LOADING

Type to search

MANUSKRIP “50.000 MA'(W)AR–” SHINY.ANE EL’POESYA [DOWNLOAD; PDF]

MANUSKRIP “50.000 MA'(W)AR–” SHINY.ANE EL’POESYA [DOWNLOAD; PDF]

“Di era berkembangnya seni kitch dan kritik-kritik pedas atasnya baik yang datang dari ‘Manusia Modern’ maupun ‘Manusia Tradisional’, satu hal yang menarik ketika membaca manuskrip buku ini adalah ketika penulisnya mencoba masuk dengan masuk melalui mengetuk lebih dulu pintunya Sutardji yang konon dikenal sebagai pelopor puisi kontemporer dan kemudian berhasil menggali kembali ke-‘Agung’an yang kitch, yang remeh, dan yang terbuang, dengan pendekatan modern sekaligus juga tradisional tanpa terjebak pada kubang gelap ke-kitch-an itu sendiri. Bertebarannya tanda baca pada puisi-puisi Shiny.ane el’poesya saya pikir adalah tumbuhnya kebutuhan baru ekspresi yang hadir melalui teknologi mesin tulis yang semakin menyatu dengan ekspresi multimedia abad 21: mata, daya sentuh jari-jari tangan kita, atau bahkan kemungkinan audio. Mengetukkan, dan memukul-mukulkan jari pada keypad adalah tindakan ekspresi sendiri sebelum kata-kata menjadi arti. Bunyi-bunyian pada keypad adalah suara irama yang mendahului huruf yang menyusun kata; dan kata kemudian menjadi puisi. Saya menikmati labirin, taka-tiki, teka-tekinya, tanda baca—misalnya yang ada pada puisi yang berjudul LvL.7 dan IKUTI!. Suara ketukan jari di atas gawai yang seperti ini, semua itu menggungah indra-indra kita selain hanya indra hati yang menangkap kata-kata sebagai sebuah konsep fikiran. Semoga Sastra Indonesia Kontemporer semakin kokoh!”

Khalid Zabidi (Dosen Desain dan Seni Kontemporer Universitas Paramadina, Aktivis 98 ITB)

“Penyair adalah makhluk gelisah. Itu sebabnya dia tidak pernah merasa nyaman berada di zona aman. Dia terus mencari hal-hal baru yang mungkin dan yang tidak mungkin dalam proses kreatifnya. Sampai pada akhirnya dia berhasil menemukan ‘puncak di kedalaman’. Nah, saya kira buku Shiny.ane ini hasil dari semua itu.”

Sofyan RH. Zaid (Penyair dan kurator di Majelis Sastra Pesantren Indonesia)

“Sajak #10huruf—yang oleh penulisnya disebut dengan istilah Puisi Ma’(w)ar; 50.000 Ma’(w)ar, terlihat sederhana namun nyatanya merupakan masalah yang serius menyangkutkemanusiaan yang universal. Bahkan Shiny menghadirkannya dengan sudut pandang yang indah dan hangat tanpa memihak dan keinginan untuk menang sendiri. Kita mungkin boleh ‘salah’ dalam membacanya, tapi saya takut salah membaca kemanusiaan yang seperti ini:Masalah hak azasi manusia, dan sesuatu yang bukan tak dapat disentuh oleh orang lain: Cinta!”

Taufik Nurrohim (Semesta Institute, Aktivis Bandung)

 “Sejarah Besar Indonesia hakikatnya dimulai dari sejarah yang kecil-kecil. Ketekunan mengumpulkan yang kecil-kecil bukanlah perkara yang mudah, dan tak jarang memerlukan energi, kesabaran, keringat dan fikiran yang jauh lebih banyak. Puisi-puisi tanpa bait dan larik ini sudah berada di jalan yang benar! Dan besar!”

Nandang Tamjid (Pegiat dan Pengamat Komunitas, Pemerhati Sejarah Kecil)

“Ada saat dimana pujangga begitu baik. Ketika suara mereka lembut dan perkataan mereka menggodamu. Tubuh, yaa tubuh! Kita baru akan benar-benar percaya pada Tuhan, kalau kita kesana bersama Tubuh! Selamat bersetubuh!”

A.A. Saepudin (Pegiat Teater, Aktor, Pengamat Tubuh)

 “Puisi-puisi Ma’ar ini benar-benar mendekati aforisma yang sebenarnya. Sehingga pembaca akan diletakkan antara metafora dan realitas sebanar-sebenarnya.”

Hendra Januar (Mahasiswa Tingkat Akhir Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra Institute)

________

Download Manuskrip

50.000 Ma'(w)ar ; antomena sajak #10huruf

Tags:
Previous Article
Next Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *