LOADING

Type to search

MEMBACA SAJAK “BATAS”—AADC 2, KARYA AAN MANSYUR

MEMBACA SAJAK “BATAS”—AADC 2, KARYA AAN MANSYUR

Batassemua perihal diciptakan sebagai batas, membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Tetapi bagaimana jika kita tak pernah bebas untuk bertanya bahkan pada tanda tanya itu? [“2”]. Lalu bagaimana jika puisi memberontak pada penyairnya? Dan kata tak pernah mau bersepakat?

Orang yang isi kepalanya sedang bercabang-cabang cenderung berjalan di atas garis lurus, tanpa melihat ke kiri dan ke kanan; tak berpaling. Sebaliknya, orang yang langkahnya limbung ke kiri dan ke kanan, mungkin ia sedang memikirkan hanya sesuatu. Tetapi, keduanya sebenarnya sama: mereka sedang berusaha terus bertanya-tanya pada hatinya yang juga terus gelisah.

Ada yang berkata: hidup itu seperti pindah dari satu gelas kopi ke gelas kopi yang lainnya, dari satu rasa pahit ke rasa pahit yang lainnya. Tetapi, apakah memang begitu kehidupan ini berjalan? Tetapi sebenarnya, yang paling pahit adalah ketika dalam hidup kita justru tidak dapat merasakan kepahitan itu sendiri.

Segelas kopi yang rasanya hambar tak membuat kita menjadi terjaga: mereguknya dari sebuah piala atau tidak sama saja. Kita tak akan  lagi bisa merasakan mana bangun tidur dan mana mengantuk, padahal keduanya adalah ruang!–yang berdeda. Sebuah dialog bagi hidup dan kematian; antara awan-awan yang tenang dan rancauan angin ribut;  antara aku dan kamu yang memiliki tujuan hidupnya masing-masing.

Kecuali kita ingin berlaku seperti sebuah puisi yang justru terlihat indah karena ia seringkali tidak pernah sampai ke tepi halaman. Seperti larik-larik yang seolah ingin  mengungkapkan kerinduan tapi tidak pernah berhasil menjadi kalimat; sebuah bait yang terus-menerus tarik-menarik dengan bagian kertas yang masih kosong; cerita yang tidak bisa lepas dari sekumpulan metafor: kesatuan makna yang tak bisa dipegang; dan kita tak pernah sampai. Maka semuanya akan sama saja: Aku kembali bertanya-tanya, tetapi angin pun hanya remuk!

Akhirnya esok mungkin kita boleh menuang susu; esoknya lagi kopi campur susu; atau berhenti minum kopi sama sekali. Apa saja, sebelum mata kita pecah; dan dadaku kembali amarah. Tapi jika seperti itu, siapa di antara daun dan berisik? yang memisahkan antara Aku dan Kematian?

Aku berbaring di atas rumput di dalam hutan, tak dapat berhenti menatap ribuan lampu dan menara. Karena mungkin benar malam tak sepenuhnya dapat tertembus, juga oleh kelelawar yang mabuk, taufan antah-berantah dan juga rembulan yang gila; Harapan, jangan-jangan memang bermula dari sikap yang tak mengeluh pada batas itu. Jalan-jalan akan tetap menjadi jalan-jalan yang membentang, agar kita bisa melewatinya (bukankah sepi itu ada jika jalan sepi itu tiada?), dan kata-kata akan turun sebagaimana sabda pandita ratu, Katamu–katanya [?].

Hari ini membelah hari esok, karena kita masih percaya pada cinta yang terkubur di masa lalu; apa yang kufahami saat ini membelah apa yang kau baca dalam puisi-puisiku. Kota telah membelah surga dan desa, antara buku-buku dan tunas mawar; antara anak dan seorang ibu yang durhaka kepadanya. Tetapi, apakah benar jika semua sudah jelas, maka tak ada mukjizat lagi?

Ya, Tak Ada New York Hari Ini. Rangga pun terbang melewati-dan-bersatu dengan batas-batas itu untuk pulang kembali kepada Jakarta. Dan pertanyaannya, Aku tanya padamu, sampai kapan?–[AADC 3]

Jakarta, 22 Mei _Shiny.ane elpoesya

BATAS

Semua perihal diciptakan sebagai batas
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin
Besok batas hari ini dan lusa
jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,
bilik penjara, dan kantor wali kota, juga rumahku dan seluruh tempat di mana pernah ada kita
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata
begitu pula rindu. Antara pulau dan seorang petualang yang gila
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang
Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya
Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan
Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur
Apa kabar hari ini?

AAN MANSHUR. Jakarta-New York 



Shiny.ane el’poesya Penulis manuskrip puisi 50.000 Ma'(w)ar🍷–, #Kotakcinta, Burung Kafir, Sains Puisi, etc. Penulis Cerpen “Matahari [ES 158]–”

Tags:
Previous Article
Next Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *