa untuk puisi nasihat anak-anak. Dst., sesuai dengan tema dan pesan yang ingin kita sampaikan. Ingat dan khayalkan pula, bagaimana nanti ketika puisi kita dibaca oleh orang lain. Bagaimana respon dari mereka. Ini penting supaya kita tidak asyik dengan tulisan kita sendiri.

4. Tifografi Puisi

Ketika kita memulai menulis puisi, kita bisa membuat puisi dengan bentuk konvensional (larik dan bait yang teratur). Atau bisa pula dengan gaya prosais yang lebih bebas. Pemilihan ini juga penting dari sebuah puisi. Puisi bisa ditulis dengan larik yang konsiten dalam setiap bait. Atau berbeda antara satu dan lainnya. Terkait gaya kepenulisan naratif (bercerita) atau tidak, itu tergantung selera masing-masing. Puisi naratif lebih luwes dan bebas. Cocok untuk puisi yang isinya lebih panjang dan luas. Puisi lirik tentu lebih padat. Cocok untuk puisi yang menggelora, mengelolah emosi, puitis, dst., dan tentunya puisi ini akan lebih padat dan kuat.

5. Memilih Diksi dan Kata Konkret

Salah satu pembeda puisi dari prosa tentu pemilihan kata yang lebih padat dan kuat. Pilihlah diksi-diksi penting yang membawa pesan dan simbol yang lebih kuat. Hindari banyak kata yang tidak berguna dan bermanfaat kuat di dalam sebuah puisi. Semakin padat tentu semakin baik. Perhatikan tanda bacanya juga. Jangan sampai tanda baca menjadi sebuah penghalang dan perusak dari sebuah puisi. Penyair yang baik mampu memanfaatkan tanda baca sebagai diksi penting dalam puisi. Catat simbol-simbol penting yang ingin dicatat, seperti: hujan, desau, dst. Satukan dalam puisi hingga jadi kesatuan yang utuh. Kata-kata bisa menjadi sebuah simbol, seperti: salju bisa disimbolkan sebagai kebekuan hati. Api disimbolkan dengan kemarahan, emosi, semangat yang menyala, dst., tentunya sesuai dengan tema yang ingin ditulis. Jangan sampai salah dalam memilih dan meletakkan simbol. Jika salah, pesan dan amanat akan menjadi jauh melenceng. Jangan jadikan itu sebagai pembenaran sebagai puisi gelap. Keberhasilan puisi tidak hanya berasal dari pembaca yang cerdas, tetapi juga tergantung dari kita (penyair) yang mampu meracik puisi dengan baik dan tepat.

5. Gaya Bahasa/MajasGaya bahasa atau majas sangat penting dalam sebuah puisi. Ada banyak majas yang bisa dimanfaatkan dalam sebuah puisi, seperti metafora, personifikasi, ironi, simile, sarkasme, repetisi, dst. Setiap majas akan memiliki peranan yang penting untuk menjadikan puisi yang kuat dan prismatis. Jangan sampai menjadi puisi yang terlalu lugas seperti tulisan biasa, sekalipun bentuk puisinya telanjang (diafan). Contoh majas personifikasi: “Embun menyapa hatinya yang beku”. Jika belum paham terkait majas, silakan pelajari lebih dalam di buku-buku dasar.

Gaya bahasa atau majas sangat penting dalam sebuah puisi. Ada banyak majas yang bisa dimanfaatkan dalam sebuah puisi, seperti metafora, personifikasi, ironi, simile, sarkasme, repetisi, dst. Setiap majas akan memiliki peranan yang penting untuk menjadikan puisi yang kuat dan prismatis. Jangan sampai menjadi puisi yang terlalu lugas seperti tulisan biasa, sekalipun bentuk puisinya telanjang (diafan). Contoh majas personifikasi: “Embun menyapa hatinya yang beku”. Jika belum paham terkait majas, silakan pelajari lebih dalam di buku-buku dasar.

6. Citraan (Imagery)

Citraan atau imaji (imagery) adalah yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat membangkitkan pengalaman indrawi, sehingga pembaca dapat seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair. Citraan itu terdiri dari beberapa jenis, yaitu: citraan penglihatan, suara, penciuman, gerak dan peraba. Contoh: “Ia adalah bunga mawar yang layu”. Dari diksi ini, kita bisa seolah-olah melihat rupa mawar yang indah (citraan penglihatan), dan mawar yang tersakiti–layu (citraan peraba). Pemanfaatan citraan yang baik tentu mampu menjadikan puisi lebih kuat, hidup dan sampai ke ingatan pembaca.

7. Versifikasi (rima, irama, bunyi, metrum, ritme)

Ini juga bagian penting dalam puisi. Pemanfaatan bunyi dan rima tidak hanya membuat puisi menjadi lebih indah dan kuat. Tetapi juga bermakna lebih luas dan kuat. Kita bisa menyimak suara-suara yang berasal dari alam, hewan, atau manusia yang berbagaimacam ragam. Masing-masing memiliki pesan psikologis berbeda. Bunyi hewan karnivora seperti harimau lebih mendehem, menggumam, dst., sehingga menimbulkan efek kekuatan. Sedangkan suara hewan herbivora lebih melengking atau lunak. Kemampuan kita memilih bunyi akan menjadikan puisi lebih hidup. Lihatlah mantra yang banyak dibaca di masyarakat. Bunyi-bunyi tertentu mampu membuat puisi menjadi magis dan horor.

Rima yang teratur memang menjadi puisi lebih hidup dan indah. Sebagian genre justru menjadikan rima sebagai faktor penentu sebagai aturannya. Seperti pantun dengan pola rima akhir abab. Gurindam memakai aa. Silakan sesuaikan dengan genre dan kehendak yang ingin kita tulis.

Bunyi dan rima juga bisa menjadikan puisi lebih puitis dan menarik. Dengan irama-irama tertentu, puisi bisa dibaca dengan lebih nikmat dan khidmat. Bahkan bisa dilagukan atau dinyanyikan dengan indah dan merdu, tentunya dengan ritme (ketukan) yang telah diatur.

Pulau Punjung, 26 Maret 2017

**Nb: Untuk membuat efek puitis, tidak perlu memakai bahasa yang dibuat-buat puitis. Kata-kata sulit, dst. Dengan bahasa yang sederhana pun bisa menjadi puitis. Asal kita pandai meraciknya dengan tepat. Kesalahan banyak pemula ada pada bagian ini. Bukan diksi yang terlihat aneh dan gemulai yang buat puisi kuat. Puitis tidak disimak dari hal itu.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *